Lies

Title : Lies

Scriptwriter : dhiloo98

Main Cast : Park Chanyeol // Park Chanri (OC)

Support Cast : Oh Sehun

Genre : Tragedy, Romance, Family

Duration : Drabble

Rate : PG-15

Summary : Sepasang remaja itu tak pernah tahu jalan hidup mereka. Akan berliku-liku atau lurus. Namun siapa sangka bila akhirnya akan cukup memuakkan.

**Lies**

Pagi di hari minggu itu dimulai dengan celotehan sepasang saudara kembar,

“Apa pedulimu? Kau kira kau ini siapa?!” teriak si lelaki bertubuh setinggi 180 cm lebih sambil menjambak rambut sang adik.
“Yak! Chanyeol-a! Neo!!” balas sang adik sambil menendang kakaknya. Lelaki itu jatuh tersungkur sembari memegangi ulu hatinya yang terasa sakit. Sementara si gadis hanya membenahi rambutnya sambil tersenyum mengejek.

“Me-me-memangnya kau mau pergi ke mana serapi itu?” tanya Chanyeol sambil berusaha berdiri.

“Aku? Entahlah,” jawab Chanri sambil segera berlari menjauhi sang kakak, takut-takut akan mendapatkan balasan atas pukulannya tadi.
“Aku pergi, Chanyeol-a.” lanjutnya sambil mengayuh sepedanya. Chanyeol yang masih meringis hanya dapat menutup pintu sambil mengernyit.

**Lies**

“Ditemukan mayat seorang pelajar laki-laki tewas mengenaskan dengan luka tusuk di sekujur tubuh, diduga kasus pembunuhan ini dilakukan oleh satu orang. Belum diketahui motif apa yang dipakai sang pelaku. Namun, disinyalir pelakunya adalah laki-laki. Sampai saat ini, belum diketahui identitas lengkap sang korb-“

Televisi di rumah itu sekejap mati. Pemilik rumah itu kembali duduk dengan senyum sinis.

**Lies**

“Aku pulang!” teriak Chanri di depan pintu rumah. Rumahnya nampak sepi dan hal tersebut membuat kerutan di dahinya bertambah – ia keheranan.

Yeollie-a? Apa yang sedang kau lakukan?” teriaknya lagi.
“Yeol? Eh? Dia pergi? Kenapa tidak bilang?” Chanri kembali mengernyit ketika tidak menemukan saudara kembarnya di kamar.

Ini mencurigakan. Chanri bahkan dapat mencium sebuah keanehan di sini. Bukan suatu kebiasaan bagi Chanyeol untuk meninggalkan rumah tepat saat sang adik tengah berada di luar rumah – dan hell dia bahkan tidak meninggalkan satupun note di lemari pendingin.

BRAK

Gadis itu berjengit kaget. Suara debam tanda pintu terbuka itu terlampau mengejutkan sampai-sampai degup jantungnya tak lagi beraturan.

“Astaga! Chanyeol-a, apa kau tidak bisa mengetuk dulu?!”

Reaksi yang ditimbulkan tentu bukan sesuatu yang aneh mengingat volume yang ditimbulkan pintu tersebut telah berhasil mengagetkan gadis berambut pendek sebahu itu. Namun, berlainan dengan Chanyeol. Lelaki itu bergeming. Tidak ada secercah senyum bahagia yang biasanya mengisi sudut demi sudut bibir di antara sejumput ketampanannya. Kedua tungkai kakinya berjalan cepat seraya kedua lengan panjang itu mendekap tubuh sang adik posesif.

“Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua?” tanya Chanyeol serius.
“Siapa kalian yang kau maksudkan?”
“Apa dia menyakitimu terlalu jauh? Bagaimana? Sejauh apa?” Chanyeol menghiraukan pertanyaan balik adiknya. Ia bahkan sudah terlebih dahulu menambahkan pertanyaan dengan nada yang tak bisa dicegah.

Sejenak tubuh gadis itu melemah. Kedua lengannya terulur untuk membalas dekapan hangat sang kakak.Sudah lama sekali kehangatan ini tak menyambangi dirinya – sekalipun itu dari boneka beruang yang selalu bersamanya setiap malam. Orang tua mereka telah lama meninggalkan dunia yang fana ini. Mereka berdua menjadi korban pembunuhan atas urusan saham milik pribadi – meski kasusnya terlanjur ditutup beberapa tahun belakangan.

Chanri balas memeluk Chanyeol. Ia biarkan dirinya terlihat lemah hanya di hadapan saudaranya. Sulit baginya melupakan semua yang belakangan ini terjadi. Sulit baginya untuk mencoba kabur dari kenyataan. Chanyeol mengelus puncak kepala adiknya dengan penuh kasih.

“Apa kau menyesal? Kau tidak boleh menyesal. Ingat itu. Dia, pantas mendapatkan itu.” ucap chanyeol lirih.

“Chanyeol-a! Bagaimana ini? Aku bahkan sama sekali tidak bermaksud,” balas Chanri terbata-bata.

**Lies**

Di  tengah dinginnya angin musim gugur yang menusuk tulang. Seorang gadis berjalan dengan langkah gemetar menuju rumah. Ia tinggalkan kendaraan yang ia punya. Bibirnya pucat, begitu pula dengan buku-buku jarinya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dan air mata mendesak keluar dari pelupuknya.

“Sehun-a!”

Teriakan gadis lain dari dalam studio karaoke yang baru saja mereka sandangi melengking keras sampai ke telinga gadis tadi.

“Aku tidak peduli, begitupun kau yang tak pernah ingin peduli.” lirihnya sambil terus berjalan.

*Flashback 12 minutes ago*

“Kenapa? Kau tidak suka? Apa kau lupa bahwa ada banyak gadis di dunia ini?” balas lelaki berseragam SMA itu pada gadis di depannya.

“Enyahlah dari kehidupanku! Jangan pernah menegurku, dan lupakan soal kasus pembunuhan 10 tahun lalu! Ingat? Kau tahu? Sesuatu yang berharga darimu hampir kuambil, jadi jika kau masih berani, akan benar-benar kuambil itu. Camkan!” lanjutnya sambil menuding kepala si gadis dengan jari telunjuknya.

Hati gadis itu remuk, mengetahui kekasihnya sendiri merupakan penyebab di balik pembunuh kedua orangtuanya, penyebab utama kebencian dirinya pada mereka. Maka ia juga ingin melihat hati lelaki di depannya remuk. Mengapa tidak? Dunia ini adil kan? Maka dia akan benar-benar melakukannya.

Aak!” jerit lelaki itu tertahan saputangan yang mengganjal mulutnya.

Hati gadis itu memang remuk, dan ia membuat hati orang didepannya terkoyak. Tertanam oleh benda runcing yang ditemukannya di sekitar meja. Darah segar mengalir. Sementara itu seseorang yang melihat kejadian itu hanya membungkam mulutnya dengan telapak tangan.

*Flashback end*

Ting tong!

Chanyeol melepaskan dekapannya, menyuruh Chanri beristirahat sedang dirinya melayani tamu.

“Apa di sini anda anak yang bermarga Park?” tanya paman berseragam polisi itu dengan mimik serius.

“Ya, anda benar. Ada apa?” tanya Chanyeol sopan.

“Apa ada seseorang bermarga Park lagi di rumah ini?” tanya ahjussi tadi sambil mencoba menelisik ruangan tamu kediaman keluarga Park tersebut. Chanyeol menggeleng cepat.

“Tidak, tidak ada. Aku anak tunggal.” jawabnya sambil membuka pintu rumahnya agak lebar. Mencoba membuktikan bahwa hanya dirinyalah di rumah itu. Paman tadi percaya.

“Kalau begitu mari ikut kami,” jelas paman tadi sambil membawa Chanyeol ke kantor polisi.

2 Months later

“Chanyeol-a mianhe..” jerit Chanri sambil terisak. Chanyeol yang sudah memakai seragam tahanan hanya bisa tersenyum sambil memeluk adik kecilnya yang selalu terlihat lugu di hadapannya.

“Kau tidak pernah bersalah atas ini, oke? Akulah yang melakukannya. Aku yang membunuh Oh Sehun, aku yang membuat Hyunjae lupa ingatan dalam kecelakaan sore itu. Ingatlah itu aku? Aku yang melakukan semuanya dan bukan kau, Chanri-a.” ucapnya tulus dengan nada lirih yang membuat perasaan gadis dalam dekapannya terkoyak.

“Kenapa kau melakukan ini Yeoll~ah?” balas chanri sambil memukul dada Chanyeol.

“Aku pembunuhnya, yeol. Aku, bukan kau. Kenapa harus kau, yeol?! A-a-aku yang pantas dihukum mati, bukan kau. ” Tangis Chanri semakin pecah.

Sst, jangan menangis. Kau gadis baik-baik, anak dan adik yang penurut. Sedang aku? Hanya seorang pria, anak, dan seorang kakak yang buruk. Aku tidak sebaik kau, aku tidak sepenurut pria lain. Kakak lain, bisa membatasi kasih sayangnya, tapi kenapa aku tidak? Kenapa aku berlebihan? Kenapa aku tidak menurut ayah dan ibu, menjaga dan mempercayaimu, aku tidak melakukan itu dengan baik. Aku menambahkan akhir yang memuakkan di cerita kita. Aku, mencintai adikku sendiri. Adik kembarku sendiri,” jelas Chanyeol sambil mempererat dekapannya pada Chanri. Chanri membulatkan matanya, mencoba mencerna semua kata yang diungkapkan Chanyeol. Hatinya makin bergemuruh. Dentuman itu makin kencang. Semua rasa bergabung di lubuk hatinya. Menyesal, marah, sedih, pilu, kecewa, dan sepercik perasaan bahagia ditangkap di sana. Juga berjuta rasa lain yang tak bisa ia deskripsikan dengan kata kata.

M-mianh-” katanya terpotong oleh kecupan chanyeol di pucuk kepalanya. Tangisnya bertambah parah.

“Sudah kubilang maafkan oppamu yang bodoh ini ya? Hemm kurasa kau butuh istirahat, kembalilah ke rumah, tidur dengan tenang. Kumohon berhenti menangisi kebodohanku, hiduplah dengan baik. Kau harus tumbuh dengan cepat agar tak akan ada yang berani melecehkanmu. Arraci?” ucap Chanyeol sambil menatap mata adiknya yang dipenuhi air mata.

“Jangan ubah posisi kamarku, aku akan sering berkunjung. Tidur di sana, melihatmu, melindungimu saat tidur, dan akan selalu ada di sini.” katanya diakhiri dengan memegang dadanya sendiri.

Chanri berusaha menyamakan tingginya dengan sang kakak. Mengecupnya sebentar dan buru-buru menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang kakak.

Mianhae, oppa. Nan neol saranghae,” katanya kemudian berlari ke luar secepat mungkin.
Chanyeol membelalakan matanya, kemudian tersenyum kecil. Ya, setidaknya di masa-masa sebelum kematian menjemput ia bisa tersenyum. Berhasil mengetahui perasaan gadis itu yang sebenarnya. Ya, setidaknya ia tak terlalu bodoh karena Chanri juga memiliki perasaan yang sama. Perasaan terkutuk yang membuat hubungan mereka mempunyai sebuah tali mistis yang tak dapat membedakan apa itu kasih sayang dan apa itu perasaan cinta.

END

One thought on “Lies

  1. wah lumayan ff nya thor, haha ternyata sehun jahat banget toh. chanyeol ah dia baik banget ya..
    daebak thor keep writing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s