A Hunderdth Balloons

tumblr_m8jv30iFmw1ruxiw0

A Hunderdth Balloons

  • Title: A Hunderdth Balloons
  • Scriptwriter (Author): Dhiloo98
  • Main Cast: Kim Jong Dae / Chen EXO M
  •                   Oh Hyun Jae (OC)
  • Support Cast:Oh Sehun EXO K
  •  Genre: Romance, Tragedy, Angst, Friendship
  • Duration (Length): Ficlet
  • Rating: T
  • Summary : Karena untaian kata spesial itu berakhir pada kata aku, dan bukan kita

A Hunderdth Balloons

“Hyun Jae-ah, bisakah kau lebih cepat?” Teriak seorang lelaki bertubuh kecil dengan wajah chinese nya di depan pintu kamar seorang gadis yang lebih mirip dengan jail door. Ya, hari Sabtu itu, Chen menunggu sahabatnya selesai berdandan. Si tomboy yang akhir-akhir ini sering sekali memperhatikan penampilan.

“YAK! KAU CEREWET! PERGI SANA!” teriak gadis itu dari dalam kamarnya,  dan sabtu pagi itu diawali dengan dengusan panjang dari Chen.

**A Hunderdth Balloons**

“Sudah serapi ini dan kau hanya mengajakku kesini?” risih Hyunjae yang merasa diperhatikan orang-orang disekeliling mereka. Ia tidak terlalu suka berada di tengah kerumunan orang yang sedang menunggu puluhan bahkan ratusan bunga sakura berguguran di taman kota.

“Ssst, sejak kapan kau jadi lebih cerewet daripada aku?” gertak Chen sambil memarkirkan sepeda, kemudian beranjak dan menggelar tiker yang sudah dibawanya tadi. Hyunjae kembali diam, kemudian duduk diatasnya dengan manis, Chen tersenyum, dirinya dapat menangkap apa yang ada dalam pikiran sahabatnya – bahkan semenjak mereka masih memakai popok itu.

“Meniup balon” ucap Chen sambil mengambil posisi duduk yang baik di samping gadis itu. Mendengar itu Hyun Jae tersenyum kecil, mengetahui sahabatnya dapat menangkap dengan baik apa yang sedang dipikirkannya dari tadi.

“Hah? Meniup apa katamu?” Tanyanya dengan dahi berkerut. Bukan, dia bukannya tidak mendengar perkataan Chen, dia hanya meminta penjelasan lebih lanjut atas pernyataan sahabatnya itu.

“Kita akan meniup balon, ya, balon” jawab Chen sembari mengeluarkan sebungkus plastik bening dari kantung jaketnya yang berisikan banyak sekali balon berwarna pastel yang akan terlihat manis setelah ditiup nantinya.

“Untuk apa?” tanya Hyunjae lagi, masih meminta penjelasan lebih lanjut. Gadis itu memang selalu begitu, begitu spesifik, tidak seperti  adik kembarnya –Oh Sehun yang sangat cepat mengerti apapun yang dikatakan maupun dilakukan orang lain. Chen tidak menjawab kali ini, membiarkan gadis itu meniup balon dengan kening berkerut. Chen tersenyum dan menatap Hyun Jae seolah menyampaikan Sudah, bantu saja aku.

Maka dengan tatapan itu, mereka menghabiskan hari pertama musim semi dengan meniup balon-balon sampai rongga mulut keduanya pegal-pegal. Tidak buruk memang, tapi bayangkan saja bagaimana keadaanmu saat meniup sembilan puluh sembilan balon, apa tidak melelahkan? Kau gila kalau bilang itu tidak melelahkan. Hyunjae terus meniup tanpa menyadari Chen yang tengah mengikat kesembilan puluh sembilan balon tadi di beberapa bagian sepedanya –sepeda yang tadi mereka gunakan untuk datang ke taman kota.

**A Hunderdth Balloons**

“MWOYA?!!” Pekik Hyunjae lagi, entah untuk keberapa kalinya gadis itu memekik. Dahinya kembali berkerut, memikirkan dengan kendaraan apa dirinya dapat kembali kerumahnya yang nyaman.

“Kita berjalan kaki saja.” Ajak chen santai

“Mwoyaa?!! SHIREO! Kau gila? Jalan saja sendiri” pekik gadis itu lagi sambil mengelus-elus dadanya yang sudah mulai bergemuruh.

“Memangnya balon-balon ini untuk apa?” Tanya Hyunjae lagi, kali ini  kerutan di dahinnya sudah mulai berkurang. Chen kembali bungkam, kemudian berjalan sambil menjinjing sepedanya. Hari itu memang sudah memasuki musim semi,  namun dinginnya angin musim gugur masih terasa menusuk hingga ke tulang. Hyunjae merapatkan cardigan hitamnya, rambut hitam nya yang bergelombang tertiup angin sepoi-sepoi.

1 menit

1 menit 30 detik

2 menit

2 menit 30 detik

3 menit, dan Chen tetap diam.

“Balon ini untuk kesembuhanmu” jawab Chen pada detik ke 2 di menit ke 3.

“Apa?” tanya Hyunjae lagi, tidak, kali ini  bukan karena gadis itu tidak mengerti apa yang dikatakan sahabatnya, bukan juga karena ia butuh kespesifikan pernyataan sahabatnya itu, tapi karena selama ini ia selalu merahasiakan penyakitnya, bahkan gadis itu rela membantu Sehun mendekati teman nya disekolah agar anak itu tidak mengatakan ini pada sahabatnya, tidak pada Chen.

“Kau sakit, HyunJae. Ini masih pagi, kudengar berjalan kaki di pagi hari dapat membantu penyembuhan dan bagus untuk kesehatan jantungmu. Kumohon jangan berlari kesana dan kemari lagi. Diamlah, dan sekali ini saja, ikuti permintaanku” jawab Chen sambil sesekali menatap gadis di sampingnya.

“Chen-ah” hati gadis itu meluluh, semua kekesalannya di pagi hari menguap, seperti balon yang tadi mereka tiup mulai berterbangan ke udara.

“Jangan perdulikan apa kata mereka, Jae-ya. Kau harus ingat ada aku selalu disini-eoh?” ucap Chen lagi, masih menatap sahabatnya, gadisnya, nafasnya, dan seluruh sumber kekuatannya itu.

“Kau tidak boleh melemah, kau harus tetap sehat! Makan yang baik, tidur yang teratur, rajin berolahraga, dan seringlah berdoa pada Tuhan, Jae. Kalau kau selalu menghindari hal itu, aku tak yakin kau bisa menimang bayi kita dengan baik nantinya” lanjutnya. Air mata hyunjae berkumpul di pelupuk, dan dalam hitungan detik cairan bening itu jatuh begitu saja, tanpa melewati kedua pipi sang gadis. Dirinya memang tak secerdas Chanri –temannya yang merupakan saudari kembar Chanyeol, ataupun secekatan Chen di kampusnya. Gadis itu berbeda, namun kali ini ia bisa langsung dapat mencerna kata-kata Chen yang memang benar – benar cukup rumit.

“Aku tidak bisa, Chen” lirihnya sambil menunduk, dirinya tidak seperti Sehun yang sangat sensitif. Tidak. Ia adalah gadis yang akan siap menendang orang yang macam-macam dengannya, memukul, dan juga membalas ocehan orang lain, dan Hyun Jae jarang menangis. Tapi sekarang, airmata itu tak dapat lagi dibendung.

Chen berhenti menjinjing sepedanya, ia memasang penyangga pada salah satu roda sepeda itu. Kemudian beralih ke Hyunjae yang masih diam menunduk, ia menenggelamkan gadis mungil itu dalam dekapannya.

“Kumohon, lupakan vonis itu Jae-ya, aku tidak ingin melihatmu seperti ini” lirihnya sambil mengelus rambut gadisnya. Detakan jantung gadis dalam dekapannya semakin lama semakin cepat, mengalahkan irama jantungnya. Hyunjae kembali terisak dalam dekapan Chen.

“Oh Hyun Jae, would you marry m-“ kata-kata Chen terputus.  Kedua bola  mata itu membelalak ketika menyadari detakan jantung tadi bukan untuknya, bukan berarti Hyunjae tidak menerima lamarannya,tapi detakan tadi menandakan betapa damainya gadis itu meninggalkan dunia yang fana ini, dalam dekapannya. Chen kembali membelalak, ia lepaskan pelukannya dari Hyunjae, mengguncang tubuh gadis itu perlahan seolah tubuh itu adalah kristal yang rapuh, yang dapat retak saat kau terburu-buru mengguncangnya.

**A Hunderdth Balloons**

“Jae-ah, jangan berpura-pura. Hentikan permainan konyolmu! Jae-ah! Jae! Kumohon sadar! Jae-ya! Yak! Andwaeeeee, Jaee” teriak Chen histeris sambil berusaha mencari-cari denyut nadi dan nafas gadisnya, namun nihil. Gadis itu benar-benar meninggalkannya. Dengan untaian kalimat lamaran yang terputus pada kata me yang berarti aku, dan seketika itu juga hidup Chen benar benar sendirian. Kenapa begitu? Karena untaian kata spesial itu berakhir pada kata aku, dan bukan kita.

 

The hardest thing to do is letting go

Not because you want to

But because you have to

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s