Never being same

image

Tittle : Never being same
Scriptwriter / Author : Dhiloo98
Main cast : Jung Soojung/krystal
Jung Hyunjae (OC)
Kim myungsoo
Genre : Angst, Romance, Family
Duration : Vignette

Rating : T
Disclaimer : Both Jung Soojung and Kim Myungsoo are belong to God, but this story is mine. So don’t bash, and RCL please.

Summary : Karena kau, aku, dan dia memang berbeda, dan tak seharusnya saling menyalahkan. Karena cinta adalah perbedaan yang bersatu

**Never Being Same**

Hyunjae POV

Aku dan dia tidak sama, dan aku tak pernah berharap untuk menyamakan derajat dengannya. Ia cantik, populer, cerdas, disenangi banyak orang, dan DITERIMA. Tidak sepertiku, anak terbelakang, bahkan aku tak lebih pintar dari autisme, okay yang itu sedikit berlebihan. Soojung saudariku, dan demi Tuhan aku tak pernah berharap harus berbagi rahim ibu bersamanya. Kenapa? Semua orang pasti berkata begitu, dan aku harus bersiap menutup telinga. Aku bodoh dan tak pernah mengerti apa yang harus kujawab.

Sarapan pagi itu dimulai~setelah aku berhasil duduk di meja makan dengan selamat, eommaku yang cantik~mirip dengan wajah Soojung sedang sibuk menata rambut si tuan putri. Oh aku mulai melantur lagi, maksudku Jung Soojung, saudariku. Ayah tentu sudah berangkat terlebih dahulu~selalu seperti itu dan selalu pulang larut. Melihat dan mendengar betapa eomma memperhatikan Soojung seperti sudah menjadi “sarapan”ku setiap hari. Ia bahkan rela menanyakan apa anak itu sudah memfacial wajahnya. Aku menelan sarapan dingin itu sebaik yang bisa kulakukan. Kemudian kembali berjalan tertatih menuju pintu depan. Dapat kudengar cacian eomma, aku hanya menunduk dan membiarkan rambut ini tergerai menutupi wajahku.

**Never Being Same**

Oh lihat, hari ini sahabat kecilku~dan Soojung tentu saja, sudah kembali ke korea. Kau harus bayangkan betapa gembiranya aku. Maksudku, hey, malaikat penyelamatku telah datang. Maka aku berdandan special hari itu, walaupun saat keluar kamar~kebetulan berbarengan dengan keluarnya Soojung dari kamarnya, eomma memuji habis-habisan, bukan diriku tentu saja. Menurutnya aku selalu sama dan akan selamanya seperti ini. Aku memapah tongkatku menuju taman belakang.

“Hyunjae~ya, perlu kubantu?” tawar Soojung terdengar hangat ditelingaku. Aku menggeleng cepat, merasakan kedua mata ini memanas. Tidak, aku tidak boleh menangis, hari ini Myungsoo pulang, dan artinya aku punya teman.

“Mianhae” sergah Soojung sambil menahan lenganku. Tongkatku terjatuh, dan artinya aku juga ikut terjatuh.

“Kau masih membenciku?” Tanyanya lagi. Kurasakan suaranya bergetar. Air mata ini tak dapat kutahan lagi, mereka mengalir dengan cepat.

“Maafkan aku, Hyunjae, demi Tuhan, maafkan aku” ia memelukku. Ikut merasakan dinginnya rumput musim gugur.

“Kau boleh menyalahkanku, maksudku, kalau saja hari it~”
“Hentikan, kumohon” jeritku frustasi. Aku harus menghentikan kata-katanya sebelum aku teringat kejadian itu. Oh sial, aku mengingatnya lagi.

“Lihat, siapa anak ibu? Yeobo, lihat, Soojungie bilang, Myungsoo memberikan cincin berlian itu untuknya. Anak rekanmu itu mengajaknya bertunangan” jerit eomma bahagia dengan Soojung disampingnya, dan ayah dengan wajah bahagia. Aku melihat pemandangan ‘menarik’ itu dari balkon rumah kami.

“Ia akan kencan hari ini. Myungsoo menunggunya di taman boulevard.” Lanjut eomma bahagia. Aku tersenyum miris. Soojung sempat melihat keatas dan bertemu tatap denganku, namun tak sampai sedetik senyuman manisnya memudar dan berubah menjadi ekspresi lain. Aku mengernyit, namun langsung kembali ke kamarku, menenggelamkan diriku di balik selimut sembari menangisi diriku. Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari Myungsoo.
“Hyunjae ya, aku menunggumu di taman boulevard siang ini, datanglah”. Senyum miris ini kembali terlukis di wajahku. Rasanya seperti ada ribuan pedang yang mengoyak hatiku. Terlalu sakit sampai aku melupakan pesan itu. Aku segera mengganti pakaian~Myungsoo selalu menyukai bila aku memakai dress. Menarik cardigan yang bisa kuambil, dan segera berlari menuju taman boulevard. Soojung menatapku di pintu masuk taman. Aku mendekatinya, mengulurkan tanganku,
“Selamat, aku senang kau bahagia, saudariku.” Sapaku hangat, bohong. Hati ini terlalu banyak berdusta. Aku terlalu munafik, tak bisakah aku berteriak aku menginginkan posisi Soojung di hati Myungsoo? Kenapa? Kenapa harus dia? Maksudku, kenapa aku tidak lebih sempurna dibandingkan dirinya? Soojung menatapku datar,
“Myungsoo pergi, dia tau semuanya” kata Soojung cepat sambil menunduk. Aku mengguncang tubuhnya, merasa ada yang tak beres disini.

“Apa? Kenapa? Maksudmu apa?” Tanyaku cepat. Soojung hanya menunduk. Aku menggenggam kedua tangannya.
“Soojungie, ada apa?” Tanyaku perlahan sambil mengelus telapak tangannya yang mulai terasa dingin. Ia menangis dan dengan cepat mengelap airmatanya dengan jarinya. Cincin itu terjatuh, ini aneh. Myungsoo selalu tau berapa ukuran tubuh kami. Bahkan sampai ke jari. Tapi cincin itu terlihat kebesaran di jari Soojung. Aku menunduk, mengambil cincin yang terjatuh itu. Meraih jari Soojung dan berniat memasangkannya kembali disana. Tapi tidak, aku menghentikan aktivitas itu. Kedua bola mataku terasa panas. Maksudku, apa apaan ini? Lelucon macam apa yang sedang dimainkan Soojung dan Myungsoo. Apa mereka berdua berniat menggoreskan luka ini lebih banyak? Aku tidak tau, dan tersadar saat mendengar isakan Soojung. Aku menggenggam cincin itu, cincin bertuliskan nama Kim Myungsoo & Jung Hyunjae, dan segera melihat jam ditanganku. Aku punya waktu beberapa menit untuk menemui Myungsoo dan menjelaskan semua ini sebelum terlambat. Maka aku berlari secepat yang aku bisa. Menyusuri hutan pinus yang letaknya menjorok ke bawah, berbukit bukit dengan kemiringan ekstra. Aku berlari. Tak perduli berapa kali aku harus terjatuh dan kembali berlari lagi. Tak perduli betapa kotornya bajuku, atau seberapa banyak sobekan di lututku. Aku tidak perduli. Myungsoo. Aku hanya harus bertemu Myungsoo. Airmata ini tidak dapat terbendung, aku berlari sambil menggenggam cincin itu makin erat tiap menitnya, dan sesampainya aku disana. Sepi. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada sepucuk surat.

“Hyunjae~ah, aku pergi. Maafkan aku atas cincin itu, ternyata kebesaran dijarimu, hehe. Amerika memang jauh, tapi kumohon simpanlah cincin itu. Aku sedang berada di airport Incheon. Aku akan menemuimu 9 tahun lagi. Disini. Saranghaeyo.” Aku menangis sejadi-jadinya dibait terakhir surat itu. Taman ini adalah taman pribadi, dan satu-satunya akses tercepat menuju airport adalah hutan pinus. Maka aku berlari lagi, takut menjalari setiap inchi tubuhku. Aku takut, takut kehilangannya. Sangat. Maksudku, ayahku jarang dirumah, dan Myungsoo bersedia memberikan kehangatan seorang figur lekaki dihadapanku. Memelukku saat aku menangis, mengelus puncak rambutku sampai aku tertidur, dan banyak hal yang membuatku mencintainya. Aku berlari, berusaha membunuh detik demi detik dengan berlari. Sampai suara itu mengejarku. Menyuruhku menyerah, walaupun tak henti hentinya meminta maaf. Angin makin kencang disini, dan aku dapat melihat dengan jelas Myungsoo memeluk Soojung. Memeluknya dibawah pohon pinus itu. Langkahku terhenti. Kakiku melemas. Tak ada lagi yang dapat kedua mata ini tangkap kecuali dua sosok itu. Aku menginjak tanah yang salah. Ranting tajam itu menggores kakiku cukup dalam, dan aku terus berlari. Myungsoo memeluk Soojung membelakangiku. Soojung terus menatapku sinis. Aku semakin berlari, tak sanggup membayangkan 9 tahun tanpa Myungsooku. Darah segar mengalir, dan aku masih terus berlari sampai Myungsoo mencium Soojung. Tepat beberapa meter dari tempatku. Tubuhku terasa tersengat listrik ribuan volt, bibir dan mata ini lelah dengan isakan yang terus keluar, sampai aku menyadari aku sudah jatuh terguling-guling ke permukaan tanah yang amat sangat miring, dan tidak ada yang lebih buruk dari luka ini. Duniaku hancur didepan mataku. Kaki ini sudah tak berlapis kulit, bahkan tulang putih pun sudah terlihat. Butuh beberapa jam untukku menyadari kalau luka yang mulai membusuk ini sungguhan, dan begitulah. Aku sadar, dengan kaki sebelah kanan diamputasi. Myungsoo pergi, hati ini terluka, dan hidupku benar-benar hancur.

“Kumohon hentikan, Jung Soojung” jeritku lagi. Soojung memelukku dan aku terus meronta.
“Kumohon jangan kasihani aku, aku tidak perduli kenapa di cincin milikmu terukir nama Myungsoo dan namaku, bukan namamu. Kumohon hentikan, lelucon konyol ini, Soojung. Aku lelah. Aku lelah berjalan dengan satu kaki, aku lelah membayangkan diriku 9 tahun ini, aku lelah, terlalu lelah untuk merasakan ini semua. Maksudku, a~a~aaku tidak sesempurna dirimu. Kau punya semuanya, dan kurasa Myungsoo seharusnya memang benar benar memilihmu. Ia mungkin salah soal cincin itu. Aaaaku” aku berhenti berkata lagi. Soojung terus memelukku erat, tubuh ini bergetar. Aku butuh semua ini, menangis, pelukan, dan penjelasan. Maksudku, tidak mudah kehilangan kaki diusia muda~14 tahun kala itu. Dimana aku dipindahkan sekolah, perubahan sikap ibu yang lebih drastis, dan tak bisa lagi melihat semangat hidupku, juga banyak hal~yang menurutku penting lainnya.

Butuh waktu satu setengah jam sampai kami berdua benar-benar berhenti menangis. Aku memeluknya, dan berusaha memaafkan segala perbuatannya dimasa lalu.

**Never Being Same**

Author POV

“Hyunjae!” Pekik seorang namja dengan tinggi rata-rata beserta wajah tampannya pada gadis dengan tongkat disebelah tangannya. Namja itu~Myungsoo membelalak. Seketika kedua iris hitam pekat itu tertutupi dengan kumpulan airmata yang berkumpul di pelupuk. Myungsoo segera memeluk gadisnya, dan berusaha menyingkirkan jauh-jauh bayangan 9 tahun lalu dimana ia dapat dengan jelas mendengar jeritan seorang yeoja memanggil namanya sebelum suara itu berhenti, dan waktunya sudah habis, namja itu harus segera ke airport. Myungsoo ingat dengan jelas Hyunjae sudah tidak memakai cincin itu saat memeluknya, dan seharusnya ia tahu kalau itu adalah Soojung.

“Maafkan aku, Jae~ya.” Lirih namja itu sambil memeluk yeoja bertongkat dihadapannya. Hyunjae tersenyum.
“Maafkan aku, atas segalanya, atas kakimu, dan semua kebodohanku dimasa lalu, Jae~ya” katanya lagi. Hyunjae menyandarkan dagunya dibahu lelaki yang memeluknya.

“Sudahlah, lupakan itu, Myungie” jawab Hyunjae sambil berusaha menghirup sebanyak-banyaknya aroma tubuh Kim Myungsoo yang tak pernah berubah di indera penciumannya. Saat itu juga, mereka bersatu. Myungsoo meminangnya, dan penantian ini telah terbalaskan. Dan saat Hyunjae bertanya kenapa, Myungsoo akan selalu menjawab,

“Karena kau, aku dan dia memang berbeda, dan tak perlu saling menyalahkan. Karena cinta adalah perbedaan yang bersatu.”

END

6 thoughts on “Never being same

  1. Aku sebel ih~ kenapa di sini MyungStal ga bersatu? Kenapa Dhilo?! Q______Q” Hyunjae sama Soojung bukan kembaran kan di sini? ._______. Dan kenapa eomma mereka lebih sayang ke Soojung daripada Hyunjae? O____o” ini cerita MyungStal pertama kamu ya? Gaya penulisan kamu semakin membaik lho, aku baca dari yg terbaru sampe yg terlama emang keliatan perbedaan cara nulis kamu dulu sama yg sekarang🙂 keep writting ya Dhilo!😀

    • hai kakaaak..
      Heh? gak bersatu? hehehe maaf kak.. yang ini aku lagi coba-coba buat uri kle jadi tokoh antagonis.. ^^ maaf ya kak kalau kurang berkenan.. maafkan akuuuuu
      dan Hyunjae sama Soojung itu adalah kembar kak di sini.. Ibunda mereka pilih kasih karena ya kan Hyunjae memang sudah cacat disini, dan emang ibunya lebih sayang sama uri kle..

      ini? eum.. iya kak. ini MyungStal fic yang pertama.. ^^
      jinjjayo? ne, diksiku kan saat itu masih minim. jadinya begitu..
      hehe gomawo kakaaaak ^^

      • Wkwk gapapa kok, berhubung aku udah baca cerita kamu yg lain waktu Myung sama Soojung bersatu, aku maafin deh (?)😀
        Oh, gitu? .____. Kalo kembar kan harusnya mereka sama2 cantik sih, kenapa coba ibunya bilang Soojung cantik tapi juga bilang Hyunjae jelek? Kan muka mereka mirip ><" ahaha~
        Iya, tapi kamu termasuk hebat sih Dhilo, dalam waktu kurang dari setaun aja gaya tulisan kamu udah berkembang segitu pesatnya :3 hehe~ keep writting yaaa!😉

      • hehe makasih udah dimaafin.. mumumumumu sini sini aku cium dulu //sehunpun melotot// :*
        iya, emang mereka sama-sama cantik. ya cuma, gimana ya kak? namanya juga udah dibedain dari bayi.. dan ditambah kondisi hyunjae yang cacat, bertambah lah ketidak ikhlasan ibu mereka dalam menyayangi Hyunjae.

        hehe, gomawo kakak.. ini semua juga berkat readers yang udah kasih review di sini dan juga bantuan dari teman-teman author aku..
        yap! fighting!

      • Eh tunggu, Sehun kenapa melotot? O___o” wkwk~
        Oh gitu .____. Dunia memang kejam u______u” gitu sih ga enaknya hidup wkwk~ tapi untung ada si Myungie~ yah meskipun rada ga ikhlas kalo Myung sama cewe lain, gapapa ding, aku relakan >____<"

      • hehe sehun melotot kan karena aku selingkuh (?) hehehehe
        heh.. rela dong kak.. yang penting Myungie happy hahaha
        kak ngobrol di page Beep Beep aja yuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s