Pic Shooter

pic shooter

Tittle : Pic Shooter

Scriptwriter / author : Dhiloo98

Main cast : Park Chanyeol EXO K

Sung Hyunjae  (OC)

Support cast : Byun Baekhyun EXO K

Do Kyungsoo EXO K

Genre : Friendship, Romance

Duration / length : Ficlet

Rating : T

Summary : Kenangan bukan hanya memori yang tersimpan di benak seseorang. Tetapi juga merupakan sebuah fakta yang dapat dinikmati kapanpun kau mau.

**Pic Shooter**

KLIK

“Chanyeol, apa yang sedang kau potret?” Kedua bola mata indah itu menatapku heran. Alis tipisnya meliuk-liuk seirama. Aku menggeleng, kemudian menggaruk tengkukku yang sama sekali tak gatal.

“Tidak. Aku hanya sedang mencoba lensa kameraku. Kalau kalau sedang kotor, jadi aku dapat membersihkannya.” Ucapku asal. Gadis yang duduk di sebelah kiriku ini mendengus. Mengambil sketch booknya kemudian kembali menggoreskan pensil gambarnya di kertas itu. Membentuk sebuah sketsa yang belum dapat kulihat karena sinar matahari yang membias.

KLIK

“Terus saja begitu. Jinri akan memarahiku lagi kalau tahu ‘calon suami’nya sedang memperhatikanku.” Ujarnya tetap memandang buku itu fokus. Aku membelalak kemudian beralih ke kameraku lagi.

Kami berdua sedang duduk di bawah pohon mapple di bukit belakang sekolah. Ya, semacam rutinitas sepanjang jam istirahat berlangsung. Aku mencoba memperhatikan objek lain, namun gadis di sebelahku ini rupanya membuat sudut mataku terus tertarik ke dirinya. Angin sore meniup lembut rambut cokelat gelapnya yang diikat kuda. Sinar matahari menerpa sebagian wajahnya, menjadikan iris cokelat gelap itu terlihat bening. Oh, jangan lupakan semburat merah muda yang senantiasa menemani pipi kapasnya.

KLIK

“Perlu kejelaskan berapa kali lagi, Park Chanyeol?” Tanyanya sembari menatapku lekat. Ugh, sebisa mungkin aku langsung menyibukkan diriku dengan kamera ini~lagi~. Diam-diam, dapat kulihat Hyunjae-gadis disampingku tadi- mengulum senyum hangatnya.

“Kalau begini terus, aku tak tahu harus berkata apa pada Jinri, yeol.” Kikiknya kecil sembari menatapku lagi. Otakku berhenti bekerja. Sulit sekali rasanya mencerna perkataan Hyunjae barusan.

**Pic Shooter**

“Eum, begitu rupanya.. Lalu bagaimana dengan rumus yang ini?”

“Ah ya, bagaimana bisa aku jadi sebodoh ini ya?”

“Astaga! Kenapa soal yang ini menjadi begitu mudah dijawab?”

“Ugh, seharusnya aku mengetahui ini lebih awal!”

“Err.. maaf, aku tidak mengerti. Bisa jelaskan lagi?”

Oh, kata-kata itu terus berputar di benakku. Maksudku, aku dan Hyunjae itu sudah menjadi teman sejak kami masih ada di dalam kandungan ibu kami. Kami disekolahkan di sekolah yang sama sejak kecil. Lalu apa-apaan ini? Aku harus menunggunya selama lebih dari dua jam hanya untuk melihatnya duduk berdekatan dengan Kyungsoo-si anak kepala sekolah dengan mata besarnya yang mampu membawa pulang medali emas dalam kejuaraan apa saja-.

Sekarang , kurasa Hyunjae pasti sedang tidak main-main. Aku tahu ia mau lulus dengan nilai yang memuaskan. Tapi, setidaknya ia bisa meminta bantuanku. Kalau begini, lebih baik kubuang saja medali-medali kejuaraan matematika di kamarku. Ini terlalu menyebalkan. Lihat saja, mata besar! Kau pasti akan mendapatkan sesuatu dariku!

“Bukan, bukan begitu. Tapi begini,” lelaki bernama Kyungsoo yang berada di kelas yang sama denganku itu memegang tangan Hyunjae dan menggerakannya di kertas-dengan pensil ditangannya.

Aku yakin, kamera ini pun pastinya sudah jengah dengan pemandangan yang ada di depan kami. Sepasang anak muda yang sedang mengadu rasa dalam pelajaran. Cih, menjijikan. Aku terus memotret terfokus pada Hyunjae. Memperhatikan gerak-geriknya dari sini. Namun, tiba-tiba Kyungsoo mengacak rambut Hyunjae dengan gemas, dan Hyunjae tersenyum manis menanggapinya. Melihatnya, rasanya emosiku sudah sampai pada puncaknya.

BLAM! Aku meninggalkan kelas dengan suara pintu yang cukup keras.

**Pic Shooter**

“Jadi kau menyesal telah membanting pintu dihadapan Hyunjae kemarin?” Aku mengangguk lemah, membenarkan pertanyaan Baekhyun-sahabatku-barusan.

Yeah, semenjak kejadian minggu lalu aku memutuskan untuk mengabaikan Hyunjae. Kuharap dia mengerti kalau aku tak suka melihatnya berdekatan dengan pria lain selain aku. Ya, kalau pria itu paman Sung-ayah Hyunjae- tentu saja boleh.

Yang benar saja! Bahkan setelah aku sampai dirumah, aku tidak menerima pesan singkat apapun dari Hyunjae. Padahal aku sangat mengharapkan permohonan maafnya. Ya paling tidak ia menanyakan keadaanku. Barulah, saat tengah malam aku menerima pesan masuk yang berisi tentang betapa senangnya Hyunjae hari itu karena bisa diajari oleh si mata besar-Kyungsoo-itu.

“Lalu?” Aku menghela napas. Tentu saja bingung dengan apa yang harus kujawab pada Baekhyun. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya dan Hyunjae? Haruskah kubilang kalau aku sedikit, err, cemburu? Ah, kurasa pikiranku mulai ngawur.

**Pic Shooter**

“Shoot, Chanyeol! Shoot! Yak! Yeaaay!” Jinri berteriak dari kejauhan. Lengkap dengan kostum pom-pom nya yang menurutku sangat kekanakan. Bagiku, memasukkan bola ke dalam ring itu hal yang mudah. Tapi, bukan itu yang ingin aku dengar darinya,

“Jae-ya! Lihat! Chanyeol sahabatmu itu sedang bertanding!” Jinri – lagi lagi- berkata dengan suara melengking. Aku hanya diam-tentu saja-tak bergeming. Menunggu jawaban apa yang akan dikeluarkan Hyunjae. Kemudian dapat kulihat dari sudut mataku, Hyunjae hanya mengibaskan tangannya sembari berlalu. Lalu lelaki bernama Kyungsoo lelaki-sekolah kami memisahkan kelas lelaki dengan kelas perempuan- merangkulnya hangat sembari mengitari lapangan olahraga. Baekhyun diujung sana menyapa Hyunjae, dan menyuruhnya untuk melihatku bertanding, dan Hyunjae berkata,

“Biar saja dia bermain. Itukan bukan hal yang spesial!” Harapanku pupus ditempat. 100 untukmu, Hyunjae.

Oh sial, rasanya otakku sudah ingin meledak. Tanpa sadar, aku membanting bola basket yang sedang kupegang dengan kekuatan ekstra. Bola itu memantul keras dan mengenai para gadis pom-pom, salah satunya Jinri.

Suasananya sangat kalut. Aku-yang merasa bertanggung jawab- langsung menggendong Jinri yang pingsan karena hantaman bola basket di keningnya dan membawanya ke UKS sekolah kami. Kutinggalkan pertandingan, juga kameraku yang tergeletak di tepi lapangan tempat Hyunjae berdiri tadi. Aku sudah tidak melihat Hyunjae maupun Baekhyun saat itu. Kurasa ia sudah pergi dengan Kyungsoo. Ah, sudahlah. Mungkin ia sudah membenciku dan memecatku sebagai sahabatnya.

**Pic Shooter**

“Bisa jelaskan apa maksudnya ini?” Hyunjae bersandar di pintu kamarku dengan kameraku di tangannya.

“Oh, kau menemukannya? Syukurlah. Sini, kembalikan!” kataku sembari mengulurkan tangan untuk mengambil kameraku. Hyunjae menjauhkannya dariku, membuatku kesulitan untuk menggapainya.

“Demi Tuhan! Ada apa denganmu?!” Ujarku sembari menjauh. Hyunjae menatapku menelisik dari ujung kaki hingga kepala.

“Kau! Mengaku saja!” Ujarnya sembari mendudukkan diri di tepi ranjangku. Alisku bertaut, mengikutinya duduk di tepi ranjang.

“Ada apa, nona Sung?” tanyaku menggodanya. Hyunjae tak bergeming, tak menanggapiku seperti biasanya. Namun, dapat kulihat pelupuk matanya dipenuhi cairan bening yang mendesak keluar.

“Kau jahat!” Oh tidak, dari 17 tahun pertemanan kami, inilah satu-satunya kalimat yang paling aku benci. Kalimat itu mengandung unsur mistis yang dapat membuat Hyunjae mengabaikanku selama sebulan penuh. Tidak mengangkat panggilanku, pura-pura tidak mengenalku di sekolah, menolak pulang bersama, dan banyak hal mengerikan lainnya. Namun, kali ini berbeda. Jantungku serasa hampir keluar dari tempatnya untuk hal yang satu ini. Hyunjae menangis sembari memelukku.

“Kau jahat, Park Chanyeol!” ujarnya lagi.

“Wae?” aku melunak, mengelus puncak kepalanya. Berusaha membuatnya senyaman mungkin.

“Kau tahukan, aku tidak suka dengan rahasia?” tanyanya, aku mengangguk.

“Kau tahukan, Jinri itu temanku dan dia sangat sangat sangat menyukaimu?” tanyanya lagi, aku kembali mengangguk.

“Kau tahukan, aku juga tidak suka dengan suara keras, seperti saat kau membanting pintu kelas beberapa minggu lalu?” aku mengangguk berkali-kali untuk pertanyaan itu. Maafkan aku, hyunie. Kau pasti ketakutan kala itu.

“Kau tahukan, aku akan gugup saat berbicara dengan pria? Tapi kau malah meninggalkanku dengan Kyungsoo.” Ya, aku tahu hal itu tentu saja. Hey! Omong-omong aku kan juga seorang pria. Kau anggap apa aku ini, huh?

“Kau tahukan, aku ini orang yang mudah penasaran?” tentu. Maka itu kau bisa melihat semua foto di kameraku kan?

“Kau tahukan, aku menyukaimu lebih dari apapun di dunia ini?” Tanyanya lagi, lengkap dengan suara sengaunya. Juga air mata yang masih menetes dan membasahi kemejaku. Aku tak langsung mengangguk. Aku saja tidak paham dengan kata-katanya barusan. Namun, kemudian aku sadar dan membalas pelukannya.

“Aku tidak tahu hal yang itu, Hyunjae. Demi Tuhan, maafkan aku. Aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya padamu. Aku bekerja keras untuk foto-foto itu, demi membuatkanmu hadiah-bukan kejutan-.” Jawabku jujur.

“Oh ya! Aku juga menyukaimu lebih dari apapun di dunia ini, Sung Hyunjae!” Jawabku lantang selang beberapa detik setelah jawabanku sebelumnya. Yah, mau bagaimana lagi? Kami sudah terikat sejak masih dalam kandungan, tumbuh besar bersama, sekolah bersama. Lalu apa lagi yang dapat aku lakukan selain menyukainya? Tapi, lagi-lagi ada yang janggal disini. Hyunjae justru tertawa renyah. Padahal menurutku ini adalah moment paling mengharukan sepanjang hidup kami.

“Bukan itu maksudku, bodoh!” ujarnya. Hyunjae mengetuk kepalan tangannya ke kepalaku.

“Kukira, kau akan mempublish foto-fotoku yang ada di kameramu itu.” Ujarnya lagi. Aku kembali membelalak dan melepaskan pelukannya.

“Publish?” Oh, sepertinya alisku terangkat sebelah. Hyunjae terkikik lagi.

“Iya, kau lupa ada kejuaraan fotogragi?” tanyanya lagi.

“Untuk apa aku ikut? Lagipula, si mata besar itu pasti akan membawa pulang hadiah utamanya.” Aku mengerucutkan bibirku. Hyunjae-lagi lagi- terkikik.

“Mata besar? Siapa yang kau sebut mata besar? Asal kau tahu, kau bisa mendapat beasiswa seni kalau kau menang.” Eum, aku mulai tertarik dengan yang satu itu.

“Tapi, kau pasti mendukung si mata besar itu kan?” Hyunjae langsung mendorong dahiku dengan jarinya, kemudian menggeleng lemah.

“Dasar bodoh! Aku punya kau untuk disemangati, lalu untuk apa menyemangati orang lain?” Ah, pipiku terasa panas untuk perkataannya barusan. Selama tujuh belas tahun ini, Hyunjae tak pernah memujiku seperti ini. Ditambah pelukan, dan senyuman hangat. Astaga, ini terasa seperti mimpi.

“Hey, tunggu dulu. Kalau kau mengira aku akan mempublish foto-foto itu, artinya kau maksud dengan menyukaiku itu adalah~”

“Tepat sekali, Chanyeol. Tentu saja aku sedang menyuap mu. Oh kurasa aku mendapat dialog baru untuk novelku. Lagipula, mana mungkin aku menyukaimu lebih dari ini?” Melongo. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini. Bagaimana bisa? Jadi Hyunjae tidak benar benar menyukaiku? Lalu kenapa tadi aku mengakui kalau aku juga menyukainya?

**Pic Shooter**

“Hey, Park Chanyeol!” suara ini agak asing ditelingaku, jadi aku tidak segera menoleh.

“Kau harusnya meminta maaf karena telah tidak sopan membanting pintu dihadapan Hyunjae!” celetuk pria itu. Baiklah, kalau seperti ini mungkin suaranya tidak asing. Hey! Lagipula aku sudah meminta maaf pada Hyunjae!

“Apa urusanmu?”

“Urusanku? Hyunjae menangis seharian setelah peristiwa itu. Ditambah saat kau menggendong Jinri ke UKS.” Kyungsoo si mata besar berkata sembari mendongakan kepalanya. Entahlah, mungkin aku terlalu tinggi.

“Begitukah?” Kyungsoo mengangguk.

“Menangis ya? Lalu apa yang kau lakukan padanya? Apa kau mengusap air matanya? Oh, kurasa Hyunjae hanya menggunakanmu sebagai teman akting untuk dialog baru dinovelnya.” Aku berkata sembari mengibaskan tangan dan segera melangkah pulang.

“Hyunjae bilang waktunya tak lama lagi!” Baiklah. Teriakan itu membuatku berhenti berjalan.

“Ia akan pindah ke Jepang setelah lulus nanti!” lanjut lelaki itu dengan suara yang melengking. Kurasa, jika ia berpasangan dengan Jinri akan serasi. Tapi, tunggu dulu. PINDAH KE JEPANG KATANYA?

“Pindah ke Jepang katamu?” Okay, maafkan aku mata besar. Aku jadi harus membuat kerah bajumu berantakan karena cengkramanku.

“Dua bulan lagi pengumuman kelulusan kan? Hyunjae akan pindah untuk melanjutkan kuliahnya disana.” Matanya yang besar makin membesar, aku jadi takut melihatnya.

“Yeolie!” oh, Hyunjae sudah memanggilku. Mungkin urusannya di toilet sudah selesai. Aku segera merapikan kerah baju Kyungsoo yang berantakan kemudian berlari menuju Hyunjae dengan kamera menggantung di leher.

“Ada apa dengan rokmu? Kenapa ditutupi begitu? Robek?” Hyunjae terkejut. Kemudian ia menatapku ragu,

“Apa tidak apa-apa kalau aku memberitahumu? Inikan, err, urusan wanita.” Bisik Hyunjae dengan wajah penuh ekspresi kekhawatiran. Aku tak suka membuang waktu, jadi aku melepas jas sekolahku dan mengikatkannya di pinggang Hyunjae.

“Aku tidak mau tahu kau kenapa. Pakai saja ini. Ayo kita pulang!” ajakku sembari mendorong pundak Hyunjae dari belakang. Rumah kami tak terlalu jauh dari sekolah, jadi kami biasa berjalan kaki bersama.

“Err.. Hyunjae~ah, aku punya teman yang akan kuliah di luar negeri. Tapi dia merahasiakannya dariku. Menurutmu, aku bertanya tidak padanya?” Kataku ditengah perjalanan kami. Masih dengan tanganku mendorong tubuh mungil Hyunjae dari belakang. Hyunjae menggeleng tanpa suara. Ah, kurasa anak ini tidak peka.

“Menurutmu~”

“Chanyeol, kita sudah sampai. Bisa dilepaskan? Lekas masuk kerumahmu di seberang sana.” Ujar Hyunjae sembari melepas pagutan tanganku dan mendorong tubuhku ke rumah dengan cat abu-abu yang berdiri persis di seberang rumah keluarga Hyunjae-maksudku, itu rumahku-. Ketika aku hendak bertanya lagi, Hyunjae sudah terlanjur menutup gerbang rumahnya.

**Pic Shooter**

Penumpang sekalian, pesawat tujuan Tokyo akan berangkat 15 menit lagi. Diharapkan segera menuju garbarata.

Aku berlari secepat yang kubisa. Okay, lupakan dulu fakta tentang kelulusanku dengan nilai yang memuaskan –oh, aku mengingatnya lagi barusan-. Percayalah, sulit sekali mencari Hyunjae diantara kerumunan orang-orang ini. Maksudku, Hyunjae itu bertubuh kecil sementara disini aku belum menemui orang yang lebih pendek dari pada aku selain para bayi.

15 minutes later

“Kau terlambat, yeol. Pesawatnya sudah take off.” Kyungsoo berkata dengan nada lemah. Anak itu memegang bahuku sebelum ia pergi.

Oh tidak, aku mulai merasa berdosa. Aku tak bisa memberikan hasil fotoku selama beberapa tahun belakangan ini pada Hyunjae. Tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain menyeka air mata yang bertumpahan membasahi photo book berisi foto-foto Hyunjae. Aku ini sahabat yang buruk, bukan?

“Ini. Hyunjae meninggalkan buku ini padaku. Ia berharap kau dapat melihatnya.” Seseorang bersuara serak juga sengau memberi sebuah buku padaku yang kala itu sedang menunduk.

Begini, Hyunjae mengatakan aku selalu terlihat jelek saat menangis. Jadi aku tidak menampakkan wajahku pada orang baik yang memberikanku buku. Begitu merasa sudah kembali tampan , aku mengambil buku yang digeletakkan di sebelah tempatku duduk. Tidak ada yang spesial. Buku itu disampul dengan kertas berwarna biru-salah satu warna kesukaan Hyunjae- dengan kualitas yang baik. Aku mengenali buku itu sebagai buku sketsa milik Hyunjae yang selama ini selalu dirahasiakannya dariku.

Bagaimana ini? Aku baru melukis setengah tubuhnya di sketsa. Namun ia tumbuh lebih cepat dari yang kukira. Aku jadi kesulitan menyelesaikannya” disana ada aku, berusia kira-kira sepuluh tahun dengan bola basket yang senantiasa kubawa kemanapun aku pergi-kecuali kamar mandi- kala itu. Ah, itu masa pubertasku. Terang saja aku tumbuh lebih tinggi.

Dia tidak tampan bukan? Katakan begitu! Karena, aku ingin hanya dirikulah yang mengatakan kalau ia tampan.” Okay, aku ini memang tampan, Hyunjae. Kau ini bagaimana?

“Rutinitas sehari-hari bersamanya. Duduk dibawah pohon mapple di bukit belakang sekolah.” Disana ada skesta close-up wajahku dari samping. Hyunjae memberi hiasan bunga cherry blossom di sekitar wajahku.

My prince, would you be my forever love?” astaga, pasti saat ini pipiku memerah.

CUP. Sesuatu yang sedikit basah mengenai pipiku dengan cepat.

“Pipimu memang merah, yeol.” Jantungku serasa hampir keluar dari rongga nya. Hyunjae berada di sebelah kiriku-selalu seperti itu- dengan senyuman menghiasi wajahnya.

“Kau! Bagaimana bisa?”

“Pemberangkatannya ditunda karena ada kerusakan mesin.” Aku mengangguk, kemudian bersandar di bahunya.

“Tidakkah kau berpikir ini aneh?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Apa?”

“Apa tulisan tadi menyebutkan kalau kau melamarku?” Hyunjae terkikik. Lalu kurasakan sebuah tinjuan kecil di punggungku.

“Ya, kalau kau berpikir begitu apa boleh buat.” Hyunjae menghela napasnya seolah kalimat tadi adalah paksaan.

“Kau ini bagaimana! Itukan sama sekali tidak romantis. Seharusnya aku yang mengatakannya duluan.” Ujarku sembari memberikan photobook pada Hyunjae.

“Tak usah diperlihatkan, aku sudah melihatnya sampai habis. Bahkan aku sudah menuliskan jawabannya di kertas terakhir.” Aku buru buru membuka halaman paling terakhir photo booknya dimana ada kata “Tidak” disana.

“Coba balik halamannya.” Aku segera membalik halaman itu dan menemukan kata, Tidak mungkin aku menolakmu!

“Jadi?”

“Apa?”

“Kapan kita akan menikah? Ouch! YAK!” Gadis itu meninju perutku.

“Menikah saja dengan kertas! Kau melamar kertas, dan kertasku sudah memberi jawaban! Aku sih tidak mau menikah dengan selembar kertas.”

“Jadi~”

“Ya, ya, ayo kita menikah!” ujarnya cepat dengan nada gembira.

“Setelah kuliah dan bekerja. Baru akan masuk ke tahap itu. Kau ini jangan berharap ya!” lanjutnya.

“10 menit lagi mungkin pesawat kita sudah take-off.” Katanya santai. Aku mengangguk kemudian membelalakan mataku,

“Kita?” Hyunjae mengangguk.

“Ahjumma sudah menaruh kopermu tadi. Ticketing juga sudah dilakukan.” Aku makin membelalak.

“Kau ini bodoh atau apa?! Kau kan mendapat beasiswa seni, Park Chanyeol!” teriak Hyunjae sampai semua orang-orang  memfokuskan diri mereka pada sepasang anak muda yang sedang berdebat.

**Pic Shooter**

KLIK

Foto pernikahan kami –aku dan Hyunjae- bahkan dikerjakan oleh kami sendiri. Kami sudah kembali ke korea, dan membawa pulang banyak tabungan. Kami akan membeli rumah yang  besar, seperti di film Architecture 101. Hyunjae bilang, ia ingin seperti Bae Suzy atau Han Ga In. Ya, walaupun skenario nya akan kami ubah 180° dari cerita aslinya. Lalu akan hidup bahagia selamanya.

Kenangan bukan hanya memori yang tersimpan di benak seseorang, tapi juga sebuah fakta yang dapat dinikmati kapanpun kau mau. Jadi abadikanlah semua itu semampu yang kau bisa. Sama seperti yang aku dan Chanyeol lakukan.” ~Sung Hyun Jae

“Hidup itu seperti kamera. Fokuslah pada objek terpenting, dan kau akan mendapatkannya dengan sempurna.”~Park Chan Yeol

FIN

One thought on “Pic Shooter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s