Summer Cream

summer-cream

Tittle : Summer Cream

Scriptwriter / author : dhiloo98

Main cast : Oh Sehun // Kim Jong In // Cha Rin Rin

Support cast : EXO member // Jung Soo Jung// Choi Jinri

Genre : Fluff, Friendship till the end.

Duration/length : Ficlet

Rating : T

Summary : Seluk beluk persahabatan itu seperti lelehan ice cream yang mengotori bajumu di musim panas. Juga seperti ice cream rasa jeruk yang menyegarkan.


**Summer Cream**

TES TES TES

Bukan, itu bukan suara rintikan air hujan.

Itu juga bukan suara tetesan air mata seseorang.

Itu adalah suara tetesan ice cream yang mencair milik salah satu dari tiga sekawan berseragam sekolah menengah atas. Siang di pertengahan Juni itu memang puncak musim panas. Sekolah sekolah mengadakan kegiatan olah raga. Kedai-kedai ice cream ramai dikunjungi. Orang-orang juga cenderung menonton film horror di rumah masing masing.

“Sehun, jangan sampai lelehannya menetes ke bajumu.” Satu satunya gadis disana –dengan ikat kudanya – menyeka dagu Sehun – salah satu lelaki yang berambut kecokelatan – dengan sapu tangannya. Sedangkan lelaki yang satu lagi mengerucutkan bibirnya. Wajahnya mengekspresikan betapa irinya dia dengan perlakuan sang gadis pada Sehun.

“Rin rin! Aku kan juga tidak mau bajuku kotor. Lihat, lelehannya menetes ke daguku.” Rin rin memutar bola matanya. Baru saja ia ingin membersihkan sisa ice cream itu, ia sadar akan sesuatu.

“Argh! Ada apa dengan kalian berdua! Kekanakan!” Gadis bernama Rin rin itu berteriak sembari meninggalkan kedua lelaki yang sedang dilanda kebingungan.

Sehun menatap Jong In kesal, lalu Jong In balas menatapnya garang. Mereka berdua terlihat menakutkan. Ice cream mereka bahkan sudah habis dan meninggalkan batangnya saja. Sehun memandang batang ice creamnya dengan bibir yang mengerucut sepanjang perjalanan pulang.

**Summer Cream**

“Heeyoong Heeyoong” Sehun menirukan suara kipas angin yang berputar mengelilingi sebagian wajahnya. Sementara dua orang lainnya hanya mampu memutar bole mata mereka dengan kipas tangan digenggaman masing-masing.

Sehun menatap Rin rin iba dari sana. oh, ia tak mau melihat kawannya yang satu itu harus berbasah-basahan dengan keringatnya sendiri. Sehun berpikir sejenak, mengetuk ngetuk sudut bibirnya dengan jari telunjuknya kemudian menarik ujung jari kaki Rin rin hingga membuat gadis itu berjengit geli. Tatapannya mengisyaratkan kalimat seperti, Ada apa, sehunie? Sehun memanggilnya dengan bahasa tubuh yang benar benar minim. Ia berbuat begitu karena tak mau Jong In menyadari jatah ‘angin’nya yang berlebihan.  Lelaki itu kini menutup mata nya dengan kedua telinga tersumpal oleh headphone disudut ruangan. Rin rin mendekati Sehun kemudian tengkurap di depan kipas angin listrik itu.

CUP

“Sehun! Apa yang kau lakukan?!” gadis bernama Rin rin itu terkesiap dengan tangan memegangi pipinya kencang.

“Ada keringat yang menetes.” Sehun menjawab dengan nada datar sembari menunjuk keringat lain yang menetes di pelipis kiri Rin rin.

“Itu menjijikan Oh Sehun! Tidakkah kau berpikir demikian?”

Dahi Rin rin benar-benar berkerut saat mengatakan itu. Kemarahannya sudah sangat memuncak.  Seluruh wajahnya berwarna merah hingga sampai ke telinga. Menurutnya, apa yang tadi Sehun perbuat sangat kekanakan untuk dilakukan remaja berusia 16 tahun seperti mereka bertiga.

Jong in yang sedari tadi tenang dengan dunianya sendiri hampir saja meninju Sehun kalau-kalau Rin rin tidak menghalanginya. Gadis itu mengira Jong In melakukannya karena menyadari jatah ‘angin’ Sehun yang berlebihan, atau betapa teriakan dirinya mengganggu konsentrasi pemuda itu. Namun ia salah dengan persepsi itu. Jong In melakukannya karena,

“Sehun-ssi, apakah terasa adil saat kau mencium pipi Rin rin sendirian?”

Rin rin melongo. Gadis itu benar-benar melongo. Beberapa hal sedang meracuni pikirannya yang polos. Pertama, karena tiba-tiba Jong In menggunakan embel embel ‘ssi’ pada akhir nama Sehun. Lelaki itu biasa melakukannya saat ia sudah benar benar kesal dengan Sehun. Kedua, mendengar pertanyaan yang tak sengaja diucapkan Jong In dengan volume sebesar tadi. Apa maksud kata-kata Jong In? Rin rin tiba tiba saja merasa asing dengan dua pemuda dihadapannya. Walaupun Jong In dan Sehun sudah berteman dengannya sejak taman kanak kanak, tetapi sekarang ia mulai merasa ada yang tak beres dengan mereka berdua.

“Apa maksudmu, Jong In? Kalian menjadikanku sebagai apa? Bahan rebutan? Mainan? Tameng? Atau apa?” wajah Rin rin kembali memerah. Gadis itu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kamar Jong In tanpa pamit sedikitpun.

Seperti hari hari sebelumnya, kedua lelaki itu hanya mampu saling bertatapan tanpa berniat untuk mengejar Rin rin dan meredakan amarah gadis itu.

**Summer Cream**

“Sehun, mana Jong In?” Rin rin bertanya di suatu siang yang amat panas. Sehun mendelikan dagunya ke sepasang remaja di sebelah kiri Rin Rin.

“Soojung. Kau tahukan? Jong In sedang melakukan pendekatan dengannya.” Rin rin mengangguk kecewa. Walaupun mereka bertiga sering bertengkar di perjalanan pulang, namun mereka hampir tak pernah keluar dari gerbang secara terpisah –mereka senantiasa bertiga kemanapun itu.

“Kau kenapa, Rin rin?” gadis itu menoleh dengan cepat ke arah Sehun. Matanya menerawang tak fokus. Kemudian menggeleng lemah.

“Terasa sepi saja. Seharusnya ada dua lengan yang dapat kupegang dibagian kiri dan kanan. Tapi sekarang hanya ada aku dan kau. Tidakkah kau berpikir begitu?” Sehun mengangguk setelah berpikir cukup lama.

“Kurasa Jong In hyung juga butuh waktu untuk bertemu gadis lain. Iya kan?” Rin rin makin kecewa mendengar penuturan Sehun tadi. Selama ini ia selalu merasa spesial berada di antara dua lelaki itu. Ya walaupun ialah yang selalu melindungi keduanya, ia tetap merasa demikian.

“Rin rin, ayo kita membeli ice cream rasa jeruk!” seru Sehun seperti baru menemukan penemuan hebat. Rin rin mengangguk semangat. Setidaknya di cuaca panas yang serasa membakar otaknya seperti ini, ice cream rasa jeruk dapat menyegarkan pikirannya.

**Summer Cream**

Rin rin berjalan sendirian setelah berpisah dengan Sehun di pertigaan jalan dekat halte. Biasanya ada jong In yang masih berada disampingnya – mengingat rumah lelaki itu hanya berbeda 1 blok dengan rumah Rin rin. Tapi sekarang ia sendirian. Sudah dua bulan Jong In selalu pulang bersama Soojung. Itu membuat Rin rin benar benar merasa kesepian.

Belakangan – sekitar satu setengah bulan – ini, Sehun juga menyibukkan dirinya dengan beberapa teman laki laki yang sudah lama tidak bermain dengannya. Seperti Luhan, Kyungsoo, dan juga Zitao – anak pindahan dari China yang tingginya kadang menghalangi pemandangan – juga Chanyeol dan Baekhyun. Rin rin menganggap dua orang terakhir itu sebagai pengacau utama.

Kenapa? Oh jangan tanyakan hal itu. Semua itu karena Rin rin pernah diomeli ayahnya habis-habisan sebab Baekhyun dan Chanyeol mengacak acak rumahnya hanya untuk mencari sebuah bolpoin yang hilang saat mereka mengerjakan tugas berkelompok.

“Tak adakah namja yang mau menemaniku pulang? Sehun, Jong In, aku benar-benar merasa kesepian.” Gumam Rin rin dengan kaki menendang kerikil kerikil kecil di tengah jalan.

Lalu tiba-tiba segerombol lelaki dari dalam gang sempit menghadang jalannya. Hari itu memang masih siang, namun sangat sedikit orang yang melewati jalanan tempat Rin rin dihadang. Rin rin bisa saja menjatuhkan lelaki itu, tapi tidak dalam jumlah sebanyak ini.

Sabuk hitam taekwondo nya rasanya tidak dapat dipakai dalam situasi seperti sekarang ini. Dalam 15 menit gadis itu sudah menumbangkan dua orang dari segerombol lelaki tadi. Selebihnya, Rin rin sudah kehabisan tenaga. Gadis itu merasa sudah benar-benar terpojok. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan selain menutup mata. Mungkin ia tak akan membuka matanya kalau saja bunyi bedebam yang amat keras tak muncul saat itu juga.

Masih dengan kedua mata yang tertutup gadis itu merasakan dua pasang lengan sudah melingkari tubuhnya. Memeluknya erat seolah tak ingin gadis itu terluka sedikitpun. Saat membuka mata, ia menemui wajah yang tak asing dihadapannya. Ia mengenali kedua lelaki itu sebagai sahabatnya, Jong In dan Sehun. Dengan lebam dan beberapa tetes darah di sekitar kepalan tangan dan sudut bibir masing-masing.

Aigoo, niga bogoshiposeo!” ujar Rin rin sembari memeluk kedua sahabatnya dengan erat.

**Summer Cream**

Aaah, aku kenyang sekali.”

Sehun yang pertama kali membuka mulut setelah ia menelan suapan terakhirnya. Disana ada pudding dengan berbagai macam fla, muffin, bolu, cupcakes, bubble tea, dan beberapa pouch ice cream. Mereka bertiga menatap diri masing-masing hingga tertawa terbahak-bahak.

Melihat bagaimana sulitnya mereka untuk berdiri setelah ini, rasanya mereka telah menghabiskan berjam jam untuk memakan makanan tadi. Sehun berkata, seperti ada satu ton pudding yang mengganjal perutnya. Kemudian Jong In juga ikut berkata, bahwa perutnya serasa tersumpal ribuan cupcakes. Sedangkan Rin rin meliuk-liukan kedua kakinya, sepertinya gadis itu harus segera sampai dikamar mandi sebelum semua bubble tea yang tadi ia minum keluar dengan percuma.

Dua jam kemudian, setelah tiga sekawan itu selesai dengan urusan masing-masing dan isi perut mereka mulai mengempis, mereka mulai memeluk diri satu sama lain.

“Jong In hyung, idemu tidak bagus. Baru dua bulan saja kita tak bertemu satu sama lain, aku sudah sangat merindukan kalian.” Ujar Sehun diikuti tatapan heran dari Rin rin. Jong In menghela napasnya. Berharap Rin rin tak langsung berkomentar kali ini.

“Begini, kurasa tak adil karena kita selalu bertiga dan tak pernah menjalin hubungan apapun dengan orang lain. Jadi hari itu, setelah Sehun berbagi kipas denganmu, aku sudah merencanakan perpisahan kita. Sebenarnya aku menjadwalkan selama tiga sampai lima bulan. Tapi, karena tadi kau mendadak membutuhkan bantuan, jadi aku membantumu, Rin-ah” Jelas Jong In panjang lebar.

“Tapi bagaimana bisa kalian mengetahui aku dalam bahaya?” Sehun dan Jong In saling bertatapan kemudian terkikik.

“Eum, bagaimana ya? Maaf sebelumnya. Selama dua bulan ini sebenarnya aku selalu mengikutimu. Aku tak tau kalau Sehun ternyata juga berbuat demikian. Sulit mengatakannya, tapi kurasa kami benar benar mengkhawatirkanmu.” Jelas Jong In lagi. Gadis itu menghapus cairan bening yang lagi-lagi menguar dari matanya. Entahlah, mungkin ia terharu dengan perbuatan dua orang sahabatnya itu.

“Jadi, kau sudah memiliki Soojung, si cantik dari kelas seni dan Sehunie sudah memiliki banyak teman pria ya?” Rin rin bergumam lima menit setelah ia menyeka air matanya. Jong In menganggukan kepalanya, membenarkan ucapan Rin rin. Sedangkan Sehun justru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ada apa lagi dengan anak itu?

“Jinri bilang ia akan mengajakku jalan-jalan ke amusement park hari minggu ini.” Jong In dan Rin rin menatap Sehun tak percaya.

“Sehun-ah, jinjjayo? Woah, Chukae!” Mata Rin rin membulat sempurna kala itu.

“Syukurlah, setidaknya aku masih memiliki Jong In minggu ini.” Gadis itu mengelus dadanya. Sementara dua orang lelaki dihadapannya saling bertukar pandang.

“Eum, Rin rin, sebenarnya hari minggu ini aku juga sudah mengajak Soojung berkencan.” Jelasnya hati-hati. Rin rin langsung menghela napanya. Merasa dirinya sebagai satu-satunya orang yang sendirian.

“Cha Rin rin, mianhae” ujar Jong In dan Sehun bersamaan. Belum sempat gadis itu menjawab, ponselnya sudah terlanjur berdering.

RING RING

Mata Jong In dan Sehun tak dapat lepas dari ponsel Rin rin yang tiba-tiba berbunyi. Apalagi dengan nama Kris di flap ponselnya.

“Yeoboseyo?”

Ne, yeoboseyo? Rin rin ssi, ini aku Kris dari kelas XII-1. Kau ingat aku?” Rin rin mengangguk angguk. Sementara Sehun menekan tombol loud speaker di ponsel gadis itu.

“Ne, tentu saja. Kau ketua regu basket juga kan? Ada apa, Kris?” tanya Rin rin hati-hati. Seingatnya ia tak pernah terlibat persoalan yang rumit dengan anak bernama Kris itu. Ah, mungkin ia lupa mengembalikan buku milik Kris. Pertanyaannya adalah, kapan ia meminjamnya?

Begini Rin rin, aku ingin bertanya, apakah hari minggu ini kau punya waktu luang?” Jong In membuka mulutnya lebar-lebar kemudian membisikan Rin rin sesuatu, seperti, Itu hal yang kukatakan pada  Soojung saat mengajaknya berkencan, sungguh!

Ketiganya membelalak bersamaan.

“Rin rin-ssi?”

“Ah ne, Kris-ah. Aku ada waktu. Ada apa?” tanya Rin rin lagi, berusaha sesantai yang ia bisa.

“Aku menunggumu di taman boulevard pukul 10.00 kalau begitu.” Jong In mengangguk berulang-ulang. Menyuruh Rin rin berkata ya secepatnya.

“Ah, ne.”

Baiklah, kalau begitu. Eum,, senang bisa menelponmu sore ini.” Kali ini Sehun yang mengangguk-angguk beberapa kali. Memaksa Rin rin berkata ya secepat yang gadis itu bisa.

“Ya, aku juga.”

“Terimakasih, selamat sore, Rin rin-ah”

“Ne” PIP

Sambungan sudah diputuskan. Ketiga manusia itu duduk melongo dengan tingkat maksimal.

“Rin rin-ya, tahukah kau? Kata kata yang tadi itukan sama persis dengan apa yang kugunakan pada Soojung!” Jong In berkata, ya bisa dibilang itu sebagai histeria.

“Ne! Aku juga mengatakan hal yang sama ketika ingin menutup panggilanku dengan Jinri!” Sahut Sehun tak kalah bahagia. Sementara Rin rin hanya bisa terduduk  lemas. Mereka bertiga kembali berpelukan saking bahagianya.

“Rin-ah! Kalau begitu, kita kencan tripple saja bagaimana?!” sorak Sehun bahagia. Ketiganya saling bertatapan dengan senyum puas menghiasi wajah rupawan ketiganya.

**Summer Cream**

“Err.. Sehunie, jangan mencium pipi Jinri untuk menghilangkan keringat yang menetes, okay?” Sehun menatap Rin rin menerawang. Matanya seolah bertanya, Apa aku pernah melakukan hal segila itu?

“Aigoo! Tentu saja, Sehun! Kau pernah melakukannya pada Rin rin! Kau lupa, huh?” Kali ini Jong In mulai naik darah. Melihat kemarahan Jong In yang sudah seperti itu, Sehun justru menggeleng.

“Aish! Kau ini!” BUG

Rin rin sudah menutup matanya kali itu. Namun, saat ia membuka matanya, bukan sahabatnya yang sedang bergulat yang ia dapati, melainkan Jong In dan Sehun yang sedang berpelukan erat. Rin rin tidak tahu dan tidak mau mengetahui alasan mereka berdua berpelukan seperti itu dihadapannya. Apa mereka gay? Oh, Rin rin mulai salah paham sekarang.

“Tenang, Rin-ah. Aku dan Sehunie baik-baik saja. Kami hanya mau meminta maaf karena selama ini selalu merepotkanmu. Minta dibuatkan minuman, menyuruhmu mengerjakan tugas, menyuruhmu membersihkan dagu kami dari lelehan ice cream, juga menciummu seenaknya,” Jong In mendelik ke arah Sehun untuk kalimat yang terakhir.

“Juga untuk semuanya. Kami berjanji akan selalu melindungimu dari bahaya apapun, seperti yang kami lakukan hari ini.”Ouh, kedua pipi Rin rin memanas ketika mendengar kalimat-kalimat manis itu. Menurutnya, itu adalah kata-kata termanis yang pernah diberikan Jong In dan Sehun padanya. Lagi lagi gadis itu menitikkan air mata harunya. Ia mendekat kemudian memeluk kedua sahabat karibnya itu dengan penuh kasih sayang.

Well, seluk beluk persahabatan memang seperti lelehan ice cream yang mengotori bajumu di musim panas. Juga seperti ice cream rasa jeruk yang menyegarkan. Namun, jika kau bersungguh-sungguh menghadapinya, kurasa Tuhanpun tahu apa yang harus Ia lakukan.

FIN

A/N

Haiiii readersdeul, well ini adalah the first of four awaiting ‘four season’ fic. hope you enjoy this one! and gimme some review please. ^^ gomapseumnida. love you all

6 thoughts on “Summer Cream

    • kamu mau jadi rin rin? aku juga.. abis direbutin sama tiga manusia itu.. hihihihi

      gomawo ya jia (?) aku bingung mau panggil kamu apa
      dhila imnida, 98 lines.. bangapseumnida..

  1. Setelah yang pertama, saia ketemu yang ini yang genrenya fluff juga. Ini beneran brilian banget deh idenya. Ada dua cowok, satu cewek di posternya (well, saia tertarik dengan posternya juga, terasa sangat summer deh walaupun latarnya bukan di pantai), saia mengira kalau ini bakal ada acara rebut-merebut Rinrin, eh ternyata plotnya sama sekali gak bisa tebak. Keren. Saia suka sekali cerita tipe begini. Ringan dibaca tapi banyak kejutan dan sama sekali tidak tertebak.

    Poin plusnya banyak banget, terlihat sekali kamu enjoy pas nulisnya. Narasinya pas terus ada aja ide-ide kecil yang bikin karakter Sehun dan Jongin jadi menarik. Mulai dari yang cium-cium itu. Hehehe. Kepikirnya emang jorok ya, nyuri ciuman pas keringetan, tapi manis juga. Ihiy. Terus saia kira endingnya Rinrin bakal diambil sama Sehun, ternyata Sehun udah ada jatah sama Jinri, terus Jongin juga, sama Soojung. Sempet kasian sama Rinrin, eh ternyata tiba-tiba aja Kris telepon. Mereka bertiga memang ditakdirkannya menjadi sahabat. Jarang banget saia menjumpai kisah yang seperti ini. Lebih banyaknya yang cinta segitiga. Tapi, ini malah salah tebak.

    Oya, ada saran dari saia sedikit tentang beberapa diksi yang coba kamu kembangkan di dalam ceritanya. Saia merasa ini lebih baik ketimbang ff yang pertama, dari narasinya yang mengalir dan juga beberapa diksi yang coba kamu pakai di dalamnya. Tapi, buat frasa “mendelikkan dagu”, rasanya kurang tepat karena “delik” harafiahnya digunakan bersama kata benda “mata” atau “tatapan”. “Delik” sendiri artinya “melotot” atau “membuka lebar-lebar” (untuk mata), jadi kalau digunakan di dagu rasanya agak ganjil deh. Bagaimana dengan kata kerja “jengit” atau “edik” (biasa ditulis: mengedik) karena lebih menunjukkan gerakan naik-turun.

    Overall, tulisanmu yang ini asyik sekali untuk dibaca.
    Keep writing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s