Autumn Secret

autumn_tumblr_副本

Tittle : Autumn Secret
Scriptwriter/author : dhiloo98
Main cast : Choi Junhong
Bang Na Ra
Support cast : Jung Daehyun
Genre : Friendship Romance
Duration/length : Drabble
Rating : T
Summary : Perasaan bukanlah sesuatu yang dapat dilihat dengan kasat mata. Kau harus menelusurinya dengan baik, dan kau akan menemukan fakta yang sebenarnya.


**Autumn Secret**

Maafkan aku. Sungguh.”

“Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu?”

“Maafkan aku.”

“Apa yang membuatmu menjadi gila, Choi JunHong?!!”

**Autumn Secret**

Musim gugur datang terlambat tahun ini. Beberapa pohon menggugurkan daunnya dengan cepat. Seperti hari ini misalnya, Jun Hong dan sahabatnya~Nara yang sedang berjalan santai tiba tiba terkena runtuhan daun daun yang berguguran secara cepat. Jun Hong dapat mendengar suara Nara yang mengaduh kesakitan kala itu. Pegangan tangan mereka terlepas.

“Nara? Kau dimana? Hey!” Khawatir. Hal yang satu itu seakan melekat dalam diri Junhong. Kau dapat melihat ekspresinya dan mendengar suaranya. Semua itu adalah bentuk kekhawatirannya yang teramat sangat pada sang sahabat.

Memalukan memang untuk remaja usia 17 tahun seperti mereka berdua yang masih saja menjadikan timbunan dedaunan kering sebagai konflik utama.
Junhong membersihkan baju hangat Nara dari pecahan daun kering yang menempel.

“Gwaenchana?” Nara menatap Junhong bahagia. Kemudian gadis itu mengangguk. Jun hong tersenyum lega. Mereka berdua saling menatap dan tertawa terbahak bahak di detik berikutnya. Hari hari mereka memang biasa diisi dengan kejadian kejadian yang logis, tidak seperti hari ini. Karena itulah mereka tertawa. Tanyakan sendiri pada mereka, bagian mana yang membuat mereka tertawa sampai membuat orang orang memperhatikannya.

**Autumn Secret**

Café minuman hangat milik keluarga Nara sedang sepi hari itu. Teleponnya berdering. Gadis itu mengambil ponselnya setelah memberikan meja nomor 20 pesanannya.

“Ne, yeoboseyo? … Ah ne, Junhong~ah… Aku? Di cafe. Waeyo?…. ah, baiklah. Sampai bertemu besok…. ne” Nara menutup sambungan sambil bergumam kecil. Gadis itu membuka kalender di ponselnya kemudian menandai salah satu hari nya. Gadis itu memang dikenal pelupa. Ya setidaknya ia belum melupakan dirinya sendiri.

“Permisi. Aku pesan” Nara segera menoleh dan mendapati seorang lelaki tampan disana.

“Daehyun oppa?!” Gadis itu berjengit, namun matanya memancarkan kebahagiaan yang amat sangat. Ia berlari kecil ke meja paling pojok di cafenya kemudian memeluk laki laki itu.

“Oppa, kapan kau datang?” Lelaki bernama Daehyun itu juga menatap Nara bahagia.

“Dua minggu yang lalu.” Nara mengangguk angguk paham.

“Mau minum apa?”

“Vanilla latte saja.”

About 12 minutes later

“Jadi bisnis oppa sukses?” Daehyun mengangguk semangat.
Gadis itu menerawang keluar jendela. Matanya tak memandang satupun hal dengan fokus.

“Aku disini untuk mencari pasangan.” Nara menoleh. Gadis itu menghela napas.

“Sayang sekali aku masih terlalu kecil.”

“Tentu, kau bahkan belum kuliah. Benarkan?” Nara mengangguk.

“Kau ada acara besok?” Nara yang sedang menyesap moccachinonya langsung menggeleng. Sudah kubilang, gadis ini pelupa.

**Autumn Secret**

“Oppa, ini Junhong. Junhong, ini Daehyun oppa.” Kedua lelaki itu saling berjabat tangan dengan Nara berdiri diantara mereka berdua. Gadis itu mengamit lengan keduanya.

“Jadi kita akan kemana?” Daehyun membuka suaranya.

“Namsan tower! Kemudian kita akan melihat gembok cinta. Wisata kuliner dan banyak lagi.” Gadis itu menjawab dengan sangat riang. Junhong hanya mengangguk sembari menggaruk tengkuknya.

Mereka pergi dengan mobil pribadi Daehyun. Baik, kuceritakan sedikit. Daehyun itu teman dekat kakak laki laki Nara~Yongguk~. Usianya 23 tahun. Siswa akselerasi yang mendapat beasiswa ke Toronto. Sekarang ia pulang ke korea dan menjadi pengusaha muda yang cukup sukses.

Mobil itu terasa sepi. Hanya Nara yang berceloteh sendirian. Sementara Daehyun serius menyetir walau terkadang menjawab pertanyaan Nara. Junhong hanya diam seribu bahasa di kursi belakang. Kurasa ia menyibukkan diri dengan headphonenya. Matanya menelisik ke arah Nara dan Daehyun. Ia seperti bukan Junhong yang Nara kenal selama ini. Sepasang mata lelaki itu menelisik kearah spion mobil. Dimana iris kelamnya bertemu dengan sepasang iris lain. Junhong cepat cepat membuang muka, menoleh ke luar jendela mobil. Ia merasakan dentuman keras di rongga dadanya.

“Junhong ssi, apa kau baik baik saja?” Junhong segera mengangguk. Sedangkan Daehyun kembali sibuk pada perjalanan. Terkadang sebelah matanya menelisik Nara, kemudian ke arah Junhong. Dua orang manusia itu terus berdiam sejak mereka melewati kilometer ke 15 beberapa detik yang lalu. Daehyun hanya menghela napasnya sebelum memarkirkan mobil di tempat tujuan mereka.

“Junhong~ah, kajja!” Nara mengamit jari jemari Junhong. Menyatukannya dengan miliknya. Sementara Daehyun sibuk merapikan tatanan rambutnya di belakang mereka.

Lelaki bernama Jung Daehyun itu merangkul pundak Nara erat. Membuat Junhong merasakan sesuatu yang kembali berdentum dan memukul sesuatu dalam rongga dadanya. Sakit. Ya, setidaknya ia menyadari itu sakit. Perlahan Junhong melepaskan pagutan jarinya dengan Nara. Membiarkan gadis itu berjalan berdampingan dengan Daehyun.

Melihat bagaimana Nara menatap mata Daehyun. Ia tahu ini salah. Tidak seharusnya ia menyimpan perasaan seperti ini. Dua orang di hadapannya tentu sudah mendapatkan pilihan mereka yang terbaik. Air mata Junhong mengalir, namun ia segera menghapusnya. Berusaha turut menghapuskan perasaan dalam rongga dadanya.
Ia tau ini salah dan tak seharusnya ia berada di antara sepasang manusia itu. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan keterlambatannya datang pada kehidupan dua orang dihadapannya. Air matanya kembali mengalir. Junhong tak langsung menghapusnya kali ini. Lelaki itu membiarkan dirinya terlihat lemah. Toh, dia memang sudah lemah dan terlihat bodoh.
Pikiran dan batinnya berperang. Sama sama bertahan dengan ideologi masing masing.

**Autumn Secret**

“Menikah?” Junhong mengerutkan keningnya. Menatap seorang lelaki dan seorang gadis dihadapannya bergantian. Memperhatikan cincin yang terpasang di jemari keduanya. Membangkitkan rasa sakit yang sudah lima tahun ini terkubur.

Junhong dan Nara sudah menyelesaikan kuliah mereka. Menjadi seorang dewasa berusia 22 tahun yang berpikiran matang. Namun, pikiran dan batin Junhong masih terus berperang. Mempertahankan ideologi masing masing.

“Kapan?” Junhong akhirnya dapat mengendalikan dirinya.

“Minggu depan.” Ujar Nara dengan senyum mengembang. Gadis itu menatap Daehyun, kemudian mereka berdua tersenyum bersama. Membuat napas Junhong tercekat. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya. Ia tak boleh menangis. Tidak didepan orang yang teramat spesial baginya. Tidak dihadapan pujaan hatinya. Orang yang selama ini membuat darahnya berdesir cepat. Membuat jantungnya bekerja dua kali lebih keras. Membuatnya kehilangan semua rasionalisme dalam otaknya.

Tak bisakah aku menggantikan posisimu?” Batinnya berbicara. Matanya kembali menangkap kedekatan sepasang kekasih dihadapannya. Mengukir kepahitan didalam memorinya. Membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Junhong pergi. Ya, setidaknya keputusan itu membantunya untuk sedikit melupakan kepahitan dalam hidupnya. Dalam kehidupan cintanya.

A week later

Ditemani dengan semilir angin musim gugur. Ditemani dengan daun daun pohon ek yang berguguran dan melayang kemanapun. Junhong menatap iri pada dedaunan itu. Kenapa? Aneh memang. Seharusnya tak ada yang dapat dijadikan objek untuk diirikan. Tapi dia sangat iri pada dedaunan itu. Mereka dengan mudahnya mengikuti alur kehidupan. Tumbuh di ranting pohon pada musim semi, kemudian berguguran pada musim gugur. Bahkan sampai mereka melepaskan diri dari pohon dan ranting, hidup mereka amat damai di mata Junhong. Mereka dapat beterbangan kemanapun. Tubuh daunnya seolah ringan. Seolah Tuhan tak memberikan ujian yang sama pada mereka. Seolah mereka hidup memang untuk digugurkan.

Junhong iri pada dedaunan itu. Junhong iri pada pohon pohon musim gugur. Yang dengan mudahnya menggugurkan daunnya. Ia ingin seperti itu. Menggugurkan perasaannya. Hingga rasa itu hanya dapat melayang di udara. Seolah menjadi jejak memorinya yang kelam.

“Maafkan aku. Sungguh.”

“Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu?”

“Maafkan aku.”

“Apa yang membuatmu menjadi gila, Choi JunHong?!”

Junhong mengatupkan bibirnya. Menutup kelopak matanya. Menutup kedua telinganya, dan berhenti bernapas untuk beberapa saat. Melihat Nara menangis adalah yang terburuk baginya. Mengingat pertengkaran mereka di malam sebelum pernikahan Nara dan Daehyun. Junhong mengingat semua itu. Ia menangis. Menyesal? Mungkin bukan itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Ia sudah lupa apa itu arti dari menyesal. Yang ia tau, ini sudah terlambat dan ini sangat menyakitkan.

Membiarkan Nara mengetahui perasaannya. Ya, perasaannya yang sebenarnya. Membiarkan Nara menangis. Membuat gadis itu merasa bersalah. Membuat gadis itu tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri.

Aku menyukai Jung Daehyun, Nara~ya”

Semudah itu kalimatnya meluncur. Begitu mudah bagi Nara. Begitu mudah untuk didengar. Namun seperti cara Junhong mengatakannya. Kalimat itu sangat sulit dicerna. Sesulit Junhong mengutarakannya. Sesulit Junhong membuang perasaan itu. Juga sesulit hubungan persahabatan mereka sekarang.

Junhong ingin seperti daun daun di musim gugur. Berpisah dari pohonnya dan beterbangan bersama semilir angin. Seperti jalan yang ia pilih sekarang.
Setidaknya Tuhan mengabulkan satu permintaannya.

Tuhan mengabulkan satu permintaannya. Ya, satu permintaannya, satu takdirnya.

Tuhan, biarkan nyawaku terbang bersama dedaunan di musim gugur.”

Junhong tertidur. Menutup kedua matanya dalam keadaan tenang. Ditemani riuh rendah orang orang yang turut diundang dalam pesta pernikahan Daehyun dan Nara. Ditemani dedaunan musim gugur yang melayang bersama semilir angin. Ditemani berbagai kilatan masa lalunya bersama Nara dan Daehyun. Junhong tersenyum. Ditemani dengan nyawa dan raganya yang terpisah. Bersama musim gugur terakhirnya, pada akhirnya ia berhasil mengugurkan perasaannya.

Perasaan bukanlah sesuatu yang dapat dilihat dengan kasat mata. Kau harus menelusurinya dengan baik, dan kau akan menemukan fakta yang sebenarnya.

-Autumn’s secret-

FIN

3 thoughts on “Autumn Secret

    • halo najma. seneng bisa liat review dari kamu di sini..
      terima kasih udah datang berkunjung yaa?

      ne, maaf banget udah nistain uri maknae junhongie di sini.. aku udah gak tau mau apa lagi abisnya.. huaaaaaaaaaa T_T //nangisdipelukanjunhong//
      okay, sekali lagi gomawo udah datang berkunjung dan kasih review.. itu tandanya kamu bukan silent reader.. ^^

      see ya~
      ayo diliat fic lainnya. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s