Winter : Snow Drop

snow-drop

Snow Drop

|| Main Cast : Wu Yi Fan – You || Duration : Ficlet || Genre : Romance , Family|| Rating : T || Scriptwriter : dhiloo98 ||

Summary : Keindahan tersaji bukan hanya untuk dipandangi, tapi untuk dinikmati.

The beauty of the winter
blooms in white and green;
a tender little flower
so very rarely seen.

as you bend to glimpse her face
will you allow a day of grace –

or pull her
from her nesting place?

|| Snow Drop ||

Pagi yang cerah ditemani sedikit embun membuatku menghela napas. Uap putih menguar lembut dari dalam mulutku. Menyapa pagi diawal musim dingin ini dengan anggun. Hampir setiap bagian dari pekarangan ini tertutupi oleh salju. Embun pun nampaknya mulai membaurkan dirinya dengan butiran-butiran es putih itu, jadikan angin yang berhembus terasa makin dingin.

“Eun soo, ayo masuk.” Aku menoleh, mendapati pria tinggi itu di sampingku. Memegang lenganku hati-hati, dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Memperhatikan tiap pijakan yang ia lalui beberapa detik lalu membuatku tersenyum kecil.

“Tak apa, sayang. Aku hanya ingin memandang hamparan salju ini lebih lama lagi.” Ucapku sembari memegang balik lengannya. Menenangkannya, meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Apa tadi aku mengucapkan memandang? Tuhan, rasanya sudah lama aku tak mengatakan hal itu. Mengatakannya membuat memoriku hanyut ke dalam masa-masa dimana aku baru bertemu dengannya. Dimana aku selalu menggunakan kata memandang dalam setiap kosa-kataku, tanpa pernah berpikir bagaimana perasaan orang lain. Seperti waktu itu….

|| Snow Drop ||

Woah! Jinjja, yeuppeuda!” ujarku sembari memandangi ribuan salju yang baru turun ke bumi. Melapisi setiap bagian yang dapat dihinggapi, termasuk mantel dan topi hangatku. Buat pandanganku mengabur, dan tanpa sengaja terjatuh ke timbunan salju.

Aku menghela napas. Kemudian pandanganku menyebrangi setiap sudut pekarangan ini. Desa nenek memang yang terbaik dari semuanya. Setidaknya aku dapat merasakan liburan musim dingin yang damai di sini. Tanpa harus menemui hiruk-pikuk kota, juga sibuknya pekerjaan di rumah.

Saking senangnya, kakiku sampai terperosok ke dalam gumpalan salju dan membuatku terjatuh. Terjatuh adalah hal paling memalukan dalam hidupku. Setidaknya aku kembali bersyukur, di sini tak ada orang lain selain diriku. Namun tiba-tiba, alunan kekehan kecil menyambangi telingaku. Irisku mencari, kemudian menangkap sesosok pria –dengan  sweater putih melekat di tubuh jangkungnya – tengah  terkekeh di sebelahku. Menatap ke atas – dimana salju turun – kemudian menghirup udara kuat-kuat. Seolah ingin merekam setiap aroma musim dingin dalam memorinya.

“Apa yang kaupandangi?” ujarku setelah berhasil berdiri dan membersihkan pakaianku dari salju yang menempel. Lelaki itu tersenyum simpul tanpa menoleh ke arahku.

“Salju itu indah. Tapi bukan hanya untuk dipandangi.” Ujarnya dengan suara berat. Irisku mencoba menelusuri setiap inci wajahnya dari sini. Dimana aku berdiri tepat di sebelahnya.

“Bagaimana bisa kau mengatakan begitu? Segala sesuatu itu indah saat kau memandangnya.” Sungutku tanpa henti. Menceramahi pria tinggi di depanku ini dengan dagu terangkat.  Pria itu tersenyum kecil, kemudian meniupkan uap dari dalam mulutnya.

“Terkadang, dunia itu tak seindah saat kau memandangnya, Nona,” ucapnya lagi. Kali ini ia membuat pergerakan. Kedua matanya menatapku tak fokus,

“Aku yakin kau bisa mengerti.” Mataku tak bisa berkedip. Kedua kelopakku seolah telah merekat dan enggan mengatup barang sedetikpun. Apa itu tadi? Garis wajah yang tegas, hidung mancung, ketampanan sempurna. Lelaki itu menghilang sebelum aku berhasil kembali keduniaku.

|| Snow Drop ||

Kali ini, aku tak lagi melihat embun. Semua jenis zat cair rasanya sudah membeku, mengikuti suhu udara yang makin menurun setiap waktunya. Aku merapatkan mantelku, membenahi letak syal yang rasanya berantakan. Kemudian menatap pekarangan rumah nenek – lagi. Seperti waktu-waktu lalu, memperhatikan segala sesuatunya dengan teliti. Kedua bola mataku terhenti pada satu titik. Dimana seorang lelaki berkulit putih dengan rambut kecokelatan tengah terduduk di kursi panjang yang terletak di antara pekarangan rumah nenek dan tetangga sebelah. Aku mengenalinya sebagai lelaki yang kemarin telah menghilang saat aku sedang termenung.

“Memandang salju lagi?” tanyanya ketika aku mendekat. Aku mengangguk. Pria itu menggeser sedikit posisi duduknya, membiarkanku duduk di sebelahnya. Namun, belum sempat aku duduk dengan nyaman, pria disampingku ini justru sudah lebih dulu berdiri. Ah, kurasa ia takut terjatuh, posisinya kan sudah diujung kursi.

“Kau sendiri?” tanyaku pada akhirnya. Berusaha memecah keheningan yang melingkupi kami berdua. Lelaki itu hanya menggeleng singkat,

“Aku sedang menikmati salju yang turun,” jawabnya dengan kekehan kecil yang membuatku turut tersenyum.

“Perkenalkan, namaku Eunsoo, Choi Eunsoo.” Kataku seraya menyodorkan tanganku, memintanya berjabat tangan. Namun, lelaki itu hanya tersenyum kecil.

“Wu Yi Fan. Kau bisa memanggilku Kris.” Jawabnya singkat. Aku mengangguk, menarik uluran tanganku dengan perlahan.

“Chinese?” Ia mengangguk.

“Ibuku juga berasal dari sana. Tapi sekarang ia menetap di Kanada.” Kataku menjelaskan. Lelaki bernama Kris itu menolehkan kepalanya ke arahku.

“Kanada?” kedua alis lelaki itu bertaut, tapi seperti biasa, kedua iris cokelat mudanya menatapku tak fokus. Entahlah, mungkin ia tidak menyukaiku?

Lelaki bernama Yi Fan itu kembali duduk di kursi tadi. Matanya terpejam, buat kesuluruhan wajahnya terlihat. Ia tampan, ditemani dengan angin yang bertiup mengenai rambutnya. Lagi-lagi ia menghembuskan napas berat, seolah baru saja menumpahkan kegusarannya selama ini.

“Apa kau benar-benar belum mengerti arti keindahan?”

|| Snow Drop ||

“Apa kau benar-benar belum mengerti arti keindahan?”

Itu adalah percakapan terakhir kami seminggu yang lalu. Sebelum dirinya menghilang entah kemana. Menghilang bagai ditelan bumi. Aku sudah bertanya pada nenek, namun ia tak mengetahui siapa dan dimana lelaki itu. Orang-orang di sekitar juga tidak mengenali orang yang kumaksudkan. Mereka memilih diam. Seperti biasa, aku menghabiskan waktu luangku di pekarangan rumah nenek. Ditemani dengan salju yang turun ke bumi. Semua pelosok berwarna putih, termasuk atap rumah nenek. Tapi, mataku menangkap satu yang berwarna di sudut taman. Berwarna kehijauan dan putih. Aku menghampiri objek itu, kemudian kurasakan dahiku berkerut ketika melihatnya sedekat ini.

Snow Drop. Bunga itu hanya tumbuh di titik terdingin musim salju. Kau beruntung dapat menemukannya.” Aku berjengit kaget ketika mendapati suara berat itu mengisi relung telingaku. Yi Fan tersenyum ketika aku memandangnya. Ia ikut berjongkok di sebelahku, tangannya mengusap bunga itu penuh kasih.

“Bunga Harapan.” Alisku bertaut, seolah mempertanyakan maksud dari ucapannya.

“Kau bisa mengatakan harapanmu pada bunga ini. Tapi kau kurang beruntung,” jelasnya masih terfokus pada bunga itu.

“Kenapa begitu?” Ia tak menjawab apa-apa. Hanya gumaman kecil yang tak terdengar, terkubur bersama deru angin.

“Hanya ada satu harapan, dan aku sudah menggunakannya. Tepatnya satu minggu yang lalu.” Jelasnya. Lagi-lagi Yi Fan menghembuskan napas berat. Seolah telah mengatakan setumpuk kegundahannya – lagi.

“Musim semi sudah hampir tiba,”

“Kuharap, sesuatu dalam hatiku juga bersemi.” Gumamnya sembari tersenyum. Sangat manis hingga aku tak mampu menatapnya terlalu lama.

“Apa yang kau minta?” tanyaku pada akhirnya. Yi Fan tidak menjawab, hanya gelengan lemah yang dapat ia berikan padaku. Senyumannya tak lagi terlukis di wajah tampan itu.

“Aku berharap, ada seorang gadis yang dapat mengerti arti dari keindahan yang sesungguhnya.” Jawabnya dengan suara berat yang kini sudah terbiasa masuk dan keluar dalam relung telingaku. Ada suatu nada lirih disana, temani langkah kecilnya yang mulai beranjak meninggalkanku.

“Siapa dia?” tanyaku dari kejauhan. Yi Fan menoleh sesaat. Detik itu dapat kulihat senyuman menghiasi wajah tampannya. Hanya sesaat, kemudian kembali menghilang.

“Bunga itu. Jawabannya ada di bunga itu.” Jawabnya sembari berlari menjauh. Tinggalkan diriku bersama salju-salju yang turun ke bumi.

 “ The beauty of the winter
blooms in white and green;
a tender little flower
so very rarely seen.

as you bend to glimpse her face
will you allow a day of grace –

or pull her
from her nesting place? ”

Segulung kertas kutemukan di bawah kelopak bunga Snow Drop yang panjang. Berwarna sedikit lusuh, namun tulisan yang tertera masih dapat kulihat dengan jelas. Membuatku menutup mulut dengan kedua tanganku. Aku mengerti, Yi Fan. Sungguh, aku mengerti.

|| Snow Drop ||

“Aku tidak hanya akan meliriknya lalu meninggalkannya, Yi Fan. Aku juga tidak akan membawanya pergi dari tempat ini. Bisakah aku memilih untuk tetap tinggal? Bersama harapan-harapan baru yang akan selalu muncul setiap tahunnya? Bisakah aku menjadi warna dalam semua warna putih dalam salju?” Yi Fan menunduk dengan surat terkepal ditangannya. Matanya memandang tak fokus ke segala tempat. Terkadang lelaki itu mencari di pekarangan. Terkadang lelaki itu menyambangi tempat dimana bunga itu tumbuh. Entah sudah keberapa-kalinya lelaki itu terjatuh. Napasnya tercekat. Demi mencari kepastian untuk pernyataan yang baru ia temui.

“Mencariku?” Yi Fan menoleh kesegala arah. Mencari asal suara. Ia kenal betul siapa pemilik suara itu. Satu-satunya gadis yang membuatnya dapat merasakan dengan peka. Satu-satunya yang dapat membuatnya hampir gila saat ia tak menemuinya.

“Aku akan berhenti memandang, Yi Fan. Sungguh, percayalah padaku.” Kataku ketika memeluk Yi Fan dari belakang. Berusaha meyakinkannya untuk berhenti mencari kemanapun. Kurasakan tubuhnya menegang, kemudian isakan itu keluar begitu saja. Membaur dengan deru angin yang menerpa tubuh kami berdua.

Yi Fan membalikkan punggungnya. Ia mendekatkan wajahnya, hanya beberapa inci dari wajahku. Matanya mencoba menatap mataku. Mencoba mempertemukan kedua iris kami, hingga rasanya aku akan meledak saat itu juga. Ia tersenyum. Senyuman lirih dengan tatapan sendu. Kemudian memberiku sebuah kertas dari balik sakunya. Sementara itu, kedua irisnya terus menatapku lekat. Seolah jika ia tak menatapku barang sedetik saja, aku akan menghilang dari jarak pandangnya. Perlahan, aku membuka kertas itu. Menemukan goresan tinta bolpoin diatas kertas putih itu.

Ketika kecil, penglihatanku mulai bermasalah

Aku tak dapat melihat objek dengan jelas dari jarak dekat maupun jauh

                Retinal Pigment Degeneration

Suatu penyakit yang memungkinkan penderitanya tak dapat melihat objek dengan jelas dari jarak manapun

Terutama dalam kegelapan

Suatu penyakit yang mengharuskanku terbiasa untuk merasakan, bukan memandang

Dengan itulah aku dapat merasakan kehadiranmu

Menyambut kedatanganmu

Berbicara denganmu

Memperhatikan wajahmu

Walau pandangan kita tak pernah bertemu

Tapi, aku berharap dapat menghabiskan sisa-sisa harapanku denganmu

Menunggu tumbuhnya bunga Snow Drop bersama

Merasakan hadirnya rasi bintang yang berbeda tiap tahunnya

Menghabiskan empat musim dengan hati bahagia

Namun, kini aku mulai meragukan diriku

Apa kau akan menerimaku?

Apa kau akan menyamakan perasaanmu denganku?

Apa kau tidak malu memiliki pria sepertiku?

Bagaimana denganmu?

Aku hanya ingin kau tahu satu hal

Aku mencintaimu, apa yang harus aku perbuat?

 

Sontak aku menutup mulutku – lagi. Menyadari bagaimana perasaannya selama ini. Menyadari mengapa ia tak pernah mengucapkan kata ‘memandang’ .  Menyadari kenyataan yang membuktikan bahwa dirinya tak suka memandang bintang di langit saat malam menjelang. Air mataku mengalir. Merasakan bagaimana hampanya kehidupan orang didepanku ini. Belum sempat aku berucap, Yi Fan sudah lebih dulu memelukku. Membawaku kedalam dekapan hangatnya.

“Aku tak bisa melihat apapun sekarang, Eun Soo-ya. Bagaimana ini?” katanya dengan nada serak. Tangisku makin pecah. Dengan tangan bergetar, aku menepuk-nepuk punggungnya. Mencoba memberinya ketabahan.

“Aku merasa bodoh. Menyukaimu dengan kondisi seperti ini. Bagaimana aku dapat melindungimu kedepannya?” ujarnya lagi. Masih dengan nada serak diantara suara beratnya. Ia melepaskanku dari dekapannya.

“Cepat atau lambat aku akan buta total. Apa saat waktu itu datang kau akan tetap disini?’ tanyanya. Kali ini ia berusaha menghapus air mataku. Tangannya bergerak kedalam saku celana panjangnya lagi. Kemudian dapat kulihat, sebuah kotak kecil ada dalam genggamannya.

Would you like to spend your shining life with me? A guy who live in the darkness. A guy who can’t see anything?” tanyanya sambil menatapku.

Astaga, ini bukanlah cerita romantis seperti yang ada di drama-drama yang pernah kutonton saat remaja. Ini adalah kisah yang penuh dengan haru. Yi Fan tidak melamarku di Paris, atau di cafe mahal dimana ada cincin didalam segelas champagne, dengan semua mata memandang. Ia melamarku ditengah hamparan salju, dimana hanya ada kami berdua. Berusaha merasakan kehadiran satu sama lain, tanpa perlu adanya beberapa pasang mata yang memandang.

Yi Fan tidak melamarku dengan segala kemewahan yang ia punya. Ia melamarku dengan segala kekurangan dan keterpurukannya. Ia tidak berbuat yang macam-macam. Ia tidak menciumku kemudian menyatakan cinta dan memberiku cincin. Tidak. Ia hanya mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Mencoba menyatukan pandangan kami. Ia hanya ingin aku mengetahui perasaannya yang sebenarnya.

Yi Fan tidak langsung memasangkan cincin itu ke jariku. Tidak. Ia menungguku menjawab sesuatu. Menunggu dengan sabar. Menghormati segala jawabanku. Sampai aku mengatakan,

Sure, I will, Yi Fan. I’ll be your colours that can makes your day colourful. I’ll be your beloved girl that never want to turn head for another guy. I’ll be your eyes that can see every thing.” Jawabku dengan kedua iris menatapnya lurus. Yi Fan tersenyum. Bukan senyum lirih seperti yang selalu ia tunjukan padaku. Senyum tulus dengan kedua mata melengkung seperti bulan sabit. Tubuh tingginya merangkum diriku ke dalam pelukan hangatnya lagi. Kemudian ia menyematkan cincin itu di jari manisku.

Thank you very much, Eun Soo.”

|| Snow Drop ||

Yi Fan tersenyum mendengar jawabanku. Tangannya beralih ke perutku. Sedikit membuncit memang. Tapi, di dalam sana ada kehidupan. Di sana ada dentuman kecil yang sedang menggeliat. Menggoda ayah dan ibunya yang sedang menikmati awal musim dingin.

Thank you very much, Eun Soo.”

 || Snow Drop ||

Twinkle, twinkle, little star. How i wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky. Twinkle, twinkle, little star. How i wonder what you are.” Yi Fan bertepuk tangan kecil. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Sayang, apa malam ini bulan bersinar terang?” Aku mengangguk, kemudian menjawab,

“Tentu.” Yi Fan tersenyum. Senyum paling indah yang pernah ia berikan padaku. Dengan segala kebutaan yang ia alami, ia mendekatiku. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Maaf karena aku tak bisa memberimu yang terbaik.” Katanya lirih. Tangannya kemudian kembali mengusap halus perut buncit ku. Merasakan ada tendangan kecil di sana, ia terkekeh. Kekehan yang sama seperti beberapa tahun lalu.

Again, Thank you very much, Eun Soo.”

 

FIN

18 thoughts on “Winter : Snow Drop

    • Apa kamu iri sama Eun Soo????!! Jangan dong,, nanti aku hadiahin Ben Ben aja ya. tapi cuma replika aja, soalnya aslinya punya aku hehehehe
      gomawo.. hey, btw kamu udah liat belom bunga Snow Drop kaya apa?? cari deh, keliatannya sih gak spesial, tapi maknanya kena dihati loh
      gomawo.. ^^ review fic yang lain juga yaa

  1. halow, Dhilaaaa!! karena kamu minta aku review, makanya aku dateng nih malem2 begini… anyway, this will be a very long one… jadi maaf ya kalau terkesan menggurui ((iya, habis aku cerewet sih -__-))

    let’s start:
    1.Pagi yang cerah ditemani sedikit embun membuatku menghela napas. Ditemani uap yang menguar lembut dari dalam mulutku. –> kamu ngulang kata ditemani dua kali di sini. How about: Pagi yang cerah ditemani sedikit embun membuatku menghela napas. Uap putih menguar lembut dari dalam mulutku.

    2.Embunpun –> pun kalau di depannya kata benda dipisah, jadinya embun pun. contoh lain: ada pun, kemana pun, dimana pun, siapa pun🙂

    3.memandang ? –> kayaknya kamu kepencet spasi nih, iya nggak? harusnya kan sebelum tanda tanya ga ada spasi xD

    4. Seperti waktu itu.. –> fyi, kalau mau pake titik2 begini, ada aturannya. Tiga kali kalau di tengah kalimat, empat kali kalau di akhir kalimat

    5. “Woah! Jinjja, yeuppeuda!”ujar ku –> ujarku disambung nulisnya, kayaknya ada beberapa lagi yg belum disambung, tapi aku lupa dimana .__.

    6. kakiku sampai terperosok kedalam gumpalan salju –> ‘kedalam’ itu harusnya ‘ke dalam’, jadi kalau kata depan (di, ke, dari, dsb) itu penulisannya dipisah
    7. disini tak ada orang lain selain diriku –> sama kaya di atas, seharusnya ‘di sini’
    8. dengan sweater putih melekat ditubuh jangkungnya – tengah terkekeh disebelahku. –> masih sama, harusnya ‘di tubuh’
    9. Menatap keatas –> ke atas

    10. “Apa yang kau pandangi?” –> kau ditambah kata dasar itu disambung, jadinya kaupandangi (contoh: kaubisa, kaubawa, kauberi, dsb)
    nah, kalau kau diikuti kata berimbuhan depan (misal kau + memandang) itu baru dipisah, kalau imbuhannya di akhir (misal: kau + ajari) itu disambung

    11.Lelaki itu tersenyum simpul tanpa menoleh kearahku. –> ke arahku ((oh ya, baiknya kamu cek semua deh penggunaan kata depan di fic ini, banyak yg kurang spasi soalnya))

    12. inchi –> bakunya ‘inci’

    13. “Bagaimana bisa kau mengatakan begitu. Segala sesuatu itu indah saat kau memandangnya.” –> habis kalimat pertama enaknya dikasih tanda tanya aja deh. Jadi: “Bagaimana bisa kau mengatakan begitu? ….”

    14.“Terkadang, dunia itu tak seindah saat kau memandangnya, nona,” –> nona di sini kan sapaan, jadi nulisnya kapital: ‘Nona’

    15. kaya kataku di atas, cek penggunakan kata kau yang diikuti kata dasar ya, jangan lupa disambung😉

    16. Dimana berdirinya seorang lelaki berkulit putih dengan rambut kecokelatan tengah terduduk di kursi panjang diantara pekarangan rumah nenek dengan tetangga sebelah. –> menurutmu, kalimat ini gimana? biar efektif dan enak dibaca, mending diganti jadi: “Dimana seorang lelaki berkulit putih dengan rambut kecokelatan tengah terduduk di kursi panjang yang terletak di antara pekarangan rumah nenek dan tetangga sebelah.”

    17. “Memandang salju lagi?” tanyanya ketika aku mendekat, aku mengangguk. –> habis ‘aku mendekat’ lebih baik titik aja dulu. Baru dilanjut kalimat ‘Aku mengangguk.’

    18. “Aku sedang menikmati salju yang turun.” Jawabnya dengan kekehan kecil yang membuatku turut tersenyum. –> yang bener: “Aku sedang menikmati salju yang turun,” jawabnya dengan kekehan kecil yang membuatku turut tersenyum. (ini kalimat percakapan langsung yang diikuti keterangan semacam kata/ucap/tanya/jawab/dsb; jadi yang bener itu koma, tanda petik, lalu kata ucap/tanya/jawab/dsb itu nggak dikapital)

    19. Nah, kalau yang habis percakapan dikapital, itu contohnya kaya gini: “Aku sedang menikmati salju yang turun.” Ia terkekeh kecil, membuatku turut tersenyum. (tahu kan bedanya? oh ya, kalimat percakapan lain dicek juga ya, banyak yg masih pake huruf besar soalnya)

    20. “Chinese?” ia mengangguk. –> seperti poin no 19, yang bener: “Chinese?” Ia mengangguk.

    21. kemanapun. –> “kemana pun”

    22. Yi Fan membalikkan punggunya –> typo? kurang ‘ng’ tuh tulisan punggungnya~

    23. shampagne –> setahuku, kalau pake b.inggris itu yang bener champagne, kalau mau diganti pake bahasa indonesia, tulis aja sampanye🙂

    24. dialog inggris di akhir itu jangan lupa di italic yaaa~ walaupun orang paham artinya dan itu emang cukup panjang, tapi kan masih termasuk bahasa asing🙂

    nah, sekian review eyd sama penulisan…
    kalau buat bahasa dan gaya nulis, udah top lah, aku suka dan bener-bener bikin orang terbuai bacanya, ikut kerasa adem gitu… endingnya ga nyangka dan ga bisa ditebak kalau kita cuma baca awalnya, siapa yang ngira kalau Kris itu punya penyakit dan berakhir buta? agak nyesek ‘jleb’ gitu pas tahu Kris sakit, tapi momen lamaran itu kereeeen! antara terharu sama ikut seneng deh liat mereka bahagia, apalagi sampe punya anak ;;___;;
    penggambaran juga udah oke, aura winter dan desanya pas kok😀

    apalagi ya? ((sadar woy Mer, udah kepanjangan! -__-))
    pokoknya ini udah bagus kok, tinggal kamu edit dikit di sana-sini sama ngerapiin dan udah okelah! keep writing ya Dhila! see ya!😀

    p.s: makasih udah percaya sama aku buat ngasih review, dan maaf kalau terkesan menggurui /bows/
    salam XOXO! :3

    • Hai kak amer… akhirnya dirimu datang kesini..
      well, maafin aku karena udah maksa kakak kasih review disini.. maafkan akuuuu

      1.Omaigat ini emang salahku nulis dua kali. waktu nulis pun itu galau kak. mau diulang atau enggak? mianhaee^^

      2.yang ini erteeeh.. harusnya pake spasi yang kaya di fic kakak sama kak dira..

      3. kan ini udah alay pake banget ya. aku kepencet -_- maapin sayaa

      4. Seperti waktu itu…. –>> jadi harus kaya gini kak?? makasih banget. aku harus inget information yang ini. kak amer Jjang

      5. maafkan dirikuuu

      6. nah iya bener. ke harus pake spasi. harusnya saya menuruti pesan dan kesan kakak saya disini, mwehehehe

      7. miaaan ^^
      8. aku janji bakal edit ini sebelum di pos di ifk ^^v promise me
      9. okay, pake spasi

      10.oalah harus disambung toh?? ini informasi kedua yang harus dhila hapal
      11.siap boos..

      12. okaay

      13. oh iya!!! harusnya tanda tanyaa

      14.“siip

      15. sip insyaallah gak akan lupa
      16. bener. lebih enak

      17. err. kalo yang itu kayaknya. harusnya kata ‘aku mendekat’nya udah kuapus deh. terus ditiban sama aku mengangguk. mianheee

      18. informasi ketiga yang patut ditulis dikepala
      19. baik akan kucek

      20. sip.

      21. pake spasiiii dhilaaa

      22. itu adalah typo kelas berat

      23. hehehehe, abis galau mau pake bahasa indonesia sama bahasa inggris kak..//aduh alasannya bisa aja dhil//ciumodult//ciumkai//ditabok kak amer

      24. sip, di italic. aduh banyak banget yang bilang kaya gitu sama aku. tapi masiiih aja lupa

      “kalau buat bahasa dan gaya nulis, udah top lah, aku suka dan bener-bener bikin orang terbuai bacanya, ikut kerasa adem gitu…” —>>> aku terharu bangetss baca ini.. emang beneran berasa adem??? soalnya aku nulisnya pas lagi dengerin instrumen piano yang buat musim dingin gitu kak..

      “endingnya ga nyangka dan ga bisa ditebak kalau kita cuma baca awalnya, siapa yang ngira kalau Kris itu punya penyakit dan berakhir buta? agak nyesek ‘jleb’ gitu pas tahu Kris sakit, tapi momen lamaran itu kereeeen! antara terharu sama ikut seneng deh liat mereka bahagia, apalagi sampe punya anak ;;___;; ” —>> iya. itu kasian emang si kris. kubikin jleb. padahal dia abis nyanyi nyanyi galau ama lay..

      “penggambaran juga udah oke, aura winter dan desanya pas kok” ngetiknya sambil nginget nginget momennya a werewolf boy yang endingnya kak >>>>>>>>>> JJANG!! ^^

  2. Welcome home kak diraaa!!!
    ^^ n.n🙂😄

    Well well well mohon maaf lahir dan bathin bila di fic ini ada kata-kata yang kurang berkenan.. karena yayaya, saya nulisnya abis sedih-sedihan nonton A Werewolf Boy untuk yang kesekian kalinya😄
    And then si Ben Ben pake acara nyanyi bareng Lay gitukan ya. aduh jadilah kegalauan saya memuncak…. akhirnya terciptalah fic absurd ini… hehehe

    semacam pemberitahuan gitu:
    BESOK PULSA MODEM SAYA ABIIIS… DAN GAK TAU MAU ISI KAPAN. MAYBE SEKITAR PERTENGAHAN JUNI?? I DON’T KNOW EITHER…😄😄😄

    Okaylah.. aku mau ucapin sekarang saja.
    Kak dira.. thanks a lot udah datang kesini dan meninggalkan review yang pastinya kecebadai disini.. Terimakasiiiih.. Gomawo.. Xie-xie..

    aduh pokoknya Ich Liebe Dich, Rak-rak, Wo Ai Ni, Saranghae, I Love You lah.. //inikokmalahkaya runningman?//

    yayaya pokoknya segini dulu yaa..
    see ya!!
    bow bareng odult//suami baru// hehehe

  3. Dhilaaaaa> “Membuatku menutup kedua mulutku. Aku mengerti, Yi Fan. Sungguh, aku mengerti.”
    Kedua mulutku?! O.O Typo niyeee :b wkwkwk
    Sipsip selebihnya aku suka kok :’3 sedih rasanya jadi si Yifan</3
    Heheh maaf kalo komentarku kepanjangan-_-v dadaaah sampai bertemu di komentar selanjutnya(?)

    • Haloo..
      Eh nemu aja ada typo. Wkwk
      Ya karena hidupnya si Kris itu dirasa terlalu bahagia (?), jadilah aku nistain dia di sini. Mwehehehe hey kamu dateng berkunjung.. alhamdulillah yah.. ^^

      Gomawo udah kasih review

  4. Huwaaaaa~~ Bunga snow drop,mengingatkan aku pada manga jepang… Aaa thor,suka banget bahasanya,penjabaran,alur,PERFECTO!! Apalagi kris biasku di Exo…. Tereak gaje, ehehe..😄 Ah,andai aku eunsoo bahagialah sudah… Tapi kasian ya kris nya huhu buta u.u
    Ah! Thor keep writing dan bkin FF Ber cast Kris……😉

    • halo wulan.. ^^
      gomawo udah datang berkunjung dan meninggalkan review yang bikin aku terharu pagi-pagi begini…

      jinjjayo?? Alhamdulillah jadi mudah dimengerti ini fic.. hehehehe
      jangan panggil thor, panggil aja aku Dhila atau Dhiloo. 98 lines, bangapta ^^

      hehe soal bahasanya, rasanya kita juga harus bilang thanks to kak Amer yang sudah jadi betareader buat fic ini… ^^
      gomawo
      mari diliat fic fic lainnyaa!

  5. haiii dhiloo~
    sampe saat ini snowdrop masih jadi fic favorite aku>.<
    aku baca ini terus terus tp aku gabosen bosen loh:3
    ahh aku suka suka suka bangetttt.
    hihihi maaf baru sempet komen:p

    • Hai Shororo – siefa
      Apakabar? Thanks udah dateng ke sini, baca, ninggalin komen, juga jadiin fic ini sebagai terfavorit kamu.

      Sekali lagi, terimakasih udah suka.
      Sampai jumpa! ^^🙂

  6. Haiii! Kamu yang waktu itu banyak kesamaannya sama aku kan yaa? Yang udah pernah ngobrol di page futureasy sama beep! beep! ?

    Maaf ya, baru cek post ini karena, ada yang komen juga. Dan, untuk menjawab pertanyaan kamu, iya, bener banget. Waktu pertama kali aku googling all about bunga ini, aku langsung interest banget. Filosofi bunga ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Hahaha.

    By any chances, thanks ya, udah dateng, baca ini, dan kasih komen. Maaf untuk kurang-ngertinya.

    Sampai jumpaa!🙂

  7. Whoa! Kak Amer jjang! Ngambil jurusan bahasa ya kak?._.
    Sumpah daebak!! /melongo/

    Halo Dhila!^^
    Heuheu;-; Malam ini aku nge-stalk blog mu lagi._.
    Sumpah keyen bangeeeet >///< Bener2 ga nyangka ini cerita bakal berakhir begini. Bagus bangeeet, dan masalah Kris… Eum, speechless. Kasian diaa T.T

    Sekian dulu ya, jadi ga enak kan aku. Ninggalin komen disana sini-_- Kamu pasti bingung mau balesnya. Abisnya banyak banget kkkk xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s