Drives Crazy

drives-crazy-copy

Title : Drives Crazy
Scriptwriter : dhiloo98
Main Cast : Kim Jong In // Lee Ha Ra

Genre : School Life, Friendship, Romance, Fluff

Duration : Ficlet
Rating : T
Summary : Rasa suka membuat semua orang menjadi gila. Dan Jong In merasakan hal itu. Dimana asumsi awalnya selalu bertolak belakang dengan penjelasan atau apapun yang dilontarkannya kemudian.

##

Pagi hari di sekolah menengah pertama itu terasa sedikit segar. Dimana angin musim panas mulai datang dan mengayunkan dedaunan di taman sekolah. Ini awal semester, murid-murid tingkat pertama sudah menyelesaikan sesi masa orientasi mereka. Anak-anak polos yang baru lepas dari sekolah dasar kini beranjak menjadi siswa siswi tingkat dua. Karena ini awal semester, semua anak disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing, seperti kelas Jong In. Anak-anak lelaki berkumpul dan membahas topik kebanggaan mereka, sepak bola. Beberapa diantaranya memasang ekspresi cemberut dengan sapu di tangan mereka. Juga sebagian siswi yang sedang membersihkan meja guru, salah satunya Ha Ra. Gadis berkuncir dua itu menggabungkan semua kotoran dan memindahkannya ke kotak sampah. Dimana sepasang mata memperhatikannya. Ya, setiap gerak-geriknya. Senyuman di wajah Ha Ra mengembang seraya tugasnya berjalan, namun tak cukup lama karena setelah itu timbul suara teriakan,

“Aaak! Jong In! Jangan menarik rambutku!” Seru gadis itu dengan wajah kesakitan. Jong In- si pelaku penjambakan hanya tertawa. Menampilkan seulas senyum tanpa dosa dan bergegas kembali ke mejanya.
Ya, Jong In tak bisa mengendalikan dirinya. Tak bisa kalau itu berhadapan dengan Ha Ra.

“Kau seperti anak kecil,” ujar Jong In tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Manis dan menggemaskan seperti anak kecil.

Mendapati tatapan mengejek dari Jong In membuat gadis itu meringis,

“Kenapa sih aku harus bersekolah dan berada dalam kelas yang sama denganmu lagi?!” Gumam gadis itu dengan kepala menggeleng-geleng. Jong In kembali terkekeh,

“Anak kecil!” Ha Ra hanya mampu menghela napas. Ya, memang apa lagi yang diharapkan dari seorang Kim Jong In? Bahkan saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, anak itupun sudah sering melakukan ini-itu dengan dirinya. Jambakan bukan hal tabu lagi bagi Jong In dan Ha Ra. Ya, setidaknya untuk hari kemarin dan beberapa waktu ke depan.

##

Bukan duduk di tingkat satu pada sekolah menengah pertama lagi. Kini Jong In sudah menjadi siswa tingkat tiga, dan ia menyukai hal itu. Ya, hari-hari Jong In selalu penuh. Dipenuhi hal ini dan itu. Dipenuhi tugas. Dipenuhi ujian. Dipenuhi latihan menari. Dan tentu saja dipenuhi oleh Ha Ra. Jong In tersenyum sambil bergumam tidak jelas,

Hey, mesin tari! Jangan melamun begitu! Kau kelihatan ‘waras’,” ejek Ha Ra dengan nada penuh penekanan pada kata terakhir. Jong In terkekeh, buat raut wajah gadis itu semakin keruh.

“Seharusnya kau membantuku menyapu, tuan pemalas,” mata Jong In menangkap bagaimana manisnya gadis di hadapannya kini. Gadis itu mengepang sebagian rambutnya, kemudian menyatukannya dari sisi berbeda. Jong In tentu tak ingin tahu bagaimana cara Ha Ra melakukannya.

“Kau jelek!”

Jelek dengan raut seperti itu,

Ha Ra membelalakan kedua matanya. Kedua maniknya menatap Jong In kesal. Mereka berdua kedapatan tugas membersihkan ruang kelas sore ini, dan sepertinya Ha Ra harus menghapus kata ‘berdua’ karena sedari tadi Jong In hanya duduk di atas meja, tanpa melakukan apapun.

“Dengar ya, tuan Kim! Aku ini memang perempuan, tapi kau juga punya tanggung jawab untuk membersihkan kelas!” Sungut gadis itu dengan tangan berkacak pinggang. Jong In terkekeh, betapa ia menyukai pemandangan di depannya kini.

“Pemalas,”

“Kuanggap itu sebuah pujian.” Ha Ra kembali mendelik Jong In tajam. Ia mendesah kecil, memang sulit untuk membawa Jong In dalam pembicaraan serius. Anak di depannya ini tak akan mengerti. Ya, tak akan mengerti.

“Lelah?” Tanya Jong In ketika Ha Ra selesai membersihkan debu di sudut jendela. Gadis itu mengangguk. Kemudian mengambil posisi di sebelah Jong In.

“Aku menumpang sebentar,” Jong In terpaku. Ya, ia bahkan tak dapat bernapas dengan benar selama beberapa saat, saat dimana Ha Ra menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.

“Ck! Apa-apaan kau ini?” Ha Ra hanya terkekeh.

“Lucu sekali jika nanti kita berada di sekolah menengah atas yang sama,” gumamnya dengan kaki yang bergoyang. Jong In menengadah. Ya, memang benar. Kehidupan mereka lucu, layaknya drama yang pernah Jong In tonton saat ada di tingkat empat sekolah dasar.

“Kurasa tidak,” Jong In melirik Ha Ra. Heran dengan pernyataan gadis itu.

“Aku, akan pindah,” Jong In membelalakan matanya. Ha Ra? Pindah? Lalu siapa yang dapat dijadikan objek perasaannya? Ya, siapa yang akan bertanggung jawab atas kegilaannya selama ini?

Jong In dapat melihat gadis itu memejamkan matanya. Menghirup udara sekitar, dan menghembuskannya perlahan.

“Bagaimana perasaanmu, Jong In?” Jong In menoleh, mendapati manik mata Ha Ra menelusuri miliknya. Tatapan sendu. Tatapan lirih dan putus asa.

“Aku tidak tahu.” Jong In ikut menghembuskan napas berat. Ha Ra menepuk punggung lekaki itu,

“Ya, apa yang kau rasakan tak lebih buruk dari apa yang aku rasa.” Jong In menatap Ha Ra. Gadis itu tersenyum,

“Aku menyukaimu,” entah siapa yang memulai. Mereka mengatakannya dalam detik yang sama. Keduanya saling menatap, kemudian tertawa.

“Apa-apaan ini?” Ha Ra tertawa.

“Kau,” lagi, mereka mengatakannya bersamaan.

“Kau duluan.” Ha Ra menggeleng,

“Tidak, kau lebih dulu.” Jong In menggaruk tengkuknya. Rasa hangat dan bahagia melingkupi dirinya.

“Bagaimana ya?” Ha Ra menunggu. Ya, seperti yang dilakukannya sejak mengenal Jong In di taman kanak-kanak. Ha Ra selalu menunggu. Gadis itu menunggu musim semi agar mereka dapat melihat bunga-bunga bersama. Gadis itu menunggu musim gugur, dimana ibu Jong In akan mengajaknya berkunjung setiap minggunya. Gadis itu menunggu musim panas, dimana ia dan Jong In dapat makan ice cream di kedai pinggir jalan. Ya, ice cream coklat untuk Jong In dan strawberry untuknya. Ha Ra menunggu musim dingin, dimana ia dapat membuat replika Jong In dengan benda putih itu, kemudian berfoto bersama. Ya, Ha Ra menunggu lebih lama. Lebih dari yang Jong In dan siapapun kira.

##

Kali ini suasana sekolah tak membosankan seperti biasanya. Setidaknya itu yang Jong In dan Ha Ra rasakan. Karena mereka memiliki satu sama lain kini. Tangan mereka tak pernah terpisah, senantiasa bergandengan kemanapun itu. Dan Jong In akan bersemu ketika guru dan teman-teman menggoda hubungannya dengan Ha Ra. Begitu juga dengan gadis itu, ya, tidak ada lagi tangan yang menarik rambutnya, kini tangan itu memberikan sensasi lain. Tangan itu mengelus puncak kepalanya kapanpun ia membutuhkannya. Orang itu bersedia menari untuk sekedar menghiburnya. Dan yah, walaupun semuanya berawal dari hal-hal yang terbilang buruk, kini Ha Ra akan menulis happy ending pada ceritanya. Setidaknya sampai chapter ini. Dan soal kepindahan, gadis itu memang akan pindah. Ya, pindah ke hati Jong In dan akan berusaha untuk menetap di sana. Melanjutkan kisah mereka, juga mengukir cerita baru.

Well, rasa suka membuat semua orang menjadi gila. Dan Jong In merasakan hal itu. Dimana semua asumsi awalnya selalu bertolak belakang dengan penjelasan atau apapun yang dilontarkannya. Dan ia menyadarinya. Karena secara tidak langsung Jong In menyerahkan dirinya pada orang yang selama ini selalu ia hujat, serta korban keisengannya~Ha Ra, si gadis penunggu mesin tari.

FIN

9 thoughts on “Drives Crazy

  1. Dhilaa komenku ilang T.T itu yg muncul yg paling atas doang😦
    kayaknya hpku sensi sama wp T.T komenku di ifk juga banyak ilangnya T.T
    aku mau bilang, epilognya itu dhilaa banget, fluffy, sweet, manis :3
    aku suka cara kekanakan jong in godain ha ra, padahal itu gegara jong in gan tahu harus gimana ke temen sejak kecilnya itu

    • halo kakaaak
      komennya perasaan ilang mulu tiap berkunjung ke sini u.u maaf merepotkaan

      hehe emang ada genre : dhila?? wkwk dhila banget… aku suka sama kalimat itu kyaaa ><

      dan maafkan aku karena ngomong ngelantur malem-malem begini.aku mengantuk dan dan dan dan besok PRAMOS KAAAK!! AAAAAAAKKK

      hehe gomawo sudah kasih review di fic ituuuu mumumumumumu :*

      • ah hpku sensi sama wp dhill😦 komen di ifk juga begini masa ;A;
        mana lappy lagi rusaak dhilaaa muhuhu /curhat/ /abaikan juseyo/

        aduh, jadi malu kata-kata itu disukain dhilla :3
        aw aw aw/?
        SEMANGAAATTT PRAMOSNYAAA \^^/

  2. well, aku barusan komen kok di page intro-nya kak dhila, tapi gak tau ke baca apa nggak. tadi sih masih the comment still awaiting moderation.. tapi lupakan, yang jelas ini KEREN! karena memang ficlet ini sweet dan pendek (aku nggak nyalahin kak dhila karena ini) seperti cupcake mini yang ada icing sugar diatasnya, buat aku dengan cepat membaca dan terjun kedalamnya/?/ diksinya ringan, dan cukup rapi sebenarnya. jatuh dalam pesona jongiiiiiin~~ udah ah kak, aku mau baca cupcake mini lainnya diblog kakak!

    • ihihihi udah aku baca kok, cha! tenang tenang, yah walaupun telat dua jam ya? maafin aku ya, lain kali aku lebih cepet bales deh janji!🙂 seneng banget kamu dateng langsung ke sana, jadi perkenalin dirinya enak dan terarah

      WUAA makasih buat “keren”nya yaaa {} hehehe iya itu exo’s rapper school life series sih😄 maafin akuuu. dan heyy manisnya kamu sampe bikin sebutan “cupcake mini” gitu buat ff fluff😄 ayo ayo dibaca cupcake mini lainnya. dan yah, itu awaiting moderation udah aku setujui kok😉 jadi kamu mau komentar kapan aja pasti bakal langsung tertera, dan, ah aku seneng bisa kenal kamu, makasih ya udah jadi reader yang mau komen. jangan tiru aksinya silent-readers di luaran, itu gabaik😉

      see yaa, chaaa …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s