Trustworthy

Trustworthy cover

 

 

Title : Trustworthy
Scriptwriter : dhiloo98
Main Cast : Byun Baekhyun, Park Min Ah

Genre : School life, Friendship, Romance, Fluff

Duration : Ficlet
Rating : T

Summary : Baekhyun tak pernah tahu arti dari rasa suka. Yang ia tahu hanya getaran-getaran aneh yang sering membuatnya semakin tak bisa berhenti bicara kala Min Ah berdiri di hadapannya. Memegang kotak bekal dan menyodorkannya ke depan wajah Baekhyun dan buat dirinya tak bisa berhenti mengatakan ini dan itu.
**Trustworthy**

Kala itu seusai mengerjakan tugas rumahnya, telinga kecil Min Ah menangkap suatu bunyi bedebam pelan yang membuatnya terkesiap. Gadis kecil itu menengok ke luar jendelanya dan mendapati seorang lelaki bertubuh kecil – untuk ukuran anak seumurannya di sana. Ia mengenalinya dengan nama Baekhyun, Byun Baekhyun.

“Baekhyun-a! Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?” Min Ah mencicit pelan. Suaranya seperti bisikan tinkerbell yang menggelitik kecil telinga Baekhyun. Bocah lelaki itu tersenyum, kemudian merogoh saku celananya cukup lama.

“Ini,” Min Ah diam, Baekhyun juga. Kesunyian mengambil alih detik itu.

“Cokelat mimpi indah.” Jawab Baekhyun sambil terengah. Min Ah meliukkan alisnya bingung,

“Apa?”

“Cokelat mimpi indah. Kau dapat mendapat mimpi indah jika memakan cokelat ini sebelum tidur.” Baekhyun menyodorkan sebatang cokelat ke depan tangan Min Ah.

“Tapi,”

“Kenapa?”

“Gigimu tak akan rusak kok, akupun begitu. Asal kau rajin menyikat gigi kurasa tak apa.”

“Tapi,”

“Min Ah tidak boleh memakan cokelat sebelum tidur.”

“Kenapa?” Baekhyun memasang ekspresi aneh. Wajahnya begitu memelas kala Min Ah mengutarakan kegelisahannya.

“Chanyeol oppa melarangku.” Baekhyun menepuk dahinya pelan. Tentu ia lupa dengan bocah satu itu. Bocah tinggi yang tak urung mengatakan ini dan itu pada Min Ah, bermaksud agar adiknya tak salah arah, pun menyesal di kemudian hari.

Namun ekspresi menjijikan Baekhyun tadi tak bertahan beberapa menit karena setelah itu ia memberikan Min Ah sebuah senyuman manis.

“Tak apa,” Baekhyun mengacak rambut Min Ah.

“Tak memakan cokelat ini juga tak akan berpengaruh dan mendapatkan mimpi buruk kan?” Baekhyun bergumam. Gumaman pelan yang sebenarnya terdengar penuh kekecewaan.

Min Ah buru-buru menggeleng dan membuat telapak tangan Baekhyun – mau tak mau harus terlepas dari rambut halus itu.
Gadis itu mengambil batangan cokelat dari tangan Baekhyun.

“Tidak apa-apa. Min Ah bisa menyikat gigi sebelum dan sesudahnya.” Gadis itu tersenyum. Senyum yang tak kalah manis dari yang tadi diberikan Baekhyun.

“Terimakasih,” Min Ah kembali menggeleng dan membuat Baekhyun meliukkan alisnya heran. Ia hanya berterimakasih. Apa yang salah?

“Min Ah yang harus berterimakasih pada Baekhyun. Terimakasih, Baekhyun.” Gadis itu tersenyum lagi. Baekhyun balas tersenyum dan mengacak rambut gadis itu penuh kasih.

“Min Ah? Dongsaeng-a! Kau bicara dengan siapa?” Suara berat Chanyeol mengisi relung telinga Baekhyun dan Min Ah. Buat mereka berdua kelabakan dan tak tahu harus melakukan apa.

“Aku pergi dulu ya,”

“Ya. Selamat malam, Baekhyun-a! ” Baekhyun tersenyum. Lengan kecilnya dengan lihai memanjat pagar pembatas antara balkon rumahnya dengan rumah Min Ah. Yeah, anak itu baru pindah kemarin malam. Ayahnya sangat kaya, jadi ketika Baekhyun meminta untuk tinggal di sebelah rumah Min Ah, sang ayah pasti merestui.

“Min Ah?”

“Ya?”

“Selamat malam. Mimpi indah!” Min Ah tersenyum. Tangannya melambai seraya menutup jendela serta tirai kamarnya.

Malam ini memakan cokelat tak ada salahnya kan? Toh itu cokelat pemberian Baekhyun. Tanda persahabatan mereka dan Min Ah percaya penuh dengan semua kata-kata Baekhyun. Semua yang dikatakan Baekhyun benar, dan Min Ah tak mau membuang waktu untuk sekedar tak mendengarkan, pun tak mempercayai kata-kata Baekhyun.

**Trustworthy**

“Pagi kawan-kawan!” Seisi kelas hanya menanggapi salam pagi itu dengan malas. Mau apalagi? Itukan hanya Baekhyun si tukang bicara. Baekhyun si bacon berisik dari kelas tujuh A. Pintar sih, tapi tetap saja itu Baekhyun. Bocah lelaki yang hobinya berbicara.

“Pagi Park Min Ah!”

“Pagi Baekhyun-a!” Balas Min Ah semangat. Gadis itu menyungginggkan seulas senyum manis dan buat beberapa teman mereka menoleh curiga. Itu hanya Baekhyun memang. Tapi, ia baru saja mengucapkan salam pada Park Min Ah. Gadis pemalu yang manis dan bermanner baik.

“Coba kucek gigimu,” Baekhyun menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke pipi Min Ah. Gadis itu membuka katupan bibirnya dan menunjukkan deretan gigi putih bersihnya pada Baekhyun. Bersih bak porselen, ditemani dengan aroma strawberry yang menguar lembut dan menyambangi indera penciuman Baekhyun. Bocah lelaki itu tersenyum senang,

“Sudah kubilang, makan cokelat di malam hari tak merugikan, bukan begitu?” Min Ah mengangguk.

“Terimakasih, Baekhyun-a!” Baekhyun mengangguk. Kemudian menaruh tas di kursinya dan duduk dengan tenang di sana. Seisi kelas memperhatikan mereka. Tak ada yang melepas pandang barang sejenak, pun berani mempertanyakan apa hubungan Baekhyun dengan Min Ah. Semuanya hanya mampu memperhatikan. Ya, hanya mampu memperhatikan.

“Semalam aku bermimpi sesuatu,” Min Ah menatap Baekhyun penuh tanya. Gadis itu penasaran.

“Aku bermimpi pergi ke Neverland dan bertemu dengan peri cantik.” Wajah Min Ah terlihat keruh kala itu.

“Oh ya?” Baekhyun mengangguk.

“Aku bertemu Wendy,” mata Min Ah berbinar. Perfect. Min Ah sudah sering menamatkan cerita tentang Peter Pan. Ia sangat menyukai karakter Wendy.

“Aku terbang bersamanya. Kami mengelilingi Neverland dengan tangan saling menggenggam. Seperti ini,” Baekhyun tipe pencerita yang baik. Ia tak urung menggunakan alat bantu ketika bercerita dan kali ini ia benar-benar memakai ‘alat bantu’nya.

Tangan hangat Baekhyun menggenggam tangan Min Ah. Menyatukan telapak tangannya dengan milik gadis itu. Kemudian ia menautkan setiap jarinya dengan jari Min Ah. Buat kehangatan menyeruak memasuki hati mereka.

“Lalu apa lagi yang kau lakukan?” Min Ah mencicit pelan. Baekhyun suka kala suara kecil gadis itu mengisi relung telinganya. Suaranya selalu menggelitik kecil telinga Baekhyun dan buat ia merasa senang entah kenapa.

Err.. aku, aku, aku tidak tahu.” Baekhyun menggaruk tengkuknya. Ia sama sekali tak suka bercerita sesedikit ini. Ia sama sekali tak suka berhenti di tengah.

“Aku berjanji akan menceritakan kisahnya nanti.” Min Ah mengangguk.

“Lalu kemarin malam aku memimpikan Cinderella.” Min Ah menatap Baekhyun penasaran-lagi.

“Dia cantik,”

“Dia gadis penurut,”

“Aku mencegahnya berjalan lebih jauh dan memeluknya seperti ini,”

Baekhyun membawa Min Ah dalam dekapan hangatnya. Buat pipi gadis itu bersemu merah. Ia dapat mencium aroma tubuh Baekhyun. Ada aroma melon yang segar menguar dari balik kerah kemejanya. Ini tentu jauh berbeda dengan apa yang sehari-hari Min Ah temukan dari sang kakak, Park Chanyeol. Yang ada hanya aroma mint segar yang buat kesan dingin menempel erat di setiap inci tubuh lelaki tinggi itu.

Baekhyun juga begitu. Ada aroma strawberry yang menguar lembut dari setiap helai rambut milik Min Ah. Ada aroma manis peach berry yang menguar lembut dari lekukan bahu gadis itu. Wanginya manis dan membuat Baekhyun tersenyum senang. Baekhyun melepaskan dekapannya. Matanya menatap iris cokelat muda milik Min Ah. Keduanya saling bertukar pandang.

“Oh iya! Aku ingat!”

Min Ah menatap Baekhyun penasaran. Ia sendiripun bingung, mengapa ia dengan mudahnya mendengarkan cerita Baekhyun? Mengapa ia dengan mudahnya mempercayai semua perkataan Baekhyun? Ya, mengapa selalu ada senyum manis kala lelaki itu menyelinap masuk ke balkon kamarnya kemudian saling bertukar dongeng sebelum tidur.

“Soal Wendy, sungguh! Ia cantik!”
Min Ah mengangguk.

“Aku juga berpikir begitu.”

“Ya ya! Dan Cinderella juga sangat cantik!” Min Ah lagi-lagi mengangguk menyetujui perkataan Baekhyun. Lalu lelaki itu menenggelamkan jarinya di antara helaian rambut gadis itu.

“Mereka berdua, maksudku, Wendy dan Cinderella, mereka.. err..”

“Mereka tak lebih cantik dari pada dirimu. Ya, ya, maksudku, kau yang paling cantik.” Min Ah bersemu. Pipinya dipenuhi semburat merah muda dan Baekhyun senang dapat melihat pipi gadis itu bersemu. Ya, bersemu karena kata-katanya.

Ini aneh. Baekhyun tak pernah kehabisan kata memang. Namun selalu ada sesuatu yang membuatnya tercekat dan terpaksa menghentikan ceritanya di tengah. Selalu ada sesuatu yang membuatnya berhenti berbicara – walaupun hanya sejenak. Dan ia menyadari penyebabnya. Penyebab dari semua hal gila yang dilakukannya adalah Min Ah. Si gadis cantik yang pemalu. Punya senyum manis yang buat Baekhyun menjadi ikut tersenyum juga, seperti virus yang menular. Min Ah punya rambut panjang yang bergelombang dan Baekhyun suka kala jemarinya tenggelam di antara helaian rambut gadis itu. Min Ah selalu punya aroma Strawberry dan peach berry yang menguar lembut dari setiap inci tubuh gadis itu, dan menggelitik indera penciuman Baekhyun.

“Aku ingin jadi peter pan. Dapat terbang jauh bersamamu dan tak pernah merasa tua barang sedetikpun.”

“Tapi aku bukan Wendy,” Baekhyun menggerakan jarinya, mengelus pelan puncak kepala Min Ah.

“Tentu saja.”

“Soal Wendy, kau tentu tahu berapa umur kita, juga bagaimana budaya di negeri ini. Maksudku, tak sembarangan anak diperbolehkan untuk berciuman.” Min Ah menatap Baekhyun malu-malu.

“Aku tak akan mencuri ciuman seperti Peter pan, tidak. Aku berjanji tidak seperti itu. Mungkin nanti? Kala kita dewasa dan semuanya sudah tak tabu lagi.”

CUP

Baekhyun mencuri satu ciuman. Rasany manis dan Min Ah terkesiap kaget kala bibir Baekhyun menyapu permukaan pipinya.

“Jadikan aku peter panmu.” Min Ah menatap Baekhyun. Gadis itu bersemu merah dan Baekhyun suka itu.

“Mau tidak?” Min Ah mengangguk.

Well, Baekhyun memang tak pernah tahu seperti apa rasa suka itu. Namun setidaknya ia tahu alasan dibalik segala perasaan yang membuncah di hatinya. Ia tahu itu karena Min Ah. Si gadis pemalu dan punya senyum menarik yang membuat Baekhyun tak bisa untuk tidak ikut membalas senyumnya.

FIN

Ditulis dari WordPress untuk Android

18 thoughts on “Trustworthy

    • Nyahahahahha maklum kak,, yang baru lulus JHS jadi begini.. jadi buatnya yang model model gaje gini….

      hahahaha maaf kak… aku gak tau kakak jadi semakin menggila? //ngibrit bareng sehunieee

  1. suka yang coklat mimpi indah :3 aduh itu tingkah Baekhyun unyu sekali sepertinya. Terus terus yang pas cerita dan menggunakan alat bantunya, aaaa itu bikin kadar senyumku meningkat drastis dhil apalagi Min Ah polos nan menggemaskan gitu hahahaha

    • kakaklagiiiii XXD
      hahahaha kakak sumpah ya ini..
      aduuuh

      cokelatmimpi indahnya itu aku juga gak tau kenapa bisa buat begituuu XXD maafkan akuuuuu

      dan dan dan dan dan soal alat bantu, nyahahahaha aduh itu modus banget lah ya si Baek… wkwkwk
      hehehe gomawo kaakaaak.aku juga senyum senyum baca review ini

      • Eung jadi hpku emang kadang ga mau ngepost smuanya kalo panjang, jadilah aku potong-potong dan maap nyepam ._.
        Eh mana obatnya/? Mau baca di ifk juga nih :3
        dan cie yg abis dari JHS ketemu si ijo ._.
        Aku gila karena baekhyun di fict ini dhil xp

  2. Dhilaaa…
    Ya ampun, ini manis banget. Kenapa sih kamu doyan yg manis-manis? Awas, nanti diabetes, lho xD

    Jadi ini ceritanya mereka masih kelas 7 SMP? Aduh, masih pada bocah udah tau cinta-cintaan. Dan kenapa Baekhyun so sweet banget di sini? Aku juga pengen tau tiap malam didatangin Baekhyun terus dikasih cokelat. I’m so jealous.

    Terus pas kamu mendeskripsikan aroma tubuh Baekhyun yg wangi melon itu bikin aku gak berhenti senyum-senyum sendiri. Udah berwajah manis, badan wangi, pintar ngegombal lagi xD
    Terus terus pas dia bercerita ke gadisnya tentang mimpinya itu juga manis. Ugh… semuanya manis. Dari awal sampai akhir cerita bertaburkan gula (?)

    Keep writing, Dhila. Jangan bosen yah bikin fluff semanis ini.
    See you~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s