Dream

dream

|| Title : Dream || Scriptwriter : Futureasy. ||

|| Main Cast : Kim Jong In || Genre : Life ||

|| Duration : Ficlet – 1008 words || Rating : T || Recommended Song: Kim Soo Hyun – Dreaming ||

.

.

.

Its a dream

Dream to be an idol

Stand alone in the stage

Doing many things that makes the heart trumblings all the time

Not sure if the typoon comes in the lonely night

Steal my dreams and make it dissapear

Just gonna standing there

And reach it securely

Thats it

ᴥᴥᴥ

 

Fajar datang membawa secercah warna jingga di ufuk timur. Hanya ada sedikit cicitan burung di ranting pohon. Kehidupan manusia telah dimulai semenjak beberapa menit yang lalu – tepatnya saat jarum jam mengarah ke angka enam.

Jong In mengusap matanya. Tubuhnya terasa letih akibat latihan hingga dini hari tadi. Ada sedikit air liur menetes di dagunya, maka remaja tanggung itu bergegas pergi ke kamar mandi – mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Kepalanya menoleh, melirik jam di meja sudut ruangan, kemudian yang dapat terdengar selanjutnya hanyalah sumpah serapah yang tertahan di sudut bibir,

Oh damn! You’ll die, Kim Jong In!”

Oh tidak, tentu tidak. Tentu saja itu hanyalah sumpah serapah yang hanya didasari oleh emosi sesaat. Jong In tidak benar-benar ingin mati, bukankah ia ingin menjadi bintang? Maksudku, bintang – seorang idol – ternama di negaranya.

Lalu tak ada lagi kata yang keluar dari kedua belah bibir itu. Hanya ada sedikit gumaman dan sendawa, memangnya apa lagi yang dapat dilakukan anak berusia enam belas tahun itu? Menjadi trainee, tinggal sendirian di ibu kota, berharap kesempatan untuk debut datang padanya. Hanya itu, harapan seorang trainee – seperti Jong In, juga teman-teman sebayanya.

.

.

.

Siang yang cerah menyambangi tempat latihan menari Jong In – dan trainee lainnya tentu saja. Lelaki itu mengambil sebotol air mineral dari tasnya. Menghapus peluh yang menuruni pelipis dengan baju yang hampir basah kuyup karena keringat.

“Kemampuan dance mu meningkat pesat, Kim Jong In.”

Pelatih tari itu menepuk pundak Jong In, seolah menyemangati anak itu dari keterpurukannya. Uang bulanannya sudah hampir habis, Jong In bahkan tak tahu setelah uang itu benar-benar habis, dengan apa ia akan membayar sewa rumah dan makanan. Mungkin ia akan berhenti menjadi trainee? Memanfaatkan masa muda untuk bekerja di kedai-kedai –atau malah menjadi penari di klub? Jong In tak pernah tahu akan menjadi apa dirinya setelah badai kecil ini menghilang.

Yang ia ketahui hanyalah belum ada kepastian yang sekedar lewat di hadapannya. Setidaknya belum.

“Halo? Ibu? Ya, Jong In baik-baik saja, Bu,”

Ups, dia berbohong. Jong In tidak benar-benar dalam keadaan baik. Berat badannya terus menurun, kantung hitam bersarang di bawah matanya, perutnya sering kali berteriak kelaparan, dan Jong In masih menggolongkan ini sebagai kondisi ‘baik’.

“Uang kiriman?”

Oh, haruskah ia berbohong lagi kali ini? Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya? Mengatakan kalau uang yang diberikan Ibunya sudah habis dan ia tak punya uang simpanan. Bukankah itu akan membuat keadaan semakin buruk?

Eum, Jong In masih menyimpan beberapa lembar uang, Bu. Ibu harus berobat dengan rajin, mohon jangan pikirkan aku. Aku baik-baik saja.”

Setelah kebohongan-kebohongan tercipta, hal itu akan mengalir dalam darah. Mengalir bagai sungai yang tahu pasti di mana ia akan bermuara. Dengan segala kegundahannya, Jong In hanya mampu menggenggam rosarionya, berdoa pada Tuhan agar badai kali ini segera berlalu.

.

.

.

Bagai bintang yang merindukan bulan. Hari ini, tepat di tahun ke tujuhnya bersedekap di Seoul – menjadi trainee dan bahkan tak sempat menengok kampung halaman – Jong In melafalkan bait rapp terakhirnya dan bergegas pulang sebelum dirinya mengingat sesuatu. Pengumuman debut, bukankah ia sama sekali belum melihat pengumumannya sejak pagi tadi? Maka Jong In sesegera mungkin melangkahkan kakinya ke arah papan pengumuman, iris matanya berhenti bergerak cepat seiring kedua belah bibirnya mengucap satu nama,

“Kim Jong In.”

Semua hal kadang tak seperti yang diinginkan pada awalnya. Ada beberapa hal yang tak mampu ditorerir dan terkadang menimbulkan satu percikan emosi yang membuat semuanya berantakan. Dengan perasaan hati yang bahagia, Jong In mengeluarkan beberapa lembar uang, membeli satu tiket bis untuk pulang ke kampung halamannya.

Bagai bintang yang merindukan bulan, Jong In juga merindukan kampung halamannya, merindukan pekarangan rumahnya, merindukan satu wanita tegar yang selalu setia menunggunya pulang di ambang pintu. Memastikan jikalau putranya pulang ke rumah, ia akan ada di sana dan memberikan pelukan hangat seperti yang sudah ia idamkan sejak dahulu kala.

“Aku datang, Bu. Jong In datang untuk Ibu.”

Air matanya menetes tatkala melihat keadaan rumah yang sama sekali berbeda dengan apa yang ia pikirkan sejak tujuh tahun terakhir. Entahlah, rumahnya hanya nampak, sepi? Bunga-bunga di pekarangan terlihat mati dan layu. Jong In tak melihat satupun kain yang terjemur di besi-besi itu.

“Ibu?”

Masih tak ada jawaban yang dapat membuat semua kegelisahan Jong In menjadi sebuah kejelasan, yang ada hanya dedaunan musim gugur yang perlahan jatuh dan menyesakkan pekarangan rumah itu. Desauan angin datang layaknya pelengkap – memperjelas luka yang mulai terbuka.

Meski aku tak ingin

Meski aku tak pernah berharap akan menjadi seperti ini

Yang dapat kulakukan kini hanyalah berdiam diri

Menengahi keributan angin di luar sana

Memperhatikan bentuk wajah yang tercetak di selembar kertas itu

Senyumnya

Membuat tangisku semakin sarat dalam diam

Semakin sakit

Semakin hampa

Dan saat aku tersadar, tetap tak ada ia yang kuimpikan

Daun terakhir menjatuhkan dirinya di gundukan tanah itu. Jong In mencabut beberapa rumput liar yang menumbuhkan diri di tumpukan tanah dan batu itu dengan tangannya. Memandang sedih gundukan di hadapannya – makam sang Ibunda.

Tetapi semuanya harus tetap berjalan. Mesti terus berlanjut demi menghindari sebuah kesia-siaan. Maka Jong In – dengan perasaan sedih yang membuncah – kembali ke Seoul, melanjutkan kehidupan yang sempat tertunda, dan menemukan dirinya dalam tangga teratas dari segala impian yang dirajutnya sendiri.

Its a dream

Dream to be an idol

Stand alone in the stage

Doing many things that makes the heart trumblings all the time

Not sure if the typoon comes in the lonely night

Steal my dreams and make it dissapear

Just gonna standing there

And reach it securely

Thats it

.

.

.

Kim Jong In – debuted.

Dancer pro. – Kim Jong In

Shining Star – Kim Jong In

This is my dream

Whats yours?

ᴥᴥᴥ

Fin

4 thoughts on “Dream

  1. dhil, aku nangis baca ini, tanggung jawab :”
    aku nggak tau kalo ini nyambungnya sampe ke orang tua segala, aku lemah banget kalo udah masalah kaya gituan :” magrib-magrib gini jadi melow baca fanfic kamu
    it’s beautifully written, suka pake banget lah🙂

    • kak asaaaa :”
      aku nggak tau dan nggak nyangka kalau ternyata kakak baca ini :” huaaaaaaaaaaaaaaaaaa T.T aku terharuuu

      ya abis kalo nyerempetnya ke romance mulu, ngebosenin dan biasanya relatif fiktif sekali. jadi aku tarik deh kesan kekeluargaannya hehehe

      maaf kakaak udah buat kakak nangis /lempardiyo/
      aku juga suka pake banget lah sama comment pertama ini🙂

      see ya kaaaak!

  2. ya ampun jonginnn, ini nyeseknya nggak kebayang jadi jongin kan aaaak mendadak galau sungguh, mana aku juga lagi jauh sama keluarga😦

    this is beyond perfect, nggak tau mau komentar apa. yg bagian jongin nahan nahan diri biar tetep kuat, sampe terus akhirnya dibisa bisain pulang ke rumah ternyata ibunya udah… aaaaaakkkk udah bubar.

    dhila you did awesome. im a crying mess, now.😦

    • kakak😦
      aku inget banget waktu nulis ini pas masih rabunkatakata hehehehe.😦 waktu itu lagi bener-bener yang ah yaampun berat banget ya jadi kamu, mas.makanya bikin yang beginiiii. noooo it isn’t!😄 tapi makasih banyak kakaaaaak. kalo segini aja udah beyond perfect apalagi yang di tmd,itu beyond yang bener-bener beyond, yaaaa. BUBAR SEMUA BUBAR MAS BUBAR. Kata exo its my turn to cry, kak put. Jangan bersediiiih :”
      aku seneng banget kakak ke siniii. malah menyesal gak update exo😦 tulisannya masih purba semua kalo yang exo soalnya ahuhuhuhu. Fighting! {}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s