Who Am I

who-am-i

||Title : Who Am I || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : Kim Myung Soo – Jung Soo Jung ||

||Genre : Psychology, Romance, Surrealism, Slight || Duration : One Shot || Rating : General ||

||Lovely Artworker : Mizuky||

Summary : Kala itu Myungsoo hanya merasakan dunianya tak lagi dekat. Terkesan asing dan terlampau menakutkan sampai dirinya tak kuat hanya untuk sekadar membuka kelopak matanya. Lalu perlahan Soojung datang, kemudian pergi. Sampai Myungsoo menyadari, ada satu lubang hitam besar yang menyeretnya ke dalam.

© Dhiloo98 story line and imagination ©

“Myungsoo, apa yang kamu lakukan di situ?”

“Kau siapa?”

“Myungsoo, ini aku, Soojung.”

.

.

.

Hati Soojung serasa dihujam ribuan pedang yang menghancurkan perasaannya hanya dalam kurun waktu beberapa detik. Air matanya berkumpul di pelupuk, membuat wajah cantiknya terkesan sepi dan penuh kesengsaraan. Tak berbeda jauh dengan wajah seseorang di hadapannya. Terkesan hampa dan asing. Kerutan kebingungan memenuhi wajah tampan itu. Buat dirinya makin terlihat linglung, dan semakin menyakiti hati Soojung.

“Soojungie, ada apa?” Soojung membelalakan matanya. Sedetik yang lalu lelaki tampan di hadapannya baru saja terlihat kebingungan dengan segala guratan aneh di keningnya. Soojung menggeleng lemah, tangannya menggenggam milik Myungsoo. Mencoba menyatukan setiap jemari lelaki itu dengan miliknya sendiri. Mencari kehangatan di balik segala detil keanehan dalam kisahnya dan Myungsoo.

“Soojung, boleh aku menceritakan sedikit kegelisahanku dalam seminggu ini?” kening Soojung berkerut, seolah menunjukkan keheranannya terhadap pernyataan Myungsoo. Namun, gadis itu tetap mengangguk, menyetujui ajuan Myungsoo.

Satu detik,

Dua detik,

Tiga detik,

Empat detik,

Lima detik,

Myungsoo tetap diam tak bergeming dan membuat kerutan di dahi gadis itu makin bertambah,

“Kau tak ingin menceritakan apapun?” Myungsoo menoleh. Tatapannya terkesan aneh, membuat sesuatu dalam diri Soojung semakin bergejolak dan makin ketakutan. Myungsoo sudah benar-benar berubah, pikirnya singkat. Ya, pikiran-pikiran itu terus berkelebat dalam pikirannya. Dan dari sinilah kisah mereka dimulai.

© Dhiloo98 story line and imagination ©

The First Impression : Depersonalization and derealization

Malam itu Soojung menemukan dirinya terbangun secara tiba-tiba. Sebuah suara membuatnya berbuat demikian, dan ia tak tahu siapa yang menimbulkan suara itu. Maka, Soojung berjalan ke luar kamarnya, menuju ruang tamu, lalu membuka pintu rumahnya. Gadis itu menemukan Myungsoo berdiri di sana. Raut wajahnya sarat akan kepedihan. Ia terlihat linglung dan Soojung beberapa kali berupaya menyuruh Myungsoo masuk ke dalam. Sekadar berbincang dan bertukar cerita tak ada salahnya bukan?

“Aku merasa asing,” Soojung menunggu Myungsoo menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu menopang dagunya dan memperhatikan setiap pergerakan yang dibuat Myungsoo dengan hati-hati.

“Seolah aku dapat memperhatikan semuanya. Ya, semua yang berjalan begitu saja. Kurasa ini tidak nyata, Soojung.” Myungsoo menyelesaikan kalimatnya dengan sebuah helaan napas keras yang buat dirinya semakin terlihat kacau.

“Rasanya seperti apa, Myungie?” Myungsoo menggeleng,

“Aku tidak tahu. Seperti menonton sebuah film, mungkin?” Soojung mengangguk mengerti.

Segala kemungkinan bisa terjadi, dan Soojung hanya mengambil salah satu dari kemungkinan-kemungkinan itu. Penat. Ya, mungkin lelaki tampan di hadapannya kini sedang merasa penat dengan kehidupan perkuliahan yang serasa meremukkan tulang. Beberapa kali Myungsoo terlihat tak nyaman. Ia bergerak tak bebas kesana dan kemari. Sementara Soojung masih memperhatikan pria itu dari sofa tempatnya duduk.

“ARGH!” Myungsoo secara tiba-tiba meremas rambutnya sendiri. Membuat mereka berantakan dan tak jarang rontok. Ia terlihat mencekik lehernya sendiri dan hal itu membuat Soojung mati-matian menahan tangan lelaki itu. Mencoba menghentikan segala kegilaan yang diperbuat Myungsoo barusan.

Lalu beberapa detik kemudian lelaki itu tersenyum. Senyum singkat yang terlihat aneh dan diiringi dengan air mata yang mulai mengalir di pipi Myungsoo. Lelaki itu menangis di pelukan seorang Jung Soojung dan secara tiba-tiba menarik rambut panjang gadis itu dengan kasar.

“Kau kira kau siapa?! Kenapa kau memelukku begini?” raut Soojung kala itu pucat pasi. Lidahnya serasa kelu dan ia tak dapat mengatakan apapun. Ia membiarkan lelaki itu memakinya dan dengan tiba-tiba pula pergi dari rumah Soojung.

Timbulkan kesunyian di dalam kediaman Soojung, timbulkan guratan penuh penyesalan dan rasa sedih di wajah cantik gadis itu. Hatinya sakit. Ya, sakit. Tak pernah sesakit ini. Namun, ia tahu, ia harus bersabar. Bersabar untuk menemukan sebuah titik terang yang akan menghubungkan dirinya dengan Myungsoo. Bersabar untuk menemukan secercah sinar yang dapat membawanya dalam kehidupan yang bahagia, bersama orang yang dicintainya.

© Dhiloo98 story line and imagination ©

2nd Impression : Experiencing distortion time, amnesia, and irregularities time

Soojung sedang menyesap hot chocolatenya kala itu, dan Myungsoo datang memeluknya dari belakang. Lelaki itu tertawa renyah, membuat Soojung ikut tertawa.

Nae Soojungie,” Soojung menoleh sedikit, mendapati Myungsoo berada dalam jarak pandang yang dekat dengannya.

“Ada apa, Myungsoo? Ada yang bisa kubantu?” Myungsoo mengangguk. Kemudian lelaki itu duduk di hadapan Soojung.

“Kau tahukan ini hari apa?” Soojung menggeleng. Seingatnya tak ada hal penting yang harus dilakukan hari ini. Tidak ada tugas, tidak ada kencan, tidak ada janji, juga tidak ada perayaan apapun. Alis Soojung meliuk-liuk seirama dengan keheranannya.

“Kau ini bagaimana? Masa hari ulang tahunku saja kau tidak ingat!” Soojung berjengit kaget. Mungkin Myungsoo melupakan hari demi hari yang berlalu. Di mana hari ulang tahunnya sudah dilewati sekitar beberapa bulan yang lalu. Saat itu, Soojung membeli kue red velvet yang mahal dan Myungsoo membuat wajahnya penuh dengan cream, juga buat ia terlihat seperti Troll Cantik yang sedang ditimpa bencana.

Eum, Myungsoo, hari ulang tahunmu sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Apa kau sudah melupakannya, Myungsoo?” Lelaki itu berdecak sebal. Kemudian ia melirik handphonenya.

“Jadi kapan hari ulang tahunku?” Soojung memicing,

“13 Maret, ingat?” Myungsoo menepuk dahinya. Kemudian tertawa renyah,

“Ah iya! Kau benar sekali, Jungie. Maafkan aku ya?” Soojung mengangguk lemah.

Percakapan singkat mereka terhenti sampai di situ. Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang sengaja dibuat oleh keduanya. Soojung dan Myungsoo sama-sama terlarut dalam pikiran mereka masing-masing. Pikiran-pikiran yang sulit dienyahkan barang sedetik saja dari otak keduanya.

“Myungsoo, kapan kau akan menyerahkan contoh skripsimu?” Soojung – pada akhirnya memecah keheningan yang melingkupi keduanya. Myungsoo menatap Soojung heran.

“Memang sekarang tanggal berapa? Kapan contoh skripsinya dikumpulkan? Dosen mana yang harus kutemui?” Soojung menganga lebar. Setahunya, Myungsoo baru saja mengatur jadwal dengan dosen tersebut sebelum datang padanya.

“Aku tidak tahu, Soojung. Sekarang hari apa saja aku lupa,” Soojung menepuk pundak lelaki di hadapannya lembut. Mencoba menenangkan Myungsoo yang sedang gelisah.

Tak banyak hal yang Myungsoo katakan pada Soojung akhir-akhir ini. Mereka hanya berjalan berdua, minum di cafè langganan mereka berdua, berkeliling kota Seoul di akhir pekan, juga terlelap bersama kala menonton drama sampai larut.

Selama itu pula Myungsoo tak pernah mengatakan hal-hal wajar. Ia punya kosa kata baru yang siap membuat Soojung dilanda kebingungan kala kalimat itu meluncur dengan mulus dari bibir Myungsoo. Lelaki itu jarang keluar di siang hari – kecuali ada perkuliahan, tetapi menjadi sangat sibuk kala malam menjemput. Myungsoo kini tak bisa berhenti bergerak. Ia sering bergerak tak nyaman kala pelayan mengantarkan pesanan mereka. Ia sering berjalan mondar-mandir kala ia tak menemukan bolpoinnya yang hilang. Terutama ketika ia tak dapat menemukan di mana kunci apartemennya – yang notabene berada aman di dalam saku celananya.

Malam itu, Soojung kembali terbangun ketika dering handphone mengusik kedamaiannya.

Allo?”

“Selamat ulang tahun, Soojung. Aku menyayangimu, sangat-sangat menyayangimu!” PIP. Sambungan terputus. Soojung melihat layar handphonenya. Mendapati nama Myungsoo tertera dengan jelas di sana dan makin membuatnya gelisah akan keadaan lelaki itu. Maka gadis cantik itu memutuskan untuk pergi meninggalkan flatnya dan mengunjungi kediaman Myungsoo secepat yang ia bisa.

© Dhiloo98 story line and imagination ©

“Myungsoo!” Soojung menahan lengan lelaki itu. Setelah tak mendapatkan setitik informasi tentang lelaki itu semalam, ia memutuskan untuk menemuinya di kampus keesokan harinya.

“Ya? Ada apa, Jungie?”

“Semalam kau pergi kemana?” Myungsoo menggaruk tengkuknya. Ia terkekeh pelan,

“Aku tertidur, dan terbangun di dekat Sungai Han sekitar pukul satu dini hari.” Soojung keheranan. Bagaimana bisa lelaki di hadapannya berjalan sejauh itu? Berjalan saat tidur mungkin dapat dijadikan opsi. Ya, satu-satunya yang dapat membuat Soojung menjadi tenang dan tak berniat untuk mencari tahu lebih jauh. Sebelum dirinya akan terus terseret dan terseret lebih ke dalam kehidupan seorang Kim Myungsoo, si pemuda tampan yang kehidupannya berwarna abu-abu.

3rd Impression : Headaches and Suicidal

ARGH!”

Lagi-lagi Myungsoo menjambak rambutnya sendiri. Mencoba menyalurkan setiap kesakitan yang dirasakannya. Rasanya benar-benar sakit sampai ia ingin mati saja. Banyak suara yang berputar di dalam kepalanya dan itu makin membuatnya merasa tersiksa. Berkali-kali Myungsoo meminum obat penawar, dan berkali-kali lipat pula rasa sakit itu akan datang kembali. Menyerang sel-sel di dalam kepalanya hingga ia hanya mampu terbaring lemah di ranjang apartemennya.

Myungsoo sudah lupa berapa lama ia tak berjumpa dengan sorot mata teduh milik Soojung. Sakit di kepalanya membuatnya sedikit kehilangan memori-memorinya, juga beberapa jadwal hal penting dalam hidupnya. Myungsoo terkekeh. Air matanya sudah tak dapat lagi dibendung dan timbulkan sungai kecil di pipi tirusnya. Ia menggeram pelan, namun tak lama karena sosok yang dirindukannya selama ini telah datang di hadapannya.

“Myungsoo! Apa yang terjadi padamu?!” Myungsoo tersenyum miring menanggapi pertanyaan Soojung. Seolah kata-kata itu memang sudah terjadwal dan pasti akan ditanyakan cepat atau lambat.

Soojung menatap Myungsoo khawatir sebelum akhirnya gadis itu memutuskan untuk menjatuhkan dirinya dalam dekapan hangat Myungsoo, menepuk-nepuk punggung lelaki itu demi mencari kenyamanan di sana. Keduanya menangis bersama. Tangis pilu yang membuat dekapan mereka makin erat dan buat mereka menjadi enggan untuk melepasnya.

“Aku ingin mati saja,” Soojung membelalak kaget ketika suara parau itu mengisi relung telinganya. Suara yang selama ini selalu dirindukannya mengalun lembut seiring tangisan mereka meleleh. Namun bukan kalimat itu yang Soojung harapkan akan terlontar dari kedua belah bibir Myungsoo. Bukan kalimat bernada pesimis seperti itu. Bukan.

“Berkali-kali tubuhku bergerak sendiri, Soojung. Mereka mengendalikanku ke tempat-tempat tak terduga. Mereka memegang kendali penuh atas diriku. Sama halnya saat kemarin malam aku tersadar di dapur dengan pisau roti menempel di pergelangan tanganku.” Soojung menghapus air mata terakhir yang mengalir di pipi tirus Myungsoo. Gadis itu menatap Myungsoo prihatin, menyusuri iris hitam kelam Myungsoo dengan miliknya sendiri. Dan terkejut kala ia tak menemukan apa yang dicarinya di sana.

“Seseorang bernama Ldini hari tadi datang ke flatku.” Soojung berbicara, mengungkapkan kegundahan hatinya. Myungsoo menanamkan sebagian jarinya di antara rambut bergelombang Soojung. Menatap intens satu sama lain.

“Ia berwajah sangat mirip denganmu. Pakaiannya sama. Sepatunya sama. Tatanan rambutnya sama. Tapi, ada beberapa hal yang membuatku berpikir itu bukan kau.” Myungsoo menggerakan sebagian jarinya, mengelus puncak kepala gadis cantik di hadapannya.

“Apa itu?” suara berat Myungsoo memecah kesunyian singkat itu. Membuat Soojung mau tak mau melanjutkan ceritanya, ditemani dengan helaan napas keras yang membuatnya semakin merasa tak nyaman.

“Ia mendorongku ke dalam, dan mengobrak-abrik hampir seluruh bagian flatku. Ia bilang ia tidak suka padaku. Jadi dia melakukan semua itu,” Myungsoo tak mengerti. Ya, ia sama sekali tidak mengerti. Tentang bagaimana bisa ada seseorang yang berwajah dan berpenampilan sama dengannya bisa datang ke flat milik Soojung dan melakukan hal tidak baik seperti itu.

Tak ada lagi yang berniat ataupun sanggup untuk membuka pembicaraan. Soojung dan Myungsoo hanya saling menatap. Mencoba menceritakan kisah mereka lewat tatapan mata. Ada banyak kata yang tersalurkan juga banyak perasaan-perasaan tak bernama yang ikut mengalir seiring kedua iris cokelat muda mereka beradu. Timbulkan suasana hening sejadi-jadinya, namun tak mengurangi kehangatan yang tercipta dari kedekatan jarak di antara mereka.

“Siapapun dia, kumohon, maafkan hal itu.” Soojung menatap lelaki di hadapannya tak mengerti. Myungsoo baru saja meminta maaf, tentu bukan karakter dari seorang Kim Myungsoo. Kim Myungsoo yang dikenal seorang Jung Soojung adalah lelaki dingin yang hampir tak pernah meminta maaf.

Well, banyak sekali hal-hal baru yang muncul dan mewarnai hari-hari mereka berdua. Ciptakan warna di dalam kehidupan keduanya yang terasa suram, dan terkesan semakin abu-abu.

4th Impression : Fluctuations in the level of ability and self-image

Perkuliahan sudah diselesaikan kurang lebih dua bulan yang lalu, dan sejak itu pula Soojung tak pernah berjumpa dengan Myungsoo lagi. Lelaki itu bagai hilang ditelan dunia. Tak ada kabar yang berpondasi kuat untuk meyakinkan hati gadis itu.

Hari ini hari Minggu dan itu berarti Soojung tak punya jadwal apapun. Gadis itu masih meringkuk di balik kehangatan selimut tebal yang melapisi tubuh rampingnya. Sesekali ia mengintip sedikit dan mendapati sinar matahari yang mendesak memasuki tirai jendelanya. Seseorang bernama L tadi malam kembali menyambangi kediamannya dalam keadaan mabuk berat. Suaranya parau namun tak menghilangkan sifat garang yang membuat Soojung semakin dilanda ketakutan pada orang itu. Ada beberapa luka lebam yang terlukis di wajahnya. Beruntung lelaki bernama L itu tak melakukan hal macam-macam yang dapat mengancam kelangsungan hidup gadis cantik itu.

Lalu, seminggu yang lalu Soojung menemukan Myungsoo terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Gadis itu yakin lelaki di hadapannya saat itu adalah Myungsoo, lelaki tampan yang selama ini memikat hatinya. Namun, papan nama di sudut ranjang nampaknya menolak keras kata hati Soojung. Kali ini bukanlah Myungsoo, bukan juga lelaki bernama L. Orang itu mengaku namanyaMoon Soo dan ia adalah seorang gay. Ia menceritakan banyak hal pada Soojung. Tentang bagaimana dirinya menyukai seorang lelaki yang notabene tak menyukai dirinya. Tentang bagaimana seorang gadis bersikeras merubah dirinya agar menjadi lelaki normal lagi. Ada banyak hal yang membuat lelaki bernama Moon Soo itu menjadi dekat dengan Soojung, meski pada akhirnya Soojung – lagi-lagi harus kehilangan keberadaan lelaki itu.

Soojung belum mendapatkan jawaban yang ia minta. Gadis itu masih menolak dengan keras tentang persepsi yang sebenarnya dapat terjadi. Soojung membuang jauh-jauh opsi tersebut dan memutuskan untuk menutup mata. Mencoba untuk tidak memerdulikan segala yang terjadi setahun belakangan ini. Ya, menutup mata jauh lebih baik dibandingkan jika ia terjun langsung ke pokok masalah dan justru tak mendapatkan apapun yang diharapkannya.

“Myungsoo, apa yang kau lakukan di sana?” Soojung tiba-tiba saja menemukan lelaki itu – Myungsoo di ambang pintu kamarnya. Lelaki itu mengenakan kaos abu-abu yang sering Soojung lihat, namun ada kamera yang bertengger di lehernya. Lelaki itu hanya sibuk mengambil foto objek-objek di hadapannya. Termasuk Soojung yang sedang termenung dibuatnya.

“Sejak kapan kau pandai memotret?”

Kening Myungsoo dipenuhi kerutan, lelaki itu hanya berdehem pelan, kemudian berkata,“Aku bisa. Tentu saja, aku pandai memotret.” Kalimat itu tak bertahan sampai beberapa menit karena setelah itu Myungsoo melepaskan kameranya sambil berkata cemas,

“Apa kau memaksaku untuk memotret barusan?” tak ada jawaban.

Hening mengambil alih keadaan di kamar Soojung yang bernuansa putih. Gadis itu hanya terdiam, matanya bergerak menelusuri garis wajah Myungsoo. Wajah yang dirasanya makin berbeda setiap saat. Di mana Myungsoo seringkali berubah pikiran, atau secara tiba-tiba membentak Soojung tanpa henti. Kemampuan akademis Myungsoo juga berangsur-angsur berkurang, ditambah kemampuan non-akademis yang secara tiba-tiba muncul ke permukaan dan membuat Soojung kebingungan setengah mati.

Soojung benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berulang kali ia berniat untuk menyerah, namun hatinya tetap menolak hal itu. Ya, gadis itu masih belum bisa memutuskan apa yang terjadi.

5th Impression : Self-harming behavior

Beberapa hari ini Soojung tak pernah dapat tertidur dengan benar. Selalu ada mimpi buruk yang menghantui malam gadis itu. Selalu ada Myungsoo di sana, memegang pisau dan berjalan ke sana kemari seperti orang tak waras. Menyodorkannya pada siapa saja, seolah meminta orang-orang untuk membunuhnya saat itu juga.

Hanya ada Myungsoo dengan wajah ketakutannya, dengan segala kerutan di sekitar dahi lelaki itu, membuat wajahnya semakin asing dan tirus. Mimpi Soojung selalu dihantui hal-hal buruk, hal-hal tabu tentang seorang Kim Myungsoo. Soojung mengambil obat merah tatkala goresan di tangannya bertambah, seperti saat kemarin malam Myungsoo berkunjung ke rumahnya, lalu entah tanpa sengaja atau tidak, menggoreskan pisau ke lengan mulus gadis itu. Seperti siang tadi ketika Myungsoo tiba-tiba memukul Soojung dan menimbulkan luka lebam di sekitar bahu gadis itu. Myungsoo dirasa semakin asing dan asing. Semakin menakutkan di mata Soojung, semakin jauh dari Kim Myungsoo yang selama ini gadis itu kenal dan sayangi.

Myungsoo tak lagi selembut yang Soojung pernah tahu. Kini banyak sifat lelaki itu yang mendadak muncul dan membuat Soojung merasa sedikit tertekan. Banyak sekali yang berubah, ya, banyak sekali sampai Soojung tak ingin untuk mengingatnya barang semenit.

Berkali-kali gadis itu meminum obat tidur untuk sekedar membuatnya merasakan kantuk yang teramat sangat dan tertidur di manapun itu. Berkali-kali Soojung menangis hingga rasanya air matanya sudah mengering dan tak ingin kembali lagi. Berkali-kali gadis itu mempertanyakan apa sebenarnya arti dirinya dalam hidup Myungsoo. Berkali-kali pula Soojung akan merasakan pukulan dan membuatnya ingin berteriak pada siapa saja.

Soojung merasa dirinya ikut tertarik semakin dalam ke kehidupan Myungsoo yang semakin berwarna abu-abu. Kelam. Tanpa petunjuk, tanpa perujuk, tanpa pernyataan yang dapat membuat gadis itu dapat merasa aman barang sedetik. Namun, kenyataannya tak ada. Tak ada seberkas cahaya yang dapat dijadikan penerang dan penunjuk kehidupan Myungsoo yang dapat membawa Soojung untuk sekadar merubah lelaki itu kembali ke semula.

Suara-suara teriakan, jeritan, dan kekehan Myungsoo rasanya sudah menjadi santapan gadis itu setelah ia memutuskan untuk tinggal seatap dengan Myungsoo. Berniat menambahkan jadwal dalam kehidupan lelaki itu. Agar lebih terarah, lebih serius, dan tak lagi membuat dirinya dan orang lain menderita.

Soojung beberapa kali pergi ke rumah sakit. Namun, belum sempat dirinya menyerahkan diri padapsikiater, dirinya sudah berubah pikiran. Tak mengetahui apapun lebih baik untuknya. Lebih baik daripada harus berkali lipat lebih menderita.

Tapi, tak ada yang dapat menyalahkan gadis itu saat keesokan paginya Myungsoo menemukanSoojung dengan busa putih yang terus menerus keluar dari belahan bibirnya. Rasa hangat masih dapat Myungsoo rasakan di setiap permukaan kulit gadis itu. Dimana keadaan lelaki yang selama ini dikhawatirkan Soojung berangsur-angsur membaik tanpa gadis itu sadari. Dimana Myungsoo dengan segera membawa Soojung ke rumah sakit dan menemukan gadis itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan infus menempel di pergelangan tangannya beberapa jam kemudian.

“Aku membawakanmu bunga, Soojung.” Soojung tersenyum. Namun tak lama karena beberapa detik kemudian gadis itu meringkuk dan bergerak gusar. Matanya mengeluarkan air mata, tapi bibirnya membentuk seulas senyum manis yang Myungsoo sendiri tak mengerti.

“Kurasa kau akan membuatku gila, Kim Myungsoo.”

Gadis itu menangis, ya, ada banyak hal yang membuat dan mendesaknya untuk menangis. Menangis sejadi-jadinya hingga timbulkan guratan rasa bersalah pada wajah tampan Myungsoo. Lelaki itu hanya dapat diam, diam tak berkutik sebelum pada akhirnya memutuskan untuk membawa diri Soojung ke dalam dekapan hangatnya. Myungsoo mengelus puncak kepala Soojung dan membuat gadis itu semakin menangis histeris.

Keduanya menyesal. Ya, menyesalkan semua yang terjadi. Semua yang belakangan ini merusak hubungan mereka, juga membuat jarak yang cukup panjang di sana. Buat mereka terpaksa menjauhi diri satu sama lain demi mendapatkan sebuncah ketenangan. Ya, ketenangan yang dapat membuat mereka merasakan nyaman setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.

6th Impression : Anxiety and depression

Soojung sudah menyelesaikan tahap pengobatannya. Ia sudah melakukan semua yang terbaik. Ia menjauhi Myungsoo. Pergi jauh-jauh dari kehidupan lelaki itu. Pergi ke tempat dimana Myungsoo tak akan pernah mengusiknya. Pergi ke manapun yang dapat membuatnya melupakan lelaki setampan, sebaik, selembut, semisterius, dan seabu-abu Myungsoo.

Gadis itu tak pernah merasa tenang, memang. Myungsoo seolah-olah sudah menempel erat dalam kehidupannya. Membuatnya harus mati-matian membuang muka dari hal-hal berbau Myungsoo. Menyenangkan memang, namun tak urung membuatnya harus meminum obat tidur untuk sekedar membuat rasa kantuk menyambanginya, juga buat ia terlelap – meski saat terbangun, bayangan Myungsoo masih menghantui.

Setidaknya, Soojung patut bersyukur karena yang ia dapatkan tak lebih baik dari yang didapati Myungsoo ketika menyadari betapa jauhnya gadis itu dari kehidupannya sendiri. Tak pernah lebih baik karena berulang kali Myungsoo merasakan tikaman di sekujur tubuhnya, juga kepala yang terasa berat seiring waktu berjalan.

Myungsoo sudah lupa bagaimana itu rasa sakit. Lagipula mengapa harus sakit? Toh yang ia rasakan selama ini melebihi batas normal definisi dari kata ‘sakit’ itu sendiri. Air matanya sudah lelah untuk keluar, bahkan untuk sekedar berkumpul di pelupuk pun tidak. Myungsoo tahu waktunya hampir habis dan ia semakin tak tahu harus berbuat apa.

Sekelebat bayangan tentang peristiwa itu menyambangi pikirannya. Sekelebat bayangan di mana dirinya terlihat lemah, terkurung di sebuah ruangan berbentuk kotak yang jauh dari kata aman. Jauh dari kehidupan sosial dan orang pertama yang muncul di sana adalah seorang gadis dengan iris abu-abunya. Berdiri linglung dengan tangan menggenggam setangkai mawar berduri penuh emosi.

“Na-namaku Soojung,”

Tidak, harusnya Myungsoo tak pernah meyakinkan hatinya bahwa ia mencintai gadis itu. Semestinya saat pertemuan pertama itu ia tak menaruh hati pada gadis cantik bersurai cokelat tua itu.

Multiple-personality, kau divonis penyakit itu.”

Yang Myungsoo dapati hanya dunia berputar cepat. Bayangan-bayangan yang terus berkelebat bagai film tanpa jeda. Bagai sungai tanpa muara. Semuanya terlihat jelas, namun tak urung membuat kepalanya dilingkupi pening berkepanjangan. Oh, jangan lupakan suara-suara aneh yang bergumul di pusat pikiran.

Scizofernia? Ini lebih dari itu, Soojung. Mestinya kau tahu bahwa percobaan ini tak akan pernah berarti.”

Dunia terus berputar cepat seraya ingatan Myungsoo mulai pulih. Bergabung menjadi satu kesatuan dan membuatnya kembali hidup. Ya, hidup secara jasmani. Secepat kilat ia bangun dari tidurnya.

“Soojung,”

.

Astral Projection

Kejadian di mana jiwa manusia keluar dari raganya. Bukan berarti kematian, hanya bepergian ke zona-zona di luar batas-batas duniawi yang biasanya didapati manusia itu sendiri.

“Soojung,”

Air mata Myungsoo menetes. Setelah perjalanan panjang yang ia lalui akhirnya air mata itu berhasil menetes. Membasahi tanah dunianya yang sesungguhnya.

Kecemasan dan depresi

Individu umumnya mengalami kecemasan dan depresi karena berulang kali mengalami hal-hal yang tidak diingatnya.

Panti rehabilitasi sudah hampir ditutup kala Myungsoo dengan segera memaksa masuk dan menemui pasien di kamar 1024. Itu dia, Soojung. Si gadis peneliti yang belakangan ini didiagnosis mengidap penyakit multiple-personality. Ilmuwan gila yang menjadikan Myungsoo sebagai bahan percobaannya. Membiarkan lelaki itu tidur dalam kurun waktu yang cukup lama dan membiarkan daya khayalnya beterbangan tiada batas. Membuat seolah-olah Myungsoo lah yang mengidap kepribadian ganda, dan dirinya sebagai pengamat. Ia ilmuwan yang pandai memutar balik dunia.

Soojung bahkan mampu menciptakan bayangan-bayangan Myungsoo. Ia dapat merasakan lelaki itu bergerak bebas. Ia dapat melimpahkan segala beban pikirannya dan mengganti Myungsoo sebagai pemeran utama dalam percobaan gilanya kali ini.

“Soojung, ini aku, Myungsoo,”

Gadis itu masih tertunduk lesu kala Myungsoo menjumpainya di ruang komunikasi pasien. Tangan dan kakinya dirantai, matanya tak lagi seabu-abu seperti yang pernah Myungsoo ingat. Ah tentu, itu hanya kejadian beberapa tahun lalu. Kala dirinya dan Soojung masih duduk di bangku universitas.

“K-kau Myungsoo?”

Ada suara parau yang bergetar hebat terdengar dari kedua belah bibir pucat Soojung. Gadis itu bergerak gelisah di kursinya. Myungsoo dapat melihat bagaimana gadis itu mengeluarkan segala rasa bersalah dan rasa takutnya di saat bersamaan.

“B-bagaimana bisa kau-“

“Aku tahu ini sulit. Tapi, aku berada di sini sekarang. Soojung, berhentilah memposisikan aku sebagai si kelinci percobaan yang mempunyai banyak kepribadian.”

Myungsoo dapat mendengar tawa nyaring Soojung mengisi lubang-lubang kecil di kaca pemisah ruangan mereka. Ada tawa nyaring yang menggema dan setetes air mata yang mengalir dari kedua pelupuk gadis itu.

“M-maksudku,”

“Mari kita hentikan ini semua, Jung Soojung. Kembali ke awal dan memulai semuanya dengan normal.”

.

.

.

“Myungsoo, apa yang kamu lakukan di situ?”

“Kau siapa?”

“Myungsoo, ini aku, Soojung.”

“Hahaha, aku hanya bercanda. Kau Soojung, tentu aku tahu.”

“Kau Soojung dan aku Myungsoo, aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Apa lagi yang akan kau pertanyakan?”

“Masih ada,”

“Apa itu?”

“Kapan cerita ini akan berakhir? Maksudku, aku tak bisa terus bersedekap dalam khayalan ini.”

“Aku juga. Tak ada yang akan tahu kapan kisah gila ini akan berakhir, Soojung.”

“Kenapa?”

“Because every human have their own’s demon and is it up to you how you can keep the seal of your own’s demon.”

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s