Fragrant

fragrant

|| Title : Fragrant || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Byun Baek Hyun – Jung Soo Jung || Genre : Romance, Slight ||

|| Duration :  Ficlet – 1501 words || Rating : T ||

|| Recommended Song: John Park – Childlike ||

When the fragrant comes up, this love will gone away

 

.

.

.

It would be

No, it wouldn’t

Why?

Because he just say that he like you. He didn’t love you

When the guy say that he love you, it mean he really does

But when the guy leave you, it mean that he never love you before

He just go for it

 

ᴥᴥᴥ

Udara musim semi selalu menerbangkan wewangian bunga-bunga yang baru saja bermekaran. Membuat Soojung dengan senang hati akan menyenandungkan beberapa lagu manis penyambut musim semi.

Gadis itu akan menemani bunga-bunga bermekaran di kebun belakang rumahnya. Ia akan selalu setia duduk di sana dan biarkan senyuman mengisi wajah jelitanya. Oh, jangan lupakan beberapa tangkai bunga di genggaman tangannya, menambah kesan cantik dari musim semi itu sendiri.

“Sedang apa di sini?” suara lembut itu mengalun di relung telinga Soojung. Timbulkan rasa heran dan membuat iris kelabu gadis itu mencari ke sana dan ke mari. Hanya memastikan siapa yang datang.

“Kubilang, sedang apa di sini, gadis cantik?”

“Ha-hanya rutinitas. K-kau sendiri?”

Gadis itu berusaha mengatasi kegugupan yang mendadak melingkupi dirinya. Suaranya memang terdengar bergetar, namun agaknya lebih baik dibandingkan dengan pita suaranya tak bereaksi sama sekali.

Kemudian, yang dapat Soojung rasakan adalah sepasang lengan melingkari bahunya. Timbulkan kehangatan yang menguar dari tubuh orang itu menjalar lembut di permukaan kulitnya. Meski yang dapat ia berikan hanya rasa dingin yang tak akan sirna menguar dari setiap inci kulitnya. Tak apa, mereka ada untuk saling melengkapi bukan?

“Merindukanmu, mungkin?”

Oh, ada semburat kemerahan yang kini mengisi kilatan kecantikan wajah gadis itu. Soojung menemukan dirinya tersenyum. Ya, seperti virus yang menular.

“Mereka bilang, senyumku itu hangat seperti mentari. Bagaimana denganmu?”

Gadis itu tak menjawab apapun. Ia sibuk mengetukan jemari di dagunya, mencoba berpikir keras seperti apa senyuman seorang Byun Baek Hyun bagi dirinya. Soojung dapat merasakan lingkaran lengan di bahunya melemah dan perlahan menghilang. Air matanya menetes, lagi-lagi ia ditinggalkan sendiri.

“S-senyumanmu, dingin bagai hujan di malam musim gugur. Sehangat mentari di musim panas. Seperti kelopak bunga yang jatuh dari tangkainya. Senyumanmu, berada di segala musim dalam hariku, dan itu sudah cukup.”

Ya, semuanya sudah cukup bagi Soojung.

.

.

.

“Kau belum tidur?”

Malam itu hanya malam yang dingin di hari kelima musim semi. Baek Hyun – seperti biasa – menyelinap ke dalam selimut tebal Soojung dan membuat gadis itu butuh bernapas sebelum jantungnya keluar dari rongganya. Tangan Baek Hyun meraih beberapa helai rambut Soojung dan memainkannya sendirian.

“B-baek,”

“Ya?”

Tubuh Soojung kembali dilingkupi kehangatan yang menguar dari sepasang lengan yang melingkarinya. Namun, seperti biasa, yang Soojung dapat berikan hanya hawa dingin yang terus menerus menguar dari setiap inci tubuhnya. Pening di kepalanya seakan menjadi beban tambahan dan ia sama sekali tak menyukai ini terjadi.

“Apa yang terjadi j-jika matahari terus berada di dekat kutub utara? Akankah – “

“Kutub mencair?”

Soojung mengangguk tenang, membenarkan pemotongan kata dari Baek Hyun. Ada jeda beberapa detik di sana dan Soojung baru saja ingin kembali menutup matanya sebelum Baek Hyun dengan tiba-tiba menjawab pertanyaan konyolnya,

“Tentu, tentu kutub akan mencair. Oh, dan bukankah akan lebih baik jika kumpulan es itu mencair? Maksudku, tak akan lebih nyaman jika kutub selalu kedinginan,”

Oh yeah, kau benar Baek Hyun. Rasanya akan sangat tidak nyaman di kala seseorang atau sesuatu merasa kedinginan untuk jangka waktu yang cukup lama.

“Kalau aku jadi matahari, aku akan memilih untuk berada di dekat kutub utara dan menghangatkannya. Eum, sekedar penjagaan jikalau kutub utara terserang hipotermia.”

Polos. Itu adalah jawaban terpolos untuk pertanyaan terkonyol yang pernah terlontarkan di sepanjang perjalanan hidup Soojung dan Baek Hyun. Lalu seperti kabut malam di sudut kota yang gelap, Baek Hyun kembali menghilang seiring air mata Soojung membasahi seprai tempat tidurnya.

.

.

.

Hari ini Soojung sendirian, esok Soojung akan kembali sendirian dan begitupun hari-hari selanjutnya. Hanya akan ada Soojung dan kumpulan bunga-bunga di pekarangan rumahnya. Hanya akan ada Soojung dengan desauan angin musim semi yang terkikis permukaan dinding rumah gadis itu. Hanya akan ada kesendirian dan air mata yang menderai dari pelupuk matanya. Ya, hanya ada hal itu dan seakan semuanya belum lengkap, ada satu lagi yang membuat gadis itu akan terus merasakan kesepian berlipat ganda.

Byun Baek Hyun, satu-satunya pria yang berhasil mencuri setiap rasa dalam diri Soojung. Satu-satunya yang bersedia memeluknya di malam yang dingin, menemaninya di siang yang hampa dan meninggalkannya di manapun dan kapanpun itu.

Soojung memang tak pernah mempunyai pondasi yang kuat untuk sekedar mengetahui kalau apa yang ia lakukan – untuk  Baek Hyun – tidak sia-sia. Hanya ada kata ‘aku menyukaimu’ yang terus berbayang dalam benaknya. Kata-kata yang rutin diucapkan setiap tahunnya, meski tak ada klarifikasi lebih lanjut tentang perambatan dari ungkapan itu.

“Aku menyukaimu,”

Oh kata-kata itu lagi. Meski ada semburat kemerahan yang mengisi pipi lelaki itu, Soojung tak pernah memahami apa-apa. Sama halnya kala lelaki itu mengatakan,

“Aku menyayangimu, Soojung,”

Tentu saja. Soojung juga begitu, ia juga menyayangi Baek Hyun. Tetapi tetap tak ada yang memberi tahu Soojung definisi dari kata-kata yang selalu diucapkan lelaki itu. Terasa manis di awal namun sangat pahit di akhir cerita. Sepahit yang pernah Soojung bayangkan.

Meski ia mengikuti lelaki itu kemanapun, meski Baek Hyun selalu ada menemaninya di saat-saat yang tak terduga, tetap saja ada rasa sepi yang berguling masuk ke dalam diri gadis itu. Seolah sudah terpahat erat di hatinya, bahwa apa yang Baek Hyun katakan terkadang tak mencerminkan perbuatannya.

“Pernahkah kau merasa lelah dengan semua ini?”

Suara itu. Suara lembut itu kembali mengisi relung telinga Soojung setelah lama tak bersua. Gadis itu menahan emosi yang mendadak muncul, takut bila emosinya akan meledak di saat yang tak tepat.

“Aku lelah,”

Oh ya? Lalu bisakah Soojung mengatakan ia sudah jenuh? Bukan hanya lelah yang menemani perjalanannya dengan Baek Hyun, namun ada banyak kata jenuh yang menimpali dan membuat ini semua semakin tak terkendali.

“Aku juga – “

“Begitukah? Lalu akankah lebih baik jika kita sudahi saja?”

Soojung menoleh ke arah lain. Memunggungi seorang Byun Baek Hyun di tengah kekalutan yang mendekap tubuhnya. Bahunya bergetar – Baek Hyun dapat melihat itu – dan ia menangis. Tangis tanpa isakan yang menyakitkan ulu hati.

“Aku pergi,”

.

.

.

It would not be

Yes, It will

Why?

Because he just say that he like you. He didn’t love you

When the guy say that he love you, it mean he really does

But when the guy leave you, it mean that he never love you before

He just go for it

.

.

.

Hanya ada air mata yang mengalir menuruni lekuk wajah Soojung. Gadis itu bahkan belum mempersiapkan semua ini. Saat di mana Baek Hyun akan meninggalkannya sendirian – lagi – dan berpaling dari hidupnya, hapuskan segala memori yang pernah tercipta.

“Aku bahkan jenuh dengan ini semua,”

Soojung memeluk lututnya, menyudut di kamarnya dan menangis tiada henti. Ia bodoh, tentu saja. Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi, oh mungkin saja itu terjadi. Mungkin saja Baek Hyun dapat mencintainya? Tidak mungkin. Tidaklah mungkin bagi lelaki sesempurna itu untuk jatuh cinta terhadap wanita rumahan yang buta.

Soojung buta, tak dapat melihat objek apapun di hadapannya. Dia tidak punya warna dalam kehidupannya, hanya Baek Hyun. Hanya lelaki itu yang mampu menghidupkan warna dalam hati Soojung. Hanya lelaki itu yang mampu membuat emosinya naik dan turun – tidak terkendali.

“Kau cerah, dan aku gelap. Kau hangat dan aku dingin, bukankah ini menarik? Hanya denganmu aku dapat merasakan kehangatan, dan saat itu pula yang dapat kuberikan hanya hawa dingin yang menguar dari kulitku. Kita berbeda, Byun Baek Hyun.”

ᴥᴥᴥ

“Baek? Baek Hyun? Bangun!”

Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Telapak tangannya mengusap wajah rupawan itu, menyadari segala mimpi yang baru saja terjadi.

“Soojung,”

“Aku datang,”

Air mata menuruni lekuk wajahnya. Bahunya bergetar hebat. Ada banyak kata yang tertahan dan ia tak mampu untuk ucapkan satupun.

“Aku menyayangimu,”

Baek Hyun menaruh seikat bunga lily di dekat batu itu. Berkilau bagai sinar mentari, meski bewarna gelap dan dingin saat disentuh.

“Apa kau baik-baik saja di sana?”

Baek Hyun mengeluarkan suara paraunya. Tangannya bergerak mengelus batu nisan di hadapannya seiring air mata turun dan terhapuskan oleh desau angin musim semi.

Sorry for didn’t love you before,

Baek Hyun menghapus air mata yang membasahi pipinya, lelaki itu tersenyum kecil,

“Aku tak menyangka waktu bergulir secepat ini. Its been two years, two years for regreting all my mistakes.

Ya, tepat dua tahun sepeninggal Soojung. Si gadis musim semi yang selalu berdiri dengan segala wewangian bunga. Meski penyesalan selalu datang di akhir cerita, meski cerita ini sepahit yang pernah Soojung prediksikan, yang dapat Baek Hyun rasakan hanya malam mengejeknya. Bulan menyinari wajahnya di dalam kegelapan malam, seolah ingin lelaki itu terus terbangun dan merasakan kepedihan untuk segala kesalahan  yang pernah ia lakukan di masa lampau.

Terlalu sakit, bukan begitu, Baek Hyun?

.

.

.

And when the fragrant comes up, this love will gone away

Just like that

Passed away with blowing air

.

.

.

Fin.

4 thoughts on “Fragrant

  1. hai~
    sya udh bilang kan mau jdi reader tetap disini :v

    oke, ini mungkin pertama agak membingungkan.. tp akhirnya sya tau khas tulisan kamu :3 #ciyeeee
    dan sya suka itu hhhaa
    entahlah.. sya hanya suka dan sedikit mengernyit *lagi-lagi mengernyit* tiap scene yg bakal terjadi setelahnya😀
    tp intinya, sya tertarik dengan tulisanmu :3

    • Hai Anggi! Salam kenal yaaa, aku Dhila dari line 98 nih. Follow follow twitter spazzing aku yuk, @futureasy nanti kita bisa ngobrol banyak di sana😄

      Waduh! Makasih banget kamu udah suka. Ya, meski ini nyesek T.T sesungguhnya aku juga syedih pas ngetik ini :” tapi ayo kita berjuang! /lahapaankamudhil/

      yaudah yaa, maaf baru bisa dibales niy
      Salam kenal, Kak Dhila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s