Starring At

starring at

|| Title : Starring at || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Jang Do Yoon – Jung Hye Mi (OC) || Genre : Romance, Slight, Surrealism ||

|| Duration : Ficlet – 1580 words || Rating : T || Recommended Song : Gummy – Snow Flower ||

.

.

.

When the sun pouring through

That eyes starring at me

Stand alone in the corner

Watching curiously

Just like that

 

ᴥᴥᴥ

Matahari sudah terlanjur menggantung di langit kala Hye Mi keluar dari flat kecilnya. Berlari ke arah terminal bus dan sibuk memperhatikan jam tangan lusuh yang mengikat pergelangan tangan kirinya.

“Oh astaga, Tuhan! Aku bisa mati,”

Hyemi menggelengkan kepalanya, tahu jika ini mungkin akan berakibat buruk bagi dirinya. Tapi, terkadang semuanya tak berjalan sesuai dengan yang dipikirkan manusia, bukan?

.

.

.

“Hyemi! Jung Hyemi!”

Hyemi menoleh kala suara itu memanggil namanya. Ia menemukan mata itu di sana. Menatapnya penasaran, berdiri di sudut koridor dengan tangan berada di dalam saku jas sekolah mereka.

“Ya, ada apa?”

“Tidak, tadi aku hanya memanggilmu saja. Maafkan aku ya, sampai jumpa.”

Rahang gadis itu turun beberapa milimeter. Oh bukankah teman-temannya memang aneh? Bukankah hanya orang aneh yang mau berteman dengan dirinya? Maka ia hanya mengangguk sambil berlalu. Ini sudah biasa, pikirnya.

Dia Hyemi, Jung Hyemi. Tinggal di flat kecil dengan peralatan seadanya. Orangtuanya masih hidup – tentu saja. Ayahnya ada di penjara – pengkhianat negara. Dan ibunya mengidap penyakit kanker – dirawat di rumah sakit di daerah Incheon. Oh, jadi bisa disimpulkan bahwa orangtua Hyemi masih hidup, namun ia hidup sendirian.

Tinggal di flat kecil milik pamannya yang suka memerintah dan bekerja di kedai mie bibinya. Terkadang mencari pekerjaan tambahan dengan melukis atau menjadi penyanyi di kafe. Tidak, hidupnya tidak keras. Buktinya, gadis itu masih dapat bertahan hidup hingga sekarang, dengan semua kemandiriannya, tentu saja.

“Hai,”

Hyemi menoleh, mendapati si pengamat itu berdiri di hadapannya. Matahari sudah terlanjur menuruni langit dan hampir menghilang di ufuk barat kala Hyemi menyelesaikan pekerjaannya di kafe – lalu menemukan pria itu duduk di kursi pada pertengahan ruangan.

Eum, hai. Ada yang bisa kubantu, Tuan?”

Lelaki itu tersenyum, hanya tersenyum – senyuman manis yang luar biasa menarik namun tetap tak menggetarkan hati gadis itu.

“Aku dari tingkat tiga,”

“Kau bisa memanggilku sunbae.”

Hyemi menatap lelaki di hadapannya ragu, kemudian mengangguk kala ia melihat bat yang dipakai lelaki itu – lambang sekolah mereka. Sekejap ia bingung, bukankah ini kali pertama mereka beradu dialog? Tak ada yang buruk untuk sekedar perkenalan singkat, pikir Hyemi.

“Namaku Jung – “

“Hey, Nona Jung! Bergegaslah ke sini jika kau ingin gajimu diberikan!”

Hyemi menoleh ke sumber suara, menemukan manajer kafe itu berdiri di dekat meja panjang untuk para bartender.

“Aku pergi dulu, maaf.”

.

.

.

Salju turun dengan lebatnya kali itu. Hyemi menyeruput cokelat panas di hadapannya. Gadis itu menatap lelah kumpulan pekerjaan di meja. Lulus dari sekolah atas semudah dirinya membalik telapak tangan. Masuk universitas dengan biaya yang rendah dan ia bisa bekerja sekarang. Melenggang dengan membawa beberapa berkas dan menunggu akhir bulan datang untuk sekedar membuka amplop berisi gajinya.

Hyemi merapatkan mantelnya. Hidup sendiri di Seoul sudah menjadi sarapan selama sisa hidupnya jadi itu tak berarti lebih kala Ibundanya meninggalkan dunia ini , juga tak pernah ada kabar yang meyakinkan tentang Ayahnya selama beberapa tahun terakhir.

Gadis itu meringis kala membayangkan hidupnya belakangan ini. Dia tidak memiliki teman sejak kecil, jadi apa yang dapat diharapkan kala kesendirian menyerang malamnya yang dingin? Tidak ada. Hanya ada Hyemi dan bayangan dirinya kala ia menyapa cermin di kamar mandi untuk sekedar mengucap,

“Hai, namaku Jung Hyemi.”

Hanya itu.

Tak ada warna yang sekedar bertandang dalam jalur hidupnya. Hanya ada si pengamat itu. Berdiri kokoh di sudut ruangan, memperhatikan segala gerak-gerik yang dibuatnya kala sinar matahari menerpa langkah ringan Hyemi, pun kala bulan memantulkan sinar mentari dan menciptakan warna kelabu yang berpijar.

Ada perasaan lelah yang menyambangi hati gadis itu. Dadanya sesak, ia butuh sesuatu sekarang – sebelum ini semua akan bertambah parah. Maka gadis itu membuka laci demi laci yang tersedia di kamar kecilnya. Nihil, tak ada yang dapat ditemukan. Gadis itu berlari keluar dari flat sederhananya dan mencapai apotek secepat yang ia bisa.

“Hyemi!”

Matanya mulai mengantuk, pening mengisi kepalanya. Hyemi sempat terbatuk saat itu, kemudian gadis itu mengatupkan kelopak matanya dan yang ia rasakan selanjutnya hanyalah, tubuhnya ringan.

.

.

.

Kala malam menjemput, yang aku inginkan hanya kau berada di sampingku

Menemani tidur

Mengurangi kepedihan

Hapuskan segala duka

Kala bulan di langit memantulkan cahaya perak ke tirai jendela kecilku, yang kuinginkan hanyalah seseorang dapat mendekapku

Menghangatkan jiwa yang dingin

Mengenyahkan segala ketakutan

Hanya itu

Ada air mata yang menetes kala Do Yoon membaca catatan di dinding dengan wallpaper usang itu. Hatinya seperti disayat ribuan pisau tak kasat mata.

“Hyemi,”

Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Bepergian ke zona lain dan tak menimbulkan pergerakan satu sentipun. Bibirnya pucat, buku-buku jarinya berkeriput, ada hawa dingin yang menguar dari setiap inci tubuhnya dan Do Yoon tak tahu harus melakukan apa lagi. Lelaki itu beringsut menjauh. Memilih sofa kecil di sudut ruangan itu sebagai opsi yang tepat.

Ini aneh. Rasanya ada sedikit getaran dalam dirinya. Getaran aneh yang tak pernah datang dalam beberapa tahun terakhir. Lelaki itu tersenyum singkat, ia menggulung lengan kemeja putihnya dan menghampiri gadis itu. Meninggalkan satu kecupan hangat di dahi dan satu usapan lembut pada rambut tipis gadis itu.

“Jaga dirimu,”

.

.

.

Meski mentari telah memancarkan sinar hangatnya, meski dunia terus berputar, meski desauan angin musim gugur masih menyapu jalan di luar, Hyemi tetap tak dapat membuka matanya – seolah mereka merekat satu sama lain.

Ada banyak jejak kehangatan yang mulai beringsut menjauh dari kehidupannya. Setiap kecupan, setiap sentuhan, semuanya terhapus oleh hawa dingin di malam hari.

“Oh, kau sudah bangun?”

Hyemi mengerjap beberapa kali, menemukan selang infus menghubungkan tangannya dengan kantung di sebelah kirinya. Ruangan ini sarat akan warna putih, juga warna hijau yang mewarnai. Membuat matanya terasa akrab dan pada akhirnya menyadari, ia di rumah sakit.

“Kau tak pernah menyebutkan hal ini padaku, Hyemi.”

Gadis itu menatap acuh lelaki di hadapannya. Seolah Do Yoon adalah kumpulan puzzle hidupnya yang hilang dan tak pernah ia cari.

“Sedang apa kau di sini?”

Pertanyaan bagus, sekaligus bodoh. Karena, seberapa lama pun Hyemi bertanya, seberapa banyak kalimat tanya yang keluar melalui celah-celah di bibirnya, pria itu tetap tak akan menjawab apapun.

“Aku hanya ingin kau dapat hidup dengan baik, Hyemi.”

Oh, lupakan. Hanya lupakan segala yang terjadi, Hyemi. Gadis itu bahkan mencengkram erat seprai tempatnya tidur. Luapan emosi memaksa keluar dan itu membuat air matanya jatuh menuruni lekuk pipi.

“Bodoh!”

“Kau hanya memperlambat ini semua, Do Yoon oppa! Tidakkah kau menyadari betapa tersiksanya aku?”

Ada sebuah luapan emosi yang besar kala Hyemi mengatakan hal tersebut. Ada banyak hal yang membuatnya ingin menangis lebih banyak dan melupakan semua yang terjadi. Semua yang berkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depannya –semua tentang hidupnya.

“Aku hanya gadis pengidap penyakit tak bernama yang pasti mati cepat atau lambat, bodoh! Kau bodoh!”

Do Yoon memaksanya, menenggelamkan gadis itu dalam dekapan hangatnya dan seolah memberi tahu Hyemi seberapa cepat jantungnya akan bereaksi tiap kali mata mereka bertemu, tiap kali kulit mereka bersentuhan dan semua saat di mana mereka berdua berbicara.

“Aku bukan manusia, aku alien. Aku tidak memiliki masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Hanya ada detik ini dan sudah, semuanya akan lenyap seiring berjalannya waktu dan aku tahu waktunya akan segera datang.”

“Menangislah,”

Tidak ada larangan di sana. Do Yoon hanya membiarkan gadis itu menangis dan mencurahkan segala keluh-kesahnya sepanjang hidup ini. Hidup yang baginya melelahkan, juga menguras air mata dan tenaga. Hanya.. menangis. Ya, menangis.

.

.

.

“Kau menyukainya?”

Hyemi terkikik kecil, gadis itu bergeser sedikit dan membiarkan Do Yoon merangkak naik ke atas ranjangnya. Bersembunyi di balik selimut tebal dan tenggelamkan wajah keduanya. Ciptakan satu rasa hangat yang menjelajar ke seluruh tubuh.

“Aku membuatnya dengan susah payah sejak kemarin,”

“Ya, aku menyukainya. Bunganya harum, dan – cantik.”

Mereka saling menatap, melempar senyum satu sama lain. Melemparkan kebahagiaan tiada tara dan membuat hidup ini sedikit mempunyai warna.

“Peluk aku, kumohon.”

Hyemi membuka lebar lengannya, membiarkan Do Yoon masuk ke sana dan mendekapnya erat. Membuat kehangatan yang familiar semakin menjalar dan tak urung membuat keduanya merasa senang.

Kala malam menjemput, yang aku inginkan hanya kau berada di sampingku

Menemani tidur

Mengurangi kepedihan

Hapuskan segala duka

Kala bulan di langit memantulkan cahaya perak ke tirai jendela kecilku, yang kuinginkan hanyalah seseorang dapat mendekapku

Menghangatkan jiwa yang dingin

Mengenyahkan segala ketakutan

Hanya itu

“Hyemi?”

“Kau tahu, tadinya, kupikir memperhatikanmu adalah suatu kegiatan yang menyenangkan dan ini semua bagai candu bagiku. Memperhatikanmu bagai suatu janji bagiku, suatu janji bahwa aku akan mencintaimu sampai akhir hidupku. Oh, atau bahkan sampai kapanpun itu? Bahkan sampai aku telah tiada. Aku, hanya ingin mencintaimu, dan itu sudah cukup.”

Do Yoon menghela napas lega. Jemarinya mengusap lembut rambut gadis itu. Mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu sangat gila dalam beberapa menit terakhir, menjadikannya semakin membuktikan seberapa besar rasa cintanya pada gadis itu.

“Hyemi?”

Tidak ada balasan. Hanya ada ulasan memori yang berputar bagai film lama, bagai suatu bukti yang membuat Do Yoon mengguncang lemah tubuh ringkih itu. Mencoba menyalakan lampu di balik kegelapan malam, dan pada saat itu, memorinya terhenti pada satu penggalan kenangan.

Kala malam menjemput, yang aku inginkan hanya kau berada di sampingku

Menemani tidur

Mengurangi kepedihan

Hapuskan segala duka

Kala bulan di langit memantulkan cahaya perak ke tirai jendela kecilku, yang kuinginkan hanyalah seseorang dapat mendekapku

Menghangatkan jiwa yang dingin

Mengenyahkan segala ketakutan

Hanya itu

.

.

.

“Pergilah dengan tenang. Aku mencintaimu, Hyemi.”

.

.

.

Fin.

A/N :

Eng ing enggg!

Aku kembalii, huh ini jadi kebut sejam yaa -_- not tiring at all sih, tapi, bagi yang ingin tahu alasan kenapa Hyemi meninggal dunia di akhir cerita adalah karena, Hyemi itu divonis menderita penyakit Pneumonia. Penyakit yang menyerang bagian pernapasan manusia dan biasanya menimbulkan kematian.

and fyi, Do Yoon itu member nya Seventeen anak Pledis

Do Yoon and Hansol

do yoon (kiri)

Eum, mind to review, please?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s