[One Shot] Un – Lucky

unlucky_副本

|| Title : Un – Lucky || Main Cast : Kim Jun Myeon – You – Kim Jong In || Genre : Romance, Life, Slight || Rating : Teen || Duration : One Shot ||

/ / a  m o v i e  b y / /

.

Futureasy.

.

Lucky

.

So lucky my love

So lucky to have you

So lucky to be your love

.

.

Di tengah kekalutan hati yang mencongkol di rongga dada

Dirimu datang

Membawa satu kebahagiaan dan seulas senyum tulus di bibir

Buatku tersipu dan mengakui,

Bahwa aku beruntung telah memilikimu

Juga beruntung telah dimilikimu

.

.

.

Musim dingin membawa desauan angin yang dinginnya dapat menusuk hingga ke tulang. Aku merapatkan mantel berbulu lembut pemberianmu dan berjalan tertatih menuju parkiran mobil. Bukan hal baik bagi wanita sepertiku bepergian di pagi buta yang dingin seperti ini – aku paham itu semua. Namun, diri ini hanya tidak bisa – tidak rela – jikalau kau bangun tanpa adanya aroma cokelat panas yang menyambut pagimu.

“Kau bepergian lagi, hem?”

Pintu terbuka dan menampakan dirimu dengan wajah dan suara serak – khas orang yang baru terbangun dari tidurnya, juga piyama bergaris hitam dan abu-abu yang tampak kasual melekat di tubuhmu. Junmyeon memelukku protektif dari belakang, kepalanya menelusup ke lekuk leherku dan menyapu lembut daerah itu dengan napasnya yang hangat dan menenangkan.

“Aku merindukanmu,”

Begitu, ya? Lalu bisakah aku berkata aku lebih merindukanmu? Ya, aku rindu setiap inci kulitmu dan merindukan suara itu menyapu lembut relung telingaku di pagi hari dan malam hari.

“Jangan manja! Lekas gosok gigimu, sayang. Kau bau,” kikikku kecil dan ia tak keberatan. Langkah kecilnya meninggalkanku perlahan. Lalu bayangannya mulai terhapus oleh hawa dingin yang mendadak memasuki ruangan kami yang hangat.

Well, memang tidak ada yang dapat aku lakukan selain mengusirmu – menyuruhmu  memperpanjang jarak di antara kita – pergi dan membiarkan aku mengisi asupan oksigenku. Sekedar membenahi degup jantung yang tak beraturan dan sangat memalukan jikalau telingamu menangkap suara berisik itu.

“Sayang,”

Aku mendengarnya berteriak dari arah kamar mandi. Suaranya bahkan tetap terdengar jelas meski tergabung bersama deru air yang menetes dari shower. Tak apa, meski begitu aku sudah dapat memprediksikan apa yang akan dikatakannya setelah ini,

“Aku harus semakin tampan agar kau tak akan pergi dan meninggalkanku sendirian di sini. Bukan begitu?”

Seulas senyum terpatri di wajah ini seraya kedua sudut bibirku tertarik – melengkung ke atas dan ciptakan sebuah senyuman yang selalu kau sebut dengan perumpamaan manis. Seakan semua itu belum lengkap, aku merasakan kehangatan menjalari kedua pipiku dan memperlihatkan semburat kemerahan yang sangat kontras dengan kulitku yang pucat.

Memang pada awalnya, sangat tidak mudah bagiku untuk menerima Junmyeon – mengucap aku mencintainya dan membiarkan pernikahan kami berlangsung begitu saja. Tidak, dahulu bahkan aku mati-matian menolaknya. Kabur ke rumah orang tuaku di Busan hanya untuk mengurangi eksistensiku dalam kehidupannya.

Aku yang dulu bahkan pernah mencampakannya. Ekspresi yang aku hasilkan selalu datar, dan nada bicaraku selalu dianggap kurang sopan oleh Ibu Junmyeon saat keluarga kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Meski begitu, aku tak mampu mengucap apapun kala Junmyeon menyematkan cincin berlian yang terlihat anggun di jemariku. Tidak, aku bahkan tak sempat menolaknya karena Junmyeon sudah lebih dulu menenggelamkan diri ini dalam kebahagiaan tiada akhir – memelukku dan mengatakan segala kalimat penuh cinta yang aku tahu maknanya sangat berarti.

.

.

.

Pagi ini, matahari menyinari tirai jendela kamar kami – aku dan Junmyeon – dan menyisakan belasan bayangan garis gelap dan terang di lekukan wajah tampan Junmyeonku yang sedang tertidur dalam damai. Hari ini hari Minggu, tentu saja menjadi salah satu alasan kuat mengapa dirinya masih dapat tertidur di sampingku di pagi pukul delapan ini.

“Pagi, sweetie,

Sapanya dengan suara seraknya yang khas. Hati ini berkecamuk. Perasaan senang dan hangat yang familiar menjalari pipi dan perutku, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang kepakkan sayap cantik mereka di dalam sana. Ugh, sulit diartikan.

“Kau melamun lagi, sayang,”

Ia kembali memeluk diri ini. Menyampirkan lengan putihnya di antara bahuku dan memutar diri ini hingga berbalik menghadapnya. Ia menghembuskan napas hangatnya di sekitar pipi ini dan lagi-lagi membuatku merasa malu.

“Tidak, aku hanya – “

Sst. Diamlah, hanya lima menit, kumohon,”

Ya, hanya lima menit, Junmyeon. Itu artinya kau punya tiga ratus detik dan aku masih harus menahan degup jantungku yang berpacu layaknya arena balap. Kau mestinya tahu, aku tidak suka seperti ini – mempermalukan diri di hadapan seorang Kim Junmyeon. Tapi, apa yang dapat kuperbuat? Aku hanya seorang wanita yang dengan bodohnya menemukan diriku – si nerd yang penyendiri – menaruh hati kepada seorang yang sangat sempurna sepertimu. Hidung mancung, senyum menawan, bibir tipis yang berwarna pink – bahkan lebih indah dibandingkan dengan milikku sendiri – seakan menjadi bukti bahwa Tuhan dan agaknya seluruh makhluk di jagad raya ini tak mampu menolak pesonamu.

Pagi hari tak pernah seindah ini karena di pagi-pagi lainnya kau selalu bangun terlebih dahulu – menyisakanku sendirian di apartemen ini. Namun, itu tak mengapa karena aku tahu kau sedang melakukan yang terbaik bagi masa depan kita.

“Sayang, apa kau kembali tidur?” Junmyeon mengguncang lemah tubuhku – mengisyaratkan ia sedang tak ingin sendirian.

“Ya, ada apa?”

Kepalanya menggeleng seraya manik itu mengerling indah ke hadapanku. Membawa serpihan – serpihan cintaku dan menanamkannya lagi di kebun cintanya. Pendeskripsian ini kutahu sangat menjijikan. Namun, apa dayaku? Ini semua memang kenyatannya bahwa ia selalu mengatakan hal – hal berbau romansa yang terkadang mengajarkanku arti dari kehidupan.

“Hey, mau tahu satu rahasia, tidak?”

“Tidak, aku mengantuk.” Junmyeon menatapku sedikit jengkel. Tangannya kembali menelusup ke dalam selimutku dan mendekap diri ini lebih lama dari biasanya. Semalampun Junmyeon menyarankanku untuk tidur lebih awal dengan alasan tidak mau mengganggu pagi di hari Minggunya. Kenapa? Apa yang terjadi Junmyeon?

.

.

.

Well, memang tidak ada yang terjadi saat aku bertanya beberapa hari yang lalu. Pagi ini – seperti biasa – aku menyapu seluruh bagian rumah, membersihkan lantai dan perkakas kami dari segala debu yang menempel. Meski kesendirian yang kutahu terus menyapa, tak masalah bagiku, karena melihatnya berdiri di ambang pintu apartemen ini sekitar enam belas jam lagi membuat segala rasa sepi tergantikan.

Perasaanku mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi hari ini. Entahlah, rasanya begitu kuat – juga mendesak. Tapi, yang kupikirkan tak menjadi apapun, siang ini Junmyeon berjanji akan meneleponku seusai rapat kantornya – ia memang selalu sibuk mengingat jabatanya sebagai direktur muda.

Ketika dering telepon berbunyi, yang aku rasakan hanyalah jantungku berdegup kencang. Seirama dengan langkah kaki yang dengan cepat berjalan menuju tempat teleponku berdering.

“Halo – “

“Sayang, apa yang sedang kau lakukan?” Aku mengernyit heran ketika melihat nomor yang masuk bukanlah dari kantor ataupun ponsel pribadi Junmyeon – nomornya asing tapi suara itu nampak tak asing sama sekali.

“Aku sedang – “

“Tahukah kau betapa aku merindukanmu sekarang? Aku sangat merindu sampai tak bisa merasakan apapun. Di sini dingin dan aku membutuhkan kehangatan dari rumah dan kau. Tetapi – “

“Suho, dengar! Apa yang terjadi sih?” Lelaki di seberang sana nampak tertawa kecil mendengar panggilanku barusan. Suho – guardian angel – panggilanku untuk dirinya yang terlalu sempurna seperti malaikat.

“Tidak.”

Diam mengambil alih beberapa menit yang berlalu. Namun, aku tahu bahwa tak seharusnya aku menutup telepon ini karena mendengar suaranya adalah candu bagiku.

“Hey, mau tahu satu rahasia tidak?”

“Apa?”

Aku bertanya. Melengkapi pertanyaan yang beberapa minggu lalu ia pertanyakan – tepatnya di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke tiga.

“Mencintaimu, membuatku buta,”

“Memilikimu, membuatku gila,”

I am so lucky. In this whole word, you’re my love,”

“So lucky to have you, so lucky to be your love, honey,”

Ada satu percikan haru yang membuat air mataku jatuh dan membuat pipi ini menjadi basah. Memalukan, menjijikan, dan sama sekali tidak punya estetika, tapi apa dayaku? Inilah bentuk kasih sayang dan cinta yang dapat kami berikan untuk diri satu sama lain. Namun, realita kembali menabrak dinding halusinasiku. Aku kembali menemukan diriku di tempat yang sama saat aku menyapu tadi – tak ada yang berubah. Kecuali, dengan foto – foto di dinding yang terasa semakin banyak.

Dering telepon masuk kembali memecah keheningan – menggantikannya dengan ketegangan tiada akhir. Aku dapat merasakan jantung ini memompa darah lebih cepat dari biasanya – melibatkan emosi yang beberapa minggu ini kerap kali kutahan.

“Halo – “

“Sayang, ini aku,”

Aku paham bahwa suaranya selalu membuatku memanas seketika. Membuatku menjadi salah tingkah namun tetap tenggelam dalam kedamaian. Jun Myeon memang begitu – setidaknya itu dahulu.

“Ya, ada apa, Suho?”

“Bisakah kau memasakanku air hangat? Aku akan pulang larut malam ini.”

Aku mengernyit. Lalu bagaimana dengan makan malam bersama di restoran baruku? Apakah ia akan membatalkannya juga?

“Tentu, tapi – “

“Baik, sampai jumpa,”

“Ya, sampai bertemu, sayang.”

Suaranya hanya terdengar semakin larut. Nada bicaranya tak fokus dan aku tak mengerti mengapa beberapa hari belakangan ini diriku kerap kali menemukan Jun Myeon pulang dengan aroma pewangi lain – yang kutahu itu aroma parfum wanita.

Tidak. Tentu aku tak berpikiran yang macam – macam. Jun Myeon tentu tak akan menusukku dari belakang – setidaknya ia tidak tega. Namun, hati dan pikiranku mendadak saja tak mampu berorientasi. Mereka memilih penyelesaian sendiri dan membuatku memiliki dua kesimpulan yang sangat berkomplikasi.

Suho menyelingkuhiku. Jun Myeon hanya lelah dengan pekerjaannya.

Dua opsi, satu pilihan, satu penyelesaian, dan dua perasaan – perih dan bahagia.

.

.

.

Noona yakin noona baik – baik saja?”

Itu suara Kim Jong In – adik sepupu Jun Myeon. Ia kerap kali membantuku menyelesaikan berbagai persoalan, terutama masalah mengenai Jun Myeon. Aku tak peduli bagaimana air mata ini tak dapat dikendalikan. Takdir mendadak saja mendukung kata hatiku, mengenyahkan rasa aman yang selama ini aku tanamkan.

Jun Myeon tidak baik – baik saja. Setelah tidak pulang ke rumah selama kurang lebih dua bulan, lelaki itu juga tak lagi memiliki senyum tulus yang menempel di wajahnya. Kini, pipi itu tirus, matanya penuh dengan kantung kantuk berwarna kehitaman dan aku tak mengerti kenapa ia tak kunjung kembali. Pekerjaan menumpuk, rapat kerja sama, sampai bersenang – senang di klub adalah laporan yang biasanya Jun Myeon berikan padaku kala aku meneleponnya setiap malam.

“Jong In,”

Suaraku mendadak saja serak. Gelombang kepedihan datang dan membalut tubuhku dalam sakitnya. Jong In menepuk – nepuk bahuku penuh arti. Bersamaan dengan air mata yang perlahan menetes, aku kembali hanyut dalam kesedihan akan cinta yang menyakitkan.

Noona hanya perlu percaya. Maka Hyung tak akan menyia – nyiakan apa yang telah Noona usahakan, sungguh,”

Aku mengangguk paham. Mungkin Jun Myeon hanya lelah dengan kehidupan pekerjaannya. Mungkin ia hanya jenuh dengan kesehariannya bersamaku. Meski begitu, aku tetap berharap bahwa fakta akan membelaku dan mengenyahkan kemungkinan buruk yang aku ciptakan akhir – akhir ini. Tak apa jika aku yang terluka, tak begitu buruk ketimbang eksistensi Jun Myeon benar – benar menghilang dari kehidupanku. Jong In benar. Aku hanya perlu percaya dan menunggunya kembali.

“Terimakasih, Jong In – a! Noona sangat berhutang padamu,” ujarku sebelum menutup pintu mobil Jong In dan melangkah memasuki area apartemenku.

Semuanya berjalan baik – baik saja sebelum aku melihat mobil Jun Myeon terparkir manis di pelataran area parkir. Dengan langkah terburu – buru aku memasuki ruang tengah. Menemukan banyak sekali barang yang tertinggal berantakan, disusul oleh langkah gontai Jun Myeon menuju kamar utama.

“Jun Myeon – “

“Maaf,”

Air mata kembali menetes tat’ kala aku melihatnya mengucap kata maaf dan berbalik memunggungiku. Rambutnya tak lagi seperti yang pernah kuingat, pun dengan kelembutan aroma tubuhnya yang kerap kali menyambangi indera penciumanku.

“Jun Myeon – a!

“Maaf, aku – “

Kata – katanya terpotong lantaran aku segera mengalungkan lengan ini di antara pinggangnya. Dengan pipi basah, aku membiarkan diri ini bersandar di punggungnya yang asing.

“Kau mau pergi ke mana?”

Suaraku serak. Terdengar menyedihkan meski aku tahu semestinya aku lebih kuat. Perlahan Jun Myeon menggenggam jemariku, membalik tubuhnya menghadapku dan aku menemukan diriku membeku saat iris cokelatnya menyapu pandangku.

“Jangan menangis,”

Suaranya juga tak lebih serak dari yang kupunyai. Jun Myeon berjinjit kecil dan memberikan kecupan hangat di dahiku. Ibu jarinya bergerak untuk menghapus air mata yang mengalir menuruni lekuk wajahku.

“Bagaimana bisa aku tidak menangis, kau di sini tapi aku bahkan tak dapat melakukan apapun untuk menghalangi kepergianmu,”

Jun Myeon berdecak kecil. Ia membuat irisku bertemu pandang dengan irisnya. Mengirimkan cerita pilu yang membuatku semakin terisak.

“Maafkan aku,”

Terkadang permintaan maaf tidak benar – benar berhasil menyelesaikan suatu masalah. Bisa jadi semakin membuatnya rumit dan berkomplikasi ke arah lain. Jun Myeon sudah pergi. Meninggalkan sejuta kenangan dan kehangatan. Saat itu, musim gugur datang lebih cepat dari biasanya. Hujan nampak mengguyur tanah tempatku berpijak. Dengan sigap, tanganku mempererat rengkuhan jaket tebal pada diri ini. Jemariku menekan ponsel layar sentuh dengan berapi – api.

From : Unknown

Noona, kau di mana sih?

====

From : Noona

Halte biasa, Kim Jong Kai!

====

Entahlah, belakangan ini Jong In mengatakan kalau kesibukkannya masih di ambang garis biasa saja. Sebagai mahasiswa jurusan seni, Jong In tentunya memiliki banyak teman yang sangat menarik. Layaknya Jong Dae si Troll Pencari Cinta dan Soo Jung – si Putri Es. Aku tertarik untuk membawa kisah hidup mereka berdua ke dalam lembar karya tulis perdanaku – novel fiksi.

Segala seluk – beluk pertanyaan kerap kali menyapu pikiranku. Terkadang rasa ini juga mengalir, layaknya melampiaskan kegusaran hatiku di atas papan ketik  sekarang disebut laptop. Jong In masih dengan nada bicaranya yang membawa semangat dan begitu menyenangkan. Anak itu tumbuh dengan baik bersama keluarga Jun Myeon. Omong – omong soal dirinya, kudengar Jun Myeon telah mendapat pasangan baru dan mereka hidup dengan bahagia di Switzerland. Bukan tempat yang membuatku memekik karena seingatku Jun Myeon tak kuat menahan dinginnya suhu suatu tempat.

Mobil Jong In berhenti di hadapanku. Mempertontonkan sang Pemilik yang nampak tampan dengan balutan hoodie dan training berwarna senada.

“Maaf, aku terlambat lagi, Noona,”

Dengan kepala tertunduk, Jong In kembali menambahkan, ” – maaf karena ternyata aku tak jauh berbeda dengan Hyung.”

“Apa?”

“Tidak ada. Apa Noona sudah mendengar kabar terbaru tentang Hyung?

Aku menelengkan kepalaku. Menggeleng lemah meski aku tahu ada perasaan yang bergetar di sudut hati. Kenapa? Apa Jun Myeon-ku baik – baik saja?

“Jun Myeon Hyung sudah kembali.”

Bagai tertabrak batuan asteroid, hatiku bergetar. Air mata mendadak saja menuruni lekuk wajahku dan aku tak keberatan kala Jong In dengan gerak sigapnya menenggelamkan diri ini dalam dekapan hangatnya. Jun Myeon memang sudah kembali. Namun, aku tak pernah tahu bahwa perasaannnya akan kembali atau tidak.

“Bawa aku – “

Kerongkonganku kering. Saliva mendadak saja jemu untuk membasahinya dan membuatku tercekat. Aku melanjutkannya, “- bawa aku ke hadapan Jun Myeon. Kumohon, Jong In.”

.

.

.

Phobia.

Bagaikan fobia, diriku melangkah mundur kala bayang Jun Myeon menyapa retinaku. Ketakutan menguasai diriku tat kala melihatnya terbujur dengan infus menempel di pergelangan tangannya.

“Jun Myeon?”

Lelaki itu menoleh sedikit. Matanya memancarkan kerinduan yang teramat sangat. Membuatku berlari dan merengkuh tubuhnya dalam balutan piyama rumah sakit.

“Kau sakit?”

Air mataku menetes. Jun Myeon hanya mampu berkedip, tak mengindahkan aku yang meraung mengemis suaranya.

“Jun Myeon Hyung baru saja melakukan operasi, Noona,”

Kata – kata Jong In membekukanku. Membuat air mata yang mengalir deras terhenti dan menyebabkan kerongkonganku kembali kering.

Hyung pergi ke Switzerland bersama Dokter Jung, dokter yang menangani penyakitnya. Ia menemui Sang pendonor dan baru saja kembali pulih tiga hari belakangan ini,”

“Aku tidak mengerti, Jong In-a! Jun Myeon -“

” – Ia sakit?”

Jong In mengangguk. Sementara Jun Myeon meneteskan air matanya. Matanya sembab dan aku merasa telah melukai perasaannya terlalu dalam. Jadi aroma parfum itu milik dokter Jung? Dan kepergiannya ke Switzerland untuk menemui Pendonornya?

“Terimakasih,”

Jun Myeon berbisik lirih. Aku dapat merasakan genggaman lemahnya di antara jemariku.

“Maafkan aku, sayang,”

Aku menggeleng. Dengan mata sembab dan suara serak, aku menghapus air matanya sembari mengucap kata – kata penyemangat bagi dirinya. Meski rasa rindu itu mengalir dengan segala kepiluan, aku mengerti bahwa cinta itu masih mengalir dalam tubuhku.

Entah sejak kapan Jong In pergi dan meninggalkanku bersama Jun Myeon. Dari jarak yang sedekat ini, yang dapat aku lakukan hanya mengusap puncak kepalanya dan membiarkannya larut dalam kehangatan yang kuberi. Jun Myeon terlihat lemah, matanya mengantuk dan aku membiarkannya kembali tertidur.

Meski ia sudah kembali. Meski semuanya telah jelas dan segala konflik telah terselesaikan. Jong In tetap mendominasi hidupku. Kerap kali ia membawakanku makan siang dan membuatkanku cokelat panas tat kala aku menulis hingga larut malam.

Noona tidak lelah?”

Jong In berkata di suatu malam yang sepi. Membuat konsentrasiku akan tulisan buyar dan memilih menatapnya, “Tidak. Aku baik – baik saja.”

Dia berdecak. Membetulkan tatanan rambutnya dan memandangku prihatin. Entahlah, belakangan ini massa tubuhku memang menurun dan aku juga menyadari bahwa kantung mata memang sudah mendominasi wajahku.

“Aku tidak suka melihatmu seperti ini, sungguh,”

Aku terkikik kecil. Mengambil cuping cangkir dan meminum cokelat panas itu. Kemudian menaikkan sebelah alisku sambil berkata, “Kau tidak sopan.”

“Sampai kapan kau akan menganggapku anak kecil, Noona?”

Arah bicara Jong In mendadak saja berubah. Suaranya terdengar serius dan aku masih belum juga tersadarkan dari semuanya. Realita masih sangat kelabu ketika Jong In berkata, “Aku menyukaimu, Noona.

Ini salah. Seharusnya aku telah kembali mencintai Jun Myeon. Berjanji tak akan mengkhianati dirinya meski angin topan melanda hidup kami. Namun, aku juga masih tidak mengerti bagaimana bisa Jun Myeon benar – benar menggantungkan hubungan kami. Ia belum sepenuhnya pulih, namun aku tak pernah menyangka kalau surat perceraian datang lebih cepat dari kesembuhannya.

Hyung menitipkan Noona padaku. Ia bilang kalian tak dapat meneruskan ini dan dia memutuskan untuk menyudahi hubungan kalian.”

Kubilang, realita mendadak saja menghantamku. Membawa awan kelabu dalam hidup ini. Aku mengerti bahwa sikap Jong In menjadi lebih dewasa dua tahun belakangan ini. Dia selalu ada saat aku berkata ‘ya’ dan ‘tidak’ juga selalu membantuku menuntaskan masalah.

Aku juga semakin tidak mengerti ketika aku mengucap, “Aku juga menyukaimu Jong In,”

.

.

.

Hidup

Mati

Aku hidup untuk mati

Dan berharap mati untuk kembali hidup

Meski bayang – bayangmu kerap kali mengisi perjalananku

Aku masih belum dapat memastikannya

Entah itu Kau

Atau justru Dia

Karena kalian membuatku merasa begitu hidup

Begitu bahagia dan beruntung

Telah hidup di antara Kau dan Dia

Lucky

or not

“Jun Myeon, tahukah kau aku bahagia?”

Aku berkata pada gemerlap bintang di langit malam. Bersama Jong In di sampingku, aku merasa semuanya lebih benar dari yang lalu.

“Tentu. Tentu saja Hyung mengetahuinya, Noona,”

Aku tersenyum. Menyapu pandang orang terkasih di sebelah kiriku. Jun Myeon benar, aku memang beruntung. Dapat menjadi miliknya, dan kini menjadi milik Jong In. Aku bahagia.

“Jong In,”

“Terimakasih.”

Jong In menatapku. Membagi satu senyum hangat yang mengingatkanku akan Jun Myeon.

“Tak masalah. Terimakasih juga, Noona.”

Lucky

In this whole word

Anything happen

But, one thing that makes my heart trumbling

That you come to me

Said that I’m yours and You’re mine

Just so lucky

Because I ever write down our story

Our life

Our love

Because of

Lucky

Fin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s