[Vignette] The Lord of The Darkness

the-lord-of-the-darkness3

|| Title : The Lord of The Darkness  || Scriptwriter : dhiloo98 – futureasy ||

|| Main Cast : Kim Soo Hyun – Lee Jong Suk – Park Bo Young || Genre : Fantasy, Surrealism, Life ||

|| Duration : Vignette – 2423 words || Rating : General  ||

@futureasy

Thanks for the pretty awesome poster, shafirgirl – Al!

.

.

.

 

Ayah berkata bahwa kegelapan selalu menenggelamkan segala cahaya

Mereka mengendap – endap

Menyelinap ke dalam lingkup

Mengambil segala kebahagiaan

Mencuri kedamaian

It’s some stories about the light and the darkness

Dark

– Or not

“Pelan – pelan saja, Soo Hyun,”

Lelaki paruh baya itu memperingati salah satu anak lelakinya. Makan malam bersama tetap saja seperti ajang menghabiskan makanan oleh si Adik Kecil. Ibu mereka telah lama tiada akibat peraturan wilayah yang dengan tegas melanggar keberadaan wanita. Si sulung, bernama Jong Suk dan si bungsu bernama Soo Hyun. Si Sulung mengidap kebutaan total sedang sang adik mengalami keterbelakangan – autisme.

Sementara itu, Jong Suk – pria yang lebih besar dari lelaki yang dipanggil Soo Hyun berkata, “Ada apa, Ayah? Apa Soo Hyun tidak makan dengan bersih lagi?”

Ayahnya menggeleng – meski pria bernama Jong Suk tadi tetap tak dapat melihatnya, ia buta. Keheningan biasanya tak pernah mengambil jeda waktu selama ini. Keluarga yang terdiri dari tiga lelaki itu biasanya saling bertukar canda atau hanya sekedar obrolan singkat.

Angin mendesau nyaris menumbangkan pohon ek di sudut pekarangan rumah. Sementara itu, seorang gadis bersurai cokelat tua dengan senyuman khasnya datang mengetuk pintu. Sebagian dari mereka berpikir bahwa kehadiran seorang gadis di malam hari mungkin akan disegani banyak warga. Di wilayah tempat mereka tinggal bahkan tak pernah ada sejarah seorang wanita menetap. Sekalipun ada seorang wanita yang menjalani kehidupannya sebagai seorang wanita normal, ia akan pergi bersama kegelapan. Terbunuh dan tak pernah kembali – layaknya apa yang terjadi pada isteri lelaki paruh baya itu. Namun, mereka tak dapat mengerti ketika dengan tiba – tiba mendengar suara tangis bayi yang memekakkan telinga.

“Kegelapan telah datang,”

 

Woosh

 

Embusan angin yang pertama menyibak luka yang terberai di semak belukar. Menimbulkan kepedihan tak berujung dan meluluh-lantakan bumi menjadi patung pesakitan.

Woosh

 

Angin kedua mendesau ringan. Namun, menerbangkan aroma cengis yang dampaknya merusak indera penciuman. Kabut asap mendadak saja menyapu bersih daerah pinggiran Cheongdam, bergerak menuju pesisir dan kembali lagi bersama angin laut. Membumi-hanguskan sedikitnya sepuluh tempat singgah dan menyakiti sekurang – kurangnya dua puluh tiga pria kecil.

Jong Suk memejamkan matanya. Meresapi hawa kekalutan yang mendadak saja melingkupi tempatnya tinggal. Sementara Soo Hyun masih sibuk dengan makanannya – urung berpartisipasi dalam menyambut si gadis kecil.

“Ke-ge-la-pan,”

Soo Hyun mengeja kalimatnya. Menemukan rentetan huruf itu di semen tak berkeramik di bagian bawah rumah mereka. Pria pengidap keterbelakangan itu mengejanya lagi dan lagi. Mendatangkan angin ke tiga yang menggedor kayu rapuh pintu samping mereka dan mendobraknya paksa.

“Soo Hyun?”

Lelaki itu menoleh. Menyingkir meski pria yang dilihatnya bukanlah orang yang biasa ia kenali. Ia berbeda, sungguh.

“Apa kau menyebut soal kegelapan?”

.

.

.

Matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Melirik mereka di balik hujan dan terdiam kala kegelapan kembali datang dan mengenyahkan cahayanya.

“Bo Young, apa kau sudah membawa bekal makananmu?” Gadis itu mengangguk. Sepenuhnya menanggapi apa yang kakaknya bicarakan.

“Jong Suk Hyung, apa Soo Hyun Hyung tak bisa mengantarkanku?”

Gadis bernama Bo Young itu mencicit pelan ke arah kakak lelakinya. Dengan suara barriton yang khas, Jong Suk dengan mudahnya percaya bahwa bayi yang enam belas tahun lalu dititipkan di rumahnya adalah bayi lelaki – padahal Bo Young adalah seorang perempuan.

Gadis – lelaki – itu merapikan rambut cepaknya yang sedikit berantakan. Kemudian mengambil langkah besar meninggalkan rumah dari jerami itu.

“Aku pergi dulu, Hyung,”

” –Jong Suk oppa,”

Ayah Jong Suk dan Soo Hyun baru saja pulang dari daerah persawahan di desa sebelah ketika melihat Bo Young pergi meninggalkan rumah. Pintunya tidak terkunci dan dibiarkan terbuka lebar. Mengundang perhatian tiap orang yang berlalu – lalang di daerah itu – meski pria paruh baya itu sepenuhnya paham bahwa hanya ada segelintir orang yang tinggal dan menetap di desanya.

“Jong Suk, ayah sudah kembali,”

Tak ada jawaban. Soo Hyun – si autis – hanya dapat menengok ke kanan dan ke kiri. Setidaknya ia berkehendak untuk turut mengambil bagian dalam kegiatan kali ini – mencari keberadaan Jong Suk.

Hening kembali melingkupi rumah yang biasanya nampak hangat itu. Seperti biasa, Jong Suk seharusnya tengah merapikan beberapa buku gambar milik Soo Hyun yang bertebaran di lantai dengan menggunakan instingnya. Namun, kini ayahnya justru menemukan bagian tengah rumah mereka dipenuhi darah yang berceceran.

Darah itu membentuk pola menyerupai jejak bundar yang mengarah ke bagian belakang rumah. Seiring dengan takutnya sang ayah akan keselamatan putranya, pria paruh baya itu mengikuti jejak tadi dan mendapati dirinya memekik keras serta tubuhnya yang perlahan menghilang, terkikis layaknya debu di cerita fiksi.

Lenyap. Menguap. Tanpa perantara udara.

“Soo Hyun-ku,”

Suara itu suara terakhir. Menggema bagai suara yang terpantul dinding gua. Namun, segera terkikis deburan ombak. Turut menghilang bersama tubuh sang empunya.

Matahari nampak memberanikan diri untuk muncul di hadapan makhluk di muka bumi. Membagi sedikit cahayanya dan menyimpan lebih banyak untuk mengalahkan kegelapan.

Sementara itu, Bo Young baru saja sampai kala melihat Soo Hyun – kakaknya – tengah berdiri linglung dengan iris yang bergerak gusar. Bo Young paham bahwa sang Kakak tengah dilanda ketakutan terbesarnya, kematian.

“Soo Hyun Hyung, Hyung baik – baik saja?”

Bukannya menjawab. Soo Hyun justru mengambil langkah mundur sedikit demi sedikit. Seolah menjadikan Bo Young sebagai seorang pembunuh kelas kakap dengan seringaian lebar mengisi wajahnya.

Hyung, dengarkan aku. Di mana Ayah dan Jong Suk Hyung?”

Bo Young masih mencoba. Membiarkan pertanyaan konyol yang jawabannya sudah ia ketahui mengalir dari kedua belah bibirnya.

Kedua tangannya memegangi punggung tangan Soo Hyun. Mencegah lelaki di hadapannya untuk bergerak lebih banyak dan menimbulkan kekacauan. Gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam, meneliti apa – apa saja yang sudah terjadi. Ia membekap sebagian wajahnya seraya pergi menjauh dari Soo Hyun – kakaknya.

“Kau membunuh mereka?”

Kegelapan telah mengecoh segalanya.

Membawa puing – puing kasih dan menggantikannya dengan rasa benci tiada akhir.

Mengijinkan iblis bergerak semaunya di sudut kota yang gelap. Menari bersama bara api yang tersimpan di inti bumi.

Merah.

Panas.

Membakar dan menghanguskan.

 

.

.

.

Dua bulan berlalu sangat cepat. Membuat surai Bo Young memanjang dan tak mengijinkan gadis itu untuk memotongnya – bahkan ia tak mengerti bagaimana caranya. Ia tinggal di mana saja yang menyediakan tempat untuk dapat tidur. Masa bodoh dengan Soo Hyun. Bo Young hanya ingin dirinya selamat.

Sampai di suatu malam, Jong Suk datang. Menyelinap ke dalam mimpinya dan membelai rambut sang adik penuh kasih. Irisnya tak lagi sekelabu yang pernah Bo Young ingat. Kini warna kelabu itu tergantikan oleh warna cokelat yang memikat hati para wanita.

“Oppa benar – benar datang, ya?”

Bo Young bersuara. Di alam mimpi, suara yang dimilikinya tak lagi seberat yang pernah ia ingat di dunia nyata. Suaranya lembut, selayaknya suara milik gadis lainnya. Gadis lainnya? Memangnya ia pernah mendengar suara gadis lain?

Oppa benar – benar datang, sayang. Di sini sangat sepi. Oppa bahkan tak menemukan seorangpun yang oppa kenal. Oppa benar – benar kesepian,”

Bo Young tersenyum. Langkahnya perlahan terasa lebih ringan. Namun, kejadian itu tak bertahan lama sebab sebuah cahaya terang yang maha besar menghantam dirinya dan membawanya kembali ke alam normal.

Itu mimpi. Pukul dua dini hari Bo Young terbangun dan menemukan dirinya bergerak gusar. Berpikir bahwa apa yang telah ia lakukan adalah salah, Bo Young menjadi tidak dapat membiarkan Soo Hyun hidup sendiri di luar sana. Maka, dengan langkah gontai, gadis itu menata surai kecokelatannya yang hanya sepanjang bahu. Kemudian, berlari kecil menuju rumahnya yang lama.

Kegelapan masih memerhatikan.

Mereka berkomplot bersama deru angin, dan embusan napas di setiap langkah.

Bersamaan dengan turunnya hujan, Iblis justru meramaikan suasana dengan meniup aroma cengis ke segala penjuru.

Membakar api yang membara. Membiarkan jerami tergores si lidah api.

Sesungguhnya, mereka hanyalah seonggok pengecut yang diciptakan dari api. Panas. Merah – dan membara.

Layaknya akal tanpa budi, dan nafsu tanpa kesabaran. Iblis sekali lagi telah mengecoh makhluk hidup di dunia.

Soo Hyun  Hyung!” Seru Bo Young di tengah kegelapan pagi.

Sementara, Soo Hyun yang nampak tengah uring – uringan segera menoleh. Tak dapat menampik bahwa suara itu hampir saja terdengar asing di telinganya.

Hyung baik – baik saja?”

Soo Hyun menggerakan irisnya dengan gusar. Perasaan kalut yang familiar menjalari tubuhnya. Pria tinggi itu tak dapat melakukan apapun selain merengkuh tubuh adiknya.

Hyung?”

A-yah t-telah ditelan oleh Ke-gelap-an,” sayup – sayup suara Soo Hyun terdengar. Meski Bo Young harus mati – matian mempertajam indera pendengarannya.

“A-ku m-menyayangimu, a-dik p-perempuan.” tutur Soo Hyun lagi. Bo Young membelalakan matanya. Dia bergerak gusar di dalam dekapan sang kakak yang bahkan tak pernah berbicara sejelas dan selembut itu padanya atau pada siapa saja.

Hyung tahu bahwa aku perempuan?”

Tunggu.

Ada yang salah di sini. Semestinya Soo Hyun tak bisa berinteraksi. Lelaki itu tak dapat menstabilkan emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Seharusnya, Soo Hyun tak dapat merengkuh dirinya seperti ini.

Something fishy’s here.

Woosh

Embusan angin kembali menerbangkan dedaunan kering di pinggir pohon ek. Bo Young harus menelan kenyataan bahwa tangan Soo Hyun terasa semakin asing dari biasanya.

Woosh

Embusan selanjutnya menyadarkan gadis itu akan kekuatan jahat yang menerpa dirinya. Bukan hanya Soo Hyun yang terasa asing, Bo Young bahkan tak dapat menampik bahwa dirinya juga terlihat asing.

“Hahahaha,” tawa tanpa emosi itu mencengangkan kedua insan tadi. Mereka mencari ke sekeliling meski apa yang dicari tak dapat ditemukan.

Bo Young melepaskan dirinya dari Soo Hyun. Mengambil langkah mundur dan mencari kenyamanan di sisi lain tempat itu. Gadis itu merasakan pening mengambil alih kesadarannya.

“Aku akan terus mendukungmu, Tuan.”

Seorang gadis dengan mahkota di atas kepalanya bersujud di depan Iblis. Tak memerdulikan jubah anggunnya yang kotor terkena debu, gadis itu tetaplah memantapkan sujudnya.

Woosh

Embusan angin malam menerpa dirinya. Membawanya ke kilas balik dunia setelahnya. Namun, dengan langkah pasti, Sang Iblis melemparkan sembilu kepada tubuh gadis itu. Membawanya ke neraka dan menyesalkan hubungan kerjasamanya dengan para Iblis.

Woosh

Embusan angin ke dua membawa duka-nestapa kepada negerinya. Gadis itu menunduk menahan sakit sementara secercah sinar mengimbangi langkah Iblis yang menjauh. Menghangatkan, cahaya itu memantulkan kesakitan yang gadis itu rasakan. Membawa sembilu kepada Iblis.

Reinkarnasi.

Bo Young tersadar. Matanya sayup – sayup melihat darah kembali berceceran di tempat Soo Hyun berdiri sebelumnya.

Tanpa cengang, gadis itu menunjukkan seringai tak berbudi. Ia mengerang merasakan kekuatan berkumpul di seluruh tubuhnya.

“Kegelapan, datanglah padaku,” mohonnya.

Sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan dan apa yang telah dijadwalkan, kegelapan datang dan menerbangkan aroma cengis ke seluruh penjuru. Layaknya kejadian bertahun lalu, Iblis memang telah datang dan menerbangkan hawa nestapa di daerah itu.

Embusan angin menerbangkan beberapa kunang – kunang. Menyinari tempat Bo Young memijak. Matahari mengintip dari balik Bulan, menemukan kawannya membutuhkan bantuan dari dirinya dan kekuatannya.

“Kau kira kau hebat?”

“Ya.”

“Tantang aku, kalau begitu,”

Perdebatan alot mengisi malam itu. Baik kegelapan maupun cahaya sama – sama berperang dan memegang kendali atas lawannya.

Bo Young hampir saja menjatuhkan sembilu di tangannya saat bayang – bayang Ayahnya hadir di sana.

“Kau mendukung kami?”

Bo Young mengangguk. Namun embusan angin kembali mengecoh pikirannya. Sentuhan sembilu menyayat permukaan kulitnya dan menimbulkan duka pesakitan di sekujur tubuh.

“Sial,” Bo Young mengumpat. Irisnya bergerak sesuai dengan kehendaknya. Mencari lawan yang tak kunjung menampakkan diri.

My Beautiful Black Pearl, come,”

Suara itu membangkitkan amarah Bo Young. Berpura – pura menjadi lelaki seumur hidupnya telah membekukan hatinya. Gadis itu melemparkan beberapa batu di sekitarnya ke segala arah hingga lemparannya berhenti di sudut sana.

“Kau?”

“Bo Young – a! Aku terluka, bodoh,”

Bo Young membelalakan matanya. Ingin mendekat tapi fakta segera menyadarkannya.

“Kau bukan keluarga yang kukenal.” gadis itu berargumen. Dibalas oleh tepuk tangan singkat oleh orang di ujung sana.

“Tentu saja. Kau mungkin tak mengenali siapa aku yang sebenarnya.”

“Aku yang dulu, bukanlah yang kini kau lihat. Aku jauh lebih berkekuatan dari pada dirimu,”

“Berhenti berkata dusta. Lawan aku sekarang juga!” gadis itu berseru. Cahaya mengirimkannya kuda perang yang amat gagah. Bo Young menungganginya kemudian menyapukan pedang panjangnya ke tubuh lelaki itu.

“Kukira kau masih seorang yang lemah di mataku. Setelah membunuh Hyung kau kira kau hebat?”

Perang dimulai.

Bala tentara sang Kegelapan menghancurkan hampir seluruh negeri. Sementara dengan sedikit kekuatan, sang Cahaya menggempur mereka semua hingga tersisa satu orang. Putra kegelapan.

“Kau akan mati di tanganku!” Bo Young kembali berseru. Mengibaskan pedangnya ke dada manusia itu. Mengeluarkan literan darah dan bulir kegelapan dalam tubuhnya. Ia mati.

“Aku jauh lebih kuat dari yang pernah kau ingat.”

“Apa?”

“Aku jauh lebih berguna. Bahkan kegelapan berhasil menculikmu dari sang cahaya dan memberikannya berada di dekatku.”

“Apa maksudmu?”

“Kegelapan memanglah kelam. Namun, mereka memberikanku kelebihan. Bahkan Tuhan tak memberikanku penglihatan!”

Oppa,”

Kau tak akan mendapatkan apapun dari Cahaya, datanglah ke sini. Bergabung bersama kegelapan.”

“Tidak. Tidak lagi, Oppa.”

Embusan angin menyapu bersih nestapa yang berlalu di sana. Bo Young terengah mendapati bekas luka di sekujur lengannya. Gadis itu menyeka keringat yang tumpah, bibirnya melengkung menciptakan senyuman manis yang tengah bersyukur.

“Selamat tinggal Putra Kegelapan, Lee Jong Suk.”

End of that action

Embusan angin pagi menyadarkan Bo Young dari lamunannya. Wanita itu menjinjing beberapa sayuran untuk dimasaknya nanti. Sementara, para gadis lain berlalu – lalang di sekitar pondoknya. Wanita itu tersenyum bahagia sembari mengusap bagian perutnya. Menunggu sang suami pulang, Bo Young melamunkan masa lalunya. Tersenyum bagaimana ia bisa membunuh kegelapan dari dalam diri orang terkasihnya.

“Sayang, kau sudah pulang?”

“Ya, tentu saja. Calon ayah, Lee Jong Suk di sini.”

Kenyataannya, Kegelapan memanglah diciptakan untuk menemani Cahaya. Berdampingan menjalani hidup dan menyelesaikan segala sesuatu dengan benar. Bertujuan meniti hidup dan menjalaninya sedamai mungkin.

Bagaimanapun, kegelapan memang selalu ada dalam diri seseorang. Apa yang dilakukan Bo Young adalah membunuh kegelapan itu dan mengembalikan orang terkasihnya – Jong Suk – menjadi penganut cahaya yang menghargai segala seluk – beluk kehidupan. Meski kebutaan kembali melekat pada dirinya, tak masalah.

Dan untuk pernikahannya, Bo Young dan Jong Suk memang tak terlahir dari satu induk dan satu spermatozoa, mereka berbeda. Namun, mereka bersatu.

– Kkeut –

 

A/N :

What the hell is it?!! Aku mulai ngelantur dengan nyoba genre fantasy dan berakhir tidak jelas seperti ini. This is the first fantasy fiction I ever write down ㅎㅎ 

Mohon maafkan aku. Kamu mungkin akan merasa kalau cerita ini amat singkat, tapi yah ini vignette.

Aku hanya ingin menambah tag archive, cast, dan genre baik di indofanfictkpop dan wordpress aku.

Rencananya sih mau bikin ini easy-reading , tapi kenyataan tidak mengijinkan aku. Di tengah hari libur ini, aku akhirnya berhasil ngehabisin cerita ini dengan tidak jelas ㅋㅋㅋ

Mohon maaf ya, sebelumnya aku memang ngerasa tertantang dengan genre ini makanya berani. Tapi, yah, manusia banyak kurangnya ya.

So on, mind to review, please?

I’m officially come back now.

Enjoy the comment box!

4 thoughts on “[Vignette] The Lord of The Darkness

  1. Woaa Dilo, it’s ur first time writting genre fantasy, huh? Nice fic!

    Kesemsem sendiri waktu tau castnya jongsuk, soohyun. Meskipun mereka dibikin buta-autis di sini, tapi tetep aja kebayangnya cakep T_T

    Rangkaian kata-katamu bagus dek, meskipun berat, ya. But it’s okay namanya juga fantasy haha
    Aku suka, aku suka pokoknya. Success, ya. Di tunggu fantasy story yang lainnya😉

    • hai kakaaaak!
      akhirnya dateng juga dan komenin ini fic juga karena aku kasian liat fic ini ngenes gak ada yang komen padahal ada viewersnya.

      hahahaha aku juga kesemsem meskipun harus ditimpuk bantal sama kakak aku gegara bikin soo hyun jadi autis /yaudahlahyadhil/

      makasih untuk rangkaian kata – katanya kak. dan berat? aku enteng (?) kok hahahahaha heehe makasih kakak yang udah bersedia menunggu dadaaaah🙂😉

      • Haiiiyoooo nungguin, ya? haha
        banyak siders, ya? terkadang memang menjengkelkan.

        Untung bukan Jongsuk yang kamu bikin autis dek, kali kalau Jongsuk aku timpuk kamu pake sapi, eh.

        Sip Dilooo. Byebyeee~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s