Monotone

M o n o t o n e

|| Title : Monotone  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast :  Jeon Jung Kook –  [Bangtan Boys] || Genre : Daily-Life ||

|| Duration : Drabble  || Rating : General ||

 // A script by \\

@Futureasy

A/N :

Another fic curhatan aku, I warn you, guys! Dan yang merasa sama, bisa mention aku lewat uname di atas. Happy Reading!

.

.

.

 

” Monotone. Hanya satu, dan seterusnya seperti itu.

Sore merangkap malam. Bulan merangkak naik ke cakrawala. Memberi sentuhan magis yang menyejukkan seisi dunia.

Jung Kook baru saja menutup buku paketnya kala bayang Jin – teman sekamarnya – datang mendekatinya. Pemuda itu berseru, “Ada apa?”

Perdebatan alot. Jin mengerti emosi pemuda di hadapannya tengah berada di ambang batas yang tidak stabil. Menepuk bahu Jung Kook, lelaki itu berkata, “Tak ada. Belajar lagi?”

Jung kook menganggukkan kepalanya. Matanya menatap lelah kumpulan tugas di hadapannya. Melintang indah di atas meja belajarnya.

Sementara, kesibukkan Bangtan Boys masih belum dapat ditolerir hingga tugas sekolahnya yang terbengkalai belum dapat diselesaikan.

Mendengus kesal, Jung kook menambahkan, “Hyung tahu guru masa kini itu bagaimana, bukan?”

Tersenyum, Jin mengangguk. Menepuk bahu Jung kook beberapa kali hingga menimbulkan satu bunyi yang cukup besar – setara dengan rasa sakit yang dirasakan Jung Kook.

“Hentikan, Jin Hyung!” pria yang lebih muda itu berseru. Sedangkan Jin tampak tak keberatan sama sekali.

“Apa tepukan tanganku pada bahumu menimbulkan rasa sakit?”

“Tentu saja, itu sangat -“

“Maka seperti itulah,”

Jung Kook tercengang, “Apa?”

“Seperti itulah keseharian kita. Hidup memanglah begitu, Jung Kook-a. Aku tak menyangkut-pautkan emosimu sebagai remaja di sini, hanya saja,” Jin mendengus sebentar sebelum menambahkan, “Beratnya kehidupan tak akan berubah sesuai dengan apa yang kau mau.”

Tak mengerti dengan perkataan Jin yang mulai melantur, Jung Kook memutuskan untuk merebahkan dirinya di atas ranjang.

“Monoton sekali,” gumamnya asal. Sementara, Jin masih dengan senyum khasnya, kembali menepuk bahu Jung Kook.

“Hidup memanglah begitu, Jung Kook, aku bersumpah.”

“Tidak. Maksudku, aku rindu Ibuku. Aku rindu bermanja – manja di tempat tidur. Mengambil hari libur untuk bersenang – senang. Bukannya justru bekerja, bekerja, dan bekerja seperti ini.”

“Lalu apakah pengorbananmu menjadi trainee selama ini akan terbalaskan dengan bersikap seperti itu?”

Jung Kook tertegun. Mengerti dengan jelas ke mana arah bicara Jin. Jika dia Tae Hyung, sudah dapat dipastikan air mata akan segera meluncur bebas dari kedua matanya. Tapi, dia bukan. Dia Jeon Jung Kook, satu yang berhasil melakukan debut di usianya yang masih sangat belia.

“Kau telah berusaha dan kau sama sekali dilarang untuk menyesali segala keputusanmu, Jung Kook.” tutur Jin seraya merapikan buku – buku Jung Kook yang masih belum tertata rapi di atas meja belajarnya.

“Aku mengerti, Hyung. Terimakasih,”

“Tentu, sama – sama, Adik kecil.” Jin terkikik kecil seraya mengintip dari balik meja belajar Jung Kook.

Malam kembali berlanjut. Sinar keperakkan bulan menyorot jendela kamar Jung Kook dan pemuda itu berusaha meresapi kekuatan sang Cahaya.

Mengintip keadaan dari balik selimut tebalnya, Jung Kook menulis di buku catatan yang selalu ia simpan di balik bantal penyangga kepalanya – konyol memang.

– Monotone. Begitu cara menulis yang kutahu dari buku bahasa Perancis milik Jimin Hyung. Omong – omong, monoton tidak selalu berarti tak beragam. Kadang, monoton menjadi sebabmu untuk berkata jamak. Sulit untuk dimengerti. Tapi, Jin Hyung berkata padaku bahwa monoton itu justru membuatmu semakin kuat, tegar, dan tak mudah disapu ombak. Monoton itu cukup keren bagiku.

Berdecak puas, Jung Kook kembali menaruh bukunya di tempat sebelumnya. Ia melirik ke arah ranjang Jin, menemukan lelaki itu belum sepenuhnya tertidur.

Hyung,”

“Hm?”

“Terimakasih untuk yang tadi,”

“Sama – sama, Jung Kook.”

Hening kembali meresapi. Penghuni ruangan itu belum benar – benar masuk ke alam mimpi.

Hyung?”

Ya?”

“Tapi, aku serius soal pengajar jaman sekarang yang memberi tugas secara berlebihan.”

“Jeon Jung Kook!” Baik Jin dan Jung Kook sama – sama terkikik kala mendengar teriakan dari kamar sebelah – itu suara Jimin.

“Baiklah! Aku tidur, Jimin Hyung tersayang!”

“Menjijikkan! Tidur sana!”

Meski menahan gelegak tawanya. Jung Kook kembali menelan fakta baru. Monotonlah yang membuatnya bersama dengan anggota Bangtan Boys yang lain. Membawa sejuta bahagia bagi dirinya dan dunia.

Fin.

2 thoughts on “Monotone

  1. Hai kak dhila! Akhirnya aku nyempetin datang ke sini setelah kemarin kelupaan mulu.____. btw, masih inget enggak dengan nada? x)

    dan oke… Ini ffnya hampir mirip sama real-life aku, serius;__; kadang pernah juga ngerasain hidup aku datar aja gitu…. /oke malah curhat/

    btw, izinkan aku untuk mengubek2 isi WP ini ya kak xD terus kenapa foto jungkook yang di paling bawah itu kok keren sih. /abaikan/

    • Ahai Nadaaa!
      Aku inget kok inget!
      Kamu Maknaenya ifk ‘kan? Inget laaah~

      Dan hehehe terimakasih kamumampir ke gubuk kecil ini. Seneng banget. Soalnya beberapa hari ini aku lagi sedih gitu mikirin silent-reader yang kian ke mari di site ini. huhuhu u.u

      Ya, aku juga nulisnya based on true life style yah, ini capek banget lah life style aku monoton banget, makanya jadi terinspirasi, dan ngejadiin Jung Kook yang umurnya cuma beda satu tahun sama aku😄

      Ya, boleh banget!😄 acak acak ajaaa, hahahaha ^^ makasih udah dateng. Nanti kalau udah gak sibuk aku usahain visit back ke sitemu yaaa :3

      Bye byeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s