[Prompts] Listen

large (5)

|| Title :  Listen || Scriptwriter : dhiloo98 ||
|| Main Cast : Kim Jun Myeon – and a woman || Genre : Romance, Sad, Angst, Love-Life, Slight ||
|| Duration : Flash Fic || Rating : General  ||

|| Wrote this prompts with a song which titled : Wish It Was You by Lee Jung ||

// A prompt by \\
@futureasy

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

.
.
.

Lalu pada bait terakhir itu, akhirnya aku dapat melihat air matamu


.

I really wish it was you, do you know how I feel?
Because my love is like breathing, I can’t hide it

Menyanyi. Satu hal paling mudah yang agaknya sering mengisi harimu. Memenuhi lembaran hidupmu yang masih kosong – meski aku sering kali mengisinya sampai sekarang.

Kau menyanyi. Pita suaramu bergejolak bersama udara dan ciptakan satu suara yang kuyakini semua manusia langsung dapat mencintaimu dengan mudahnya.

Tapi, aku tidak. Aku bukannya jatuh hati pada dirimu lantaran suara itu. Aku membenci suara itu.

Karena, ketika kau menyanyikannya dengan indah. Kau membuatku menitikkan air mata. Bukannya karena lagu itu sedih, atau bait itu mencitrakan kisah kau dan aku. Bukan. Aku menangis karena kau bahkan tak pernah menyanyikannya untukku.

Kau tak pernah menyelesaikan nyanyianmu karena kau sibuk. Kau hampir tak pernah berbicara denganku karena kumpulan bait itu lebih menyita perhatianmu ketimbang beberapa kata yang kuberi.

Aku berharap itu kau, sama seperti lagu yang kau nyanyikan. Semua gadis menangis karena suaramu yang merdu, tapi aku tidak. Aku hanya menangisimu yang tak pernah lagi mengisi hariku.

Ketika aku bergelung di dalam selimut, memecah malam yang dingin dengan isak tangisku yang tak berarti. Dan saat itu kau pulang, “Oh, kaubelum tidur rupanya,”

Itu argumenmu. Aku tahu aku tidak dapat mengelaknya. Aku tak dapat membawanya ke pengadilan dan menuntut tiap kata yang kau ucap. Karena, nyatanya akulah yang telah diadili.

Lalu, dengan kata itu, kau berjalan ke arahku. Menarik selimut yang sama dan memerhatikan setiap lekuk wajahku. Kau menyentuhnya, berkata kulitku bisa terkena alergi atau iritasi karena air mata. Aku tersenyum.

Namun, senyuman itu bukanlah apa – apa lagi ketika kau berkata, “Baguskah penghayatanku akan lagu itu? Aku akan membawakannya besok,”

Aku menangis. Mengeluarkan air mata itu dari pelupukku. Tidak tahan lagi untuk tidak berkata aku-membutuhkan-rentetan-kata-itu-hanya-untukku.

Lalu, lupakan. Hanya lupakan yang selama ini terjadi. Karena, di malam lainnya, ketika selang infus menyangkut di nadiku ; ketika mataku terpejam dengan alat pencetak detak jantung berada di sampingku. Kau datang.

Wajahmu menyiratkan sebuah penyesalan. Aku tak yakin apakah itu sesal untukku – atau kau hanya belum menyudahi ekspresi saat menyanyi tadi.

Aku tak apa – apa. Hanya saja, rasa ini bergejolak ketika kau menyentuh wajahku. Mengusap puncak kepalaku hingga aku ingin sekali menangis.

Tapi, air mata itu tak kunjung turun. Mereka kehabisan pasokan. Mereka menolak untuk kutunjukkan padamu.

“Maaf, aku – “

Kata – katamu terhenti. Kau membekap sebagian wajahmu. Aku tak yakin apakah itu lirik lagu atau bukan. Karena, matamu tak menyertakan apapun. Mereka kosong. Hampa jelas sekali tercetak di sana.

Ketika kau bernyanyi, menyertakan rasa sesalmu dalam setiap baitnya. Aku tahu, aku telah memaafkanmu. Ketika jemari itu mengusap jemariku yang mulai mendingin, menghangatkan setiap incinya. Aku tahu, kau telah kembali.

Lalu, pada saat itu, akhirnya aku dapat melihat air matamu mengalir. Mereka menuruni lekuk pipimu dengan tulus. Aku mengerti, karena akupun sering kali begitu.

Kemudian, kurasakan eksistensiku dalam hidupmu semakin menipis – layaknya atmosfer bumi yang terkikis pemanasan global.

Jemariku menghilang layaknya bayangan. Sebagian tubuhku lenyap. Bibir ini bergetar, ingin sekali mengucap aku-memaafkanmu, aku-mencintaimu. Tapi, aku tak bisa. Diri ini tak lagi mampu.

Air matamu semakin menjadi. Mereka tumpah ruah. Mungkin setara dengan air mata yang dikeluarkan para pendengar suaramu di hari yang lalu.

Tapi, aku tak tahu. Aku tak mengerti lagi karena penglihatanku semakin menipis.
Seiring dengan beberapa tenaga medis yang mengerubungi raga ini. Aku tahu aku akan menghilang dari hidupmu.

Sedikitnya lega menyergapku karena, pada akhirnya aku dapat melihat air mata itu. Menuruni lekuk wajahmu yang tampan hanya untukku. Lalu, lamat – lamat aku mendengar nyanyianmu.

Meski suara itu tak semerdu yang biasa kau tunjukkan ke orang – orang, aku tak keberatan. Walau suara itu terdengar sengau, aku menerimanya dengan baik.

Bait itu, sama persis dengan apa yang kini hendak aku katakan,

I really wish it was you, do you know how I feel?
Because my love is like breathing, I can’t hide it
I can’t let go of you, who is turning away right now
It hurts but for you, I need to say goodbye now

Ya, selamat tinggal aku ucapkan. Aku bisikkan tepat di telingamu bersama dengan air mata terakhirku yang membasahi pipimu. Sedikit aku bertanya – tanya, kulitmu tak akan terkena alergi atau iritasi sebab air mataku, bukan?

Tapi, tetap saja. Aku tak dapat mengucapnya. Karena, bersamaan dengan kata – kata yang kau ucap, aku telah pergi meninggalkan segala yang ada di sini.

Fin.

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home. Just greet me on twitter, my tweet already wait for you.