Imperfect

image

|| Title :  Imperfect || Scriptwriter : dhiloo98 ||
|| Main Cast : Oh Sehun – Kim Min Ji  ||

|| Genre : Romance, Lil’ bit Fluff, Sad, Slight, Love-Life, Song-fic ||

|| Duration : Vignette || Rating : Teen  ||

|| Wrote this with a song which titled : Almost is Never Enough by Ariana Grande ft. Nathan Sykes ||

// A Song-fic by \\
@futureasy

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

.
.
.

ㅡAll things happened, but, almost is never enough for sayin’ those words. ㅡ

.

Rambut Min Ji tertiup angin sore di musim dingin. Salju berjatuhan mengelilingi tubuhnya. Seperti hari – hari yang lalu, uap putih dan hidung merah menjadi pelengkap wajahnya hari ini.

Min Ji nampak repot dengan sekopnya. Jelas sekali benda itu lebih besar dari pada lengan mungilnya. Usianya enam tahun, kulit seputih porselen dengan semburat merah menemani pipinya yang kedinginan.

Kontras dengan tubuh mungilnya yang berbalut mantel tebal dan syal yang nampak kedodoran.

“Min Ji – yah,”

Min Ji menoleh. Mencari asal suara sampai dia berhenti di satu titik fokus. Menemukan Sehun berdiri di wilayah taman sebelah rumahnya. Bocah itupun tak jauh berbeda, rambut kecokelatannya nampak tertiup angin, melambai – lambai dengan wajah datarnya.

“Oh, Sehun – a, ayo masuk,”

Itu suara Min Ji. Ia ingat Ibunya pernah berkata bahwa ia tak boleh membiarkan dirinya berbicara dengan tamu di luar rumah – itu tidak sopan.

Maka, Min Ji menaruh sekopnya di gudang penyimpanan. Kemudian, kembali dengan langkah kecilnya. Lengannya mengait lembut dengan lengan milik Sehun. Menarik bocah lelaki itu masuk ke dalam rumahnya ㅡkamarnya.

“Aku rindu pada Ibuku,”

Suara Sehun mengalun, agak bergetar ㅡkarena, Min Ji tahu bahwa bocah itu akan menangis sebentar lagi.

Sehun menidurkan kepalanya di bahu Min Ji. Jadikan pundak anak perempuan itu sebagai bantal yang membawa memori akan Ibunya datang.

Ia menangis. Air matanya tumpah, dan bibirnya bergetar. Hidungnya makin memerah dan lengannya bergerak melingkari tubuh kecil Min Ji.

“Ibu,”

Sehun bergumam, lirih sekali. Sampai – sampai Min Ji merasakan sedihnya. Anak perempuan itu balas memeluk Sehun – sahabatnya ; tetangganya ; teman sepermainannya.

Min Ji ingat ketika dua minggu lalu dirinya dan keluarga ikut menghadiri upacara pemakaman Ibunda Sehun. Min Ji merasakan pedihnya, jadi ia juga ikut menangis bersama Sehun.

Usia mereka 6 tahun kala itu, di mana menangis merupakan hal yang wajar dilakukan ketika ayah dan ibu Min Ji pergi bekerja, begitupun ayah Sehun.

“Jangan menangis begitu, Sehun,”

Sehun mendongak, Min Ji memanglah lebih tinggi darinya. Lalu, bocah itu mengusap air mata Min Ji. Berkata, “Tapi, kau juga menangis, Min Ji.”

Dan mereka tersenyum. Membagi satu rasa bahagia yang hapuskan duka penuh kepedihan di dalam hati.

“Min Ji menyayangi Sehun, itulah kenapa Min Ji menangis,”

“Dan, Sehun menyayangi Min Ji sebesar Sehun menyayangi Ibu. Maka itu, Min Ji tidak boleh meninggalkan Sehun sendirian di sini. Kaumau berjanji, bukan?”

Min Ji tak perlu berpikir. Tak perlu menimang ulang semua perkataan Sehun karena anak perempuan itu langsung mengaitkan jemarinya dengan jemari Sehun, “Ya, Min Ji berjanji.”

Lalu, mereka tertawa cekikikan. Memenuhi memori masa kecil yang sulit sekali dienyahkan. Sukar untuk diulang kembali.

Menjadi semakin sulit diulangi karena sekarang usia mereka enambelas tahun. Ledakan hormon remaja menyapu hampir setiap inci permukaan kulit mereka.

Sehun tumbuh lebih tinggi dari Min Ji. Min Ji bertumbuh lebih lamban meski perkembangannya lebih signifikan dibandingkan dengan Sehun ㅡpikiran gadis itu cukup dewasa. Tidak banyak yang berubah. Lengan Sehun masih sering tersampir di pundak Min Ji ; enggan mengenyahkannya dari sana. Karena, dia merasakan nyaman yang tak dapat didefinisikan. Rasa hangat tapi sejuk, Sehun suka perpaduannya. Juga aroma berry yang menguar dari kulit Min Ji.

“Jong In mengatakan bahwa ia menyukaiku, Sehun – a. Menurutmu bagaimana?” ujar Min Ji setelah merapikan barang – barang di kamar Sehun.

Pemuda itu berhenti membaca komik, maniknya kini menatap Min Ji menelisik.

“Kaujatuh hati pada Jong In?”

“Bukan,”

“Lalu apa?”

Min Ji mendengus. Tangannya berpindah; melipat di depan dada.

“Umurmu berapa sih, Oh Sehun? Kubilang, Jong In menyukaiku. Aku tidak menyukainya. Jadi, bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” Kerutan halus bertandang di dahi Sehun.

“Aku tidak setega itu untuk mempermainkan perasaannya seperti kau memutuskan Jin Ri kemarin,”

Sehun menahan napas. Siapa yang tidak tahu dia berubah menjadi player? Dia tampan, dia tinggi, dan setidaknya dia cukup pintar untuk menyelesaikan tugas ekonomi di sekolahnya.

Sehun bergeming. Menjatuhkan fokusnya kembali pada lembaran komik di tangannya.

Bukannya ia tak mau tahu, tapi, ia merasa Min Ji sudah cukup mengerti bahwa Sehun mencari sesosok yang seperti Ibunya ; yang mampu menemani Sehun kapanpun dan di manapun itu.

Tapi, dunia tak seperti yang Sehun ingini. Ia mencari dan mencari. Mengencani Jin Ri untuk kemudian memutuskan hubungan mereka dan berpindah hati ke Ji Young – teman sekelas mereka.

“Aku tidak suka kau menjadi seperti ini,”

“Kenapa? Ini hidupku, Min Ji. Bukan hidupmu.”

Gadis itu menahan napas. Membiarkan embusan angin sore masuk melalui celah jendela kamar Sehun. Min Ji melirik Sehun sebentar, kemudian, gadis itu bergerak maju. Mengetahui dengan konkret apa yang harus dilakukannya.

“Maaf, Ibu bersalah,” suara Min Ji dibuat – buat. Semaksimal mungkin begitu agar Sehun dapat mendengar suara Ibunya yang telah tiada.

Sehun masih bergeming. Membolak – balik halaman komik padahal Min Ji tahu ia tak benar – benar membacanya.

“Sehun, maafkan Ibu, ya?”

Sehun menjatuhkan komiknya ke bagian perut. Kemudian, pemuda itu mendudukkan dirinya. Merengkuh Min Ji seolah gadis itu memanglah Ibundanya.

“Ya, Bu ㅡ” Sehun menepuk pundak Min Ji hangat.

” ㅡdan, bisakah Ibu katakan pada Min Ji bahwa dia tak perlu menerima Jong In?”

Min Ji tersenyum, “Ya, Ibu akan mengatakannya.”

Masalah selesai. Sehun membagi senyumnya, Min Ji merasakan hangatnya. Sehun menaruh salah satu jemarinya di dahi Min Ji. Maniknya menatap fokus iris cokelat gelap Min Ji.

“Terima dia,”

“A-apa?”

“Akutahu kau menyukainya juga.”

Min Ji bersemu. Memukul pelan pundak Sehun sebelum mengambil ponselnya. Membalas pesan singkat Jong In.

Jong In – a, mari kita coba.🙂

Matahari semakin tenggelam di ufuk barat. Min Ji harus segera kembali ke rumahnya sebelum teriakan ayahnya memekakkan telinga. Hell, yang membatasi ruang makan keluarga Sehun dengan milik keluarganya ‘kan hanya selapis tembok.

“Sampai Jumpa, Sehun,”

“Ya, selamat malam, Min Ji. Oh, perlukah aku mengantarmu?”

Min Ji nampak berpikir. Gadis itu mengetuk dinding pemisah rumah mereka, kemudian berteriak,

“Ayah, bolehkah aku mengajak Sehun makan bersama kita? Paman Oh belum pulang dari Jepang!”

Mari ke sini, Sehun,”

Min Ji mendapatkan apa yang ia ingini. Gadis itu menarik Sehun. Membawanya ke luar dan masuk ke dalam kediamannya yang hangat dengan pohon natal berdiri kokoh di sudut ruang keluarga.

“Selamat makan,”

Ya, selamat bersenang – senang, semuanya. Selamat natal.

Hari berganti, Sehun pergi ke sekolahnya seperti biasa. Belajar di sana, dengan sisa – sisa kecupan hangat dari Ji Young yang menempel di permukaan kulit pipinya.

Min Ji juga, bayang – bayang jemari Jong In masih bergelayut manja di ingatannya kala mereka saling bergenggaman.

Mengucap cinta, padahal itu adalah suatu kebohongan. Suatu kebohongan yang ada karena baik Sehun dan Min Ji sama – sama dapat menolak ini sebanyak yang mereka ingini.

Tetapi, ada pula saatnya di mana perasaan mereka akan terlihat, menyembul ke permukaan seperti gelembung permen karet yang kerap kali Sehun buat.

Layaknya teknik pembuatan permen kapas kesukaan Min Ji dibuat ㅡyang buat mereka berdua terperangah. Definisinya memang begitu, cinta membuatmu terperangah akan sesuatunya.

———-

Siang berganti malam. Suhu rendah bergulir tinggi. Deru angin pantai bergerak maju dan perlahan mundur. Waktu terus berdentang, tandakan keseharian manusia juga turut berubah.

Tiga tahun bergulir dengan cepat. Senang adalah ketika Sehun dan Min Ji tak perlu pergi jauh – jauh ke luar kota untuk pergi kuliah. Karena, mereka berada dalam satu universitas yang sama. Berada dalam jurusan yang sama seperti biasanya.

Dunia terasa manis. Serasa benar lantaran jemari Sehun bertaut dengan jemari Min Ji. Alam terasa adil kala Sehun menemukan bibirnya menempel dengan milik Min Ji. Jadikan hari mereka lebih manis dari yang sebelumnya.

Begitu mudah untuk jatuh cinta bagi keduanya. Cinta terasa begitu dekat karena mereka akhirnya menyadari rasa yang selama ini ada dalam diri keduanya ; jauh di dalam lubuk hati mereka.

“Aku mencintaimu,”

“Ya, aku juga. Aku juga mencintaimu, Min Ji.”

Mereka tersenyum. Sore itu lembayung senja menemani langkah mereka. Min Ji membiarkan lengan Sehun bergelut manja di pundaknya.
Hanya biarkan. Karena, cinta memanglah sangat dekat dengan mereka. Layaknya saat usia mereka masihlah enam tahun, enambelas tahun, hingga kini, tahun ke sembilanbelas mengisi garis hidup mereka.

Namun, baik Min Ji ataupun Sehun tidak dapat menyangkal satu hal. Inginnya menyalahkan dunia, tapi mereka tak mampu. Karena, malam itu Sehun melepaskan pagutan tangannya pada pundak Min Ji.

“Min Ji – yah,”

Sehun menatap Min Ji tepat di mata. Manik Min Ji bergerak – gerak mencari hal yang ingin dikatakan Sehun. Tapi, gadis itu tak menemukannya di sana.

Air mata menuruni lekuk pipinya lantaran Sehun mengucap, “Aku tidak bisa lagi melanjutkan ini.”

Dahi Min Ji berkerut. Gadis itu bingung setengah mati. Kenapa? Apa ia membuat kesalahan? Apa Sehun hanya mengucap lelucon? Atau mungkinkah Sehun bosan padanya? Pria itu tak mencintainya lagi?

“Tidak, Min Ji. Tidak.”

Sehun dapat membaca semua yang tersembunyi di dalam manik Min Ji. Pria itu satu – satunya yang dapat menyuratkan apa – apa saja yang tesirat dalam diri Min Ji.

Sehun mendesah pelan. Tangannya memasuki saku hoodie pemberian Min Ji di hari ulang tahunnya tahun lalu. Lalu, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua, warna kesukaan keduanya. Min Ji berharap itu untuknya.

Namun, tidak. Itu – agaknya – tak tercipta untuk dirinya. Inginnya Sehun memberikan benda itu pada dirinya dan jadikan malam itu malam terindah sepanjang masa.

Sesungguhnya Sehun hanyalah menyodorkan seonggok kata tidak. Tidak yang menjawab semua pertanyaan dan pernyataan Min Ji malam itu. Laksana malam terburuk yang pernah hadir dalam hidupnya.

A nightmare which not have to come . Mengerikan sekali.

———

Sinar rembulan menembus memasuki tirai jendela kamar Sehun. Pria usia duapuluh lima tahun itu tak dapat tidur nyenyak. Sesuatu mendesaknya untuk tidak menutup mata terlebih dahulu.

Seolah itu merupakan malam terpenting yang tidak boleh dilewatkan seorang Oh Sehun. Malam di mana takdirnya akan menyembul ke permukaan.

Tok tok tok

Sehun mendengar suara jendela diketuk. Sekujur tubuhnya menegang.

Tok tok tok

“Sehun-a,”

Itu suara Min Ji. Mata Sehun membulat. Pemuda itu segera mengintip lewat celah jendela yang menghubungkan balkon kamarnya dengan balkon kamar Min Ji.

Ia menemukan gadis itu di sana. Matanya membengkak, wajahnya sembab akan air mata. Gadis itu memegangi besi pembatas bagian balkon dengan tangan bergetar ; menahan isak tangisnya.

“Min Ji, ada apa?”

Min Ji bergeming. Gadis berumur duapuluh lima tahun itu menatap Sehun kosong. Tatapannya hampa sampai Sehun ikut meringis.

“Ayah dan i-ibu–” Sehun mendiamkan Min Ji, membiarkan gadis itu melanjutkan ceritanya.

“Mereka, memutuskan untuk ㅡ” Min Ji menahan napas, ” ㅡbercerai.”

Tangisnya ke luar. Menuruni lekuk pipinya dan membuat wajahnya lembab. Sehun di sana. Ingin merengkuhnya namun pria itu tak mampu.

Min Ji juga. Inginnya ia memeluk pria itu – sahabatnya ; tetangganya ; teman sepermainannya ; cintanya.

Namun, Min Ji kembali meringis tat kala maniknya melirik sebuah cincin yang semenjak enam tahun lalu tersemat di jemari Sehun.

“Kumohon,”

Suaranya bergetar. Sehun tahu ia tidak boleh egois, tapi ia tidak bisa menyakiti hati gadisnya ; tunangannya demi memeluk Min Ji malam ini.

“Kaubohong, Sehun,”

Min Ji memukul pundak Sehun berkali – kali dengan lemahnya. Air matanya tak terbendung lagi. Hasratnya kalut, pikirannya kacau.

Ia bergerak lamban. Mendekatkan tubuhnya, merengkuh Sehun. Membiarkan kehangatan yang tak seharusnya ia terima mengisi ruas – ruas tubuhnya.

“Kumohon, jangan tinggalkan aku,”

Suaranya serak. Sama seperti suara yang dimiliki Sehun tat kala di malam – malam yang lalu ia mengatakan tentang pertunangannya pada Min Ji.

Tentang bagaimana Sehun harus menikahi seorang gadis bernama Jung Soo Jung demi ayah Sehun. Untuk sang Ayah yang meminta Sehun menikahi gadis itu layaknya pengemis di jalanan sana.

Dunia serasa tak mendukung mereka lagi, tidak berada di garis yang sama lagi dengan keduanya.

Sehun memeluk Min Ji. Merengkuh gadis itu sampai hatinya mencelos. Bukankah ini yang dia ingini? Lalu kenapa? Lalu, kenapa rasa itu datang kembali di saat seperti ini?

Sehun berpikir Min Ji ialah orang yang tepat. Yang mampu mengingatkannya kembali pada sang Ibunda. Tapi, cintanya pada gadis ini telalu jauh. Terlalu indah dari sekedar sahabat dekat.

Ia butuh sensasi lain. Ia butuh gadis lain dalam hidupnya. Berpikir bahwa Min Ji juga tidak sepenuhnya mencintainya ; tidak sepenuhnya menginginkan Sehun sebagai orang yang pertama kali dilihat tat kala matahari menyinari bumi di pagi hari.

Tapi, ia salah. Sehun bodoh. Min Ji juga sama bodohnya. Ketika mereka berada dalam jarak yang teramat sangat dekat untuk jatuh cinta.

Hampir, hampir tidak akan pernah cukup.

Sangat dekat untuk bisa mencintai

Jika aku bisa mengetahui kalau kau menginginkanku

Seperti aku menginginkanmu

Mungkin kita tidak akan berada di dua tempat yang terpisah

Namun di sini, saling berpelukan.
Dan kita hampir, hampir saja mengetahui apa itu cinta

Namun hampir tidak akan pernah cukup.

Jika saja aku bisa mengubah dunia dalam semalam

Maka tidak akan ada hal seperti perpisahan

Kau akan berdiri di tempat kau seharusnya berada

Dan kita akan mendapatkan kesempatan yang pantas untuk kita dapatkan

Sebab cepat atau lambat

Kita akan bertanya-tanya mengapa kita menyerah

Kebenaran itu adalah ketika semua orang mengetahuinya

Ya, kebenaran itu adalah ketika semua orang mengetahuinya. Mengetahui dengan jelas bahwa Sehun telah menikahi wanita bernama Jung Soo Jung dan merayakan hari itu dengan meriah di depan para tamu.

Min Ji berada di sana. Menatap Sehun dari kursi paling belakang di dalam pelataran gereja. Air matanya tumpah tepat saat Sehun menatapnya dari atas altar sana.

“Aku mencintaimu. Oh Sehun,” Min Ji berbisik. Harapkan angin membawa salam cintanya pada Sehun di altar sana.

“Maafkan aku, aku mencintaimu, Min Ji. Maafkan aku.”

Lalu, Min Ji menerima pesan itu. Tangannya mengepal erat, enggan membiarkan air mata kembali membasahi wajahnya.

Ini demi Sehun – demi sahabatnya ; tetangganya ; teman sepermainannya ; cintanya ; hidup dan matinya.

Hampir, hampir tidak akan pernah cukup (Tidak akan pernah cukup, Sayang)

Sangat dekat untuk bisa mencintai (sangat dekat)

Jika aku bisa mengetahui kalau kau menginginkanku

Seperti aku menginginkanmu,
Sayang

Mungkin kita tidak akan berada di dua tempat yg terpisah

Namun di sini, dalam pelukan.

Dan kita hampir, hampir saja
mengetahui apa itu cinta

Namun hampir tidak akan pernah cukup

Because, almost is never enough. Isn’t as perfect as they thought.

ㅡkkeut.

Podium

Hola halo hai, semuanya. Ceritanya aku baru aja denger lagunya Ariana Grande ft. Nathan Sykes dengan judul Almost is Never Enough.

Aduh, sumpah ya, aku sampai nge-play abis sama lagu ini. Dan, aku gak rela kalau gak buatin ini satu fic.

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s