[Prompts] Above Ours

|| Title : Above Ours || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Oh Sehun and those girl which held a birthday today || Genre : Romance, Slight, Married Life, Love-Life ||

||Duration :  Ficlet – 1502 words || Rating : T || Recommended Song : Open Arms – EXO version ||

ᴥᴥᴥ

Just gonna love you till the end

Start with yesterday

Today stand still

And will go on until whenever

.

.

.

Lying beside you

Here in the dark

Feeling your heartbeat

With mine

Malam itu yang aku tahu hanya dia akan pulang larut – selarut malam-malam yang lalu. Maka aku memilih untuk bergelung di tempat tidurku, sembunyikan wajah di balik selimut tebal sembari menghitung detik demi detik yang berlalu di hadapanku.

Malam semakin dingin, semakin larut dan suara burung mengisi keheningan ini. Dengan tangan-tangan yang kedinginan aku membuka pintu – menemukan dirinya berdiri di sana dengan tatapan lelah.

“Kau sudah pulang, Sehun-a!” seruku sembari tubuh ini terhuyung maju dan memeluk tubuhnya yang dirasa semakin kurus dan kurus.

Malam tak pernah sehening ini sebelumnya. Namun, selalu ada kehangatan yang menyelimuti tubuh kami yang kedinginan. Tertidur di sampingnya, melempar senyum rindu satu sama lain.

Tak ada kata yang terucap sampai bermenit-menit berlalu. Hanya ada sengalan napas kami yang saling beradu, kemudian suaranya tersapu desau angin di luar jendela. Ia memeluk tubuhku, merasakan detakan jantungnya dengan diriku sendiri. Tidak ada kata yang terlempar dan yang dapat kurasakan hanyalah detakan jantungnya yang seirama dengan milikku sendiri, berpadu dan jadikan ini satu harmoni yang memudahkan mata untuk terpejam.

“Aku merindukanmu, Sehun­­-a!”

.

.

.

Softly you wishper

You’re so sincere

How could our love be

So blind

“Apa yang membuatmu – mencintaiku?”

Ada satu jeda panjang yang menggantungkan kata-kata Sehun. Suara ini yang kurindukan, jadi aku membuka mataku dan menemukan wajahnya dalam jarak yang cukup dekat dengan diriku sendiri.

“Entahlah,”

“Hanya mencintaimu,”

“Dan aku – merasa buta.”

Ya, hanya menemukannya di semester dua perkuliahan. Bertemu di kafe untuk beberapa waktu dan aku menemukan diriku menerima ajakannya kala ia berkata, “Jadilah pendampingku!”

We sailed all together

We drifted a part

And here you are by my side

 

Hanya bergelung bersama. Nyanyikan lagu kesukaan kami berdua kala hari jadi menyapa. Ada kejutan manis yang menantiku setiap kali aku membuka mata, dan ada satu balasan penuh cinta yang Sehun dapat ketika aku membalas setiap perbuatannya. Hanya menjalani ini semua bersama, bertukar cincin di hadapan pendeta, mengabdikan diri kami untuk satu sama lain dan berjanji akan bahagia sampai akhir dari semua ini. Dan sekarang di sinilah aku, berada di sampingnya.

Di sinilah aku sekarang, tertawa bahagia kala matahari memunculkan dirinya di ufuk timur dan sinarnya menerpa tirai jendela kami – timbulkan garis-garis di wajah tampannya. Ada tatapan sendunya yang mengisi retina ini kala di malam hari aku membuka pintu dan menemukannya dengan wajah lesu, stamina kurang, dan ada kantung mata yang bergelayut manja di matanya.

.

.

.

So now I come to you with open arms

Nothing to hide

Believe what I say

So here I am with open arms

Hoping you’ll  see

What your love means to me

 

Jadi sekarang kami di sini. Di tempat tidur yang hangat – yang Sehun beli saat kami baru saja menikah. Menjadi satu bukti cinta kami dan terus berdiri sampai saat ini. Aku menanamkan beberapa jari ini di helaian rambutnya, menghirup aroma shampoo kami yang berbeda. Sementara itu ada bebauan mint yang menguar dari tubuhnya yang lebih tinggi dari diriku.

“Lalu mengapa kau mencintaiku?”

Tanyaku dengan nada yakin – tanpa ada jeda yang menghalangi setiap kata yang terucap dari bibir ini. Dan di hadapanku berdiri satu kepastian, tentang bagaimana dia menyukaiku, jatuh hati pada diri ini, dan memutuskan untuk mencintaiku lalu menikah dan berharap akan hidup bahagia selamanya – seperti apa yang didapati Cinderella.

I don’t know. I didn’t know anything.”

“Just gonna love you yesterday, now, and tomorrow.”

Ada satu keyakinan yang membuatku melengkungkan satu senyuman padanya, membuka lengan ini cukup lebar untuk sekedar meminta pelukan hangatnya pada tubuh ini. Sekedar menanamkan memori ini lebih kuat di dalam kepalaku.

“Kenapa kau menanyakannya?” Sehun bertanya dengan suaranya yang terdengar lembut di telingaku.

“Just hope you’ll see, what your love means to me.”

“Tak ada yang harus disembunyikan, Sehun-a. Percayalah padaku.”

.

.

.

Living without you

Livin’ alone

This empty house seems so cold

Wanting to hold you

Wanting you near

Ada satu air mata yang menetes kala aku melambaikan tangan ini. Mencoba tetap memberikannya senyuman manis yang memantapkan hati untuk sekedar berjanji dirinya akan kembali ke sini – memelukku seperti malam-malam yang telah terlewati. Hidup tanpanya, seperti yang sudah kulalui beberapa minggu sebelum ini. Jadikan hal memilukan seperti ini suatu keharusan dalam hubungan kami.

Kami bersama malam ini, lalu berpisah malam-malam berikutnya. Memeluk diri satu sama lain hari ini, dan melambaikan tangan untuk diri satu sama lain kala matahari menjemput pada hari berikutnya.

Hidup sendiri untuk pagi yang dingin ini. Suhu di pertengahan desember selalu membuat buku-buku jariku memucat – sertakan seisi rumah dalam kedinginan yang memilukan. Dan dalam kedinginan yang menyeruak, aku menginginkannya. Menginginkan dirinya berdiri di sana – di ambang pintu – menatapku sendu, lalu menenggelamkan diri ini dalam dekapan hangatnya.

Aku menginginkannya untuk berada dekat di sini, menyanyikan lagu kesukaan kami sambil menatap hamparan bintang di langit. Menciptakan kehangatan di setiap jemari kami yang terpagut.

.

.

.

How much i wanted you home

And now that you’ve come back

Turned night into day

I need you to stay

Aku beringsut menjauh dari selimut tebal, mencoba membangunkan diri ini untuk menatap dunia luar – dunia yang selalu jadi cahaya yang nampak di hadapan bayangan seorang Oh Sehun. Ada kicauan berisik dari burung-burung gereja yang berkumpul di depan kusen jendela – amat mengganggu pagiku. Ada juga desau angin musim dingin yang terasa membekukan seluruh tubuh, maka aku memutuskan untuk menutup jendela itu rapat-rapat dan beringsut menjauh – memilih pergi ke arah dapur.

Tak ada apapun di sana, hanya sup dingin yang agaknya sudah memasuki masa kadaluarsa. Aku membuangnya dari panci, mengutak-atik kulkas untuk sekedar menemui bahan baru untuk membuat sup aneh itu. Entah apa yang kupikirkan saat terakhir kali aku menghidangkan masakan itu, entah apa yang membuat Sehun tetap memakan dan menelan hidangan hambar itu.

“Muntahkan, Sehun. Aku tahu rasanya aneh.”

Sehun menggeleng, senyumannya mengembang. Yang dapat kurasakan hanyalah tangannya yang mengusap jemariku lembut – memberikan satu kehangatan yang selalu tidak terduga.

“Tidak apa, Sayang. Rasanya sudah sesuai,”

Layaknya apa yang selalu masuk dalam pikiranku, layaknya apa yang selalu ada dalam hati ini, ia – Sehun – selalu menerima diriku dengan apa adanya. Menerimaku dengan segala kekurangan yang melekat di sana dan di sini. Sama halnya ketika kali pertama Sehun menerbangkan pesawatnya – saat di mana aku menangis histeris karena takut kehilangan dirinya. Yang ia lakukan adalah memelukku, mengecup diri ini cukup lama dan berkata,

“Tak apa, Sayang. Semua sudah sesuai.”

Begitu sangat menginginkannya di sini, menemani tiap langkah kecil yang kubuat. Memelukku dari belakang untuk sekedar mengatakan,

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Dan aku akan menjawab,

“Melakukan apapun yang menjadi bukti bahwa aku mencintaimu.”

Dan kini, saat diri itu kembali – berdiri di ambang pintu kayu – seperti apa yang aku inginkan dari dulu, aku hanya dapat menangis. Menangisi namamu yang bahkan tak sempat untuk ucapkan namaku, menyebutkan bahwa kau mencintaiku lebih dari apapun.

Ketika seluruh dunia meneriaki namamu, dan yang dapat aku lakukan hanya menangis. Meraung-raung tanpa arah, menangisimu yang pada akhirnya aku sadari, tak akan pernah kembali. Karena ketika aku memberhentikan dering telepon yang terus memecah keheningan, aku tidak tahu kalau segalanya memang akan menjadi nyata,

“Pilot Korean Air Lines, Oh Sehun, dikabarkan meninggal dunia di dalam kabin tanpa awak dini hari pukul 02.00 dan – “

Tidak

Tidak mungkin

Tidak mungkin itu Sehun

Sehun, katakan itu tidak mungkin

Kumohon, Sehun. Beritahu aku kalau ini hanya candaan.

I need you to stay, Sehun

Now.

.

.

.

So now I come to you with open arms

Nothing to hide

Believe what I say

So here I am with open arms

Hoping you’ll  see

What your love means to me

 

Malam tiba lebih cepat hari itu, aku memberhentikan suaramu yang mengalun lembut melalui tap recorder. Begitu juga dengan air mata yang perlahan menuruni lengkung pipiku, aku tahu kau ada di sana – tersenyum pedih, memintaku untuk mengatakan,

“Sampai jumpa, Sayang.”

Aku menahan isakanku, berusaha menyanyikan penggalan lagu favorit kami kali ini dengan baik.

Hoping you’ll  see

What your love means to me

Open Arms – “

.

.

.

Fin.

A/N :

Okay, stop! Please stop! Wey, Oh God, it’s all because EXO’s main vocal who drives me crazy earlier. They voice! Abosolutely Angel Voices!

Ugh, cukup sebal karena Chen, dan Baekhyun bikin nangis parah. Dan Luhan juga Kyungsoo membuat kegalauan menjadi berlipat-lipat ganda. Menyebalkan memangggg!

Aku jadi kepikiran untuk mengetik ini di lappie kesayangan, secepat mungkin menyelesaikan fic gaje ini. Dan fyi, fic ini bisa jadi adalah hampir sejenis dengan ficnya Kak Dira yang Fly Above the Mist. Karena demi apapun! Di waktu dan saat yang bersamaan, akupun juga ingin membuat fic yang mencitrakan Sehunie sebagai pilot. Hehe sebenarnya Cuma pembentukan imajinasi karena aku kepingin sekali jadi pramugari. Huh, amin amin, semoga kalau aku jadi pramugari, pilotnya seperti Sehun, hehehe.

Dan – ini sebenernya adalaah.. fic hadiah ulang tahun buat aku dari aku sendiri :”) sedih ya? hari ini aku ulang tahun, niup lilin sendirian di kamar, dan ugh sedih jadinya

Selamat Hari Baik semuanya! Love ya!

And to my elder sis who can’t be here now, i love you. miss you so much and hope you’ll have good life there!

Ini sudah kutulis amaaaat sangat lama, barengan sama EXO Open Arms, so sorry with the absurd plot or something.