Consequence

image

|| Title : Consequence  || Scriptwriter : dhiloo98 ||
|| Main Cast : [EXO] Xi Luhan, Kim Min Seok, Kim Jong Dae, Huang Zitao, Lana (OC) || Genre : School Life, Friendship, Love-Life ||
|| Duration : Flash Fic || Rating : Teen ||

// A script by \\
@futureasy

Warning : Boyxboy!

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

.
Untuk mencintai seseorang itu ada konsekuensinya

.

Kebersamaan seperti ini, kutahu tak dapat aku tukar dengan sejuta harta, pun tahta. Maka jangan biarkan, hanya jangan biarkan waktu berlalu walau kutahu tak dapat terhalang sedikitpun.

Oh, Kau sudah bangun, Sayang?” aku menoleh. Membiarkan manikku berselaras dengan objek di depan mata.

Mengijinkan aromanya menyapu lembut indera penciuman sampai – sampai mata ini kembali terpejam.

Lamat – lamat suaranya terdengar lagi, “Aku mencintaimu.”

ㅡㅡㅡㅡㅡ

Matahari tersenyum cerah di atas sana tat kala jam olahraga dimulai. Aku dan Zitao berlari berdampingan semenjak setengah jam yang lalu. Menatap ke sekeliling, kami tak menemukan teman yang lain. Baik itu Luhan, Min Seok, pun dengan Jong Dae.

“Zitao ge, astaga, kurasa kita harus berhenti sebelum kaulelah dan jatuh di sini!” pekikku sambil menahan lengan Zitao agar tak melanjutkan lari sprin kali ini.

Ia menoleh ; lengkap dengan peluh yang menetes dan tatapan lelah. “Mau ke mana? Apa kita perlu mencari kawan – kawan?”

Tsk, tentu.”

Aku mendecak, sibuk mengacungi jempol pada sikapnya yang selalu mengerti diri ini sampai ke dalam.

Tersenyum, aku mengamit lengannya ㅡmempercepat langkah demi langkah kami. Menuju kelas ; meski jelas mengetahui di mana kawanan kami berada ㅡruang musik.

“Kaulelah?” itu suara Luhan. Aku merasakan lingkar lengan pada bahuku. Ruang musik tak pernah jadi sepanas ini jika aku tidak habis berlari.

Lalu, manik ini menemukan Luhan ketika aku menoleh. Tersenyum hangat dengan sekaleng soda di tangannya.

Aku mengangguk, mengambil sekaleng soda pemberiannya meski aku justru memberikan benda itu pada Zitao ㅡyang lebih membutuhkan.

“Dia kelelahan,” kami cekikikan. Memperhatikan wajah lelah Zitao dengan kasihan lalu saling menatap. “Jong Dae –yah, nyanyikan sesuatu, kumohon,”

Jong Dae ㅡyang saat itu tengah melatih ekspresi wajahnya melalui cerminㅡ sontak menoleh kepadaku.

Menaikkan sebelah alisnya tanda berpikir, meski kudapati suaranya mengalun begitu lembut beberapa detik kemudian.

Aku suka.

Suka bagaimana keempat orang ini berdiri di sampingku. Melakukan dan mengetahui apa yang kuinginkan, pun yang tersimpan jauh di dalam pikiran.

Mereka tahu. Itulah sebabnya bangku sekolah menengah atas terasa seperti taman kanak – kanak ㅡbahkan formasi duduk kami tidak berubah.

Berangkat bersama, pulang bersama, makan, istirahat, kami melakukannya bersama – sama.

Jangan sebut aku berlebihan. Jangan men-judge diri ini sebagai seorang gadis jadi – jadian. Karena, aku masih normal.

Hati ini masih berdesir lantaran Luhanㅡsebagai gitaris band sekolah kami menatap mataku dalam sekali.

Jantung ini berdegup tak keruan tat kala Luhan mengajariku bermain bass sepulang sekolah ; meski kawananku menatap lelah diri ini dari kaca jendela.

Aku normal, begitupun dengan mereka. Sangat ingat ketika Zitao berhenti berjalan hanya karena melihat Yi May dari kelas sebelah berlalu di hadapan kami.

Sangat hafal saat Jong Dae berubah menjadi Troll ㅡokay, its mainstream, thoughㅡ yang super dingin saat Xi Jiu meminjam buku pelajaranku.

Itu tidak begitu penting. Meski, yang kutahu, Luhan tak pernah menunjukkan gerak – gerik dalam masalah percintaan. Dia begitu kaku, pun dengan Min Seok. Mereka bagai terisolasi di suatu desa terpencil.

Siang berganti malam, membuatku dan Zitao, Jong Dae, Luhan, juga Min Seok harus segera pulang.

Membiarkan dinginnya malam yang begitu menusuk membuatku meringis. Menyesalkan mengapa tidak memakai jaket atau hoodie pemberian Min Seok minggu lalu. Tapi, aku tak begitu peduli.

Asalkan bersama mereka, kutahu ini tak akan jadi masalah.

Yawn,” Zitao dan Jong Dae menguap besar sekali.

Begitupun Min Seok yang memilih bersender pada punggungku sembari berjalan terseok – seok.

Menyisakan aku dan Luhan sebagai yang masih dapat berinteraksi dengan jelas.

Membuatku gugup mati – matian ketika jemari Luhan menggenggam milikku lembut.

“Hangat,” Luhan bergumam.

Membiarkan aku menahan hasrat untuk berteriak sekencang mungkin ㅡjuga rona merah yang asyik menempel pada kedua pipiku.

Luhan kemudian mendorong Min Seok menjauh. Menyisakan kami berdua berjalan di belakang tiga orang tadi.

“Kau kedinginan?” Aku menoleh, menemukan Luhan dalam jarak yang teramat sangat dekat.

“Ti-tidak, Luㅡ”

Napasku tercekat. Luhan memelukku dengan hangatnya. Menghantarkan rasa aneh ke seluruh tubuh meski aku tak mengetahui alasan di balik setiap perlakuannya padaku.

Luhan melepaskan pelukannya. Menatapku kosong kemudian kembali merajut langkah.

“Luhan-a! Dan kau, Lana! Aku masuk dulu, ya?” Zitao bersuara ditemani anggukanku dengan Luhan.

Menyadari Jong Dae juga sudah sampai di rumahnya. Meski, Min Seok justru tidak terlihat ㅡkurasa ia sudah berjalan lebih dulu.

“Lana-yah,”

Aku menoleh. Lagi – lagi menahan napas karena Luhan hanya menyisakan beberapa senti jarak dari diri ini.

“Maaf, tapi akuㅡ” Luhan menghentikan omongannya. Berdalih memajukan tubuhnya dan membuatku membelalakan mata ketika kurasakan lembutnya ia saat itu.

Apa ini? Luhan, menyukaiku?
Tidak. Aku pasti bermimpi terlalu indah malam itu. Karena, yang aku ketahui Min Seok sudah repot meneleponku di dini hari ㅡmembangunkanku dari tidur.

“Lana-yah, apa tadi Luhanㅡ”

Stop it!” Aku menghentikan Min Seok kemudian menjerit karena hal itu bukan mimpi semata.

Tersadar dan merasa malu akibat Min Seok mengetahui apa yang Luhan perbuat.

“Maaf,”

Min Seok bersuara. Lirih sekali sampai aku tak tahu harus menjawab apa. Kemudian, kudengar ia tertawa kecil.

Melibatkanku dalam pertanyaan singkat tentang perasaanku hari ini dan menyanyikan lullaby yang menghantarkanku ke depan gerbang alam mimpi.

Good night, Min Seok-ge. Terimakasih sudah menelepon,”
Min Seok terkikik. “Ya, selamat malam, puteri kecil.”

Malam yang indah. Tapi tak lagi indah karena di pagi berikutnya, diri ini merasakan suatu perbedaan yang signifikan.

“Bisakah aku bersender?” Suara Min Seok menginterupsiku saat kami berada di kelas matematika. Rautnya kusut, aku tahu sesuatu telah terjadi pada dirinya.

“Tentu saja. Selalu ada ruang untukmu, Min Seok ge,”

Thanks.”

Aku tersenyum simpul. Memilih memerhatikan materi ketimbang harus repot – repot menilik wajah Min Seok diam – diam.

Guru kami berlalu begitu saja saat bel tanda pelajaran berakhir dibunyikan. Min Seok masih pulas di bahuku. Sementara, Luhan nampak menilik kami dari kejauhan.

Tatapannya seolah jenuh. Memaksudkan diri untuk memanggilku pergi ke luar kelas. Lalu, bagaimana dengan Min Seok?

“Pergilah,” suara Luhan mengalun ketika anak itu memutuskan untuk bergabung bersamaku dan Min Seok ㅡyang notabene sedang tertidur.

Aku menepuk bahu Luhan sesaat sebelum meninggalkan mereka. Membiarkan Min Seok bersender di bahu Luhan sementara aku pergi menyusul Zitao dan Jong Dae.

“Apa yang terjadi?”

Zitao bertanya saat aku menemukan mereka tengah bersenda gurau di salah satu kursi taman sekolah.

Aku mengedikkan bahu. Tanda tidak tahu dan tidak mengerti.

“Luhan ㅡapa yang terjadi dengannya?”

Jong Dae menimpali. Membuatku merasa tersudut karena aku sama sekali tidak mengerti ke mana arah bicara mereka.

Jong Dae merangkulku. Membawaku duduk di tempatnya tadi dan mulai bersenandung lirih sekali. “Sebenarnya ada apa?”

Jong Dae melirikku. Menepuk punggungku beberapa kali sebelum meninggalkan satu dekapan hangat pada diri ini.

“Luhan, diaㅡ” lagi-lagi anak itu menghentikan ucapannya. Berdalih membuatku semakin penasaran.

“Demi Tuhan! Ada apa sih?”

Zitao melirik Jong Dae, pun sebaliknya. Tetap begitu hingga beberapa menit berlalu dan aku hanya dapat menunggu penjelasannya.

“Ada apa, ge?”

Mendesah ringan, Zitao berkata, “Luhan dalam masalah.”

“A-apa?! Ada apa? Sungguh, kalian tidak boleh terus mempermainkanku seperti ini!” pekikku yang sontak membuat Jong Dae menenangkan diri ini.

Luhan membakar salah satu sudut batangan rokok yang dipegangnya. Menyelipkan benda itu di antara celah bibirnya.

Berdalih mengepulkan asap dari sisa – sisa pembakaran nikotin itu.

“Luhan- yah! Kau harus sadar!”

Luhan menatap Min Seok kosong. Pemuda itu menghisap filternya dalam – dalam. Pandangannya hampa seakan tidak ada jiwanya sama sekali di dalam sana. “Aku mungkin sudah gila, Min Seok-a.”

Hening berkepanjangan menyapu kedua orang itu sesaat sebelum Min Seok melemparkan bola basket di tangannya kasar.

Memantul dan mengenai sudut bibir Luhan hingga mengeluarkan darah.

“Kaugila?”

“Maafkan aku,”

Min Seok tersulut emosi. Kepalan tangannya sudah siap meninju pipi Luhan sebelum memoar masa lalu menghantamnya keras – keras. Mengingatkannya bahwa Luhan merupakan sahabat dekatnya sejak kecil.

Membuatnya menangis dan membenamkan Luhan ke dalam pelukan hangat seorang sahabat.
Luhan meringis. Membiarkan air matanya mengalir lagi dan lagi.

Membalas dekapan Min Seok juga sama gilanya dengan apa yang sempat terlintas di pikirannya.

Itu gila. Dia tidak mungkin.

“Tidak mungkin ‘kan bila aku membalas apa yang kaurasa?” Min Seok tersenyum kecut sesaat setelah mengatakan itu.

Ia memukul tembok. Menggeram penuh amarah hanya karena ucapan Luhan, “Kurasa aku menyukaimu sebagai lelaki, Kim Min Seok.”

Gila. Bagaimana dengan gadis mereka? Jelas – jelas Min Seok mengetahui seberapa besar rasa dan asa gadis ini kepada Luhan ㅡhanya saja, terlalu rumit.

Min Seok mungkin sudah gila, tapi ia makin tak mengerti karena yang dapat ia lakukan setelahnya hanya meninggalkan Luhan sendirian di ruang olahraga. Membiarkan pemuda itu meringis menyesali rasa yang ada.

Air mataku turun. Sekelumit kisah itu tak lebih cukup untuk membuatku merasa lebih baik. Mungkin, aku menyesal telah mendengarnya. Bagaimana mendengar Luhan menyukai Min Seok ㅡsahabat kami sejak masih di bangku taman kanak-kanak.

Maksudku, yang benar saja, Min Seok itu pria. Sama halnya dengan Luhan. Lalu, apa yang laki-laki itu harapkan?

Apa dia ingin menepis rasa yang ada padaku sehingga diri ini bisa berhenti mengaguminya? Tidak.

Lalu, apa arti diriku? Apa Luhan mengecup diri ini hanya untuk main – main?

Membiarkanku merasa berbunga – bunga hanya untuk dipermainkan sama bodohnya dengan aku yang menyukai dirinya diam – diam.

“Kau menyesal?” Aku menoleh. Menemukan Luhan sudah berada di hadapanku.

Manikku menjauh, kemudian menjatuhkan tatap pada sosok Min Seok yang tersenyum lirih di belakang Luhan.

“Kau menyesal sudah menyukaiku, Lana?” Tubuhku gemetar.

Air mata berkumpul di pelupuk ㅡhanya berkumpul tanpa niatan untuk menetes ke luar.

Zitao dan Jong Dae memerhatikan kami bertiga dengan tatapan awas. Ingin bertindak, tapi takut jika semakin ada yang terluka. Hanya mampu menatap miris.

Min Seok nampak merajut langkah, membenamkan diri ini dalam dekapannya yang selalu hangat bagai rumah.

Air mataku tumpah seketika, meski tak merta membuatku histeris. Min Seok mengecup puncak kepalaku. Membuat diri ini tercekat.

“Maaf,” Luhan bersuara. Langit tampak tak mendukung dengan mengguyur bumi dengan rintik hujannya.

Tetapi, tak cukup kuat untuk menghentikan drama murahan ini. Aku tersenyum kecut. Kemudian melepaskan diri dari dekapan Min Seok.

Berjalan tertatih menuju Luhan.
Sangat sulit bagiku. Aku menatapnya kosong.

Membiarkan rinai hujan menutupi tangisku yang pecah seketika. Aku memukul bagian kanan dadanya beberapa kali. “Kautega, kautega, Luhan. Kautegㅡ”

Luhan mendekapku. Membiarkan diri ini merasakan sepercik rasa hangat meski nyatanya pedih lebih mendominasi.

Degupan jantungnya teratur. Tapi, aku bisa merasakan dadanya yang turun naik. Ia menahan tangis. Pemuda ini menahan tangis padahal jelas – jelas aku yang tersakiti.

“Maaf,” Luhan berkata lagi. Nadanya memohon. Tapi, aku tak peduli.

Hanya ingin waktu ini berhenti dan mengijinkanku tetap berada dalam dekapannya sampai waktu berakhir.

Sampai aku berada di dunia orang egois agar Luhan dapat membalas rasaku. Meski, jelas sekali itu tak mungkin terjadi.

Dunia begitu cepat berputar saat aku menemukan diriku berjinjit. Menyelaraskan tinggi tubuh kami lalu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Luhan malam sepulang sekolah itu ㅡmeninggalkan rasa hangat di bibirku.

Luhan membeku. Min Seok menahan tangisnya. Zitao dan Jong Dae masih mematung di tempat mereka berdiri.

Hanya beberapa saat, sebelum aku merasakan tubuhku limbung dan pandangan ini lamat – lamat mengabur, kemudian berubah menjadi hitam pekat.

ㅡㅡㅡㅡㅡ

Suara Luhan terdengar sedih, tapi aku tak peduli. Aku menyukai bagaimana ini berjalan. Sebagaimana jemari Min Seok yang menggengam milikku tepat saat aku membuka mataku.

Manikku bergerak gusar seraya mencari keberadaan Zitao, Jong Dae dan juga ㅡLuhan. “Kausadar?” Min Seok bersuara.
Aku mengerjap beberapa kali sebelum menyadari suaraku serak. Min Seok mengambilkan air mineral dan memberikanku waktu untuk meminumnya.

“Di mana Luhan ge?”

Min Seok mengerutkan dahinya ㅡheran. Matanya terpaku pada irisku sebelum benar – benar menahan ledak tawanya.

“Kau masih mengingat peristiwa itu? Astaga, Lana,” Keadaan terbalik, kini aku yang merasa heran.

“A-apa?”

Min Seok tersenyum. Tangannya menyentuh bagian perutku. “Sst. Jangan terlalu beremosi, bayinya bisa terganggu.”

Aku termangu. Meresapi kata – kata Min Seok yang lambat laun membuat kedua mataku membelalak.

Apa? Bayi? Terganggu? Oh, Shit. Mimpi itu mengelabuiku lagi dan lagi.

Sekelumit kisah itu tentu saja kejadian lima tahun lalu. Hari – hari di mana kami masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Berbeda jauh dengan statusku yang sudah berkeluarga sekarang ini.

Perlahan, tubuh ini bergerak ke posisi duduk. Aku menatap manik Min Seok. Menyapu pandangnya sesaat sebelum mendekapnya erat – erat.

“Maaf, Tuan Kim. Aku bersalah padamu,”

Ia balas memelukku. Menepuk punggungku perlahan – lahan.

Kami tersenyum. Betapa bahagianya mendapati orang yang kau kasihi mendekapmu seperti ini.

Namun, ini tak terjadi begitu lama karena setelah itu Jong Dae dan Zitao datang dengan pakaian kerja mereka.

Huft, bersyukurlah aku yang menyetir sehingga kami tidak terlalu terlambat,” Jong Dae bersuara sementara Zitao nampak mencemoohnya dari belakang.

“Tapi, kita sudah terlambat setengah jam, Kim Jong Dae. Oh, astaga! Lana sudah pulih!” aku menatap mereka geli.

Uh uh, bagaimana bisa dua orang ini menjadi partner kerja untuk waktu yang cukup lama? Maksudku, Jong Dae dengan kepala besarnya, dan Zitao dengan segala kepolosannya.

Yah, setidaknya perusahaan yang mereka bangun lima tahun lalu tidak bangkrut begitu saja.

Min Seok masih menggenggam jemariku sampai suara gaduh dari arah pintu ruangan terdengar. Seseorang berjalan tergopoh ke arah kami.

Oh, Kau sudah bangun, Sayang?” aku menoleh.

Membiarkan manikku berselaras dengan objek di depan mata. Mengijinkan aromanya menyapu lembut indera penciuman sampai – sampai mata ini kembali terpejam untuk beberapa detik.

Lamat – lamat suaranya terdengar lagi, “Aku mencintaimu.”

Aku mendekapnya. Mengecup pipinya sebelum mengatakan, “Aku juga mencintaimu, Luhan.”

Fin.

After note:

Wahahahahahahaha! please , kasih aku waktu untuk ketawa. Karena, apa ini?!! Astaga aku malah bikin pair nya XiuHan Couple!

Maafkan akuuuuuu.

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

Jadi, gini ceritanya :

Lana jatuh hati pada Luhan, lalu, Luhan tidak mengerti apa yang dia rasa, maka itu dia kira dia menyukai Min Seok ㅡpadahal apa yang ia rasa pada Min Seok hanya sebatas pertemanan biasa.

Luhan tidak tahu konsekuensinya adalah, ia yang salah paham atas rasa. Jadi, pada akhirnya, Luhan dapat menyimpulkan kalau cintanya itu pada Lana.

4 thoughts on “Consequence

  1. Hai! aku reader baru di sini hehe slm kenal🙂 b the way aku masih rada bingung nih sm ceritanya. akhirnya Lana itu sama Luhan atau Minseok? tp buat keseluruhan udah oke kok ceritanya :d

    • Hai, aku Dhila dari line 98! Salam kenal!
      Eum, aku harus panggil kamu apa? Dan, linenya? Hehehe thanks

      Dan uh, seneng deh kamu gak masuk golongan silent readers yang lagi rajin – rajinnya bergumul di site ini. Makasih sudah menampakkan diri yaaaa.

      Eum, sebenernya, akhir – akhirnya Lana nikahnya sama Luhan. Kalo Min Seok, dia sendirian. Ohiya, mungkin kamu bisa nunggu sebentar, karena, aku mau ngedit fic ini lagi, nanti.

      well done! Panggil aku Dhila atau Kak Dhila yaaa. Salam kenaal🙂

  2. Well, kaaak. maaf aku jarang mampiiir~ huehuehue. tapi pas liat ff kakak jadi tergiur buat baca. dan akhirnya baca deeh *apasih #hiraukan

    INI JADINYA CERITANYA KAYAK GIMANA SIH KAAK?? DEMI LUHAN AKU GAK NGERTI SAMA LUHAN YANG SUKA…. MINSEOK? ASTAGA.__. tapi syukurlah akhirnya tetep sama lana’-‘ harusnya nama aku aja yang di atas kak. aku terima kok lahir dan bathin’-‘ #sekalilagihiraukansajakak

    diksinya selalu gak nahan buat aku. dan kereeen~ gak tau mau komen apa lagi, soalnya cerita ini cukup buat aku speechless sampe sekarang._.

    sekian kak pesan-pesan gapenting aku’-‘ buebue’-‘)v

  3. Hai, Bell!
    Maafin baru dibales, nih, komenmu. Aku site-seeing malah jadi site-sick sih gegara banyak silent readers. ㅠㅠ Thanks for comment!😉

    Jadi, di sini setting awalnya itu sahabatan semua. Terus, konfliknya itu Luhan yang selalu deket sama Minseok kira dia suka sama Minseok ㅡimajinya dipake hayooo ;)ㅡ nah, tapi, ujung-ujungnya Luhan paham kalau dia ke Minseok itu cuma terlalu deket. Sementara jatuh cintanya sama Lana. Aku harap uri Bella got it right ;))) aaa maafin kesukar-dipahaminya cerita ini, yaaa, bell! Besok aku bakal buat yang gak nyentrik kaya begini lagi hohoho.

    Anyway, Happy New Year 2014!!
    Wohooooo! God bless us! ㅡexcept silent readers /wow/kejam/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s