[Flash Fic] Dellusione

Dellusione

|| Title :  Dellusione || Scriptwriter : dhiloo98  ||

|| Main Cast : Lee Hyun Woo and OCs || Genre :  Crime, Life ||

|| Duration : Ficlet || Rating : PG – 17 ||

Warning! Parental Guide is needed!

a movie by

// @futureasy //

.

.

.

Delusi

Mendadak saja membutakan mata

Mengelabui pikiran

Dan memutar – balikan fakta

Dellusione Ache

 

.

.

.

 

Hyun Woo baru saja kembali dari kesibukannya kala matahari bersinar terik di langit sana. Arloji hitamnya sudah menunjukkan pukul satu siang dan ia masih melancarkan deru roda dari skate board nya. Layaknya pemuda masa kini, remaja itu membentuk pola berliku dari papan seluncur yang ia injak.

Semuanya masih dalam kondisi aman – aman saja sampai kedua irisnya merasa tak fokus. Obyek lain memaksa retinanya untuk merekam segala kecantikkan itu di dalam memorinya. Bersinar cerah layaknya sinar mentari.

Seorang gadis berdiri dengan angin penghujung siang yang meniup helaian rambutnya. Gadis itu memakai dress berwarna merah tua yang terkesan elegan. Meski gadis itu berdiri tanpa alas kaki. Tak apa, bagi Hyun Woo keindahan itu tersaji di tempat yang tepat mengingat gadis itu sedang menjejaki area rerumputan di taman kota. Kulitnya putih pucat dan Hyun Woo tak mampu untuk berkomentar lebih. Agaknya gadis itu yang paling menarik dari yang lainnya.

Dengan langkah acuh, lelaki itu mengimbangi deru rodanya semaksimal mungkin – berusaha menarik perhatian gadis itu. Namun, bagai kabut di malam hari, gadis itu tak mengindahkan perlakuan Hyun Woo sampai pada akhirnya remaja itu memberhentikkan perjalanannya di hadapan sang Gadis.

I found you there

Standing like nothing happened

Even if i know your heart was bumping around

Like what i did

 

Terburu – buru, Hyun Woo meraih papan seluncurnya dan melangkah pasti menuju Gadis itu. Membungkukkan tubuhnya, remaja itu memberi salam, “Halo, namaku Hyun Woo. Bisa aku tahu namamu?”

Dengan senyum getir, gadis itu menemukan dirinya menjabat tangan Hyun Woo. Membagi satu nama yang membuat Hyun Woo tak bisa berhenti untuk menyebutkannya, “Marlene.” Ke seratus tiga belas kali dan Hyun Woo menutup kedua matanya. Membiarkan jiwanya berkelana tak tentu arah.

Like what we did

Like what we see

I found my heart trumblings all the time

Even if i didn’t know what it is for real

Because my feel isn’t on you

For me, feel is not some thing special

Though it joyful

I was born in different way

Can’t feel

Can’t catch it

 

Hari ke lima datang lebih cepat dari perkiraan. Hyun Woo sudah mengatur jadwal untuk mengajak gadis itu berkeliling. Menemukan gadis bernama Marlene itu kembali memakai gaun yang sama, Hyun Woo terkekeh. Berpikir bahwa gadis itu sangat menyukai apa yang ia punyai.

Hai,”

“…”

 

Hyun Woo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sekedar formalitas namun agaknya gadis itu tak berniat untuk membalas sapaannya. Dengan wajah yang terkesan angkuh, gadis itu justru membungkuk beberapa derajat.

Halo,  Hyun Woo -ssi,”

 

Di luar dugaan. Marlene membalas sapaannya. Kemudian berakhir dengan satu kecupan Hyun Woo di pipi kiri gadis itu, Marlene tahu bahwa semuanya berlalu dengan benar.

 

Cahaya keperakkan yang berasal dari bulan menyapu jendela kamar Hyun Woo. Lelaki itu berguling ke kiri dan ke kanan – membuat seprai kasurnya menjadi kusut. Bayang – bayang cinta mendadak saja membutakannya. Meski Ibu pernah berkata bahwa jangan memercayai orang yang baru dikenal, Hyun Woo tetap membelot dan memilih Marlene sebagai teman yang baik.

Gadis itu cantik. Pikirannya dewasa. Ia tinggal sendirian di apartemen yang letaknya tak jauh dari lokasi latihan dance Hyun Woo. Lelaki itu tak pernah keberatan untuk menunggu Marlene keluar dari apartemennya dan berkata bahwa ia terlambat lima menit lantaran menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.

Meski belakangan Hyun Woo menjadi sering pulang terlambat. Juga banyak sekali tugas dari klub rahasianya yang belum terselesaikan, lelaki itu masih saja mengunjungi Marlene. Berkata bahwa gadis itu sakit dan ia harus menjaganya. Padahal semua itu hanyalah omong kosong belaka. Hyun Woo sepenuhnya mengerti bahwa misi kali ini lebih berharga dari misi lainnya.

“Aku mencintaimu, Marlene,” Hyun Woo bergumam di sela ciuman mereka. Berdecak singkat untuk mengisi kegugupannya.

Sedang Marlene menggeleng, tidak menyetujui argumen Hyun Woo. Gadis itu menjauhkan bibirnya dari Hyun Woo. Menambah jarak di antara mereka.

“Tidak bisa, Hyun Woo.” suaranya serak. Hampir sama dengan jenis suara yang selalu ia punyai.

“Kenapa?”

Hening kembali mengelabui dua manusia itu. Sementara Hyun Woo masih memegang pergelangan tangan gadisnya, menatap intensif satu sama lain.

“Aku bukan lah milikmu sejak awal,” gadis itu bergumam sebelum kembali menyatukan bibir mereka. Sepenuhnya menyadari ia telah jatuh dalam pesona lelaki itu, ia tak lupa menghapus jarak di antara mereka – lagi. Jadi, kenapa ia tak dapat membalas cinta Hyun Woo?

Sementara mereka kembali dimabukkan dalam kehangatan diri satu sama lain, seseorang menatap geram ke arah keduanya. Hyun Woo hanya terlalu larut dengan pikirannya. Angin malam mendesau ringan dan sedikitnya mengganggu kedua insan yang tengah bercumbu. Keduanya melepaskan kehangatan dari diri satu sama lain. Sementara Hyun Woo nampak mengusap peluh di dahi gadis itu.

“Terimakasih,” Hyun Woo berkata kemudian menelungkupkan tubuhnya. Kembali mendekat dengan wanita itu.

“Tak masalah, Hyun Woo – a,”

Termenung sebentar, Hyun Woo kembali terhenyak. Bersamaan dengan detak jarum jam, lelaki itu menghitung waktu yang berlalu.

“Jadi, kau sudah resmi menjadi milikku, bukan?” Hyun Woo menggoda gadis itu. Tangannya menelusup nakal ke dalam selimut cokelat tua yang menutupi tubuh keduanya.

Namun, lagi – lagi yang didapatinya adalah gelengan penuh penolakan dari gadis itu. Marlene mengeratkan dekapannya pada sang lelaki. Berusaha mengenyahkan ketakutannya, meski ia tahu hal itu akan terjadi cepat atau lambat.

Marlene ingin sekali membuka pembicaraan sebelum dering telepon genggam Hyun Woo memecah keheningan.

“Hyun Woo – yah, kau berada di mana?” Hyun Woo menempelkan bagian mikrofon ke arah bibirnya. Berbincang hangat tentang apa yang baru saja ia lakukan.

“Kau gila?” suara orang di seberang sana terdengar menghunus. Hyun Woo memutar badannya sebelum ia merasakan kehadiran orang lain di dalam kamar itu.

Seperti yang sudah – sudah, kali ini Hyun Woo kembali harus menelan kenyataan. Menemukan kakak tirinya berada di ambang pintu kamar dengan tatapan membunuh.

“Dapatkan aku,” Marlene berkata. Menaikkan selimut itu lebih untuk menutupi tubuhnya. Sementara Hyun Woo nampak sibuk dengan pakaiannya, lelaki yang satu lagi justru mengeluarkan pisau lipat dari balik saku celananya.

“Mati kau,”

.

.

.

Angin sore menerbangkan dedaunan kering di sudut taman. Hyun Woo menjalankan roda papan seluncurnya dengan terburu – buru. Lelaki itu menengok ke arah apartemen di seberang jalan sebelum bergidik ngeri mendapati siluet wanita dengan dress berwarna merah darah.

Tsk, hantu brengsek,” Umpatnya dalam – dalam. Melihat wanita itu hanya menjadi penghalang kebahagiaannya. Layaknya saat malam itu ia mendapat beberapa pukulan dari sang kakak sebelum keduanya membunuh gadis itu – menjalankan misi dari klub mereka. Hyun Woo menahan napas membayangkan betapa pintarnya ia berdusta pada gadis itu, sangat mudah.

Namun, lelaki itu bukannya sedang berdelusi. Tiba – tiba saja singkapan memori malam itu berputar lagi di pikirannya. Juga suara Marlene yang masih terus terdengar.

“Dapatkan aku – “

 

TIIN

 

Sekonyong – konyong tubuh Hyun Woo terlempar ke belakang. Jaraknya berkisar dua ratus meter sebelum tubuh dewasa lelaki itu kembali tertabrak kendaraan lainnya.

 – Ya, dapatkan aku sampai ke neraka, Lee Hyun Woo.

 

Fin.

 

A / N :

Okay, sesungguhnya aku gak mengerti ini apa dan kenapa aku bisa bikin fic ‘seseram’ ini. Kenapa otak aku mendadak dewasa dan mengapa ini harus digolongkan dalam Parental Guide 17, sedangkan aku masih 15 tahun kurang 25 hari ¬¬ Well, yah mungkin saat ini fiction di post, aku udah genap berusia 15 tahun lebih tiga hari loh!

Selain itu, ini salah satu bentuk apresiasi aku dalam rangka menambah jumlah cast dengan pemain selain ke lima cast besar lain – baik itu di ifk maupun di wordpress aku. Dan juga nambahin tag archive, sama genre.

 

Sedikit penjelasan, jadi, si Marlene itu sudah tau kalau Hyun Woo memang akan ngebunuh dia. Tapi, dia juga masih kurang yakin karena yang dia dapati justru Hyun Woo yang kelihatannya tergila – gila sama dia. Sedangkan, Hyun Woo sama Kakak Tirinya itu memang bekerja sama untuk membunuh Marlene, untuk menyelesaikan misi mereka dari klub.

Dan kalimat “seperti yang sudah – sudah” itu karena emang hampir semua target wanita itu selalu dia kencani dan berakhir dia bunuh. Ya, semoga pada ngerti yaaa.

Maafkan aku!

 

Sorry for the absurd story and plot. But, i hope you can participate in comment box. Enjoy your day!

3 thoughts on “[Flash Fic] Dellusione

    • Haii, Anis! ^^
      seneng deh liat kamu di empat fic aku hari ini😄 thanks ya udah dikomen, dan gaikutin silent readers lain…

      tapi udah find-out belum yang rada bingung itu? semoga udah ya, dan hey! astaga, kayaknya aku ada memberi PG di sini.. hehe maafin aku yaa, kuharap kamu ambil yang positifnya aja.

      See yaaaaaaaaaaaa

      • Hai jugaa😀
        Bagus deh ada orang yang seneng karena aku/? Sip, aku(mungkin)bukan tipe silent readers, kok^^ Aku tahu gimana perjuangan sang author dalam menulis sebuah karya LD

        Iya sip kaaak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s