Sweet Moment

Sweet Moment

|| Title : Sweet Moment  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Jeon Jung Kook and Kim Min Ji || Genre : Daily-life, Little bit fluff ||

|| Duration : Flash Fic || Rating : Teen  ||

 // A script by \\

@futureasy

.

.

.

 

Ketika itu, yang diinginkan hanyalah waktu yang berhenti berdentang. Sekali saja mengharapkan apa yang belum pasti terjadi untuk ke dua atau ke tiga kalinya.

Sinar mentari nampak terik membias di langit sana. Cakrawala terlalu terang untuk ditatap. Min Ji mengusap peluh di dahinya, lagu – lagu manis yang terdengar melalui headset bagai permen kapas yang lembut di kedua telinganya.

Harap – harap cemas, gadis itu melepas ikatan rambutnya. Membiarkan surai cokelat gelapnya tergerai indah meski hanya sebatas bahu. Bus yang ditunggunya masih tak kunjung datang setelah beberapa menit keberangkatannya tertunda.

Min Ji memutar tubuhnya, mengikuti dentum irama di relung telinganya. Sampai gerak tubuhnya terhenti oleh, “Permisi,”

Min Ji menoleh. Lalu maniknya menemukan lelaki – yang menurut analisanya – sebaya dengan dirinya tengah mengusap bagian tengkuknya sendiri. Nampak kebingungan.

“Ya, ada apa?”

“Aku ingin bertanya soal bus dengan jam keberangkatan pukul -“

“Itu dia!” Min Ji berseru. Tak ayal menarik lengan kemeja lelaki itu dan membawanya masuk ke dalam bis yang masih kosong.

“Terimakasih,”

“Ya, tentu, sama – sama, Tuan.”

Hening menyeruak. Min Ji kembali berkutat dengan dentum musik lembutnya sementara ia mendapati tatapan penasaran dari kursi yang berada tepat di sebelah tempat duduknya.

Gadis itu menoleh dan menemukan remaja tadi memerhatikannya dan segera membuang muka saat menyadari kejadian itu cukup memalukan.

Min Ji melirik, lelaki itu melirik sesudahnya. Terus begitu sampai seorang nenek tua naik pada halte berikutnya. Bus itu kini berisi tiga orang penumpang, sedangkan nenek tadi memilih duduk di tepian jendela di depan kursi Min Ji dan si lelaki muda – yang tampan.

“Permisi, Nak,”

“Ya?”

“Ya, Nek?”

Min Ji menoleh, lelaki itu juga. Samar – samar telinga gadis itu dapat mendengar kekehan kecil dari si pria bersurai hitam legam dengan senyun yang khas.

“Apa kalian -“

“Tidak!”

“Kami bahkan tidak saling mengenal!”

Nenek itu mengangguk paham sembari menahan ledak tawanya. Sementara, Min Ji mendengus sebal dan si lelaki muda hanya tersenyum.

“Orang – orang jaman sekarang itu berbeda, ya,”

Min Ji memberhentikan irama musiknya. Memfokuskan diri pada omongan wanita paruh baya di depannya.

“Aku sangat kesulitan untuk naik ke bus ini, namun, tidak ada yang membantuku.”

Min Ji dan pemuda itu mengangguk paham. Lagi – lagi melirik diri masing – masing dan tersenyum kala dentuman aneh menyapu rongga dada mereka.

“Kudengar ada pencurian paksa di daerah Seok Gu. Semoga saja para pencuri sialan itu tidak menganggu salah satu dari kita ya.” Nenek itu tersenyum seraya mengepal kedua tangan penuh harap kepada Tuhan.

“Anak muda, siapa namamu?”

God! This grandma’ doing so freakin’ good!

Min Ji berseru dalam hati. Kemudian, nama pemuda itu – Jeon Jung Kook – lebih banyak mendominasi pikirannya ketimbang suasana bus yang sepi ataupun ocehan nenek tua di bangku depan.

“Lalu, Nona, siapa namamu?”

Min Ji mendapati Jung Kook tengah meliriknya lagi dan lagi. Sementara, gadis itu mengatakan dengan gaya bicaranya yang normal, “Kim Min Ji. Namaku Kim Min Ji, halmeoni,”

“Aku senang dapat berbincang dengan kalian berdua. Aku akan turun di pemberhentian berikutnya. Terimakasih Nona Kim, Tuan Jeon,”

“Ya, sama – sama, Nek,”

“Sama – sama.”

Mengulum senyum, Min Ji mendapati dirinya menjadi bongkahan es tat kala Jung Kook tengah menatap jendela luar dengan fokus yang membuatnya berkali lipat lebih tampan.

Oh! My God!”bisiknya dan Jung Kook menoleh. Membiarkan manik mereka kembali bersinggungan untuk beberapa detik yang berlalu.

Ingin sekali Min Ji berkata why are you lookin’ at me like that? Atau Oh My God, those eyes really really freakin damn handsome!

Tapi, tak ada yang berhasil terucap olehnya. Min Ji menelan bulat – bulat kenyataan bahwa pemuda tampan nan ramah di sebelahnya adalah orang asing. Maka, tak seharusnya ia berpikir sedemikian rupa.

“Aku akan turun,” samar – samar Min Ji mendengar Jung Kook berbisik.

Gadis itu menoleh, tangannya bergerak gusar dan ia ingin waktu berhenti berputar ketika Jung Kook menoleh dan berkata, “Namaku Jeon Jung Kook. Salam kenal, Nona Min Ji. Kuharap kita dapat bertemu di lain waktu.”

Min Ji melongo. Namun, kesadaran sedikitnya kembali mengisi pikirannya. Ia membungkukkan bagian kepalanya sambil berkata, “Aku juga. Salam kenal, Jung Kook-ssi.”

Lalu, Jung Kook pamit turun. Sepenuhnya membuat Min Ji menelan bulat – bulat rasa kecewa dan beberapa rasa ingin tahunya tentang kehidupan pemuda itu.

Min Ji baru saja akan kembali mendengus pasrah sebelum maniknya mendapati sebuah kertas berukuran sedang yang berada di kursi Jung Kook tadi.

Namaku Jeon Jung Kook, tapi, Min Ji bisa memanggilku Jung Kook saja. Aku berada di line sembilan puluh tujuh dan aku rasa kau tak perlu memanggilku dengan embel – embel semacam oppa. ㅋㅋㅋㅋ ini menjadi sangat lucu karena aku menyadari bahwa ketertarikanku padamu lebih besar dibandingkan dengan ketertarikanku terhadap perjalanan pulang. Omong – omong, aku bersekolah di tempat yang sama denganmu, aku baru saja pindah dan akan masuk ke sekolah itu besok. Maka, aku sampaikan salam jumpa hingga kita akan bertemu lagi nantinya. Salam hangat, untuk Min Ji.

Jeon Jung Kook

With likes and peace

Min Ji hampir saja berteriak kencang sebelum ketukan jendela bus mengagetkannya. Jung Kook ada di sana. Mengetuk jendela tempat mereka duduk dengan senyum yang mengembang.

Samar, Min Ji dapat melihat Jung Kook berkata, “Aku menyukaimu, Min Ji!”

Oh, itu satu lagi yang membuat Min Ji mengulum senyuman hingga petang kembali menyongsong – keesokan harinya dan yang ditemukannya adalah jemari Jung Kook yang menggenggam jemarinya hangat.

Fin.

A/N :

Hahahahahahahaha, please, ijinkan aku untuk tertawa dahulu karena ini based on the true story. Thats why aku kasih genre Daily-life dan maafkan aku juga karena ini udah dipelitur banyaaak banget. Aslinya sih gak kayak gini ㅎㅎㅎㅎ

Agak sedih karena akhirnya aku bisa kembali nulis di ponsel lagi setelah aplikasinya beberapa hari menghilang. Yah, aku rasa segini dulu, sampaikan jumpaku juga pada kalian!

Dan, at least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s