Last Hope

|| Title : Last Hope  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Cha Sun Woo and a girl  || Minor Cast : Jin Young [B1A4] || Genre : Daily-Life, Romance, Slight, Lil bit Comedy – may be.  ||

|| Duration : Flash Fic || Rating : Teen ||

 // A script by \\

@futureasy

 

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

She is my last hope, not yours

.

Suasana di taman hiburan itu nampak ramai seperti biasa ketika Sun Woo mengambil shift pagi harinya. Jin Young berkata akan terlambat datang karena suatu urusan, tapi demi Tuhan ia tidak pernah ambil pusing dengan itu semua.

Hari-hari biasanya dapat Sun Woo lewati dengan mudah. Ia hanya tinggal bergelung dengan headphonenya dan mendengar lagu sampai larut – atau sibuk menata ulang tiket masuk yang berjejer tidak beraturan di meja kerjanya. Tapi, hari ini berbeda. Ia menata diri lebih baik dari sebelumnya, ingin terlihat lebih tertata dengan rapi.

“Hai,”

Oh, hai.”

Sun Woo menatap malas gadis di hadapannya. Hampir setiap hari gadis ini bertandang ke taman hiburan tempatnya bekerja. Sun Woo sendiri belum ingin ambil pikir kenapa gadis ini tidak memiliki kegiatan lain selain datang dan menghabiskan hari di sini. Bolak-balik membeli tiket masuk berbagai wahana sampai-sampai Sun Woo sudah hapal urutan wahana yang akan dinaikinya.

“Komidi putar untuk satu orang, bukan?”

Gadis itu menatapnya aneh, alisnya berjengit dan ia tertawa ringan –begitu lepas seperti burung merpati yang tengah mengudara. Pandangannya begitu halus seolah ia tidak memiliki beban kehidupan sama sekali.

Oh, halo, Nona! Jin Young di sini! Kautahulah, Sun Woo begitu malas untuk menyelesaikan pekerjaannya.” Gadis itu terkikik sementara Sun Woo masih repot mengumpat sebal atas aksi tiba-tiba Jin Young.

Bagaimana bisa pemuda itu menggeser posisinya saat ia sedang melayani pengunjung? Oh, atau yang lebih buruk, kapan ia datang dan dari mana ia masuk ke ruangan sempit itu? Sun Woo tidak mau tahu, yang jelas ia ingin pemuda itu mengganti gajinya sebelum ia dipecat dan menerima kompensasi sekecil nyamuk nantinya.

“Tidak, Jin Young. Kurasa Sun Woo sekarang sedang mengumpat di belakang sana,” ia berbisik, “Kau begitu mengejutkan.”

Lalu mereka berdua tertawa. Namun, secepatnya menyelesaikan urusan mereka karena tak ingin menuai protes pengunjung dalam antrean. Sun Woo menyibukkan dirinya dengan loket ke dua sementara Jin Young masih asyik mengumbar senyum bagi para pembeli tiket.

“Gadis itu, menarik, bukan?”

Sun Woo menatap Jin Young penuh tanda tanya sementara mereka menghabiskan istirahat makan siang dengan membeli sepaket kentang dan beef burger di salah satu restoran cepat saji di sana. Menghapus lapar dan jenuh dengan hidangan yang ada –setidaknya dapat menyumpal kelaparan untuk beberapa waktu mendatang, itu pikir Sun Woo.

“Kautahu Sun Woo, kudengar ia baru saja pindah ke sini saat pertama kali ia menjejakkan kakinya di sini dan aku tak  peduli bagaimana ia menatapmu begitu dalam, yang jelas aku sudah jatuh dalam pesonanya lebih dahulu dari yang kauperbuat nantinya,”

“A-apa?”

“Kubilang, aku menyukainya lebih dini. Jadi, kurasa ia akan berhenti mengagumimu dan memilih jatuh hati padaku.” Jin Young tersenyum penuh arti, berbisik pelan yang membuat Sun Woo bergidik ngeri, “atau aku perlu menculiknya agar dia menyukaiku? Hahaha.”

Sun Woo melemparnya dengan sebatang kentang goreng. Menimbulkan kegaduhan kecil di antara mereka meski selanjutnya semua itu dapat ditolerir. Sun Woo mengerti betapa Jin Young sudah terperangkap jauh dalam jerat pesona gadis itu. Namun, Sun Woo hanya belum memahami kenapa gadis itu justru jatuh hati padanya. Dia itu kan menyebalkan.

Matahari mendadak saja bersembunyi di balik awan dan menjatuhkan beberapa rintik air hujan ke permukaan tanah. Sedikitnya bertubrukkan dengan tubuh gadis itu yang berlari menembus hujan. Bajunya basah akan air, rambutnya tergerai tidak beraturan dan Sun Woo khawatir ia akan terkena demam saat gadis itu justru bertandang ke depan pos kecil tempatnya dan Jin Young bekerja.

Oh, apa yang kau lakukan di sini, Nona?”

Ucapannya terkesan dingin tanpa perasaan, sementara Jin Young datang dengan flu beratnya yang mengejutkan gadis itu. Tangannya bergetar, Sun Woo bisa melihat itu berikut buku-buku jemari gadis itu yang memucat.

Jin Young nampak tak bisa berbuat apa-apa, pemuda itu memilih meringkuk kembali di ruang istirahat pegawai – ia juga habis menembus derasnya hujan. Sun Woo nampak tak nyaman dengan kondisi ini, ia mendecak sebal sesaat sebelum melingkupi tubuh gadis di hadapannya dengan jaket tebal miliknya sendiri.

Hitung-hitung bonus karena telah datang setiap hari di sini. Tidak masalah, toh Sun Woo tidak merasa begitu kedinginan. Pemuda itu menyuguhkan secangkir susu sementara si gadis berkulit pucat nampak memperhatikannya dari tadi.

“T-terimakasih,”

“Ya, sama-sama, Nona.” Canggung. Sun Woo tak pernah tahu jika duduk berdua dengan gadis ini bisa membuatnya kehilangan akal sampai-sampai irama jantungnya tak beraturan.

Begitu aneh, begitu asing. Sun Woo bahkan tidak memahami kenapa gadis di hadapannya begitu terlihat memikat hari ini. Meski bibirnya pucat, kulit wajahnya juga, dan sekujur tubuhnya bergemetar tak tahan dengan dinginnya udara, ia tetaplah cantik seperti biasanya.

Sun Woo mendekatkan dirinya, seraya mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Tidak dapat lagi menyembunyikan bahwa ia juga membalas rasa gadis ini. Hanya saja, terlalu tabu. Ya, terlalu tabu karena selama ini ia belum pernah jatuh cinta. Belum pernah dirundung rasa semenarik ini hingga ia tidak dapat berkata dengan intonasi yang lebih halus pada gadis ini.

Jin Young terbangun dari tidurnya sesaat setelah rasa khawatir mendominasi dirinya. Ia menghampiri Sun Woo dan menemukan keduanya tengah beradu dekap sampai hatinya sakit.

Jin Young melangkah mundur, sedikitnya ingin sekali memukul wajah Sun Woo karena seenaknya memeluk gadis itu. Tapi, ini jelas di luar sangkut pautnya. Ia juga tahu gadis itu yang pertama Sun Woo sukai dan mungkin adalah harapan terakhirnya setelah kehilangan cinta untuk waktu yang sangat lama.

She is my last hope, not yours

Ya, gadis yang ada di dekapan Sun Woo jelas sekali telah menjadi harapan terakhirnya – juga yang pertama. Karena, seburuk apa ia memperlakukan gadis itu, Sun Woo tetap tak akan mampu menutupi rasa itu. Rasa yang sama dengan apa yang Jin Young punya.

“Kau boleh mengambilnya,” Jin Young mencicit dari balik dinding tempat Sun Woo berada. Celahnya yang tipis memudahkan Sun Woo untuk mendengar, maka ia membalas, “Tentu saja, ia harapan terakhirku, bukan kau.”

Fin.

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

2 thoughts on “Last Hope

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s