Missing

| M I N G |

|| Title :  Missing || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Zhang Yi Xing and a girl ||

|| Genre : Life, Hurt/Comfort, Family, Brother-ship ||

|| Duration : Flash Fic || Rating : Teen  ||

 // A script by \\

@futureasy

 

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

.

.

.

Aku tak keberatan saat kau tinggal sendiri, aku hanya ketakutan pada rasa rinduku padamu.

.

Jalanan kota penuh sesak dengan para pegawai yang sibuk mengambil jam makan siang mereka saat Yi Xing memutuskan untuk menaiki sebuah bus. Pria itu berjalan santai melewati pepohonan di taman kota, melangkah pasti menuju halte terdekat yang bisa dicapainya.

Dering ponsel mengaburkan pandangannya pada jalan, ia berjengit sedikit sebelum membaca memo yang muncul di layar ponselnya.

Lyn -November’s end.

Maniknya yang semula hampa mendadak tertutupi air mata yang berkumpul di pelupuk, siap tumpah kapan saja ia tak menahannya.

“Besok akhir dari november, Lyn,”

Ia mendesah kecil sesaat setelah mengatakan itu. Air mukanya berubah keruh. Tiba-tiba ingat dengan deadline dari novelnya -pekerjaannya.

“Apa aku harus membuat sesuatu tentangmu?”

Ia menelan ludahnya, menatap sedih aspal di pijakannya, “-atau perlukah aku menulis sesuatu tentang kita?”

Itu klise. Yi Xing jelas tahu bahwa bukan kata kita yang tepat untuk diucapnya. Semestinya itu menjadi kau-dan-aku.

Tepat saat itu bus yang ditunggunya datang. Pintunya membuka tapi yang dilakukan Yi Xing hanya berdiri menghadapnya.

Tahu-tahu saja ia berubah pikiran dan berkehendak lain.

Hey, kau akan naik atau tidak?Yi Xing menggeleng sesaat sebelum pintu tertutup dan sang Supir hanya bisa berdecak singkat.

Pria itu tidak ke mana-mana. Ia hanya mengedarkan pandang ke penjuru halte itu. Menggabungkan memorinya dengan keadaan halte yang sekarang berbeda.

Dahulu ada sebuah pot bunga cantik di sana.

“Cantik sekali, Xing-ge.”

Yi Xing tersenyum, sibuk mengangguk sementara memerhatikan seorang gadis dengan rambut hitam legam yang diurai bebas sebahunya. “Ya, tentu.”

Gadis itu mendecak, dia menempelkan jari telunjuknya pada lesung pipi Yi Xing yang dalam. Mendengus sebal, “Kau harus berbicara lebih banyak, Xing-ge, sungguh,”

Dia membiarkan tangannya yang bebas menutup sebagian wajahnya sendiri. Terbatuk sampai Yi Xing turut merasakan perihnya penyakit itu.

“Bagaimana jika aku tiada nanti? Apa kau akan benar-benar berhenti bicara?” Gadis itu mencicit pelan. Sibuk mengusap bekas darah di telapak tangannya dengan kain kecil.

Ya, Lyn benar. Mungkin, jika ia tiada Yi Xing akan berhenti berbicara. Tidak membiarkan seorangpun mendengar suaranya mengalun tersapu angin.

Ini buruk.

Yi Xing ingat di dekat papan reklame ini ada sebuah telepon koin. Mereka biasa menggunakannya sambil bersenda gurau.

Yi Xing menarik gagang telepon itu, menggenggamnya dalam diam. Maniknya berkilat lantaran air mata itu terus tertahan di sana.

“Lyn,” ucapnya sendu.

Ia ingin sekali gadis itu mendengarnya berbicara sekarang, tapi tidak untuk orang lain.

Semuanya terekam jelas di memorinya ketika gadis itu sibuk tertawa sambil bersenandung ringan di mikrofon telepon tua itu.

“Xing-ge,”

Yi Xing meneteskan air mata yang ia tahan semenjak tadi. Membiarkan dukanya larut dalam pilu.

Ia merindukan gadis itu.

Ia menginginkan gadis itu berdiri di sampingnya sekarang. Mengamit lengannya manja sembari tertawa renyah, atau paling tidak biarkan Yi Xing menatapnya sekali lagi.

Karena, ia merindukannya.

Tidak bisa dia hapuskan memori itu. Juga ketika kedua tungkai kakinya berlari menembus cerahnya sinar mentari penghujung siang.

Menengahi kerumunan orang-orang di lajur pejalan kaki dan berakhir di sebuah rumah yang terhitung tak terurus.

Ia melangkah masuk, ia ingat bagaimana gadis itu menatapnya sedih.

“Xing-ge,”

Yi Xing menatapnya. Menggenggam jemari demi jemari gadis di hadapannya.

“Aku tak akan meminta maaf, sungguh, namun -” gadis itu sulit menelan ludahnya. “-kumohon ampuni aku karena menitipkan rindu ini padamu.”

Yi Xing mengepalkan jemarinya. Pria itu tak bisa lagi menahan tangis. Ia tidak keberatan –tidak, sungguh ia tak keberatan. Tapi, ia juga tak bisa menahan kerinduan yang menyeruak itu.

Dia mengedarkan pandangnya. Di sudut ruangan itu harusnya ia akan sibuk berdiskusi tentang kelanjutan novelnya dengan gadis itu, atau paling tidak memakan semangkuk potongan apel sambil menatap diri satu sama lain.

Air mata Yi Xing masih menetes tat kala ponselnya berdering, kontak ibunya jelas tertera di sana.

“Halo, Bu,”

“Yi Xing…”

Ibunya menangis di seberang sana. Memohon putranya untuk kembali pulang.

“Zhang Yi Lyn sungguh tak akan kembali, nak,”

Yi Xing menutup sebagian wajahnya, menahan jerit tangis penuh luka yang ia punya.

Dari jarak ini, jelas sekali bahwa dia sendiri tidak berbeda dengan gadis itu. Wajah mereka sama, hidung mancung mereka, bibir tipis, juga lesung pipi.

Yi Xing ingat gadis itu terkikik geli, “Lihat, Bu! Xing-ge punya lesung pipi di sebelah kanan, dan aku di kiri.”

Ibunya tersenyum, “Tentu, sayang. Kalian itu kembar.”

Air matanya jatuh lagi. Yi Xing berusaha menstabilkan suaranya tapi tak bisa semudah itu, “Aku akan pulang,”

Ibunya bernapas lega di seberang sana. Hendaknya berterimakasih pada keputusan sang Putra.

“Tapi, biarkan aku tidur di kamar Lyn, Bu.”

Ibunya tersenyum. Lama sebelum ini wanita paruh baya ini ingat bagaimana pasangan kembar itu menggenggam erat jemari yang satunya. Menatap kalut diri satu sama lain ketika menemukan Lyn divonis sirosis hati.

“Cepat atau lambat aku akan meninggalkanmu, ge. Meninggalkan ibu dan kau di sini, menyusul ayah di surga sana.”

Gadis itu menjatuhkan setetes air mata. Yi Xing memandangnya kalut sementara menggenggam jemari gadis itu erat-erat, tidak mau gadis itu pergi.

“Kau akan sendirian, apa kau tak keberatan dengan itu?”

Yi Xing menggeleng. Pria itu secepat mungkin pergi dari rumah tua itu. Itu rumah keluarga mereka, jauh sebelum ayahnya meninggal karena penyakit yang sama.

Saat gadis itu, Lyn masih bermain bersamanya sepanjang hari. Dia kembali teringat akan ranjang rumah sakit tempat Lyn dirawat sebelumnya.

Itu Lyn.

Itu Zhang Yi Lyn, adiknya yang malang. Itu si gadis berambut sebahu dengan lesung pipi di bagian kiri wajahnya. Itu Zhang Yi Lyn, adik kembar yang lahir dua setengah menit setelah dirinya.

“Aku tak keberatan, sungguh,”

Yi Xing mencoba tersenyum. Ia mengusap puncak kepala pasangan kembarnya. Membagi rasa hangat dan kalut itu bersama-sama.

Jauh di atas itu semua, ia juga ingin adiknya bahagia. Mungkin hidup di luar dunia bisa membuatnya sehat kembali, tidak menangisi dirinya setiap malam.

“Itu bagus. Kau saudara terhebat sepanjang masa, Xing-ge.” Yi Lyn tersenyum kecil, ia merapatkan kelopak matanya.

Yi Xing masih di sana, tepat saat fungsi hati Yi Lyn menurun drastis hingga menunjuk presentase angka nol persen.

Ia percaya dan tidak percaya. Pria itu menangis, ia mengecup jemari demi jemari Lyn yang beraroma anti-septik. Menggambarkan seberapa lama ia telah terbujur lemah di sini.

Yi Xing berusaha meredam tangisnya saat ia menekan tombol merah di sisi headboard ranjang Yi Lyn. Melakukannya setenang mungkin.

Ia mengecup wajah adiknya ;pipinya, hidungnya, kelopaknya yang tertutup, dan dahinya. Yi Xing menyingkirkan anak rambut Yi Lyn, menatanya dengan rapi.

Ia mendekap adiknya, ah salah, maksudnya, ia mendekap raga adiknya yang telah kosong.

Yi Xing mengusap wajahnya yang lembab. Ia melangkah memasuki apartemen yang ditinggali ia dan Ibunya. Hanya berdua. Namun, kenangan akan ayah dan Yi Lyn jelas akan selamanya menetap di sudut hatinya.

Ia ingat kata-katanya sesaat setelah untuk terakhir kalinya mendekap tubuh Lyn malam itu. Ia tersenyum.

“Aku tak keberatan saat kau tinggal sendiri, aku hanya ketakutan pada rasa rinduku padamu.”

Ya, rasa rindunya memang sebesar ia mencintai Yi Lyn sang Adik, sebanyak waktu yang mereka habiskan bersama dan secuil rasa sakit yang berhamburan ke luar setiap kali bayang-bayang Yi Lyn menyapu dirinya.

Yi Xing merindukannya.

 

| E N D |

 

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home! AND….

Astaga mamamamamamama ceritanya dengerin lagu Missing You-nya 2NE1 dan aku mabok jadinya langsung ngetik ini. Terus berusaha make it simple sih tapi gatau deh ini menurut kalian gimana, udah gitu aku semacam bosen kalau tulisannya itu Romance mulu, jadilah ini brothership yang ugh manis banget aku mau punya pasangan kembar seperti Xing Xing!  please dikomen yaa, oh atau aku akan sedih /gapeduli/ yaa DAN EXO BAKAL COMEBACK SEMUANYA PLEASE BANGET DEH ADUUUH! LETS FANGIRLING-AN!!! XDD

10 thoughts on “Missing

  1. Hai kak, aku reader baru:) salam kenal
    bagus bangeeetttttt, pengen nangis masa bacanya;__;
    apalagi aku yixingstan. Hueeee, ngga ngebayangin kalo itu beneran terjadi T.T

    • Hai, hey aku harus manggil kamu apaaa? hehehehe lusi kah?
      Manggil aku ‘kak’ berarti kamu di bawah line 98 yaa?😉 salam kenal yaaa:D

      Hueee ;A; iya aku juga sendu pas nulis ini, gatau kenapa bisa jadi sad begitu, balladnya 2NE1 memang menghajar banget tauuk😄

      Wow kamu Yixing stan? seneng deh bisa ketemu stanner nya Yixing, aku dari stannya Sehun dan Luhan. DAN OHIYA! Yixingmu sempat membombardir pikiranku untuk beberapa waktu loh, abis fanartnya dia cakeup cakeup banget! >//<

      Makasih ya udah dateng ke sini dan baca Missing yang ada Yixing dan Miss Xingnya /apaandhil.
      Sampai jumpaaaaaa~

      • Iya, lusi cukup kekeke
        Iya, aku line 98._. Salam kenal juga kak^^

        He’eh T.T

        Lo kak sama, aku juga hunhan shipper._.
        Intinya aku ngepens sama hunhanlay T.T *maruk
        Ga cuman cakep kak, tapi bener bener silau ngeliatnya, ampe susah nafas, heuheu ;_; *apaancobasilau(?)

        Yaak, kutunggu Ff mu yang lain kak:3
        Keep writing!^^)9

  2. Pingback: Lasting | futureasy's ciel

  3. Kak. ini jam setengah sebelas. kak besok aku masih harus sekolah. TAPI AKU GAK NGANTUK LAGI PAS BACA INI~~~! Tanggung jawab ah, ini lebih angst lebih ngeri dan lebih menyayat hati dibanding yang sequel-nya ituuuu eh apa judulnya /pikun/ /lupakan/
    Aku suka banget karena ini tentang persaudaraan, aku inget temenku yang kembar, inget kakakku yg meski beda 8 tahun tapi sayang sama aku….
    Yixing mungkin tipe yg gak suka bicara, tapi dia sayang Lyn setulus hatinya, apalagi kembaran itu punya ikatan batin yg jauh lebih kuat.

    Kak duh aku so interest ini karena ini fic pertama kakak yg sukses bikin aku nangis!
    Gak percaya? malem buta kak, semua udah ndengkur dan aku nangis sesenggukan. kak dhila tanggung jawaaab T.T
    Heuu udah ya kak, aku nge-feel bgt yg pasti. dan dijamin aku bakal naksir couple Luhan Lyn nanti ahaha. See you on next fic, kak dhila~

    Your lovely sista,
    Niswa xD

    • Nis, ini jam setengah tiga sore /apahubungannya/ dan hari ini aku gak sekolah, memilih liburkan diri dari classmeet yang bikin bosen. Oumaigad! Benarkah ini semenyedihkan itu? heuheuheu, aku juga gapaham, denger Missing Younya 2NE1 dan langsung ngalir deras idenya, ditambah pic adorablenya Yixing di tumblr juga sih, hohohoho.

      Eh temenku juga ada yang kembar! Tapi sejeniskelamin sih, jadinya gaseru, tapi aku tuh semacam ngarep banget bisa punya pasangan kembar beda jeniskelamin kayak Yi Xing dan Yi Lyn gini, sayang-sayangan pulak, manis bangaattt! Euh emang iya sih, kakak aku juga biarpun aku suka bully /maafinakukak/ tapi sayangnya ke aku deras bagai cintanya ke bapak Siwon heuheuheu {} saudara itu is the best, Nis! ^^

      Huaaa, ehdemiapa kamu nangis? eastaga, kamu harus tau aku sensitif orangnya dan aku juga ikutan terharu gini baca komentar kamu ini, galebih-lebihin seriusan aku. Percaya, heuuuu Niswaaaaa, makasih udah nangisin ini. Tapi aku gapaham harus gimana bentuk tanggung jawabnya, maybe aku peluk aja yaaaa. Free peyuuk {} Pukpuk Niswa cayaang.

      Amin, semoga Luhan-Lyn diberkahi! hahahaha see youuu, ppaippai

  4. DHILAAAAA!!!!!
    jadi aku mau baca yang lasting, tapi ada another story daaaan ter-click-lah ini
    ah dhilaaaa ini menyentuh! as yiu said :’) aku juga mau punya saudara kembar kayak gituuu
    dia kuaaaaat :”) nyaris nangis loh aku, tapi lansung inget kalo lagi baca di kampus /?
    aaaaah dhilaaaaa meskipun gak berujung bahagia (gak seluruhnya) meskipun gak romance, meskipun ini persaudaraan, tapi kok aku dapet manisnya dhilaaaa :”””
    tapi aku terharuuuuuuuu huhuhuhuhu
    tanggung jawab pokoknya dhilaaa /?

    • Kak Thia Kak Thia Kak Thia!
      Sebagai pengakuan, sebenernya tadi jam sepuluhan udah baca komen kakak ini dan maafin akuuuu, sumpah deh, aku udah gak megang laptop lagi, dan ini om lewat hp, agak sulit liat notif keseluruhan kecuali aku rajin ngerepage semua ffku ;;;;;;___;;;;; maafin aku yah, Kakak, baru dibales.

      IYAAAA! Wah inilah fic yang pertama kubuat sebelum merangsek ke feel Luhan-Lyn dan segala macam serba-serbinya pasangan kembar Yi Xing-Yi Lyn. Ini ditulis di perjalanan pulang, sebagai salah satu bentuk rindu kakakku sih ;;;(((

      Thanks for “menyentuh”nya, Kak😄 Aku seneng ini nyentuh kalbu dan ah, jangan nangis huaaaa, kampus belum jadi tempat baik untuk menangisi fic, Kak. They are watching you!

      Aaaaaa apa yang harus aku lakukan untuk bertanggung jawab? Gimana kalau aku kasih lanjutannya Missing dan Lasting?😉 Kebetulan aku udah buat dua seri lagi yang hantarkan tiga orang ini jadi pemainnya. Hehehehe

      Free pukpuk untuk kakak yang menangisi tulisannya Kak Nyun di ifk ;;_;; itu lebih menyentuh, Kak. Yurinya… Danielnya… okay see you! ^^

      • dhillaaaaaa ya ampuuunnn segitunya pengakuannya dhilaaaa

        hehehehe iya itu dia dhil jadi menahan tangis haru ;”
        eh fictnya ka nyun yg aku baca bikin nangis semua maaa T.T

        seperti yg aku bilang di lasting, besok aku mau baca pertanggung jawabannya dhila :p hihihihi
        see ya there!

  5. Pingback: Times | futureasy's ciel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s