Until Whenever

|  Until Whenever  |

|| Title : Until Whenever  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Yook Sung Jae and a cast || Genre : Family, Life, Sad ||

|| Duration : Flash Fic (Under 1000 words ) || Rating : General ||

 

 // A script by \\

@futureasy

 

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

.

.

.

Sung Jae tidak punya sahabat lain selain teddy bear-nya

Hari itu hari hujan. Gumpalan awan beradu bersama riak air di langit sana. Sementara angin menderu bersamaan dengan daun kering yang berguguran di tanah Seoul.

Sung Jae menatap kosong secangkir susu hangat di hadapannya. Teddy Bear berkata bahwa susu merupakan yang terbaik ketimbang bermacam jenis kopi yang biasa dijual di kafe milik keluarga mereka.

“Hai,”

Sung Jae menoleh, kemudian lelaki itu buru – buru mengusap bagian matanya. Damnit, bagaimana mungkin boneka beruang menyapanya begitu.

“Yook Sung Jae, jangan melamun begitu.”

Suaranya kembali melantun. Sung Jae kebingungan setengah mati. Tuhan, Sung Jae mengharap memiliki teman manusia – bukan teddy bear yang berbicara.

Pemuda itu mengerang pelan. Ia mengacak rambutnya frustasi dan bergegas meninggalkan boneka itu. Satu – satunya yang selalu ada setiap tawa dan tangis mengisi harinya.

Sung Jae bepergian ke tempat lain. Meramaikan keadaan dengan teman – teman sebayanya. Bermain hingga larut dan pulang dalam keadaan berantakan.

Biasanya ia akan repot-repot mengganti warna rambutnya yang legam menjadi merah maroon atau sekedar aquatic green. Berulang kali ia begitu, berkali lipat teddy bearnya merasa sedih. Kecewa karena tidak bisa melarang Sung Jae lebih jauh -menarik pemuda ini dari kehidupan macam itu.

Tetapi, boneka itu tetaplah menunggu di sana. Menunggu hingga kalau ia bisa merasakan, mungkin ia akan merasakan kram di sekujur tubuhnya.

Tapi, tak mengapa. Karena, malamnya, Sung Jae akan bercerita selama beberapa jam dan ia akan merasa lebih baik untuk tidur dengan memeluk bonekanya.

“Beruang, aku ingin bercerita,”

Oh ya, ceritakan saja kalau begitu, Sung Jae.”

“Hari ini Jun Hong mengajakku bermain arkade dan kami pulang larut lagi. Aku berpikir meninggalkanmu sendirian mungkin akan sedikit berat. Namun, aku kadang lebih merasa nyaman pada mereka ketimbang berdiam diri di sini,”

Suasana hening tak terelakkan, Sung Jae acuh-tak-acuh menunggu jawaban teddy bear itu. Menunggu pernyataannya.

Aku selalu memikirkanmu di setiap saat, Yook Sung Jae.”

“Tapi, aku benci menghabiskan waktuku bersama boneka usang sepertimu. Aku bosan.”

Kau bisa neminta sesuatu dariku agar kau tidak merasa bosan. Kumohon, Sung Jae,”

Sung Jae nampak berpikir. Pemuda itu mengetukkan jemari pada dagunya yang putih bersih.

“Akhir pekan lalu, aku kehilangan kancing kemejaku, bisakah aku mengambil satu kancing di kemejamu? Aku berpikir kau tidak terlalu membutuhkannya,”

Ambillah, Sung Jae.”

Begitu seterusnya. Menunggu Sung Jae, boneka itu terduduk di kursi depan. Menatap lelah jarum jam yang masih terus berdentang.

Sung Jae bukan lagi remaja yang menghabiskan waktu untuk bermain arkade. Umurnya 22 tahun dan sekarang ia punya kesibukkan tersendiri -kuliah.

Ia pulang malam. Mengeluh untuk setumpuk tugas dan kurangnya uang untuk membayar bus dan makanan.

“Pernahkah kau mengetahui kelelahanku?”

Aku mengerti. Sangat memahamimu, Sung Jae.”

“Tidak. Kau tidak!”

Terus begitu. Emosinya memuncak, kemudian ia akan kembali lagi pada sang Beruang. Kembali dan meminta sesuatu.

“Beruang, aku membutuhkan satu matamu, aku harus menyelesaikan praktekku untuk lulus sarjana,”

“Ambillah, Sung Jae. Aku tak keberatan meski dengan satu mata.”

“Terimakasih,”

“Tentu.”

Kemudian, Sung Jae pergi dengan bahan prakteknya. Masuk ke sidang kelulusan dan ia disahkan menjadi sarjana.

Saat itu, malam hari tiba lebih cepat dari biasanya. Sung Jae berusia 28 tahun dan dia akan menimang bayinya. Ia mencari boneka itu di antara tumpukan barang usang di bagian gudangnya.

Ke mana dia?

Batin Sung Jae berbicara. Namun, seberapa keras ia mencari boneka usang itu, Ia tetap tak menemukannya.

“Beruang, aku membutuhkanmu,”

Ya. Aku di sini, Sung Jae. Kau butuh bantuan apa?”

Sung Jae nampak berpikir. Sebelumnya tak tega untuk menyampaikan rasa hatinya, tapi kemudian ia melanjutkan, “Bayiku membutuhkan selimut yang tebal. Aku membutuhkan kulitmu untuk menjadi bahannya. Aku tak punya uang untuk membeli-“

“Ambillah. Aku tak keberatan. Toh, itu untuk anakmu. Artinya aku dapat menyenangkan hatimu, bukan?”

Err, ya, mungkin?”

Maka, malam itu, di akhir malam natal, Sung Jae menguliti buatan pabrik dari bonekanya. Membiarkan boneka itu terlihat semakin rusak, dan rusak.

Ada kalanya Sung Jae merasa kasihan. Hatinya pedih, ia merasa iba. Namun, ia yakin kehidupan tetap harus berjalan. Karena, dia akan terus hidup.

Begitu banyak pengorbanan yang telah beruang itu berikan. Meski, hanya senyum getir dan tatapan penuh harap yang dapat Sung Jae beri. Boneka itu, menjadi sendirian. Semakin usang, semakin ringkih, semakin ditinggalkan.

Boneka itu merindukan Sung Jae. Merindukan masa – masa di mana pemuda itu masihlah seorang bocah lelaki yang selalu mengelu – elukannya. Yang setiap saat memeluknya dan tak ragu melayangkan kecupan penuh kasih sayang padanya.

“Boneka,”

Sung Jae bersuara, nadanya tenang layaknya Sung Jae kecil yang selalu berada di sampingnya.

“Aku kini menua,”

Sung Jae melanjutkan kata – katanya. Pria paruh baya itu memeluk bonekanya penuh kasih. Meski, yang ada hanya busa lapuk yang kusam. Tak ada lagi boneka empuk yang membuatnya merasa nyaman di setiap rengkuhnya.

Sung Jae menangis. Air matanya tumpah seiring bayang – bayang boneka itu yang dulunya utuh berada di hadapannya.

“Bukankah aku keterlaluan?”

Sung Jae mengusap bekas air mata di pipinya yang mengeriput. Ia tahu bahwa segalanya telah berlalu. Ia menyesal, mengharap banyak bahwa boneka itu akan hadir kembali dalam hidupnya.

Karena, ketika ia memutuskan untuk melupakan bonekanya, ia tahu segalanya telah salah.

Karena, bonekanya bagai air dalam hidupnya. Bagaikan oksigen, selayaknya sumber kehidupan.

Sung Jae menyesal. Sangat menyesal.

Sesungguhnya, boneka itu selalu ada di setiap saatnya. Menjadi seorang sahabat, rumah, pelindung, teman lama, saudara, dan Ibunya.

Fin.

A/N :

Owkay, bagi kalian yang sudah pernah baca, terutama nonton kisah Pohon Apel. Aku yakin kalian bakal sangat mengerti, kalau perlu menitikkan air mata. Karena, sesungguhnya, boneka di sini adalah orang tua. Terutama Ibu. Orang yang selalu ada untuk anak – anaknya, meski kekhilafan kerap kali menghancurkan segala kemistri yang sudah terbangun secara lahiriah.

Aku sih nangis pas nonton ini. Biarpun cuma susunan kalimat doang, astaga itu sedihnya sangat teramat mendalam.

So yeah, maaf kalau feelnya gak dapet apa gimana. Aku cuma buat fic ini di waktu – waktu kosong yang aku punya.

Dan, maaf, karena kamu mungkin merasa ini sangat pendek untuk ukuran vignette, tapi begitulah adanya. Hahahaha. DAN BUAT SEMUA CREW, Terutama Fikha, fikh sumpah maafin aku baru comeback malam ini dan ini Cuma sekedar flash fic, sumpah aku berdosa heuheuheu ;A;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s