Lasting

tumblr_mxbf2jSmGZ1srpqnao2_500

|| Title :  Lasting || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : A girl and Xi Luhan  || Support Cast : Zhang Yi Xing || Genre : Life, Hurt/Comfort, Romance ||

|| Duration : Flash Fic || Rating : Teen  ||

 Another story after : Missing

 // A script by \\

@futureasy

Duka pesakitan itu bukan hanya menjalar di seluruh tubuhku, tapi juga di sini, jauh di dalam benakku, benak untuk merasakan segala sesuatu tentang kau dan aku.

Sore itu taman rumah sakit sedikit ramai dikunjungi para keluarga pasien. Di ujung sana ada sebuah keluarga yang bahagia, lantaran mengunjungi istri yang baru saja melahirkan anak mereka.

Yi Lyn tersenyum.

Lain lagi dengan sepasang anak di dekat kolam kecil itu, mereka baru saja melakukan kemoterapi, Yi Lyn dengar mereka sudah divonis kanker sejak dua tahun yang lalu.

Yi Lyn sendirian. Maniknya yang kecokelatan hanya mampu menatap sebuah pohon di seberang sana. Jika ia mengingatnya, pohon adalah salah satu obyek yang sering ia dan Yi Xing kunjungi.

Mereka bermain, menghabiskan waktu bersama. Bahkan sekalipun ayah mereka dikabarkan meninggal dunia akibat penyakit yang sama. Ini ironis. Mengingat Yi Xing dan Yi Lyn bahkan tidak terlalu familiar dengan penyakit itu, sirosis hati.

“Kau sendirian saja?”

Yi Lyn menoleh kepada asal suara yang lembut itu. Ia mendapati seorang pasien lain bername tag Luhan di seragam rumah sakit menghampiri dirinya.

Pemuda itu tersenyum meski Yi Lyn dapat dengan mudah mengetahui seberapa rapuhnya ia. “Hai, ya, aku sedang menunggu keluargaku datang. Kau sendiri?”

Pemuda itu menghela napas, ia melirik Yi Lyn sedih. “Keluargaku semuanya meninggal akibat kecalakaan yang turut melibatkan aku,”

“Ma-maaf, aku tidak bermaksud, Luhan, sungguh.” Pemuda itu mengangguk paham, ia sudah biasa. “Tidak apa, Zhang Yi Lyn?”

Ia menelisik name tag di seragam pasien Lyn dengan menggantungkan kalimatnya. Yi Lyn mengangguk. “Ya, namaku Yi Lyn.”

Pemuda bernama Luhan itu tersenyum, “Senang bertemu denganmu, Lyn,”

“Tentu.”

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti mentari. Pagi itu embun masih setia bertengger di pucuk daun saat Luhan mengarahkan kursi rodanya ke ruang rawat Yi Lyn.

“Hey,” pemuda itu bersuara. Mendapati Yi Lyn sudah bangun dari tidurnya. “Apa kabarmu pagi ini?”

Mereka mengobrol. Berbincang hangat tentang cuaca atau bencana alam. Melingkupi diri satu sama lain dengan kehangatan. Menghabiskan waktu dengan penuh seolah tak ada lagi hari esok.

Setelah menghabiskan sarapannya, Luhan kembali menghela napas. “Lyn, bagaimana jika aku mati hari ini?”

Yi Lyn hampir saja tersedak liurnya sendiri kalau Luhan tidak tiba-tiba menambahkan, “hanya bertanya,”

Gadis itu menerawang jauh ke langit sana. Sejujurnya pertanyaan semacam itu juga sering nenghampiri benaknya, membuatnya tak dapat tidur dengan lelap.

“Aku tidak tahu. Yang kupahami mungkin kau akan bahagia, Luhan. Berjumpa dengan keluargamu di atas sana,” Gadis itu tersenyum. “Aku tidak tahu apa kau jujur atas pernyataanmu waktu itu, saat kau berkata bahwa keluargamu meninggal pada kecelakaan besar itu. Yang jelas, aku tahu kau merindukan mereka.”

Luhan memandang gadis itu setengah kagum, setengah lagi telak sedih atas pernyataannya sendiri.

Keluarganya tidak mati pada tabrakan besar yang ia ceritakan. Mereka menghadap Tuhan dengan tenang. Mereka pengidap AIDS.

Luhan ingat saat kecil dulu ibu dan ayahnya kerap kali mengajaknya mendonorkan darah setiap bulannya. Mereka akan tersenyum cerah seolah telah menyelamatkan berjuta orang.

Itu benar.

Mereka memanglah menyelamatkan sejuta atau bahkan lebih orang yang membutuhkan. Tapi, dengan itu mereka membunuh diri mereka sendiri.

“Luhan, kau baik-baik saja?”

Pemuda itu terengah, ia kembali sadar pada apa yang ada di hadapannya. Ia mengangguk, “Ya, tentu.”

Luhan memandang jalanan di luar sana. Ia rindu beraktivitas, terlebih jika ia dapat dengan beruntung memboyong Lyn juga.

Ia menyukai gadis ini.

Ia suka melihat Yi Lyn tersenyum, atau saat gadis itu menolak meminum obatnya. Ia menangis saat gadis itu terbatuk dan mengeluarkan darah, ia turut menderita.

Tapi, Yi Lyn tentu bahagia. Luhan tahu itu ketika suatu malam seorang pria yang berperawakan sama dengan Yi Lyn datang. Mereka berpelukan dan saling mengecup wajah satu sama lain.

Luhan sedih.

Ia berpikir mungkin orang sepertinya memang tidak pantas berada di dunia ini. Kerap kali pria itu datang, mereka mengobrol hangat seolah Luhan tidak lagi terlihat.

Malam itu bulan memantulkan sinar keperakkannya ke tirai jendela kamar rawat Luhan. Pemuda itu menggigil.

Seluruh tubuhnya terasa kaku, sementara peluh bersuhu rendah justru menguar dari pori-porinya. Ia sesak napas.

Inginnya ia menekan tombol darurat, namun ia tidak mampu. Ia terlalu sedih, terlalu takut untuk melihat Yi Lyn menderita lagi. Terlebih ketika gadis itu mengeluarkan darah, atau di atas itu semua, ia tak lagi tahan untuk melihat Yi Lyn bersama pria itu.

“Yi Lyn,” Luhan bernapas berat. Seolah oksigen tak mampu bertukar dengan karbon dioksida. Pria itu menangis dalam diam, tangannya mengepal dan ia berdoa.

“Aku menyayangimu,” ia bersuara lagi. Kali ini volumenya lebih kecil, nyaris tidak terdengar.

“Kalau aku punya kesempatan untuk memutar balik waktu, kalau aku punya kekuatan untuk menghapus vonis AIDS yang konyol ini, aku ingin kau berada di sisiku.” Luhan berbisik lagi, sendirian.

“Aku ingin kita bersama dan memerangi sirosis hatimu, hanya kau dan aku. Lalu kita akan bahagia, menutup mata bersama-sama dengan tenang.”

Ia menangis dan menangis.

Sekujur tubuhnya makin terasa digigit dingin. Di malam yang sunyi itu, ia menghembuskan napas terakhirnya. Ia menyebutkan nama Lyn untuk terakhir kalinya. Tanda bahwa ia benar-benar menyayangi gadis itu.

There is nothing to blame your self with

Yi Lyn tak akan pernah lupa betapa hangatnya jemari Luhan yang mengusap peluh di pelipisnya. Gadis itu tak akan pernah bisa meninggalkan kenangan indah bersama Luhan begitu saja. Betapa rewelnya ia dan pria itu hanya mampu tersenyum, tersenyum, dan tersenyum.

Sudah lebih dari satu bulan dan tinggal tanpa kehadiran Luhan merupakan pukulan hebat baginya. Terlebih dokter belum memperbolehkannya berjalan ke luar dari kamar, ini sangat mengesalkan.

“Kau sedang melamunkan siapa?” Yi Xing bertanya di sebelahnya. Maniknya menatap lurus ke mata Lyn sementara gadis itu membiarkan air mata berkumpul di pelupuk matanya.

Dia memandang jendela dengan tatap hampa. Kapan Luhan akan kembali? Atau kenapa pemuda itu tak kunjung menampakkan dirinya di sini –bersedekap bersama dan berbagi cerita ringan sepanjang malam. Yi Lyn butuh dirinya, dia merindukan Luhan.

Gadis itu tiba-tiba saja menarik lengan Yi Xing. Tatapannya memohon, begitu lemah sampai Yi Xing tidak bisa melakukan apapun selain meladeni permintaannya.

Tapi, pasien bernama Xi Luhan sudah meninggal dunia, tuan Muda,”

Yi Xing tidak peduli. Dia pergi ke kamar rawat Luhan, tidak ada keluarga yang seharusnya menangisi kepergian pemuda itu. Dia sendirian, terbujur pucat dan senyumnya bagai menghunus perasaan Yi Xing. Senyuman hangat yang menyejukkan, tapi juga melambangkan betapa rapuhnya ia sebelum ini.

“Luhan,” Yi Lyn berbisik, lirih sekali. Gadis itu memandang foto Luhan yang tercetak di layar ponsel Yi Xing. Pria itu tersenyum, oh¸betapa Yi Lyn merindukan senyuman itu. Seulas senyum yang mampu membangkitkan dunianya, dunia mereka.

Yi Lyn menghapus air mata yang menuruni lekuk pipinya, dia juga tersenyum. Maniknya menubruk pandang Yi Xing. Merobohkan dinding ketakutan yang sedari tadi Yi Xing bangun –dia takut, takut adiknya akan mengetahui bahwa pemuda bernama Luhan sudah tiada.

“Aku tahu pasti akan begini –“ Yi Lyn membasahi kerongkongannya dengan menegak liur. Tangan gadis itu bergetar, dia memegang lengan Yi Xing penuh harap. “-aku punya permintaan lain untukmu, ge,”

Yi Xing memandangnya dalam diam. “Apa itu, Yi Lyn?”

Semestinya seisi dunia tahu permintaan orang-orang di ambang kematian seperti Yi Lyn dan Luhan merupakan satu yang harusnya dapat dipenuhi. Tapi, Yi Xing dapat memahaminya ketika air mata justru mengalir dari pelupuknya sendiri.

Dia berjanji.

Satu perjanjian kecil dengan menempelkan ibu jarinya pada ibu jari Yi Lyn –pasangan kembarnya;hidup dan matinya ia.

Hari itu salju menuruni wilayah perbukitan tidak terlalu deras sehingga jasad Yi Lyn dapat dimakamkan dengan tenang. Yi Xing mengeratkan mantel hangatnya, sayup-sayup mendengar tawa adiknya yang lembut.

Terimakasih, Yi Xing-ge,” dia tersenyum. Memandang tumpukan batu di hadapnya dengan seksama, seolah melihat pasangan kembarnya itu tengah tersenyum hangat sambil terduduk santai di sana.

Sayangnya, itu bukan apa-apa.

Yi Xing menahan tangisnya ketika melihat tumpukan batu di sebelah milik adiknya. Itu Xi Luhan. Itu mereka, bersebelahan selayaknya pasangan yang telah merajut cinta.

Aku ingin selalu bersamamu, tapi bila itu tak mungkin, perbolehkan aku mengisi kehidupan sesudah ini bersama Luhan ge, Yi Xing.”

Oh, ya. Yi Xing sudah melaksanakan permintaan itu dengan benar. Dia tidak egois dalam hal ini. Tidak juga bisa membiarkan hidup adiknya semakin mengenaskan, lebih menyedihkan dari drama penuh tangis di layar teve.

Satu hal yang kupinta, satukan kami

meski kekal tak akan sampai menyelimuti takdir.

 

| END |

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

12 thoughts on “Lasting

  1. Hai Dhila. Kamu jahat sekali heuheu ;-;
    Bikin aku nangis tengah malem T.T
    Sumpah aku nangis baca ini, setelah baca Missing mu waktu itu. Gila Dhilaaa gila! Kok bisa kamu bikin epep angst. Kok kamu tega Dhila? Nge’shutdown’ si Lu-ge tercintaku? Kok gitu dhil? heuheu ;-; /nangisdipojokan//lapingus/

    Sekian. Keep writing dhila^^)9

    • Hai Lusiii {} waduuuh, heuheu baru baca ini aku langsung dikata jahat huaaaaaaaaaaaaa
      aaaah, aaaagimana ini, kamu juga bikin aku terharu pas baca ini. esumpah aku gabohong, aku kan anaknya sensitif akut. heuheu maafin aku ya bikin kamu nangis gitu, lusiii {}
      Luhannnya… /bergeming/ maafin aku, aku gaada pilihan lain, abisan aku juga gatega liat dia hidup tapi menderita udah gitu dia kan sempet terbakar api cemburu huhuhuhu.
      Keep reading and semangat, aku juga mau baca tulisan kamu,🙂 {}
      thanks banget udah nangis dan baca dan tinggalin komen dan buat aku terharu yaa lusiii {} loveyouu

      • Ya maaf deh;_; swear kemaren sempet kebawa emosi bacanya huhuhu

        Tapi beneran bagus kok dhila, gila! Kenapa nggak sekalian aja bikin novel?._.
        Yah gapapadeh, asal Luhan bahagia disana dengan Lyn, meski si Lay.. /speechless/

        Duh gimana ya, aku orangnya maniak banget sama yang namanya tulisan, apalagi kalo itu berwujud FF, dan novel. Tapi apadaya, tulisanku ngga sebagus tulisan kalian2-_- jadi ya..
        Aku jarang nulis._.

        Iya, makasi juga uda ngehibur aku dengan tulisan indahmu. Loveyoutoooo{}

  2. Hey, I’m new reader:)) my twitter : @laniaarr dan sudah follow twitter author!
    Aku baca kalimat ini “Tapi, pasien bernama Xi Luhan sudah meninggal dunia, tuan Muda,” bener-bener nyesekT.T Lu-ge aduuuhh nyesek bgt inimah-_-
    Aku suka karakter Lay disini bener-bener manly dan looks so humbble gimana gitu. Tapi tetep nyeseknya pas kalimat itu! Gabisa bayangin kalau itu beneran u,u
    Jadi Yi Lyn dan Yi Xing itu kembar ya? Aku ga bisa bayangin Lay versi wanita but overall this story is so goood^^ Two thumbs up for you author!
    Bisakah sequel? kkkk~ *reader baru yg banyak permintaan*
    I’m wait!😀
    Atau ga bikin kisah cinta Yi Lyn sama Baekhyun deh hahaha *Baekhyun addict*
    Atau boleh juga bikin kisah cinta Lay sama aku *pede* Hahaha~
    Keep writing ya thor^^
    Maaf ya thor cuman bisa komentar segini^^ Aku gamau jadi siders soalnya dan terlebih karena karyamu ini sangat patut diberi good comment!
    Kansahamnida^^ Nice to meet youXD

    • Hai! Iyadong aku tau kamu, udah kufollback dan kita ada little chit chat di twitter. Thanks for following.

      Dan Ah, di sini semuanya lebih kutonjolin sisi tegarnya ya, tapi rapuhnya juga dimasukin. Dan mohon maaf atas Luhannya, well ini hanya cerita fiksi kan ;;;

      Yi Lyn? eum, karena yixing itu udah manis to the max, gimana kalau bayangin ada sosok perempuan yang serendah hati yixing dan pastinya, lesung pipinya doong. Hahahaha😄

      Thanks for two thumbs-up, Kak. Perhaps sequel ada kok, bukan sequel sih, lebih ke side story. Aku punya dua side storynya. Stay tunned! ^^

      Ih gak apa-apa kok, komentar is allowed banget di sini. Seberapapun banyaknya komen itu kan relatif, yang penting tinggalkan jejak🙂😉

      Hehehe thanks for visited and enjoying the fictiones, and oh maybe itu typonya gamsahamnida? 감사합니다. no kansa, hehehehe. Nice to meet you too, see yaaa! ^^

      • Gapapa setiap fiksi pasti punya adegan sad dan happy.
        Dan aku suka sisi Lyn dan Luhan disini berasa gimana gituuuuuu~

        Kkkk~ Aku juga suka Lay’s dimple is cute kkk~ Tapi dia itu beneran JPG style banget deh ah harusnya lebih hiperaktif gitu Lay kaya Chanyeollie~ hahahaha

        Side story siapa nih? Luhan? Lay? Jangan bikin penasaran dek-_-

        Iya sama-sama cepetan updte ffnya ya! Aku tunggu loh de^^

  3. dhilaaaaaa kenapaaa penyakit lagi lagi-lagi penyakit /?
    pasti Luhan ngira Yi Xing cowoknya Lyn. huhuhuhuhuh ah ini kok berakhir manis Luhan-Lyn nya
    dan pasti ini POVnya Lyn dan terbukti dan ah dhilaa ini huhuhuhu mengahrukan :”)
    kamu bikin aku mendadak sedih berat dhil /?
    apalagi itu Luhan kena AIDS huwaaaa dhilaaaa, berasa ngenes banget Luhan sama Lyn😦
    tapi akhirnya mereka melepaskan semua sakit meskipun Yi XIng yang harus sakit /?
    oke sekian dadah dhilaaaaaa ({})

    • Kak Thia Kak Thia Kak Thia
      Well done, yeah aku udah bales komen mengharubiru kakak di Missing dan di sini ketemu lagi itu semacam bersyukur pada Tuhan! X)))

      Kenapa penyakit? Eum, karena, penyakit itu membuat orang jadi sensitif, pun sentimentil, tergantung pengaruh psikologinya. Dan, kurasa aku adalah pendosa karena bikin Luhan dan keluarga jadi pengidap AIDS hueeeee ;;;;;; maafin akuuuuu. Dan aaaa maafin aku karena bikin kakak jadi mengharubiru huaaaaa {} Sebagai bentuk terimakasih dan pertanggung jawaban atas harunya kakak, dan tentunya teman teman lain yang udah komen di atas, pun baca ini tanpa tinggalin jejak, aku udah menyelesaikan dua judul fic lagi yang berkenaan dengan mereka bertiga! Tunggu yaaaa!

      As a gift : was titled by Times and Reminisce! Stay tunned!😉

      • dhiillaaaa dhilllaaa
        semacam bersyukur kamu bales komenku dan aku telat bales .-.

        dan aku speechless mau bales apa .—-.
        BESOK AKU BACA FICT ITUUU!!! TUNGGUIN YAK DHILAAA MUUUAH :3

  4. Pingback: Times | futureasy's ciel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s