Afraid

Afraid.

|| Title : Afraid  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Jang Dong Woo – Yoon Bomi  || Minor Cast : Jung Eun Ji || Genre : Hurt / Comfort, Romance, Slight  ||

|| Duration : Ficlet || Rating :  Teen ||

|| Recommended Song : A Thousand Years ||

|| Another story after : Stay ||

 // A script by \\

@futureasy

 

Go mention and follow for subscribe more about this fiction or another fic!

.

.

.

Kaki Dong Woo memang tak dapat difungsikan lagi. Maka, biarkan hati yang menggerakkan dunia mereka.

 

Mendekam di ranjang rumah sakit membuat seluruh bagian tubuh Dong Woo mati rasa. Pria lajang di umur duapuluhan itu memilih mengatupkan kelopak matanya rapat – rapat.

Takut selalu menyambar pagi harinya. Di mana seharusnya ia dapat bergabung bersama pasien lain – menjalankan kursi rodanya ke arah taman Rumah Sakit yang luas dan indah.

Dong Woo sendiri. Ketakutan selalu datang tiap kali dokter dan perawat selesai mengontrol kondisinya – atau ketika ia merasakan senyap. Terutama ketika gadis itu memasuki ruangannya.

Bomi berdiri di dekat ranjangnya. Samar – samar pria itu dapat melihat Bomi menangis. Air matanya turun perlahan dan tubuhnya bergetar hebat.

Inginnya ia memeluknya. Harapnya ia merangkulnya. Tapi, tak bisa. Ia terlalu takut. Takut jika nasib Bomi akan sama seperti yang terjadi pada Eun Ji.

Menyebut namanya saja – Eun Ji – membuat Dong Woo bergidik. Memoar itu berkelebat begitu saja, kadang menghantuinya semalam suntuk.

“Dong Woo, aku membawakan bunga lili,” seru Bomi dengan senyum mengembang.

Gadis itu mengganti bunga di vas yang telah layu dengan seikat lili segar yang baru dibelinya.

“Kau suka?”

Hm, begitulah.”

Meski yang Bomi dapati hanya tanggapan singkat yang dinginnya menusuk, gadis itu tetap memaklumi.

Ia paham betul sahabatnya masih mengalami trauma akibat goncangan besar itu – tragedi kematian dan penyiksaan dirinya dan Jung Eun Ji.

Hari itu berakhir dengan cepat. Bomi segera pamit pulang setelah menyuapkan bubur sebagai makan malam Dong Woo. Gadis itu melambai hangat meski Dong Woo hanya memberinya satu senyum yang dipaksa.

“Sampai jumpa, Dong Woo,”

Yeah, bye, Bomi.”

Nampak segar diingatan kala Dong Woo berkata selamat tinggal bukannya sampai jumpa pada gadis itu.

Dong Woo jelas mengalami duka secara mental dan fisik, namun, Bomi merasakan pedihnya di hati. Gadis itu membantu Dong Woo memerangi traumanya meski yang didapatinya hanya raungan Dong Woo yang memintanya untuk pergi.

“Pergi, Bomi. Aku tidak membutuhkanmu!” Dong Woo menjerit di suatu malam.

Sementara gadis itu hanya dapat menangis. Ia tidak tahu kalau menyuruh Dong Woo melakukan amputasi justru membuat pria itu makin membencinya.

“Aku hanya melakukan yang terbaik padamu, Dong Woo!”

“Tidak. Kau menghancurkanku. Pergi, Yoon Bomi. Pergi!”

Bomi menangis. Maniknya berwarna kemerahan dan ia mundur selangkah demi selangkah. Membiarkan usiran Dong Woo menjadi kenyataan.

“Kau tidak memahamiku, Bomi-yah. Sama sekali tidak.” Dong Woo berkata lirih sesaat sebelum gadis itu meninggalkan dirinya.

Satu hari, Dong Woo baik – baik saja atas ketidakhadiran Bomi dalam hidupnya.

Tiga hari, Dong Woo berpikir gadis itu akan segera kembali. Tetapi, rasa khawatir justru semakin meningkat kala hari ke enam belas menyapa dengan Bomi yang akhirnya datang dengan mata sembab.

“Kau memilih kaki itu masih menempel di tubuhmu? Kau membiarkan dirimu mati?!” Bomi mencengkram bagian kerah seragam rumah sakit yang Dong Woo pakai.

“Katakan padaku, Jang Dong Woo! Apa kau ingin menyusul Eun Ji dan membiarkanku mati bodoh di sini, huh? Jawab aku, bodoh. Jawab aku!”

Dong Woo menahan lengan gadis itu. Membiarkan Bomi meraung sampai air matanya menetes tiada henti.

Lalu dengan tenaga yang ada, pria itu menarik Bomi ke dalam rengkuhannya. Dong Woo menarik paksa gadis itu untuk masuk dalam dekapannya. Mengabaikan Bomi yang memberontak, namun pada akhirnya memukul lemah punggung lelaki itu.

“Kau tidak tahu bagaimana pentingnya dirimu bagiku, kan? Kau hanya menoleh pada Eun Ji! Kau tidak memikirkan aku, Jang Dong Woo,” suaranya lemah. Ia terlihat kacau dengan mata yang kian membengkak.

“Kau tidak tahu aku selalu menunggumu. Menunggu sampai hidupku kram dan tak mampu tertawa lagi.” Dong Woo mengeratkan dekapannya.

Rasa bersalah menyerangnya berkali lipat. Jujur akan perasaan memanglah sulit baginya. Ingin sekali mengakui bahwa ia telah jatuh hati pada gadis ini. Namun, rasa bersalah pada Eun Ji lebih mendominasi.

“Kau tidak tahu alasan mengapa aku menolak amputasi itu, bukan begitu?” Dong Woo membuka suara selembut yang ia bisa ketika mereka berdua telah berhasil menstabilkan emosi diri. Keduanya duduk berhadapan.

Bomi mengangguk, kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangan. Takut jika Dong Woo melihatnya menangis lagi.

“Itu karena -” suara Dong Woo serak. Luapan emosi ikut serta dalam kerongkongannya dan ia kesulitan untuk berbicara.

Bomi menggenggam telapak tangannya, “Cukup, Dong Woo. Aku mengerti.”

“Tidak. Kau tidak mengerti bagaimana pentingnya kaki bagi seorang pria sepertiku,”

“Karena tanpa kaki kau tidak dapat mengunjungi makam Eun Ji, bukan begitu?” Dong Woo mendecak. Kemudian menyalahkan pemotongan argumen dari gadis itu.

“Bukan. Ini lebih penting, Bomi – yah,”

Dong Woo memajukan tubuhnya. Berusaha merengkuh Bomi agar gadis itu dapat merasakan degup jantungnya yang berpacu tidak normal.

“Karena, saat aku kehilangan kedua kakiku, aku tidak dapat melindungimu dari serangan penjahat. Aku tidak dapat berdansa denganmu di hall room super mewah dan tidak dapat melamarmu dengan romantis. Dan kaki ini tak dapat berlari untuk sekedar mencegahmu pergi ke pelukan pria lain.”

Bomi merasakan ada secercah cahaya yang merasuk ke dalam gubuk kegelapannya. Tentang bagaimana Dong Woo menyampaikan isi hatinya dan menjadikan gadis itu lebih penting bahkan di atas kenangan tentang Eun Ji.

“Bomi-yah,”

Dong Woo memegang jemari Bomi yang berada pada pegangan kursi rodanya. Dengan tanpa kedua kakinya, Dong Woo merasakan kehadiran Bomi mengubah segalanya.

Meski kerap kali air mata menitik tat kala alunan musik yang selalu membuat tubuh Dong Woo bergerak untuk menari, sekarang tak bisa ia tarikan lagi.

Kaki Dong Woo memang tak dapat difungsikan lagi. Maka, biarkan hati yang menggerakkan dunia mereka.

Ya, maka biarkan Bomi yang menjadi pelantun langkah dalam hidup pria itu. Biarkan gadis itu yang menjadi tungkai yang mampu membuat Dong Woo berdiri dengan kokohnya.

Karena, mereka merasakan bukan dengan kedua tungkai kaki, tetapi dengan hati.

Fin.

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

6 thoughts on “Afraid

  1. Dhila! Kok aku nggabisa kabur dari blogmu sih? Baca baca baca-_- pdhl ini uda jam 1 dan besok hari senin-_-

    Tapi gila Dhila!! FF nya bagus banget^^ feel nya dapet (y) I like ur FF whoaaa. Especially EXO<3 So, keep writing Dhila! Love ya :3

    • Lusi! ^^ Kok aku gabisa berenti senyum baca komen darimu sih? Senyum senyum senyum >< padahal ini udah jam setengah tiga /yaterus/ dan aku hari ini meliburkan diri dari classmeet yang menjemukan sih! haahhahahaha😄 ewaduh, kamu lain kali harus pilih tidur ya, jangan begadang ah, dan lagi baca atau kontak mata dengan alat elektronik pula, jaga kesehatan tubuh dan mata yaaa {}

      Hehehehe /lapairmata/ hehehe ini semacam ketagihan nulis dongmi couple, jadi yaah, makasih banyak buat dukungan kamu, dan ayo dong, aku juga mau baca tulisan kamuuu😉 semangat untuk kita! ^^ love love loveyoutoooo

      • Hehehe apa jangan2 kamu suka sama aku ya? Atau suka sama komenku? :9 /absurd//abaikan/

        Entahlah, aku terlalu gila dengan tulisan. Jadi aku sering nggak tidur gegara hunting FF._.

        Tulisanku? Sepertinya sudah terkubur debu /apaini/
        Aku jarang banget nulis, aku susah dapet inspirasi, writer block, suka kehilangan imajinasi ditengah jalan-_-
        Jadinya yah, aku lebih suka hunting FF ketimbang nulis FF._.v

    • hai jin-ah, hey jangan bilang kamu yang nyanyi Gone yang ada Xiuminnya ya /dhilplease/ hehehehehe
      Makasih udah dibilang bagus dan dapet feelnyaa, hehehe dan oh, lebih terimakasih karena kamu suka🙂
      aku Dhia dari line 98, kalo kamu lebih muda bisa panggil aku Kak Dhila aja😄 salam kenal yaa, dan ah, pujisyukur akupun sedang ketagihan nulis dongmi, so please stay tuned, if you wanted sih hehehehe/ Makasih! sampai jumpa! ^^

  2. Pingback: Reasons to Stay | futureasy's ciel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s