Reasons to Stay

|| Title : Reasons to Stay  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Jang Dong Woo ; Yoon Bomi || Genre : Hurt/Comfort, Romance ||

|| Duration : Drabble || Rating : Teen ||

Another story after : Stay and Afraid

 // A script by \\

@futureasy

 

 

Selalu ada alasan untuk setiap keputusan. Begitu juga dengan apa yang Dong Woo punya.

.

Dong Woo kira dia sudah berada jauh di surga ketika membuka matanya pagi itu. Sinar matahari menyusup lewati celah tirai jendelanya. Maniknya yang belum terbiasa kontan mengerjap tak siap. Aroma anti-septik menguar dari setiap sudut ruangan, menggelitik indra penciumannya.

Oh, kau sudah sadar, Dong Woo,” suara itu mengalun begitu lembut seraya iris Dong Woo bergerak gusar mencari si pemilik suara.

Bibirnya mengulas senyum sesaat setelah melihat Bomi memasuki ruang rawatnya. Jubah putih berlogo rumah sakit yang dipakai gadis itu amat cocok buatnya, Dong Woo tidak tahu seberapa banyak dia telah berhutang pada gadis di hadapannya.

Dia menggerakkan lengannya, menolak kram yang menyerang tubuh. “Masih sedikit ngilu,” katanya menjelaskan keadaan tubuh.

Well, seharusnya ia tidak perlu berpayah-payah menjelaskan, toh Bomi selaku dokter pribadinya sudah mengetahui dengan jelas apa-apa saja yang dialami dan akan terjadi pada dirinya. Sahabat karibnya yang satu itu tentu tak akan membiarkannya mati kesakitan di kemudian hari.

Bomi meniti langkah mendekat, hendaknya membenamkan diri dalam dekapan pria rapuh di hadapannya. Hell, siapa lagi yang sampai mengorbankan kaki sendiri untuk mantan kekasih yang sudah mati? Hanya Dong Woo yang begitu, setidaknya itu yang Bomi pikirkan.

“Kondisimu sudah pulih, kau bisa pulang ke apartemenmu sekitar tiga hari lagi, pasien Jang Dong Woo,” Bomi meyakinkan. Gadis itu menata surai kecokelatannya sebelum menengok pada Dong Woo lagi. “aku tahu kau sudah merindukan rumah.”

Ya, seharusnya memang begitu. Tapi, Dong Woo rasa bukan masalah besar jika dirinya terbujur lemah di sini. Akan ada Bomi yang menutupi tubuh kedinginannya dengan selimut tebal, gadis itu akan menyuapinya obat, memeriksa kesehatannya sedemikian rupa, juga berusaha hapuskan memori kelam dalam ingatannya. Hendaknya menghilangkan trauma berat akan kehilangan Eunji dalam hidupnya.

“Jangan lagi kaucoba untuk pergi dari dunia ini, Dong Woo,” suara gadis itu terdengar parau. Dia berdiri membelakangi Dong Woo, tapi pria itu tahu dengan jelas bahwa gadis itu tengah menahan tangis.

Dong Woo memanglah gila.

Ketika dia memutuskan untuk meminum obat tidur di atas dosis yang seharusnya, ia salah. Ketika dia menggelung celana panjangnya dan mulai memukuli tulang keringnya dengan benda tumpul, dia bodoh.

Dan bukanlah sebuah kejutan ketika orang yang salah dan bodoh pergi menjadi orang gila. Mengurung diri di dalam apartemennya yang kecil seolah tidak ada lagi kehidupan di luar. Lalu, perlahan Bomi datang, menukar jadwal hidupnya sedemikian rupa hingga pria itu dapat menyimpulkan suatu hal.

Dia punya alasan untuk tetap tinggal.

Dong Woo pergi dari ranjangnya, beranjak memeluk Bomi dari belakang seraya mengecup pipi gadis itu dari sisi ini. “Terimakasih,” Dong Woo menahan air matanya.

Alasannya hidup untuk pagi ini, adalah bernapas bersama gadis itu. Mengapa ia berhenti menatap hari lalu dan mulai memandang hari esok, adalah untuk gadis itu. Begitu bulat sampai ia harus menyudahi segala kenangan pahit di masa lalu.

“Terimakasih karena telah menjadi alasanku untuk tetap tinggal, Yoon Bomi. Aku menyayangimu,”

Fin.

At least, i need your comment. Please, just some of it and woosh, you can go home!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s