Christmas’s Present

|| Title : Christmas’s Presents || Main Cast : EXO’s Xi Luhan and OC of Lucy || Support Cast : EXO’s Xiumin a.ka Kim Min Seok ||
|| Genre : Romance, Family, Fluff, Friendship || Rating : Teen ||

Lucy tidak pernah tahu bahwa hadiah natal terindah akan jatuh pada tahun ini.


.

Kondisi ini sedikit dingin, juga sedikit hangat.

Pantai Incheon, sebelah selatan desa Guseok. Sore hari, tepatnya pukul delapan belas -waktu matahari mulai tenggelam di barat samudera.

Aku tidak tahu apa motif Luhan -teman baik kakak laki-lakiku- mengajak berjalan-jalan sore. Tidak butuh waktu lama, sih untuk sampai ke sini, hanya saja terlalu membuang waktu. Untuk apa bertemu di sini sementara rumah kami masihlah satu komplek? Luhan memang begitu, Min Seok oppa bilang dia bisa setengah gila jika sedang…

“Hey, sejak kapan menunggu?”

Aku menoleh padanya, hendak menjawab tapi justru menatap senja di cakrawala. Menghela napas menjadi satu-satunya opsi setelah membiarkan jemari kakiku terendam pasir yang hangat.

“Sudah lama, kalau kau mau tahu, ge .” dia terkikik kecil akan jawaban tanpa humor itu, lantas mengalungkan lengannya di bahuku. Kepalanya berjarak sedikit dekat, dan Luhan nampak berbisik di telingaku. “Maafkan aku. Kukira kau tidak berkenan datang ke sini,”

“Siapa bilang?”

“Um, Min Seok?”

Aku menyikut perutnya, “Mana mungkin. Tidak ada baozi yang bisa berbicara banyak, Lu,”

Kami meledak dalam tawa.

Ah, rasanya ringan jika ada yang ingin tahu. Terkadang menghabiskan waktu di rumah tidak benar-benar membosankan seperti yang sering dikeluhkan Luhan saat ia menginap di kediaman kami. Aku juga tidak tahu kenapa dia selalu bersikap seenaknya padaku, sama seperti Min Seok oppa.

Sore itu angin berembus sebanyak ombak berarak di lautan sana. Aku dan Luhan kembali menyusun langkah semakin dekat dengan air. Semakin dibuai hangatnya pasir, semakin ditangkap semilir angin penghujung sore.

“Kenapa tidak pernah ke rumah lagi?” aku membuka suara. Ya, ya benar. Omong-omong ini sudah terhitung dua minggu tiga hari dia tidak menginap lagi, pun menginjak halaman depan.

Luhan menatapku sekilas, tidak merta menjawab. Pria itu malah sibuk dengan sepoi angin yang meniup-niup pipinya. Kulihat ia tersenyum jahil.

“Sepertinya ada yang merindukanku di sini,” dia melirikku, kontan berlari menjauh ketika aku hendak menceburkannya ke ombak kecil di sekitaran.

“Maaf, maaf. Well , sepertinya aku harus mengantarmu pulang sekarang.” dia tersenyum. Uh uh , sudah kukatakan, dia pasti berkilah lagi.

Luhan memamerkan senyum innocent nya, lantas menarik tanganku lembut menuju sepeda motor bertangki depan berwarna hitam mengkilapnya.

“Lekas naik,” Luhan menyalakan mesin motornya.

Tangannya melambai-lambai di depan wajahku, kontan membuatku kembali berpijak pada dunia. Dia tersenyum lagi, memakaikanku helm dan menarik lenganku naik.

“Kita pulang!”

Ya, kita pulang, Luhan ge.

Aku kira setelah pertemuan di pantai itu Luhan akan berkunjung lagi ke rumah, mungkin belajar bersama Min Seok untuk persiapan skripsinya? Tetapi, dia tak kunjung datang.

Aku pun berangan-angan, merta menginterupsi tontonan Min Seok dan membuatnya menoleh padaku.

“Oh, ada apa, Lucy?”

Aku meliriknya sekilas, tak punya kegiatan lain selain menggigiti ujung kuku. Min Seok menahan jemariku. “Sepertinya ada yang gugup dan merindu di sini.”

Aku melemparnya dengan bantal. Merengut sebal sambil mengumpat dalam. Min Seok melirikku lagi.

“Hey, hey, hey! Jangan muram begitu, oke? Sekarang, apa yang bisa kulakukan untukmu, adik kecil?”

“Ke mana Luhan?”

“Apa?”

Aku meliriknya sekilas, sembunyikan gugup yang mengekang badan. “Lupakan, Min Seok oppa . Kau sama sekali tidak membantu!” dengusku. Lantas berkilah menuju lantai atas dan segera mengunci pintu kamar.

“Min Seok sialan!” umpatku, kontan melempar anak panah pada lingkaran-lingkaran jackpot yang menempel di dinding.

Aku merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit yang memang didesain khusus oleh ayah saat merenovasi kamar tidurku.
Uh uh , kenapa langit di atas sana menjadi dipenuhi senyuman Luhan? Aku menampar pelan pipiku sekali, meringis dan tidak menemukan apa-apa lagi di atas sana. Pastilah aku bermimpi!

Luhan kembali ada di atas, tersenyum hangat padaku dan mencairkan bongkahan es di sekitaran, nampak seperti Narnia ketika Pevencie bersaudara muncul. Lucu sekali.

Ketukan pintu kamar mendengung di telingaku, menarik kaki dan tubuh ini kembali ke dunia nyata. Oksigen kugapai-gapai barang sejenak, lalu beralih menuju pintu dan membukanya.

“Siapa di san- Min Seok? Ada apa?” alisku berjengit ketika kutemui ia menatapku gusar. Sudut bibirnya berdarah, dan ada lebam di sekitar pipinya.

“Kau berkelahi dengan siapa?!” pekikku seraya menarik tangannya, menuju lantai bawah.

Hell , siapa lagi yang berani menaruh tangan pada kakak laki-lakiku yang tembam ini? Pastilah orang yang tak berperasaan lebih.

“Dengar, oppa! Siapapun yang melakukan ini aku akan memanahnya, oke?” kataku menempelkan kain yang sudah dibasahi air dingin pada permukaan kulitnya yang lebam.

Sedikitnya Min Seok mengaduh. Oh, seharusnya orang itu tahu bahwa Min Seok mempunyai adik yang handal memanah sepertiku. Semestinya orang itu juga tahu berapa banyak piagam kejuaraan archery yang kudapat.

Well , Lucy, sebenarnya- ouch! hey! Itu sakit tahu!”

Aku menatap orang di depanku sedikit mengejek, “ uh uh , maafkan aku. Kupikir orang yang sudah dipukuli tak akan bisa berbicara lebih, bakpao tembam.”

Min Seok mendesis, antara perih dan sebal. Ha! Lihat siapa yang kakak dan siapa yang adik dari sisi ini! Ayah dan ibu pasti salah telah membiarkan Min Seok memegang predikat kakak. Dia bahkan tidak peka.
“Min Seok oppa , kau belum menjawab pertanyaanku, omong-omong,” aku menyeringai ke arahnya.

“Aaaaaaakkk!’

“Seharusnya kau tidak boleh sekejam itu, Lu,” Luhan terkikik kecil, menyodorkan cokelat panas ke hadapanku.

Thanks, ge. Hey! Dia sekali-sekali harus mendapatkan itu.” aku berkata lagi sesaat sebelum kami kembali tenggelam dalam tawa. Dari sisi ini, dapat kulihat bagaimana Luhan mengaduh pelan ketika tertawa.

“Ge, you seems not healthy at all, aren’t you?” Luhan melirikku sekilas, senyumnya masih mengembang.

Dia meraba bagian pipinya, menghapus BB cream dari sana dan dapat kutemukan lebam berwarna keunguan, nampak lebih besar dari milik Min Seok kemarin.

“S-siapa yang memukulmu?”

Luhan menatapku lagi, kali ini tatapnya lebih lembut. “Apa kau juga seperti ini saat Min Seok terluka kemarin?” aku menganggukan kepala.

Luhan tertawa lagi, dia mempersempit jarak kami, tidak mengindahkan tempat kosong di sofanya yang panjang. Dia mengusap puncak kepalaku. “Seharusnya kau tidak menekan lebam Min Seok, kautahu itu menyakitinya, bukan?”

“Tapi-”

“Min Seok mempunyai lebam karena dia begitu menyayangimu, Lu.”

Oh, ya?

Oke, aku tahu Min Seok memang jarang berkelahi. Dia hanya terima saja saat dipukuli, tapi kurasa goresan pada kepalan tangannya menjelaskan seberapa tangguhnya ia. Luhan masih mengusap puncak kepalaku, sekarang ia mengalungkan lengannya di bahuku.

“Lucy, dengar,” aku balas menatapnya selagi Luhan memegang jemariku. Kontan menyebabkan aliran darah ke sekitar pipiku, ah, kurasa sudah memerah kini.

“Min Seok berkelahi denganku kemarin.”

“A-apa?”

Luhan mengedipkan kedua matanya, menyuruhku tetap mendengarkan ceritanya.

“Kubilang padanya untuk membiarkanku bersamamu,” Luhan masih di sana, kini menyatukan jemariku dengannya.

“tapi, Min Seok begitu menyayangimu, Lu. Itulah sebabnya dia menyuruhku untuk mengalahkannya, maka dia akan membiarkanku.”

Aku menyelanya lagi.

“Tapi, kenapa, ge? Maksudku, Min Seok pasti bercanda dengan mengorbankan dirinya, dan- hey! Untuk apa berkelahi begitu, kau bodoh, huh?”

Luhan terkikik kecil, lantas kembali mengusap kepalaku. Matanya menubruk pandangku, mengambil kesempatan untuk menyalurkan kehangatan di puncak musim dingin ini.

Dia bergerak mendekat, kemudian kurasakan Luhan mengecup dahiku, cukup lama sampai aku harus menutup kedua kelopak mata lantaran menahan malu.

“Tentu saja dia ingin pria yang bisa melindungi adiknya yang ceroboh ini,” dia menatapku lagi, juga mengacak tatanan rambutku yang hanya digerai.

“J-jadi apa maksudmu?”

“Maksudku?” aku mengangguk, sementara Luhan nampak berpikir. Tidak butuh waktu lama baginya, ia kontan tersenyum cerah ke arahku.

“Kau pasti sudah mengerti, Lu,” dia mulai lagi, menggodaku dengan senyuman dan tawa riangnya.

“Tidak!”

“Ya!”

“Astaga, Luhan, aku tidak mengerti, oke?”

Luhan menatapku sekali lagi, lantas membawaku dalam dekapan hangat. Aku menunduk malu di hadapan dadanya, secara tak langsung mendengar dentuman organ di dalam sana.

Mungkinkah?

“Luhan biasanya bersikap begitu saat dia sedang terobsesi dengan sesuatu, Lu.”

Oh, ya?

Oke, kuakui Min Seok benar kali ini. Namun, mungkinkah Luhan juga menyukaiku layaknya aku yang mendambanya?

“I want to be yours, Lucy. What should I do next?”

Aku masih bersembunyi dalam dekapnya, tersenyum menahan emosi yang bergejolak riang. “I don’t know either, Luhan. Maybe you should doin’ anythings that your heart commands to.”

Luhan melepas dekapnya menit itu juga. Jemarinya meraih daguku, membuat pandangan kami kembali bersirobok.

“Wanna know what I want for this christmas, Miss?” Aku melihatnya tersenyum usil, lantas mengangguk dan membiarkannya meraih jemariku -satukan mereka dengan jemarinya sendiri.

Tatapan itu masih terjaga sampai Luhan mengecup punggung tanganku, sekejap saja membuat diri ini kehilangan kendali atas pernapasan.

“Yes, please, Mr. Lu?”

Kali ini dia kembali menggenggamku, menyatukan pandang kami sekali lagi sebelum dia menerbangkanku ke lapisan surga di malam natal ini.

“All I want for christmas is you, Lucy,”

Well, yeah, obsesi Luhan kali ini didorong dengan kasih sayang Min Seok, membuatku terpekur sejenak sampai menyadari bahwa hadiah natal terindah ialah dirinya, dan cintanya.

Fin.

D’s microphone

Holahalohaaa!

Dhila comeback dengan fic special new year eve! Lalu lalu lalu, marilah kita tutup tahun ini dengan segala yang baik-baik. Tinggalkan kebiasaan buruk -jadi siders misalnya- dan mulai dengan ikhlas!

Tahun 2014 di depan mata!

Selamat berbahagiaa! Tinggalkan komen yaaaa!😉

5 thoughts on “Christmas’s Present

  1. halo dhila🙂
    oke padahal ini ceritanya edisi natal terus aku barusan baca sekarang sama baru komen sekarang (telat telat)
    ini maaaniiiiss dhila kamu sadar ga sih ? aku kelepek-kelepek tau bacanya :’) itu pas siumin sama luhan pada lebam-lebam gara-gara lucy itu the best scene ever lah, dasar abang-abang ini padahal sukanya tidur berdua eh sekarang malah tonjok-tonjokan haha berasa indah banget lah dunia kalo punya kakak bakpao siumin terus punya calon pacar luhan :”

    aaak nama lucy itu manis banget dhil aku jadi inget narnia soalnya aku paling suka tokoh lucy di situ haha tapi jadi rada bingung soalnya lucy juga di panggil ‘Lu’ terus aku juga kebiasaan manggil luhan ‘Lu’ jadi pas lucy ngomong sama siumin itu aku kira siumin lagi ngomong sama luhan😀

    makasih loh ya dhil pagipagi udah bikin gelindingan ga jelas gara-gara fic kamu, sorry for the late comment🙂 keep writing dhilaa

    • HELLO KAK ASA DEAR GOOD PEOPLE! ;;)))
      Maapin baru dibales ini hueee, dan apalah aku yang balesnya nunggu tanggal kakak komen di kali 2 hahaha. Gaaapa-apa kak, aku juga telat bales ini hehe, sekali lagi maafin aku dan please jangan marah dan gapernah berkunjung ke mari lagi ::”(

      Lalulalulalu, THEBESTSCENE WHUT?!!! Waktu tanggal 5 aku baca ini tuh aku penuh haru, serius deh. Semacam : wow! kak asa baca fic aku. Itu sangat berharga ㅠㅠ thanks kak!

      Iya, berhubung kakak aku perempuan, dan aku hanya bisa berandai-andai punya kakak lelaki, jadilah fic ini. Atas dasar kemabukan atas Xiu-Han juga, sih, jadilah ini. Hehehee.

      Soal nama Lucy………
      Well, hahaha sengaja biar jodoh, kak, dan ada another niatan sih kenapa namanya begitu. Terus, soal penggunaan panggilan ‘Lu’, aku pun begitu, kak. Tapi, di sini aku tekanin kalau Lu itu cuma panggilan untuk Lucy. Karena kalo itu Luhan, pastilah ada tambahan ‘ge’nya di belakang.

      Thanks juga udah gegulingan pagi-pagi karena baca ini hehehe {{}} /hug/ Salam mata besar Kyungsoo!
      Loveyaaaaaa

  2. Dhila. Pertama aku mau minta maaf yang sebesar besarnya, aku udah bohong dan nggak nepatin janji. Ini semua diluar kendali. HP udah kupaketin, tapi apa? Masi ngga bisa dibuat buka WP heuheu. Tab? Modem? Mama lagi pelit nggak mau ngisi, jadi mau gimana, yah terpaksa aku nunggu mama mau ngisi. Hell! Aku ngerasa hina banget. Maafin aku ya Dhila, jeongmal mianhae ;;A;;

    Oke, aku mulai komen fictmu
    /tarik nafas//buang//tarik nafas//buang//lap air mata/
    Dh – Dhil – Dhilaaa!!! T.T
    Ini kah something special nya??
    Kenapa cast nya dinamain Lucy? Jadinya kan akuuuu… /bergeming/ ya gitu deh. Kamu ah, jahat. Bikin pikiranku terbang semaleman gara gara ini fict, heol! Kamu tega juga bikin aku berpaling dari odult semaleman T.T
    Abisnya, disini Luge romance banget sih. Bikin meleh di kasur.

    Hell, ini BAGUS BANGET!!! OVERLOAD MALAH!!
    Aku seneng banget bacanya, heuheu T.T

    “Min Seok mempunyai lebam karena dia begitu
    menyayangimu, Lu.”<- 'Lu' itu panggilan kamu ke aku Dhila hueee T.T
    Andwaeee!!! Sampe gigit gigit bantal masa -_-

    “I want to be yours, Lucy. What should I do next?”
    Well, kalo itu beneran terjadi. Pastinya 'Lusi' yang ini udah pingsan, eh nggak deng! Mungkin udah sekarat. Atau mati /hening/
    Jelas lah aku jawab "NGGAK ADA LUGE, NGGAK ADA!! NIKAHIN GUE UDAH CUKUP KOK GE!" T.T <- oke, nggak nyantai

    Lagi….
    “All I want for christmas is you, Lucy,”
    <- Kalo Luge bukan cuma christmas, tapi all i want for my life is you.

    Overall, ini buagus! Buagus! Buagus bingit Dhilaa!!! Bingit bingit bingit!!! /nangis darah/

    Boleh kan ya, aku nge-reblog?? Boleh ya?? Yayayayaa??? Dhila kan baik, manis, cakep, imut, semuanya deh :3

    Pokoknya i love you deh Dhila! :*
    Love love love. Oke, coment ini harus dihentikan atau…. /bergeming/

    Keep writing Dhila! Dan sekali lagi maafin aku, aku nyesel pake banget. Fighting! Makasi juga uda nyelipin namaku di fictmu! Love ya:*:*:*

    • Wowowow!
      Pengakuan! Aku udah baca ini komen dari kamu kirim, kok! Serius, cuma setumpuk tugas mengalihkan fokusku untuk mengetik balesan komen yang lebih pantas.

      Jadilah sekarang : LUSI KAMU APA-APAAN MENGGEMBOR KOLOM KOMEN BEGITU?!!! {{}}}} Udah lama gak kontak sama kamu, kamu sekarang udah main-main ke blog ff exomk sama chambrenya kak amer ya? hehehehe. Maafin karena belom ngepost lagi, ah lagipula ffku yang lain bercast not-exo ㅡselain seriesㅡ jadi mungkin gamenarik hatimu.

      “Hell, ini BAGUS
      BANGET!!! OVERLOAD
      MALAH!!
      Aku seneng banget
      bacanya, heuheu T.T” –> ini pun bikin aku overload hahahaha. Kamu…. TERLALU BIKIN TERHARU DAN SENYAM-SENYUM PAS KOMEN INI DIBACA TAUUUK!!! IIH. GEMEES!!!

      Iyatuh Lucy bisa sama dengan Lusi kan? heheee maafin kesalahaaan yaaa!😉
      overall, loveyaa my friend! ^^

  3. Yep, kita sama sama sibuk T.T
    Ehehehe maafin aku dhilaaaa, aku nyolong kotak komenmu sigini banyak :3

    IYA BENERR, AKU KANGEN BANGET SAMA KAMU DHILAAAA. SERIUS DEH KAYAK AKU KANGEN SEHUN /apaini/ KAMU ON TWITTER DONG, ATAU NANTI KITA BISA LINE LINE – AN LAGIIII :3 /matiin caps/
    Iya dhilaa, aku mulai akrab sama mereka mereka di twitter dan yah kau tau, aku sulit memiliki multi fandom. Tapi aku udah mulai belajar BAP, BTS, VIXX, infinite dan apapun yang sering kalian tulis di ifk kok, jadinya kalo ada ff non exo pun aku mudeng sama cast nya, percayalah ;A;

    Ah segitu gemes kah dirimu terhadapku? :p

    Ah, kalo itu nggak bisa dimaafin karena kau sudah mengombang ambingkan hatiku malam itu :p
    LOVE LOVE LOVE YAAAAA:*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s