A Friend from the Past

a-friend-from-the-past

|| Title : A Friend from the Past || Scriptwriter : dhiloo98 ||
|| Main Cast : VIXX’s Sanghyuk , AOA’s Seolhyun || Genre : Daily-life, Tragedy, Slight! Frienship, Romance, Slight! ||
|| Duration : Vignette [I guess] || Rating : Teen ||

// A script by \\
@futureasy

Kesalahan dilakukan untuk dibenahi

Setidaknya itu berarti untukmu yang kerap memandang kelabu di belakang

________

Ia sudah mengambil langkah.

Kulansir matahari sudahlah turun dari cakrawala, tengahi langit dengan senjanya yang kelabu. Kembali kulihat ia dari jendela ini, berjalan tak gontai menuju kawasan di sudut kiri pusat kota.

“Sanghyuk-a, pekerjaanmu sudah selesai?” lantas aku menoleh, menemukan Hakyeon ㅡmanajer kafe tempatku bekerjaㅡ berdiri ingin tahu di dekat kusen jendela.

Aku mengangguk, menunjuk satu-satunya etalase di lantai dua dan berkata, “Semuanya sudah tertata rapi, tidak lagi semrawut seperti yang disusun oleh Wonshik hyung,” setengah tertawa, aku melanjutkan. “sepertinya upahku akan bertambah, jika begini caranya.”

Hakyeon si Pemuda berusia duapuluh delapan tahun itu lantas menepuk bahuku beberapa kali sebelum ocehannya meroket di setiap anak tangga yang membawanya turun. Aku masih saja memusatkan perhatian pada hamparan aspal yang ditutupi air hujan di bawah sana ketika bayang Seolhyun ㅡnama gadis ituㅡsudah lenyap ditelan angin sepoi.

Bekerja di kafe bertingkat agaknya memang melelahkan, setidaknya tidak jadi begitu pelik lantaran aku selalu menemukan Seolhyun melewati trotoar depan bangunan ini dengan tatap serius dan polah rapuh yang terlalu terlihat.

Melirik arloji di pergelangan tanganku, lantas aku berpayah sedikit menuju lantai bawah ㅡmengamit sebuah payung dan mantel tebalㅡ sebelum ceracauan Hakyeon hyung mampu tertangkap gendang telinga.

“Aku akan kembali, hyung!”

Biasanya sudah jadi kebiasaan rutin ketika aku menapaki aspal dengan sepatu kulit ini. Tidak berniat menjadi penguntit, pun pria jahat yang ingin melakukan tindak kriminal. Well, usia duapuluh tiga tahun sudah menempel di kartu pendudukku dan aku tak mau repot-repot ditahan George si Polisi gila sebelum mampu mendapat upah kerja.

Gadis itu masihlah sama saat kupandangi punggungnya. Jalannya tegap, berpolah mampu menghadapi dunia ㅡmeski semuanya masih saja saru di mataku.

Tak lagi jadi kejut ketika ia menerawang ke dalam gerbang hitam berjeruji tempa di hadapannya.

Butuh waktu beberapa menit sampai aku berani bersuara. “Kenapa tidak langsung masuk?”

Si Gadis menoleh dan tatapan kami bersirobok. Dia tak lantas merapikan helaian rambutnya ㅡmencoba mencari perhatianㅡ atau apalah itu, dia hanya melayangkan pandang heran sambil menunjuk pintu besi itu, “Biasanya ini tidak pernah dikunci.”

Orang-orang menatapinya lelah, pun menganggap ia tidak pernah begitu timbul di antara masyarakat. Hari ini hujan lebat kembali menyapu daerah kami dengan semilir angin yang tidak bisa dikatakan pelan. Jika ia bepergian di jalan sana, kurasa baju terusan berbahan katunnya sudah kuyup akan air hujan.

Wonshik hyung masih repot melayani para tamu ketika pintu kafe yang membuka mendetingkan lonceng kecil di atasnya. Seorang perempuan memasuki celahnya dengan pakaian yang basah, bibirnya pucat dan bergetar, sementara tatapnya yang terkesan tak berenerji itu menyapu pandangku.

“Selamat pagi,” Hongbin si Perayu ulung kafe kami lantas membungkuk menyapanya. Gadis itu tidaklah begitu menaruh perhatian padanya, pun menyapanya balik.

Hongbin menatap Wonshik hyung, lalu pria itu segera menyambangiku di balik konter. Lantas menepuk bahuku, “Bawakan handuk ke sini, Hongbin tidak bisa membiarkan kustomer kita menggigil.”

Aku tidak tahu bagaimana ekspresi diri ini, yang jelas alisku berjengit dan memandangnya tidak yakin ㅡtidak lantas melangkah menuju ruang khusus pelayan dan mengambil apa yang ia perintahkan.

Butuh waktu kira-kira beberapa menit sampai si Gadis yang tak nampak menggigil itu menduduki salah satu kursi di bagian pertengahan kafe. Meski berada di antara para pengunjung, tatapnya tidak juga mengadu pandang pada orang lain. Dia cenderung berdiam diri ㅡtidak juga memesan sesuatu sampai Hongbin kembali menyambangi mejanya.

“Apa pesanan anda, Nona? Kusarankan secangkir cokelat panas dan sepiring cheese cake untuk andaㅡ” Hongbin belum melanjutkan kata-katanya ketika gadis itu menyelanya. “ㅡaku memesan secangkir latte saja.”

Untuk ke dua kalinya aku mendengar suara itu tersapu udara. Pandangnya mengambang sampai Wonshik menaruh pesanannya dengan tergopoh. Kulansir ia mulai menaruh empati berlebih pada gadis ini.

Aku terkaget bangun ketika suara berisik-berisik terdengar dari lantai bawah bangunan. Tatapku beralih pada digital di meja kecil, rupa-rupanya sudah berbunyi sedari tadi.

Tinggal di lantai dua kafe kami memanglah kebiasaanku. Aku punya rumah ㅡtentu saja, tapi tak bisa datang pagi ke tempat kerja karena jaraknya yang cukup jauh.

Tidak ingin begitu peduli pada suara-suara dari bawah, aku beralih menyikat gigi dan mencuci muka ㅡsetidaknya memeriksa kalau-kalau tampangku tidak menarik hari ini.

“Sanghyuk, apa kamu sudah bangun?”

Aku mengeluarkan kepala dari kusen pintu bilik mandi, tidak menemukan seorang pun selain suara Hakyeon hyung yang sudah melengking tinggi. Ah, aku paling-paling lupa mebuka kafe. “Iya! Aku baru saja bangun, hyung!

Tidak ada yang sekiranya berlebihan ketika aku sampai di lantai satu. Hanya menemukan Hakyeon hyung menunjuk salah satu sudut ruangan dengan tatap kejut yang tidak dibuat-buat ㅡwell , ini kali pertama dia bersikap seperti itu sepanjang aku mengenalnya.

Kepalaku tertoleh ke arah tunjuknya, lantas berjengit ketika menemukan seorang gadis meringkuk dingin dan terlelap di lantai kayu kami.

Hakyeon berbisik seraya memijit dahinya yang berkedut, “Siapa dia?”

Sehari, dua hari berlalu ketika aku jumpai sang Surya masih seenaknya turun-naik cakrawala. Jalan di depan yang semula basah akan air hujan, kini harus rela dilapisi salju.

Aku tengah memandangi hamparan itu dari atas sini ketika ketemui jemariku bertaut mesra dengan milik gadis itu. Seolhyun lantas mempersempit jarak di antara kami, bergegas mengalungkan lengannya pada pinggangku. Menatap diri ini dari punggungku ㅡyang kutahu membuatnya lebih nyaman.

Your hand fits in mine, like it’s made just for me,” aku terkekeh geli saat menyenandungkannya. Membuat tawa renyah miliknya yang sudah lama tak kudengar menggema.

“ㅡI’m in love with you, and all your little things.” Seolhyun lantas membenamkan wajahnya, mencari jejak-jejak kehangatan yang tersebar di bagian punggung baju hangatku.

Kukira aku tak akan menemuinya lagi, pun berkesempatan menatap matanya untuk yang ke sekian kalinya dalam hidup. Michael tentu sedang memberiku peruntungan, lantas membiarkan Seolhyun kembali mengingatku ketika pagi itu dia bangun dari tidurnya dengan kalut.

Aku menahan napas sepersekian detik saat angin musim dingin menampar permukaan kulitku, lantas membuatku sadar bahwa Seolhyun ternyenyak dalam dingin yang melingkupi. Tidak dapat mengatakan apa pun pada Hakyeon hyung ketika kudengar dia bersuara, “Sanghyuk-a ,”

Aku menepuk bahu Hakyeon beberapa kali sebelum serta-merta memerintahnya ㅡtidak begitu peduli pada tingkahnya nanti, mungkin saja hanya pemotongan upah. Toh aku masih bisa bekerja sambilan.

“Ambilkan selimut di ranjangku, hyung ! Cepat!”

Tanpa bertingkah aneh-aneh, Hakyeon merta menurutinya, kembali dengan segumpal selimut tebal yang belum sempat kulipat. Kukira aku terlalu bertingkah gegabah, kontan membuat manik Seolhyun menubruk pandang ruangan dan isinya ㅡjuga aku yang tergugu di sampingnya.

“Sanghyuk?”

Satu-satunya kata yang tak pernah aku inginkan untuk didengar tiba-tiba saja diucapnya. Bukan begitu, maksudku, sudah berapa lamaㅡ “sudah berapa lama kau berada di sini?”kataku sambil menyelimutinya.

Seolhyun mengerjap beberapa kali sebelum iris cokelatnya menyapu pandangku, tangannya bergemetar dan aku kira dia tidak pernah memperlihatkan sisi ini pada orang lain ㅡkhususnya Hakyeon yang masih berdiri dalam geming di sisi kiri ruanganㅡsemenjak kami tak lagi bercakap-cakap.

“Huh, aku memang selalu menunggu begini, dasar bodoh.”

“Untuk apa?”

“Kenapa ingin tahu?”

Aku terpekur. Sementara para karyawan dan juga kustomer belum datang, aku lekas-lekas mengamit lengan Seolhyun, lantas membawanya dalam gendongan sampai ke lantai atas.

“Kukira aku tak akan menemuimu lagiㅡ” Seolhyun mencicit. “ㅡteman lama yang bodoh.”

Aku membiarkannya berbaring di ranjangku. Pakaiannya sudah tidak terlalu sebasah yang kuingat, jadi aku tak perlu repot mencari baju lain. Seolhyun mengamatiku ㅡseperti menelaah hari laluㅡ dengan seksama.

“Kau tidak tahu berapa lama aku mencarimu, kan, Sanghyuk?”

Aku terpekur lagi, lamat-lamat tawa meledeknya terdengar, merta membuatku menatapnya penuh tanya.

Dia menelan ludah, “Aku bahkan mencarimu sampai ke pemakaman,” samar kulihat air matanya menetes.

Menit berlalu sampai tulangku rasanya mengeropos sudah. Aktivitas kafe sudah dimulai semenjak lima menit lalu, tapi kurasa ini tak jadi masalah besar sebab Hakyeon hyung tidak kunjung memanggilku, pun dengan Hongbin dan Wonshik hyung yang biasanya bersedia direpotkan memanggilku yang mangkir dari kerja.

Seolhyun mengerjap beberapa kali sebelum melirik jam di meja.

“dan ketika aku menemukanmu, kamu bahkan tidak melanjutkan pekerjaanmu, Sanghyuk? Kau sedang tidak ingin bercanda, bukan?”

Bukan begitu. Sebenarnya kauinginkan aku berada di mana, Seolhyun?

Sedetik, dua detik, aku menggeleng. Lalu kembali menjatuhkan fokus pada dirinya. Seolhyun dan aku seolah diapit semu, dirundung bisu. Tidak ada yang memulai percakapan sampai gadis itu mulai menggiring air mata menuruni lekuk wajahnya.

“Aku kira kau matiㅡ” dia menahan napas sejenak sebelum mencoba berdiri. Aku mencoba menahan pergerakannya sementara dia mulai tenang.

“Kauingat hari itu, Sanghyuk?”

“Hari apa?”

Seolhyun mengekor pandangku, lantas terburu-buru memberi kesan tidak peduli. Surainya yang panjang mengikuti gerak kepalanya yang menunduk, kontan menutupi sisinya.

“Hari di mana hujan mengguyur bumi. Satu saat di mana Ibu asrama membantumu mengangkat koper dan tinggalkan panti,”

Seolhyun memandangku yang terperangkap bisu. Dia tersenyum kecil sebelum menambahkan, “hari di mana kamu membuat janji yang pada akhirnya kamu dustai sendiri.”

Gelap memadu cakrawala dan menemani bulan yang pantulkan cahaya. Seolhyun bukan lagi gadis yang mencari-cari keberadaan teman kecilnya, satu yang bernama Sanghyuk ㅡitu akuㅡ dan menangis ketika menemukannya. Bukan lagi Seolhyun si gadis misterius yang kerap kali melewati trotoar jalan menuju pemakaman kota, hanya untuk menyesap aroma tanah pengundang duka.

Lalu tidak jua ada petang yang ditemani dengan larau bingung dan tatap tanpa teduh. Kini ada Seolhyun si gadis manis yang penurut, menjadi manajer kami setelah Hakyeon hyung memutuskan untuk mengundurkan diri.

“Sanghyuk-a !”

Aku menoleh padanya yang masih sibuk dengan urusan kafe, lantas menghampiri Seolhyun sesaat setelah memberi pelanggan kami pesanannya. Aku melepas apron hijau tua kafe kami, lalu ikut berfoto bersama pegawai kafe lainnya.

Memenjarakan kenangan dalam selembar kertas yang dapat hantarkan segala waktu dalam kejap mata.

Fin.

Holalohalooo!
Sebenernya ini comeback fic aku di ifk setelah berlama-lama hiatus. Huhuhu. don’t get me wrong because bring this couple -Seolhyun-Sangyuk – ke sini.

Sentuhan akhir, mind to review, please?😉

[P.S] Happy New Year!!! Wohooo! Have a good times here and… ㅠㅠ hope this year will turn even more warm here, like 2013! ^^

One thought on “A Friend from the Past

  1. hai kaak. maaf baru komen sekarang, padahal aku baca hari sebelum-sebelumnya :”) miaaaan.

    ffnya bagus, feel-nya juga dapet lah kalau menurutku. aku selalu suka sih sama tulisan kakak, hehe. maaf ya aku komennya aneh, hehe^^ ditunggu yang lainnyaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s