Reminisce

|| Title : Reminisce || Main Cast : Xi Luhan – Zhang Yi Lyn || Support Cast : Zhang Yi Xing ||

|| Genre : Hurt/Comfort, Sad, Romance, Life, AU [Slight!] || Rating : Teen ||

|| Duration : Flash Fic || Songfic of HuhGak ; Reminisce [ 향기만남아]

Another story beside : Missing | Lasting | Times

Even your scent could built my memories as higher feeling, I just can’t hold it any longer

Luhan terbangun dari nyenyaknya ketika aroma tubuh Yi Lyn menguar begitu saja. Pria itu mengerjap beberapa kali sebelum menyadari, dia masih sendirian.

Suasana yang senyap lagi-lagi membuatnya kesulitan bernapas dengan benar. Bayang-bayang Yi Lyn seakan tak ingin enyah dari pikirannya, dia merasa kosong -lagi. Yang ia percayai, nantinya semua tentang Yi Lyn akan pergi, akan lesap seperti angin lalu.

Sesungguhnya hanyalah aroma milik gadis itu yang membekas, dan senantiasa menyakitinya lagi dan lagi. Luhan bersedekap sendirian, membayangkan Yi Lyn berdasarkan memorinya yang mengabur -satu yang beterbangan di atas angin sepi.

“Yi Lyn, sungguh, aku merindukanmu.”

Pria itu berbisik lirih sekali. Memori-memorinya termakan angin lalu, semakin lesap, namun sekuat tenaga, Luhan tak akan membuatnya lenyap.

Saat ia menutup matanya, Luhan sudah dapat menjamin bahwa ia akan memikirkan gadis itu lagi. Sedang apa dia, apakah dia sudah meminum obatnya, atau apakah Yi Xing senantiasa menjaganya dengan baik. Tapi, kenyataan akan segera menyadarkannya, Yi Lyn akan baik-baik saja, tapi tidak dengan perasaannya.

“Aku tinggal sendirian lagi,” Luhan menghela napas. “mengelilingi jalan ini lagi setiap waktunya.”

Tentu saja, Luhan harusnya berkaca siapa dia dan atas dasar apa dia dapat meminta lebih. Hidup di sini toh enak-enak saja, setidaknya Luhan tidak harus melihat gadis itu terluka lagi dan lagi.

Terdorong akan getar emosi sesaat, Luhan menengadahkan kepalanya. Beradu tatap dengan kabut kelabu di atas sana. Lalu dia dengar lagu yang biasanya mereka nyanyikan bersama mengalun begitu lembut.

Dia meneteskan air matanya, memukul dadanya sendiri -coba redakan sakit di sana.

“Yi Lyn,” dia bersuara lagi. Air mata tak hentinya melesak ke luar. “rasanya sakit,” dia menunjuk dadanya sendiri, “tepat di sini.”

Luhan tidak punya pilihan lain selain membiarkan aroma Yi Lyn yang membekas semakin menyakitinya. Dia kembali menggambar gadis itu dalam asanya, masih mengandalkan memori yang selalu mengabur seiring tangisnya mengalir.

“Aku ingin menahanmu agar tidak pergi jauh, Lyn, sungguh.” senyap kembali menubruk dinding sepi di sekitar Luhan ketika pria itu memutuskan untuk berbicara pada bayang-bayang Yi Lyn dengan mata yang terpejam.

Luhan, jangan begini,”

Ah, suara itu, kapan terakhir kali ia mendengarnya? Luhan saja tidak pernah menghitung telah berapa lama dia bersedekap di lajur sepi ini, hanya berkawan dengan kabut dan kepedihan akan dunia yang ditinggalkan.

Dia menangkap bayang Yi Lyn yang menangis, mencoba hentikan tingkah gila Luhan yang setiap malam selalu menghampiri mimpinya.

Seperti biasa, aku akan melupakanmu bersama kenangan yang redup ini. Kenangan indah yang pernah kita ciptakan,” Luhan dapat mendengar suara hati Yi Lyn. “akupun sama. Hanya aromamu yang membekas dan menyakitiku. Luhan, hentikan ini semua.”

Tidak bisa semudah itu, seharusnya Yi Lyn tahu. Bukan hal mudah untuk melepas ikatan di antara mereka, bahkan dengan jarak sejauh ini, Luhan tidak mampu melakukannya.

Pria itu percaya akan cinta sejati, pun dengan kehidupan setelah mati. Dia percaya semuanya, toh Tuhan sudah menyuratkan segala macamnya. Jadi, mengapa ia tak berdiam dan tunggu? Terus menggantung harap pada kebesaran-Nya.

Luhan sudah mengatakan bahwa di sini tak pernah ia temui selaksapun cahaya, bahkan bintang tak sudi berpijar. Dia berkali-kali berpikir, kapan Tuhan akan melepas jerat pedih ini?

Tapi, seperti Luhan yang selama ini dikenal Yi Lyn dan beberapa orang lainnya, pria itu memanglah tak pernah putus akan asa. Dia selalu berpegang teguh pada segala sesuatunya, bahkan di saat terburuk sekalipun.

Matahari tahu-tahu saja berpijar dari kejauhan, layangkan cahaya yang menelusup sampai ke manik Luhan. Oh, inikah tanda kebesaran-Nya yang lain?

Namun, lagi-lagi Luhan ditinggal sendirian. Pria itu tidak gila sampai mengejar mentari yang kian menjauh, ia tak menahannya, pun memohon agar mentari itu kembali. Di balik kepergiannya, Luhan dapat melihat sekepul asap, yang diketahuinya, adalah sebuah kenangan yang tebal.

“Oh, aku akan mengingatmu lagi, Lyn,” Dia berucap sementara mengusap wajahnya sendiri, nampak lelah untuk terus menunggu. Dia melanjutkan, “aku hanya akan hidup seperti tidak ada yang salah dengan hari ini, kalau begitu.”

Luhan kembali menjejaki tanah tak bernama ini, pun berpenghuni. Dia memejamkan matanya, membukanya lagi. Yi Lyn berdiri di sana, tersenyum hangat sambil melambai-lambai.

“Tidak mungkin,” Luhan bergumam seraya berlari mengejarnya. Namun, seolah tempat itu bahkan turut mengoloknya, bayang Yi Lyn kembali pergi menjauh.

Luhan berteriak frustasi. Itu Yi Lynnya, mohon jangan bawa ia pergi lagi ㅡah, tidak. Luhan harusnya sadar bahwa dialah yang pergi dari kehidupan gadis itu. Mohon jangan pisahkan mereka lagi, Luhan memanglah bisa hidup tanpa gadis itu, begitupun sebaliknya ㅡtak ada sedikitpun frasa klise yang melambangkan hubungan mereka. Tapi, baik Luhan maupun Yi Lyn benar-benar tak tahan untuk memangkas dinding pemisah itu, inginnya memeluk diri satu sama lain, mencumbu hingga kenyataan kembali menyatakan bahwa mereka dapat bersama lagi.

Luhan menepi sejenak, dia temukan hamparan pasir nan luas, beserta riak air pantai yang bergerak mondar-mandir. Pria itu tersenyum sekilas, menuliskan sesuatu di pasir putih nan hangat.

“Will I be able to meet you again some day?

Will I be able to get over you through someone else?”

Luhan tersenyum sedih. Jika memang yang diinginkan dunia ini adalah perpisahan, lalu bisakah ia mengharap Yi Lyn membalas satu pesan, yang mungkin menjadi yang terakhir bagi mereka?

Luhan tidaklah mudah menyerah, namun sekali ini, bolehkah Tuhan memutuskan asanya? Membiarkan cintanya tak lagi terombang-ambing di antara dua dunia. Pria itu masih saja tersenyum lirih sampai dia melihat sesuatu muncul di bawah tulisan yang tadi ia bentuk. Air matanya mengalir, “Yi Lyn, aku akan menunggumu, satukan kenangan kita dan bentuk lagi kehidupan baru di sini.”

Whoever you meet, you must be happy.

Only your scent, that I can never see again, remains. I do love you, Luhan.”

| E N D |

6 thoughts on “Reminisce

  1. Toktok.. /knock/
    Loha? Am I first?
    Mic test 1 2.. Eum..
    YEHET!! DHILA IS COMBACK!! OHORAAATTT!!
    Dhilaaaa, aku kangen sama kamu{} neomu neomu bogoshieppoyooo{} Dan soal kemaren, jeongmal mianhae Dhilaa;;____;;

    Wohooo, ff fav ku kembali /joget/ dan apa ini?-_-
    Apa ini nyritain kehidupan lulu dialam lain?.-.
    Honestly, yang satu ini aku kurang bisa nangkep critanya. ehehe maafkan aku dhila /.\
    Seperti biasa dhilaaa, aku selalu fall into pieces /lah?/ maksudnya fall into your ff and your fuckinasdfghjkl awesome diksi yang entah sampai kapan aku berhenti mengaguminya /halah/

    Ini udah terakhir ya dhilaa? dari yi’s twin series? heuheu T.T
    Yaudah deh nggak apa. kamunya udah mulai sibuk kan yaaa.. sama aku juga;-;
    Keep writing ya dhilaaaa, aku tetep setia nunggu ff exo kamu kok, percaya deh sama aku;;)
    Annyeong:)

    • Hai, Lu!
      IYA KAMU YANG PERTAMA! SELAMAT!❤

      Lalulalulalu, maafin aku juga karena ini susah dimengerti, yaa?
      Ke depannya aku bakal lebih perhatiin detil mudah-sulitnya pengertian ff ku hahaha. Thanks for baca dan komen selalu! loveyaa

  2. yeheeettttt!! /tos/
    ahhhh, nulis itu emang susah susah gampang dhilaa tenang aja, kamu nggak bisa apalagi aku T__T
    Love yaaaa{}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s