The Brittle Wishes

|| Title : The Brittle Wishes || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : [BAP] Bang Yongguk, [Girls Day] Bang Minah ||

|| Genre : Family, Life, Psychology, Angst, Sad || Duration : Flash Fic [Contents five pages] || Rating : General ||

Theres no need to sad for, we just need to keep our distance, our times, our trustness.

And so hold our wishes.

Yongguk tahu semuanya sudah berakhir secara tidak benar ㅡlagiㅡ ketika jerit tangis Minah melengking sampai mengguncang indra pendengarannya. Lagi-lagi ia sadarkan diri dengan lembaran robekan kertas warna-warni di sekitarannya, juga beberapa boneka beruang yang busa dalamnya sudah menghambur ke luar.

Pria usia tigapuluhan itu mengusap wajahnya, lelah. Dia menepuk-nepuk noda dari serbuk bekas pecahan krayon berwarna di ujung pakaiannya, memilih keluarkan umpatan dari pada permintaan maaf.

A-appa.

Yongguk memutar bola matanya, nampak bosan mendengar suara cempreng nan tertekan itu. Pakaian kerjanya toh sudah menjadi kusut, jelas saja kekesalannya makin bertambah. Yongguk melirik Minah yang bersembunyi di sudut dinding, lantas menahan derapnya kala gadis kecil itu berlari menjauh.

Dia takut.

Ya, Minah takut padanya.

Merasakan hal itu, membuat energi negatif dalam diri Yongguk menguar, bertubrukkan dengan akal sehatnya. Dia toh hanya ayah muda yang ditinggal istrinya sendirian, menjadi orang tua tunggal atas anak yang ㅡmenurutnyaㅡ penyebab utama meninggalnya wanita yang dinikahinya itu.

Gemerincing kunci-kunci menggema di sepanjang lorong menuju kamar di sudut. Yongguk menapak semakin cepat sampai dia berhenti di depan sebuah pintu kayu bertuliskan ‘Minah’ di bagian atasnya. Lantas mengunci pintu itu tanpa sempat membukanya, atau melihat keadaan putri kecilnya di dalam sana.

Isak kecil terdengar dari balik pintu, tanpa perlu melihatnya Yongguk pun sudah tahu bahwa Minah lagi-lagi menangis, dia menyumpal telinganya dengan sepasang earphone dan berjalan menjauh.

Sejatinya dia tidak seperti ini.

Bukan begini cara Yongguk seharusnya memperlakukan putrinya, atau paling tidak pria itu dapat menganggap Minah sebagai manusia biasa. Sekali pun Minah adalah orang hina, Yongguk harusnya tidak pula berbuat demikian. Ia seperti bajingan sekarang. Bukan lah Yongguk yang hangat dan menyunggingkan senyum setiap tubuh Minah yang mungil memeluknya setiap sosok tinggi itu memasuki ruang tengah rumah mereka di kawasan Gangnam.

Setelah air hangat selesai membasahi tubuhnya, pria itu lantas berpakaian dan kembali bergelut dengan tugas kantornya yang menumpuk. Kira-kira berlalu beberapa jam sebelum ketukan pintu menginterupsi pekerjaannya. Yongguk memijat pelipisnya yang berkedut, lantas buru-buru membuka pintu dan mengeluarkan erangan ketika dia sadar bahwa ketukan pintu itu berasal dari kamar di sudut lorong ㅡitu kamar Minah.

A-appa, ” ujar Minah dari dalam. Yongguk menunggu gadis kecil itu melanjutkannya, berdiam diri di depan pintu. “apa appa sedang berdiri di depan sana sekarang?”

Yongguk menatap lapisan kayu itu apatis. Mengangguk ringan meski dia tahu bocah di dalam sana tak akan melihatnya.

“Maafkan Minah, appa .”

Yongguk mendengar isak yang ditahan kini. Pria itu melipat tangan di depan dada, bersandar di dinding lorong yang jaraknya dengan pintu cukup kecil; cukup untuknya mendengar suara cempreng anak di dalam kamar.

“Maafkan Minah karena menjadi anak yang selalu meminta mainan,” ucap suara dari dalam sana lagi.

Yongguk menggelengkan kepalanya.

Bukan, bukan begitu.

“Bodoh!” umpatnya akan gadis kecil itu dalam volume kecil.

“Minah tahu appa mendengarkan Minah sekarang. Terimakasih karena sudah meluangkan waktu, appa.

Yongguk menekuk lututnya, duduk serta langsung bergesekkan dengan lantai kayu yang akhir-akhir ini mengikuti suhu rendah di luar sana. Kota Meksiko masih sama seperti dulu, menurut Yongguk. Penolakkan ras, pembantaian dan perlakuan tidak baik terhadap anak-anak dan wanita, juga sulitnya mendapat pekerjaan kecuali kau berada dalam company asing yang kokoh;layaknya label kerja Yongguk.

Samar-samar dia dapat merasakan kehangatan yang sudah hilang selama tiga tahun. Bagaimana secercah cahaya datang dari seulas senyum orang yang dicintai. Lagi-lagi pria itu mengusap wajahnya.

Anda harus siap menjadi ayah tunggal, Tuan Bang.”

Yongguk merasakan air mukanya berubah. Begitu juga dengan desiran darah dan suara anak di dalam kamar.

“Minah tahu Minah bersalah. Maaf karena Minah sudah membuat appa kesal. Minah lupa kalau appa lelah bekerja dan bosan melihat Minah bermain-main di ruang tengah.”

Yongguk mengumpat, semakin bosan dan larut dalam kesal pada bocah kecil di dalam sana. Ia lantas menendang pintu itu dengan tungkai kakinya, membuat Minah berteriak menahan takut dari dalam.

“Jangan bicara padaku lagi, anak kecil.”

Setidaknya sudah sepuluh tahun dan sebelas bulan ketika Yongguk melirik pintu itu lagi, mendapati suara Minah perlahan terdengar semakin dewasa.

“Minah tahu appa masih berada di depan sana. Terimakasih karena sudah mendengarkan Minah.”

Yongguk menahan tangisnya. Dia memutar kunci itu, membuka pintu kayu yang berderit. Lantas menemukan seorang gadis remaja terduduk di sudut lain sisi pintu. Surainya berwarna hitam, bibirnya pucat, kontras dengan warna kulitnya yang bersih.

Appa.

Suaranya begitu serak ketika Yongguk melangkah lebih dekat lagi. Air mata menuruni pelupuknya, membuat Minah terlihat semakin rapuh.

“Terimakasih karena sudah membukakan pintu kamar ini. Terimakasih pula karena sudah membiarkan udara di luar menyapa kamar lembab yang kau pinjamkan untukku ini.”

Yongguk ingat pakaian itu, sweater rajutan mendiang istrinya dahulu. Satu yang berwarna cream dan double-turtle neck yang dapat menghangatkan tubuh tengah dipakai Minah dengan pas.

“Lihat, Sayang. Apakah ini cocok untukku?”

Yongguk menutup matanya akan suara yang familier. Pria itu kini sudah ringkih, tidak seperti sedia kala; saat-saat di mana dirinya masih bugar dan menghasilkan upah kerja yang kelewat cukup untuk dihabiskan sendiri.

Dia juga ingat bagaimana dia sejak dulu menaruh senampan makanan cepat saji dan mendorongnya melalui celah di bawah pintu kamar Minah ㅡyang bentuknya hampir mirip loket pemesanan tiket namun lebih memanjangㅡ dan mendengar bagaimana gadis itu menangis sambil mengunyah makanannya setiap harinya.

Yongguk kira Minah akan lebih aman jika begitu, pun tidak dapat mengganggu konsentrasinya lagi. Anak itu tidak akan mampu mengubah rasionalisme yang sudah jauh-jauh hari ia tanamkan. Minah bukan tercipta sebagai putri dari ayah tunggal sepertinya. Minah tercipta sebagai putri berusia tiga tahun yang ceria dengan ayah dan ibu yang berada di sampingnya.

“Bagaimana kabar Pixie, Appa?

Yongguk menggeleng, tidak bisa menjawab meski dia ingin. Pixie itu anjing peliharaan istrinya, satu yang turut mati seminggu sepeninggalan wanita berparas cantik itu.

Minah menengadahkan kepalanya, bertemu pandang dengan ayah tercinta. Sosok ayah yang sudah belasan tahun lebih dia tidak jumpai lagi semenjak penguncian terakhir itu, saat ayahnya pulang dan menghancurkan seluruh mainan dan gambarnya, gambar bocah berusia lima tahunan. Ya, Yongguk tidak ingat jelas akan gambar itu, tapi Minah ingat dengan detail.

Minah ingat bagaimana dia merasakan sosok Ibunya merangkulnya dalam hangat ㅡmeski itu hanya bayang semataㅡ dan Minah kecil mulai menggambar potret keluarga mereka ㅡberisi ayah, ibu, dan dirinya sendiri di sisi tengahㅡ pada kertas gambar berwarna yang dibelikan Yongguk lima bulan sebelum istrinya meninggal.

“Ibu tak akan kembali, bukan begitu, appa ? Tidak peduli bagaimana aku dan kau merindukannya, ia tak akan pernah tampak, bukan?”

Yongguk yang sudah berhenti melangkah melanjutkan tapaknya lagi. Berhenti di hadapan Minah dan mendekapnya dalam hening.

“Maafkan Minah, appa . Minah menyayangi appa ,” ucap gadis itu. “ah, tidak! Minah mencintai appa lebih besar dari rasa cinta Minah terhadap diri sendiri.”

Yongguk mengeratkan dekapnya.

“Maafkan appa, Bang Minah.”

Minah kira dia sudah berjanji tak akan menangis lagi di hadapan ayahnya, agar pria itu setidaknya tidak akan kecewa terhadap dirinya lagi. Tapi, mendengar itu, dia menangis tersedu-sedu.

Appa bersalah telah menghukummu di kamar ini, Sayang.” Yongguk mengusap puncak kepala gadis remaja itu, salurkan kehangatan yang berbelas tahun lamanya ia tak rasakan lagi.

“Apa appa telah mengampuni Minah? Apa appa telah membebaskan Minah dari kamar ini?” Yongguk menganggukkan kepalanya, Minah merasakan itu dan tersenyum dalam sedannya.

“Terimakasih. appa .”

Yongguk mengecup puncak kepala putrinya. Merasakan seberapa banyak kesalahannya pada anak ini. Anak yang ㅡmenurutnyaㅡ telah menewaskan istri tercintanya.

Mungkin Yongguk berdosa dan tak akan diperkenankan bertemu dengan istrinya di atas sana. Tapi, sebelum semuanya semakin terlambat, Yongguk mengamit jemari Minah; membuat gadis itu menatapnya dalam sendu.

Appa mencintaimu, Sayang.”

“Ya, Minah juga.”

“Anda tahu ketika melahirkan Minah, kanker ovarium milik nyonya Bang semakin ganas, bukan, Tuan?”

Yongguk mengusap wajahnya. Melirik sesosok wanita cantik yang dinikahinya beberapa tahun silam tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bayi kecil dalam inkubator nampak menggeliat tak nyaman di samping ranjang sang Ibu.

“Apa Anda bisa melakukan sesuatu untuk menolongnya?”

“Tidak, Tuan. Tim medis sudah mencoba sebaik mungkin.”

“Jadi tidak ada harapan?”

Yongguk melihat dokter senior itu menggeleng, lalu melirik bayi kecil itu.

“Tapi, Anda masih memiliki harapan yang akan tumbuh, Tuan.”

“Harapan?” Dokter itu mengangguk, lantas menunjuk tabung inkubator berisikan bayi mungil di dalamnya.

“Anak Anda.”

ㅡBecause every children’s concept to be someone and something special, more than diamonds and wishes. Thats why ‘it’s’ very importantㅡ

… “Jika dia harapan yang akan tumbuh, bukankah lebih baik bila aku melihatnya saat harapan yang ia tawarkan sudah besar?”

Fin.

D’s note :

Halo, good people. Apa kabar? Insyaallah semuanya dalam kabar yang baik, dan ta-dah! aku comeback bareng fic angst-family like this one. Aku harap kalian semua menikmati alurnya dan bacaannya.

Jujur, waktu nulis ini aku nangis. Tapi kian kemari makin sadar bahwa fic ini gak ada apa-apanya untuk ditangisi. Hohohoho, maafkan kekurangan feel.

Oke, kebanyakan anak dalam keluarga di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang merasa tekanan psikologi presentasenya bertambah terus. Ini memprihatinkan, dan sebenernya aku minjem BGM dari 2AM dengan One Spring Day mereka yang mendayu-dayu. Intinya sama lah, orang yang hidup dalam bayang-bayang sosok penting di masa lalu yang sayangnya udah gak punya eksistensi di dunia lagi.

Yang jelas, untuk orang-orang yang mungkin masih belum menyalurkan atau paling tidak memperlihatkan cinta-kasihnya pada orang-orang terdekat terutama keluarga, sebaiknya dimulai sedini mungkin ㅡas soon as possible. Karena, waktu gak akan terulang lagi, dan kalimat : tidak ada kata terlambat sebenernya ada salahnya juga. Mungkin lebih benar : anda akan terlambat jika tidak memulainya sekarang juga. Apalagi ini 2014! Wow, semakin sadar, nih, harusnya.

Lalu untuk para ayah, para orang tua di luar sana. please save your children’s feels. Please hold them with full of love. Them all wouldn’t understand how your respect to themselves if you not start it now.

So please, save our children’s psychology.

Go love. Go live. Go life. Go family!

Last but not least : komen dan like ditunggu di kolom bawah. Thanks a lot!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s