Viscous Bells

|| Title : Viscous Bells || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : [AOA] Seolhyun ; [VIXX] Han Sanghyuk || Support Cast : [BTOB] Yook Sungjae ||

|| Genre : Romance, Friendship, Life || Duration : Songfic – [contents nine pages. || Rating : Teen ||

Please play the song which titled with All I Want for Christmas Is You ; the one which sang by Mariah Carey, or Bom and Hayi as well.

There is nothing that I need, except you


I don’t want a lot for Christmas
There is just one thing I need
I don’t care about those presents
Underneath the Christmas tree

Seolhyun mengerjap beberapa kali sebelum menyesap segelas susu vanilla -nya dan menatap langit malam yang temaram. Tidak ada yang dapat menafsirkan apa-apa saja yang sebenarnya dia harapkan, tapi jauh di balik semua itu, Seolhyun hanya meminta satu hal.

Beep beep

Fokusnya ia alihkan kepada ponselnya, lantas tersenyum hambar ketika melihat display name di layar telepon genggam berlayar sentuh itu. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menerjemahkan pesan singkat dari seseorang bernama Sungjae itu, jadi dia kembali mengunci layar ponselnya.

“Berjanjilah kau akan kembali dalam keadaan baik, hm?”

Rasanya sudah lama sekali dia mengucap itu. Tidak juga dengan pelukan hangat layaknya orang yang akan berpisah untuk selamanya. Sweater dengan turtle-neck yang dikenakannya cukup tebal untuk menangkis sepoi dingin, tapi dia pun masih meringkuk dalam gigil ketika mengingat natal tahun itu.

“Oh, lihat! Kau melamun lagi, Seolhyun-a ,”

Seolhyun terpekur sejenak, tak lantas mengadu pandang pemuda di sampingnya. Dengan tatap malas, ia ajukan seberkas rasa simpatik lewat tatapnya beberapa saat kemudian.

“Pergi, Sungjae-yah. Aku toh tidak punya kegiatan lain selain begini.” beritahu Seolhyun sambil memeluk lipatan lututnya. Dia mendengus sebal ketika Sungjae mengacak rambut tipisnya yang halus. Rasanya berbeda, yang dia inginkan kini hanya belaian yang itu.

“Kau juga harus berjanji untuk hidup sehat dan tidak banyak melakukan pekerjaan. Seringlah beristirahat. Jangan lupa untuk ke kuil timur, doakan dirimu dan dunia.”

Seolhyun tidak punya keinginan sama sekali untuk merayakan natal dengan benar. Bahkan di malam-malam yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kehangatan, yang dilakukannya hanya menetap di apartemennya di distrik 12. Menatap dunia sekitar pun sudah cukup dirasa. Hadiah tambahan untuknya hanyalah beberapa teman dan kerabat seperti Sungjae yang mau repot-repot datang menemaninyaㅡah, tidak! Mungkin kata menjenguknya lebih pantas.

“Ayolah, Seolhyun- ah! Terimalah hadiah dari Santa Yook ini.” rajuk Sungjae setengah bercanda, dan Seolhyun hanya menanggapinya dengan senyum kecil ㅡsedikit canggungㅡ yang mengartikan bahwa dia akan tetap tidak berkutik.

I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
All I want for Christmas is you
Oh I won’t ask for much this Christmas
I won’t even wish for snow
Though I’m just gonna keep on waiting
Underneath the mistletoe

“Aku hanya ingin Han Sanghyuk, wahai Santa Yook Sungjae yang lebih tua dari kenyataanya.” cemoohan Seolhyun membuat Sungjae menatapnya dalam raut aneh. Pemuda itu berkacak pinggang seraya menepuk-nepuk kepala Seolhyun dalam artian mendidik penuh manja.

“Dengar, Nak. Kau bisa bukan meminta yang lain? Please.

“Aku pun tak ingin meminta salju turun. Aku tidak meminta apa pun selain Sanghyuk,” desis Seolhyun mantap. “aku toh akan terus menunggunya seperti ini.”

Mendengar itu Sungjae tak dapat membantah, pun mengajukan penawaran yang lebih mudah dikabulkan. Dalam hati, Sungjae mengutuk kawan semasa remajanya ini dalam-dalam. Bagaimana bisa dia egois begini? Menunggu kehadiran Han Sanghyuk sampai berlebihan begini adalah hal paling mengesankan buat Seolhyun, dan itu terlalu cheesy baginya.

Memagut jarak dengan dinding dan menempelkan punggungnya pada bidang datar itu, Sungjae kembali bersedekap. Dia mengusap janggut palsunya dan mengedikkan bahu ke arah perapian. Membuat Seolhyun yang sedari tadi tergugu memandangnya pun turut menjatuhkan fokus pada bata perapian sederhana itu. Satu yang didesain dengan bantuan Sanghyuk.

There’s no sense in hanging stockings
There upon the fireplace ’cause
Santa Claus won’t make me happy
With a toy on Christmas Day

“Tidak mau.”

Sungjae mengerjap seraya menatapnya jengkel. “Setidaknya jika kau menaruh permintaan di dalam kaos kaki merah dan hijau itu aku bisa memberimu hadiah kecil yang lucu.”

Seolhyun menggeleng lagi.

“Lupakan saja lah, Sungjae. Lebih baik kau menghabiskan natalmu bersama Namjoo. Aku jadi khawatir, jangan-jangan kau ke sini karena merindukan Sanghyuk juga, ya?”

Dalam bisu, Sungjae menatap pemandangan di luar setengah sadar. Seolhyun kembali membisik.

“Bahkan sekali pun kau juga merindukannya, akan menajdi sulit sekali untuknya kembali ke sini sekarang.”

I just want you here tonight
Holding on to me so tight
Boy, what can I do?
You know that all I want for Christmas is you

“Ini sudah dua tahun, Sungjae-yah. Dua tahun pula aku kehilangan sosoknya, pun dengan suaranya.”

“Tapi, kau masih merindukannya sekarang.”

“Tentu saja, bodoh!”

Sungjae sebenarnya mengerti keadaan mereka ㅡSanghyuk dan Seolhyunㅡ dan karena itulah dia di sini sekarang. Namjoo pun tak akan tega melihat sahabat karibnya menderita begini. Menunggu tapi tak tahu kapan akhir dari masa tunggunya.

“Singkat saja, aku hanya ingin seorang Han Sanghyuk sekarang.”

Sungjae mendecih. “Kau bisa melihat fotonya kalau begitu.”

Seolhyun tersenyum kaku, tercenung dalam harap. Sanghyuk memang ada di mana saja, itulah sebabnya sulit untuknya mempersingkat masa tunggu.

Dua tahun.

Dua tahun untuk menunggunya pulang dari wajib militer.

“Dua tahun. Aku akan kembali dalam dua tahun, Seolhyun-a. Jaga dirimu.”

And all the lights are shining
So brightly everywhere
And the sound of children’s
Laughter fills the air
And everyone is singing
I can hear those sleigh bells ringing

Sudah hampir larut ketika Sungjae berhasil menarik-narik lengan Seolhyun sampai di depan gedung apartemennya. Mereka sudah berganti pakaian ㅡtentu sajaㅡ menjadi lebih pantas dan hangat. Sungjae memastikan gadis itu terjaga sampai mereka melewati kumpulan anak yang tengah bersenda-gurau, menggemakan tawa ceria di malam natal.

Melihatnya, Seolhyun termangu.

Sungjae tahu kenangan akan Sanghyuk kembali mendekap gadis itu erat-erat kini. Sedetik dia melihat senyum manis terukir di wajah jelitanya, namun detik berikutnya yang Sungjae temukan hanyalah sebuah pandangan rindu. Bahkan ketika kedua mata Seolhyun terpejam, Sungjae ㅡyang notabene salah satu sahabat dekatnyaㅡ mengetahui dengan konkret apa yang gadis itu ucapkan di dalam hati.

“Santa won’t you bring me the one I really love

Won’t you please bring my baby to me?”

Seketika lonceng gereja berbunyi. Memagut fokus Seolhyun dan Sungjae sekaligus. Tidak banyak waktu yang mereka punyai untuk mempersiapkan diri, malam Misa sudah dekat.

“Ayo, kuantar kau ke apartemenmu, Seolhyun-yah. Namjoo menungguku di rumah, kautahu itu, bukan?”

Seolhyun menatapnya, tersenyum ramah, membungkuk beberapa derajat sebelum memeluk sahabatnya itu penuh rasa terimakasih.

“Aku bersyukur punya sahabat sepertimu, Tuan Yook yang malam ini menjadi Santa tua.”

“Sialan kau!”

Bukan jadi hal aneh lagi jika Sungjae putuskan untuk mengejar gadis itu. Membawanya semakin dekat dengan apartemennya. Toh Sungjae jadi tak perlu repot-repot menyeretnya kembali. Cukup dengan mengejarnya sampai mereka sampai di apartemen Seolhyun.

“I don’t want a lot for Christmas
This is all I’m asking for
Oh I just want to see my baby
Standing right outside my door.

Senyum di wajah Seolhyun tiba-tiba saja mengendur. Wajah jelitanya termangu, tatapnya pilu. Sungjae yang masih tertawa pun kini turut menoleh pada fokus Seolhyun. Menemukan siapa yang selama ini ditunggu.

“Aku pulang!”

Butuh waktu lama bagi Seolhyun untuk mengerjap. Tidak sedikit waktu yang ia habiskan untuk menatap punggung tegap itu.

Ketika berada dalam dekapan hangat seorang Han Sanghyuk dan menghirup aroma tubuhnya yang selalu maskulin, tidak ada lagi yang dapat seorang gadis bernama Seolhyun lakukan. Ia hanya menikmati momen tersebut sebagaimana Sanghyuk merasakannya.

“Ini sudah lebih dari dua tahun, Bodoh!” bisikkan Seolhyun terdengar bagai angin yang berembus, tapi Sanghyuk pastikan untuk mendengarnya.

Pria itu melepas dekap mereka, menetralkan pikiran dan rasa yang berkecamuk. Dia tersenyum konyol, lantas mengusap belakang kepalanya sembari menunjukkan deretan giginya yang rapi.

“Aku tidak mau kau melihatku plontos begitu!”

Ah, ya.

Seolhyun lupa kalau orang yang dia harapkan itu Han Sanghyuk. Satu teman yang selalu bersikap seenaknya tanpa pernah menengok keadaan sekitar.

Seolhyun hampir saja melupakan fakta bahwa Sanghyuk itu si Bodoh yang dicintainya, yang ditunggunya sebagai hadiah natal.

“Ayo, masuk, Sanghyuk-a.” ajak Seolhyun seraya mengamit langan pria yang lebih tinggi darinya itu. Sebelum menutup pintu, dia melirik bayang Sungjae yang sudah menghilang sambil tersenyum.

“Terimakasih, Yook Sungjae.”

I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
You know that all I want for Christmas is you
All I want for Christmas is you, baby

Kring Kring

“Sanghyuk!”

“Oh, oke, Seolhyun-a! Maafkan aku! Tolong jangan usir aku kembali ke camp militer!”

Seolhyun mendecih sebal sementara memungut beberapa lonceng dan bola-bola gantung yang baru saja dimainkan Sanghyuk di lantai.

“Kalau ini sampai pecah, aku akan menyuruhmu bersamaku sampai natal terakhir di dunia, bodoh!”

Fin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s