Miss. Diff

Miss. Diff

|| Title :  Miss. Diff  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : Kim Jong In – Jung Soo Jung  || Genre : Romance, Life, Hurt/Comfort [Slight], absurd ||

|| Duration : Flash Fic || Rating : Teen ||

She is Different. She is my Miss. Diff

.

Bumi terlalu cepat berotasi. Membuat Soo Jung mati – matian merutuki keadaannya kini. Mata merah, iritasi, terang mentari pagi membuatnya harus menggunakan topi besar yang mengganggu pemandangan.

Hey, Nona, topimu mengganggu tahu,”

Soo Jung menoleh. Menatap sengit pria berkemeja lengan panjang dengan rambut berwarna hitam dan kulit tan yang membuatnya tampan.

“Apa pedulimu, huh? God! Make him dissapear, please.” Soo Jung mengeluarkan logat asingnya.

Gadis berusia duapuluh tahun itu sibuk mengomentari keadaan dunia pagi ini ketimbang memperhatikan kabar fashion yang setiap minggunya rutin berganti.

Sementara, Jong In menatap lelah kepada gadis di hadapannya itu. Amat mengganggu jalan paginya yang ㅡseharusnyaㅡ menjadi hal membahagiakan.

Pria usia duapuluh tahun itu memutuskan untuk menyusul selangkah lebih depan dari gadis itu. Gadis yang tinggal tepat di sebelah kiri kamar apartemen miliknya.

Jong In terganggu ㅡtentu saja. Mengingat Jung Soo Jung selalu mengomentari apa-apa saja yang ㅡmenurutnyaㅡmengganggu jalan hidupnya. Selayaknya petir yang menyambar gedung apartemen mereka ; salju yang menutupi hampir seluruh jalan di luar ; tukang susu yang telat datang ; sampai, bapak pos penjaga di bawah sana.

Jong In lelah, ia bosan. Maka, ia memutuskan untuk berjalan mendahului gadis itu.

Pria itu tak bisa memungkiri bahwa dari bagian depan Soo Jung lebih mirip putri Es. Begitu Jong In menoleh, yang ia temui wajah dingin gadis itu beserta tatapan sinisnya. Wooh, itu menyeramkan. Rasanya Jong In harus berjalan lebih cepat untuk meminum segelas cokelat hangat milik Kyung Soo yang menenangkan. Ya, hanya Kyung Soo yang dapat membuatnya lebih aman.

Hey, Tuan. Bisa kau percepat langkahmu?” Jong In menoleh lagi. Kali ini benar – benar membalikkan tubuhnya yang langsung berhantaman dengan tubuh Soo Jung.

Yak!”

“Kaupunya mata atau tidak? Yak, Jung Soo Jung! Berhenti mengganggu hidupku atau -”

Kata-kata Jong In berhenti di sana. Nadanya yang kelewat tinggi lalu turun lantaran melihat mata Soo Jung yang berkaca-kaca. Ugh, apa Jong In yang bersalah di sini? Tentu.

“Hanya sampai di situ?”

“Apa maksudmu?”

“Sampai di nada itu kau membentakku, Kim Jong In?” Jong In terpekur sementara Soo Jung menatapnya tajam.

Gadis itu nampak menghapus sisa air mata yang bergumul di bagian pelupuk. Ia tahu bahwa pria ini membuatnya seperti ini -lagi.

“Aku tidak pernah mengganggu hidupmu. Itu kehidupanku, aku menjalaninya seorang diri. Jadi, jangan kaucampuri urusanku. Berhenti berpikir kau itu sempurna.”

Gadis itu meninggalkannya. Membiarkan Jong In membeku di hari ke lima musim dingin sementara mentari justru masih saja bersinar cerah di atas sana.

Mereka berbeda. Jong In dengan gaya hidup serba-mudahnya dan Soo Jung dengan perfeksionisme miliknya.

Mereka beda. Jong In dengan kulit tan yang tak keberatan terkena matahari, dan Soo Jung dengan kulit putih pucatnya yang nampak memerah tat kala sinar mentari menyinarinya begitu terik.

Ya, sangat berbeda sampai-sampai rasa itu datang begitu saja. Menengahi dinding kaku sedingin balok es di kutub selatan dan membiarkannya mencair.

Hari itu masih di musim dingin. Salju turun dengan lebatnya hingga membuat mantel, syal, dan rambut Soo Jung yang panjang dan berwarna kecokelatan dilingkupi salju di sana-sini.

Gadis itu mendesah kecewa lantaran menyadari apartemennya masih berjarak ratusan meter dari pandangan. Lantas ia menengok mencari kedai atau satu kanopi toko yang sudah tutup agar ia dapat berteduh.

Soo Jung nampak tenang dalam setiap rajutan langkahnya. Gadis itu memasukkan telapak tangan berbalut sarung tangan hangatnya ke dalam kantung mantel yang tebal. Setidaknya ia tak akan mati beku untuk beberapa menit ke depan.

Ya, memang tidak akan mati beku. Gadis itu mungkin hanya mati karena gila. Semenit setelah sampai di toko dengan kanopi tebal di atasnya, ia malah mendapat lemparan salju berbentuk bola kecil.

Shit. Dia mengumpat halus sementara maniknya mencari dengan garang. Siapa sih yang mau repot – repot melempar salju kepadanya? Paling – paling hanya bocah ingusan yang masih menggigit dot bayi.

Oi, Jung Soo Jung!”

Soo Jung hendak menoleh. Namun, pikirannya segera menyetir dirinya untuk tidak menoleh. Itu Kim Jong In. Jelas sekali itu suaranya. Jenis suara dengan definisi terburuk yang pernah Soo Jung berikan.

“Soo Jung-a, apa yang kaulakukan?”

“….”

“Soo Jung – a!”

“Hell! Jong In-ssi! Berhenti mengusikku!”

Jong In diam. Soo Jung juga. Jong In masih menahan napas lantaran gadis itu -Soo Jung – memakai embel-embel ssi yang mengganggu pendengarannya. Gadis perfeksionis itu mengangkat dagunya angkuh. Sedangkan Jong In masih nampak memikirkan kalimat selanjutnya.

“Kaumarah?”

“A-apa?”

Soo Jung menoleh. Memberikan Jong In tatapan super menyebalkan yang setara dengan tatapan nenek sihir di cerita fiksi.

Jong In mendekatkan dirinya. Mengambil jalan maju sementara Soo Jung terus menerus memberi langkah mundur.

“Kau masih marah kan terhadapku?”

“A-apa?”

Soo Jung terdiam. Sementara lengan Jong In yang bergerak bebas nampak merengkuhnya lamat-lamat.

Soo Jung tidak meronta -tidak karena dia sudah hampir gila.

“Maaf,”

“Maaf?”

Jong In terkekeh, dengan sederhana melanjutkan, “Maaf karena dulu membuatmu menunggu terlalu lama.”

Gasp. Soo Jung sudah berkata, dia tak akan mati beku di tempat ini. Dia hanya akan mati karena gila yang disebabkan oleh Jong In.

Lamat-lamat senyum tipis merekah di bibir Soo Jung. Bersamaan dengan degub jantungnya yang mulai tak menentu.

Terkadang kata maaf memang tak cukup untuk jadi batu loncatan dalam menyelesaikan masalah -tidak semudah itu.

Tetapi, hanya mengucap maaf pun setidaknya dapat membuatmu menjalani kehidupan yang baru. Hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Soo Jung merasakan air matanya tumpah di malam puncak musim dingin itu. Kenangan masa lalu menyeruak begitu saja.

“Jong In-a, kamu berkata akan pulang bersama kan?”

“Tidak, Soo Jung. Aku harus menemani Jin Ri malam ini,”

Menunggu lagi.

“Jong In-yah, apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadapku?”

“A-apa?”

“Kau-aku-rasa. Apa yang kamu rasakan terhadapku?”

“Kau Jung Soo Jung.”

Shit. Hanya lupakan, karena mereka memilih berpisah -tidak bersahabat lagi. Melupakan dua tahun yang dihabiskan untuk memupuk rasa demi bayang semu yang ambigu.

Apa artinya perasaan Soo Jung terbalas?

Apa saat ini adalah saat yang selama ini dia tunggu?

Apa ini yang dari dulu ia harapkan?

Semuanya menjadi semu. Konklusi bagaikan pelengkap di setiap kemungkinan yang ada di benak Jong In juga Soo Jung.

Duka masa lalu mulai terhapus. Namun, batin Soo Jung masih bertanya apakah ia siap untuk memulai ini atau justru tidak.

“Apa yang akan kaulakukan selanjutnya?”

Jong In hampir saja tersedak liurnya sendiri. Posisi mereka masih seperti itu -Jong In merengkuh Soo Jung. Namun, hawa yang berbeda kian muncul seiring ego mereka terkikis akan deru angin di sekitar.

Soojung mengalungkan lengannya balik, memeluk pemuda itu dalam diam. Air mata menyeruak selagi ia berusaha mengendalikan diri.

“Tahukah kau seberapa lama aku menunggu?” Soo Jung bergumam, hendaknya membuat Jong In kembali dirundung rasa bersalah. Pria itu menepuk-nepuk punggung Soo Jung. “Ya, dan tahukah kau seberapa lama aku menahan diri untuk tidak mendekapmu seperti ini?”

Soo Jung menggeleng, Jong In dapat merasakan itu. Mereka tetap begitu meski beberapa pasang mata nampak turut ikut campur dan memerhatikan mereka.

“Jong In-a, kau tentu tahu kan jika aku menyukaimu?” Jong In mengangguk untuk itu. Pemuda itu mengusap surai cokelat gelap Soo Jung.

Melepaskan dekapan itu terasa berat, jadi Jong In coba menggantinya. Ia mengentikan adu rengkuh mereka, beralih menatap manik Soo Jung dalam-dalam.

Oh, berapa banyak kepedihan yang sudah ia buat? Mengapa ia memerlakukan gadis ini dengan buruk di hari yang lalu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus merangsek ke luar sementara Jong In menyingkirkan helaian anak rambut Soo Jung, beralih mengecup puncak kepala gadis di hadapannya -menyalurkan rasa yang semenjak dulu sulit ditimbulkan.

Jong In tahu dia tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk ini. Tangannya menggenggam jemari Soo Jung, membawa gadis itu ke tempat yang lebih melindungi privasi dari yang tadi.

“Soo Jung-a,” ia menarik jemari gadis itu, mengecup telapak tangannya dan terkejut ketika sebuah cincin telah melingkar dengan manis di sana.

Ia terbata.

“Bagaimana bisa?”

Jong In tidak tahu, sungguh, gadis itu tak pernah mengatakan apapun padanya. Bahkan ketika hubungan mereka sudah kembali hangat, gadis itu masih bungkam.

“Sejak kapan?” kali ini Soo Jung yang mengaju tanya. Gadis itu menatap mata Jong In. “Sejak kapan kau lupakan cincin ini?”

Ia tersenyum.

Oh, ya, Jong In ingat itu. Ia merutuki kebodohannya dan kembali menatap mata Soo Jung. Ia tidak lagi segan mengecup telapak gadis itu, ia mengedarkan cumbuan di pipinya, dahinya, dan puncak hidungnya.

“Aku tidak tahu kalau kau selalu menungguku seperti ini,” ya, Jong In tidak tahu Soo Jung masih menganggap lamarannya waktu berumur delapan tahun berlaku. Cincin itu, masih sama, satu yang terbuat dari ikatan akar pohon di taman belakang rumah Jong In.

Pemuda itu tersenyum, Soo Jung memanglah berbeda dari gadis lainnya.

Ia menarik jemari Soo Jung lagi, menyematkan sebuah cincin asli dan menubruk cincin terdahulunya.

“Terimakasih sudah menunggu,” Jong In berkata-kata. Memandang Soo Jung sebelum mendekap gadis itu dan memutarnya di udara.

“Aku akan menikah!”

Well, ya, kau akan menikahi gadis itu, Jong In. Selamat atas itu.

Fin.

A/N:

Huaa! Maafin kisah totally-absurd ini. Aku berdosa, oke? Jadi, kalian boleh kok gak mereview ini, hahahaha. Etapi kalau masih berbaik hati /gubrak/ silahkan tinggal sebuah komen di kolom bawah! thankseu!😉

One thought on “Miss. Diff

  1. Halo dhilaaaaaa, aku tetep setia(?) sama kamu kok:3 hehehe /gombal/

    Kaistal yey kaistal xD nggak terlalu nge-ship sih tp aku bersyukur jarang yg suka hunstal xD

    Duuuuhhhhh bagus Dhilaaa, bagussss. Aaaahhhhh, kasian juga diawalnya tp yehet akhir2nya bagus bengaattt yaampyuuunnn><
    Aku harus gimana dong, akhir2 ini banhak banget yang buat fict nya JongKai dan sempet(?) juga sih JongKai narik hatiku, gimana dong duuuhhh u_u
    /galau tingkat dewa/

    Disini nggak ada typo dan aku tag-in ya kalo ada fict exo<3
    Ak mau dong Dhila dibikinin fictnya Hoya, ah dia itu kyeopta luar biasa huhu T_T
    Udah dulu yak._. Seriusan ini udah ngantuk bingit hehe😀
    Dadaaaahh, keep writing Dhilaaaa! Mumumuaahhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s