[Oneshot] Settled Run

|| Title : Settled Run || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : [Secret] Song Jieun, [2PM] Hwang Chansung || Support Cast : [2PM] Lee Junho ||

|| Genre : Crime, Married-Life, Life. Tragedy, RomanceㅡSlight! || Duration : Oneshot || Rating : PG ||

Pada akhirnya ketangguhanku dapat menapaki dunia luar yang penuh kepalsuan ini, bukan?

 

Pakaian kerjanya sudah terlanjur kuyup akan air hujan yang kelewat bergelimang. Hwang Chansung menapak-napaki area pejalan kaki dekat kantornya, beralih menuju parkiran di seberang gedung dan hendak mengendarai mobilnya menjauhi area hujan lebat. Memasuki musim seperti ini kadang membuatnya bayang menggeram. Bukan karena upah kerjanya yang menyusut. Bukan, toh dia sudah menjabat sebagai manajer dan ia rasa itu sudah cukup untuk menghidupi dirinya. Bahkan ayahnya yang seorang pejabat tak akan pernah bisa membeli rasa senangnya akan dunianya kini.

 

“Chansung-ssi!”

 

Pria berpostur tinggi itu menoleh mencari asal panggilan. Lamat-lamat bayangan seorang pria yang juga berpostur tegap dan tinggi mengisi retinanya.

 

“Oh, Junho! Ada yang bisa kubantu?” sapanya setengah bimbang. Menemui sekretaris pribadimu di area parkir jelas bukan opsi yang terlalu menguntungkan. Mungkinkah ia ingin meminta tumpangan?

 

Pria berwajah oriental itu membungkuk sopan padanya. Lantas menyerahkan sebuah payung pada genggamannya sebelum tersenyum ramah.

 

“Tadi Nyonya Hwang menitipkan ini pada saya,” jelasnya formal. Chansung berpikir kritis, lantas menepuk bagian pundak pria bernama Junho itu dengan maksud berterimakasih.

 

Tanpa perlu diusir, sekretaris bernama Lee Junho itu meninggalkannya dengan derap langkah besar-besar. Pakaiannya kering, berbeda seratus delapanpuluh derajat dengan kondisi memprihatinkan ㅡtatanan rambut tak beraturan, jas kerja hitam yang sudah nampak kumal karena terkena cipratan lumpur dari kendaraan yang melewatinya, juga alas sepatu yang sudah ditempeli tanahㅡ milik Chansung.

 

Pria itu mengamat-amati payung di genggamannya.

 

“Sejak kapan Jieun bertandang ke kantorku?”

 

Chansung bertemu dengannya pertama kali di acara pertemuan pemilik saham. Pria itu ingat dia sudah langsung terpesona akan keanggunan dan paras cantik anak salah seorang pemilik saham terbesar di perusahaannya. Chansung tidak pernah lupa ketika wanita bergaun merah menyala itu menyapanya canggung, sambil sesekali memperhatikan ponsel layar sentuhnya baik di atas mau pun di bawah taplak meja.

 

“Oh, kau sudah pulang?”

 

Chansung mengangguk mantap. Lantas mengalungkan lengannya di sekitar pinggang isterinya. Wanita itu beringsut menjauh, menatap Chansung lelah seolah tak ada rindu untuk sang Suami.

 

“Gantilah dulu pakaianmu. Kau basah seperti itu,” beritahunya. Lantas melenggok mengunci pintu kamar dan tidak membiarkan Chansung masuk.

 

Sepersekian menit wanita itu kembali membuka kunci, lalu kepalanya melongok ke luar. Menemui tatap heran Chansung dan berjalan santai menuju konter dapur.

 

Jieun namanya.

 

Chansung tidak pernah tahu bahwa wanita itu kini berangsur-angsur berubah. Rupanya tetap sama, elok dipandang mata seperti sedia kala. Namun, sikapnya yang begitu rentan dan dingin jelas mencetak banyak tanda tanya di benak Chansung.

 

Ah, mungkin dia dahulu terlalu memaksa wanita itu untuk dinikahinya. Mungkin ia terlalu keras padanya, atau mungkin ia selalu jarang berada di rumah sehingga isterinya itu merasa jengkel akannya. Tapi, seperti yang Chansung ketahui, ia selalu bersikap lembut pada wanita itu. Tak pernah dalam tiga tahun mereka menikah, ia menjatuhkan suara tinggi atau pun mengejek wanita itu. Tidak sekali pun.

 

Jadi, mengapa?

 

“Makananmu sudah kusiapkan di atas meja. Kau bisa mengambil hidangan pencuci mulut di konter.” Jieun berjalan tergopoh menuju kamar tidur mereka, lalu bayangannya hilang di balik pintu.

 

Sekiranya butuh waktu beberapa menit sampai Chansung benar-benar mengeringkan dirinya dan memakan makanan yang disiapkan isterinya itu. Ia lantas menaruh piring dan seperangkat alat makan yang baru digunakannya di wadah pencuci. Seketika alisnya berkerut.

 

“Nyonya Hwang menitipkan ini pada saya.”

 

Sampai sekarang Chansung tidak pernah tahu kapan Jieun pernah menemui Junho atau siapa pun di kantornya. Ia juga tidak pernah melihat isterinya itu bergaul dengan orang lain maupun teman lama. Kehidupan seorang Song Jieun seolah telah terkubur dalam-dalam ketika ia menyandang nama keluarga Hwang.

 

Jieun masihlah wanita anggun, namun Chansung tak pernah mendambakannya seperti sedia kala. Dia seolah mengisolasi diri, membuat jarak yang cukup jauh di antara mereka. Singkatnya, Chansung merasa ini bukanlah kehidupan pernikahan yang selama ini ia harapkan.

 

Alisnya berkerut ketika menemukan dua gelas besar untuk wine di wadah pencuci, juga dua buah piring untuk menikmati sepotong kue, beserta bekas krim dan potongan buah ceri di atasnya. Chansung memang tak pernah melarangnya untuk mengundang teman. Namun, yang ia pertanyakan hanyalah, siapakah orang itu?

 

 

Hari demi hari masih berlalu dan Chansung bersyukur kegiatan kantor tidak terlalu ketat hari itu ketika ia memutuskan untuk membatalkan janji temu untuk persiapan kerja sama perusahaan. Dia pulang lebih awal, membawa satu bucket bunga mawar merah tanpa duri bercampur bunga-bunga babys-breath yang kecil. Hwang Chansung menatap senang bunga itu, membayangkan isterinya ㅡpaling tidakㅡakan tersanjung atas idenya untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang terlewat kemarin.

 

Ia menapaki bagian depan apartemen, menemukan sepatu kerja yang mirip dengannya di sana.

 

“Jieun, apakah sepatu ini untukku?”

 

“Apa? Oh, itu, ambillah.”

 

Chansung mengernyit heran. Mungkinkah Jieun membelikannya sepatu lagi?ㅡtapi mungkinkah wanita itu memberikannya sepatu bekas?

 

Dia mengganti alas kaki, lalu menaruh tas kerjanya di atas sofa. Mengendurkan sedikit dasi kerjanya, Chansung yang berniat ingin duduk di sofa merah pada ruang tengah itu mengurungkannya ketika melihat jas kerja yang tersampir asal di pinggiran sofa itu, beserta jam tangan dan dasi yang tak berbentuk rapi lagi.

 

“Apakah Jieun mengundang ayahnya?” Chansung tidak yakin akan pertanyaannya itu. Ia toh cukup tahu, bahwa ukuran jas ayahanda Jieun tidaklah sekecil ini. Ukuran jas ini justru sama persis dengan ukuran tubuhnya sendiri.

 

“Jieun kau di dalam?”

 

Chansung beringsut mendekat pintu kamar mereka. Lantas membukanya tanpa sempat mengetuk. Seketika, maniknya membuka lebar, tatapnya melotot, hatinya mencelos.

 

“Lee Junho?”

 

Bukan pemikiran baik jika ia mengira Lee Junho tengah menyelingkuhinya dengan mendekap isterinya kini. Tatapan intens antara Jieun dan Lee Junho lantas terputus, berganti dengan tatap pongah pada Chansung yang kini menjatuhkan satu bucket bunga yang tadi ia bawa-bawa.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Lee Junho diam. HwangㅡahㅡSong Jieun juga. Mereka sempat mengadu tatap sebentar sebelum melepaskan diri satu sama lain. Beralih menatap Chansung yang mengepalkan genggaman tangannya erat di ambang pintu.

 

“Oh, kau sudah pulang, Chansung-ssi.” tegur Lee Junho sama sekali tidak ramah. Pria itu membetulkan kemeja berlengan panjangnya sebelum mendorong lembut tubuh semampai Jieun ke belakang tubuhnya ㅡmenyembunyikan wanita itu.

 

Demi Tuhan! Amarah seorang Hwang Chansung ingin meledak dengan segera. Tanpa sempat meninju sekretaris yang kurang ajar itu, Chansung bergegas memasuki kamarnya. Maniknya berkilat marah dan menarik lengan Jieun yang melingkar manis di pinggang Lee Junho dari belakang.

 

“Lepaskan,” Chansung memberengut akan itu. Tak sudi juga ia untuk menyentuh kulit halus Jieun lebih lama. Tapi, untuk sekarang, ia harus.

 

“Kauㅡ” Chansung berkedip beberapa kali. Mencoba sembunyikan air mata yang mengkilat di depan korneanya. Ia lantas melirik Jieun dan Junho bergantian.

 

“ㅡbagaimana bisa, kalianㅡ”

 

“Tentu kami bisa, Chansung.” sela Jieun tanpa emosi. Wanita yang duduk di sofa itu lantas berjalan mendekati Lee Junho, duduk di sampingnya tanpa ragu.

 

“Simpel saja jika Anda ingin tahu, Chansung-ssi,” Lee Junho menatapnya tak gentar. Ia menggenggam jemari Jieun kuat-kuat.

 

“Isteri Anda, ah! maksud saya, kekasih saya ini, sudah memilih saya daripada Anda, Tuan Hwang.”

 

Lee Junho cekikikan akan itu. Dia lamat-lamat mencuri satu kecupan di pipi putih bersih milik Jieun, lalu mengadu tatap Chansung yang jengkel.

 

“Tapi, dia ituㅡ”

 

“Isteri Anda. Benar, begitu?”

 

Chansung mengangguk layaknya orang bodoh. Kemudian tanpa sempat memprotes, ia mulai tergugu bagai bayang semu. Mendengar Lee Junho dan Song Jieun yang bergantian bercerita.

 

“Saat itu aku masih menghubungi kekasihku, namun kesulitan karena gedung kantormu itu ternyata menutup celah sinyal ponselku. Aku pun yang sedang memberengut kecewa tidak pernah tahu ㅡbahkan tidak sudiㅡketika tiba-tiba kau melamarku pada Ayahku. Sama sekali belum sempat menolak ketika kau dengan kalimat enteng dan sok formalmu itu mencoba mempermainkan peran saham Ayahku di perusahaanmu, begitu juga dengan peran sahammu di perusahaan yang tak cukup besar milik Ayahku,” aku Jieun kemudian.

 

“Lalu tanpa sempat mengabari kekasihku, aku sudah diharuskan menetap di kediamanmu yang busuk ini. Kau diam-diam melepaskan kartu sim berisi nomor-nomor penting dari ponselku, pun berpolah tidak sengaja menjatuhkan ponselku ke dalam rendaman air panas di wastafel. Betapa tidak beruntungnya aku karena kekasihku pun baru saja mengganti nomornya, sehingga aku yang belum sempat menghafal setiap angkanya turut tergugu dan terisolasi di apartemen bodoh ini.”

 

Chansung menutup matanya, mengusap wajahnya lelah. Ia kikuk. Semua yang dikatakan Jieun benar. Toh dia anak seorang pejabat kaya raya, dan seperti yang diketahui semua orang, Hwang Chansung selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Termasuk gadis jelita macam Song Jieun.

 

“Lalu anda menggeser posisi saya sebagai area manajer, Tuan. Anda tidak lupa akan hal itu, bukan?”

 

Seringai Junho menambah beban dosa di pundak Chansung. Pria itu melemah kini.

 

“Lalu setelah menjadikan saya sekretaris pribadi yang upah kerjanya berada di bawah upah minimum, Anda pun diam-diam menikahi kekasih saya yang sudah saya kencani selama lebih dari tujuh tahun, Tuan Hwang,” imbuh Junho lagi. “Dan seperti yang Anda ketahui kini, kekasih saya, tak lain dan tak bukan adalah isteri anda, Nyonya Hwang Jieunㅡ ah, maaf, maksud saya, Nona Song Jieun.”

 

Chansung rasa hatinya mencelos. Dadanya bergemuruh. Ia pun tak kuasa menahan segala emosinya yang terlanjur memuncak dan surut dengan sendirinya. Jika seperti ini terus menerus, seorang Hwang Chansung sudah dapat memprediksikan bahwa dirinya akan menjadi orang sinting di kemudian hari.

 

Mengesampingkan fakta bahwa dia bersalah telak. Chansung memagut fokusnya, lantas bersedekap tangan dan bersandar pada sofa yang empuk.

 

“Lalu kenapa kau tidak muncul pada saat aku menikahi wanita ini, Lee Junho? Apa kau terlalu pengecut? Atau apakah kau terlalu gengsi untuk mengalahkan posisiku?”

 

Jieun mendecak, dan Lee Junho mendecih. Chansung mendapat kekalahan telak untuk itu. Meski dirinya yang sungguh egois, tetap belum sadarkan diri akan hal itu.

 

“Lalu, kenapa kau tidak kunjung berpindah hati, Hwang Jieun? Tidakkah kau melihatku yang menunggumu?”

 

Jieun tergugu akan pertanyaan itu. Ia melirik Junho di sampingnya, mengeratkan genggaman jemari mereka yang masih setia bertautan. Wanita itu membenahi tatanan rambutnya. Kemudian ia mengembangkan seulas senyum pada Hwang Chansung yang berstatus sebagai suaminya itu.

 

“Apakah kau merasa perbuatanmu di hari lalu telah berhasil menumbuhkan benih cinta di hatiku, Bayi Besar?” Jieun memandang Chansung remeh. “Pikirkan dulu perilakumu sesaat setelah mencurigai sekretaris pribadimu ini beberapa waktu lalu padaku. Apakah dengan itu aku bisa jatuh hati padamu? Tidak, Chansung. Tidak.”

 

Tak perlu dilanjutkan pun Chansung tahu bahwa hatinya terlalu egois. Ia melihat genggaman jemari Jieun menguat diselingi tangis wanita itu yang terdengar telinganya.

 

“Apakah kau juga harus membuat Ibuku menderita?! Mengapa kau turut sertakan adik-adikku juga nasib perusahaan yang dibangun susah-payah oleh Ayahku? Kau brengsek!

 

Junho harus menahan Jieun untuk itu. Ia merangkul pundak wanita itu, bermaksud menenangkan jiwa Song Jieun yang terguncang akan kepahitan fakta yang baru beberapa waktu lalu ia ketahui.

 

“Lama tidak bisa mendengar kabar tentang keluargaku, lalu aku harus termangu melihat topik standar di koran yang kaubawa beberapa waktu lalu? Topik yang mengatakan peristiwa dramatis yang dialami keluargaku. Hwang Chansung, kau tidak lupa telah membuat Ibuku sekarat, bukan?”

 

Chansung mendelik wanita itu. “Lancang sekali kau mengobrak-abrik laci meja kerjaku!”

 

Jieun tersenyum sinis.

 

Tanpa belas kasih, ia mengeluarkan seutas tali panjang. Mengikat tubuh Chansung yang sempoyongan lantaran shock dan membuat pria itu tak bisa bergerak. Sementara Junho mengamat-amati wanita itu.

 

Tidakkah ini salah? Apakah Junho atau Chansung telah merubah seorang gadis lembut seperti Song Jieun menjadi wanita semenyeramkan ini?

 

Jieun meludahi wajah Chansung. Mengeluarkan jarum suntik dari kantung mantel hangatnya. Lantas tersenyum picik ke arah pria itu. Sementara Junho menatap keduanya skeptis.

 

“Jieun-yah,” panggil Junho halus. Wanita itu tak kunjung menoleh, ia justru masih sibuk menjambak rambut Chansung dan membelai wajah tampan pria pewaris perusahaan ternama itu.

 

“Diamlah dulu, Lee Junho. Toh kau akan mendapat gilirannya nanti.”

 

Seketika Junho terperangah. Pria itu mengambil jasnya diam-diam dan memakainya. Berniat ke luar secara mengendap-endap melalui pintu depan yang berada di belakang tubuh Jieun dan Chansung. Sebelum tangannya bergerak lambat meraih kunci mobil di meja, Junho dapat melihat bagaimana Jieun menyuntikkan sesuatu ke kulit Chansung dengan kasar. Kemudian, tanpa disangka-sangka mematahkan jarumnya begitu saja sehingga tertanam dengan paksa dan menimbulkan teriakan tertahan dari Chansung.

 

“Lee Junho,” panggil Jieun lembut. Sebelum sempat menoleh, wanita itu tahu bahwa Junho berusaha meninggalkannya. Meninggalkan dirinya yang sudah gila seperti sekarang. “Aku harap kau tidak bermain-main dengan kunci mobilnya, Sayang.”

 

Junho bergidik akan itu.

 

Ingatannya pun kembali pada saat-saat di mana ia mengganti nomer ponselnya. Saat itu, jelas lah ia memutuskan hubungan, berdalih ponselnya rusak dan mencoba meninggalkan Jieun yang sendirian dan rapuh.

 

“Apakah kau masih berhubungan dengan wanita bernama Tiffany itu, Lee Junho?”

 

Suara Jieun hampir saja teredam oleh lengkingan sakit Hwang Chansung yang mulai tidak sadarkan diri sementara Junho mengutuk dirinya yang masih dapat mendengar teriakan wanita itu.

 

Junho ingat bagaimana Tiffany begitu memikat. Dengan bibir berpoles warna merah muda dan perawakan kecil yang manis dan anggun. Tidak seperti Jieun yang terlalu tertutup dengan polesan merah darah di bibirnya ;terkesan old-fashioned dan berbeda dengan Song Jieun yang semasa sekolah dulu ia idam-idamkan.

 

Tapi, di luar dugaannya, Jieun berbalik menatapnya. Wanita itu mengamit lengannya lembut dan mengedipkan sebelah mata. Menyadari tipuan Jieun yang cukup terlihat nyata itu, Junho bernapas lega. Ia lantas memastikan bahwa Hwang Chansung benar-benar sudah tak sadarkan diri dengan buih-buih yang mendesak ke luar dari mulutnya yang kini sudah tidak diplester.

 

 

Maka sebelum keberadaan mereka tercium pihak yang berwenang, baik Jieun mau pun Junho lekas-lekas meninggalkan tempat itu. Tempat yang selalu mengunci Jieun yang rapuh di dalamnya.

 

 

Pada akhirnya, setelah tiga tahun yang ia lalui, Jieun pun berhasil menghirup udara bebas, pun merasakan bagaimana rasanya menapaki jalan luar. Ia rindu, tapi dia pun tak mengesampingkan beberapa hal. Matahari telah meluncur ke peraduan dan meninggalkan sinar bulan yang temaram di langit sana. Junho memimpin kemudi, hendak membawa mereka untuk singgah di apartemennya.

 

 

“Lee Junho?”

 

 

“Ya?”

 

 

“Pada akhirnya aku berhasil melarikan diri dari tempat itu, bukan?” Junho mengangguk. Turut merasa senang untuk wanita di sebelah kanannya. Sejujurnya, kini ia merasa kasihan terhadap wanita itu.

 

 

“Lee Junho,”

 

 

“Ya?”

 

 

“Apakah kau mengira hidupmu masih akan terus berlanjut?”

 

 

Junho seketika membanting kemudi, menginjak rem dan mobil mereka berhenti di bahu jalan dengan suara decitan yang memekakkan telinga.

 

 

“Aku tahu kau pun telah membuatku jenuh, begitupun denganku dulu.”

 

 

Junho mendengarkan wanita itu dengan saksama, lantas mencoba melepas seat-belt yang mengekang tubuhnya meski sulit. Dia melihat wanita itu menyalakan audio kencang-kencang, dan memasukan tangannya ke dalam saku mantel hangatnya.

 

 

“Lee Junho,”

 

 

Junho sangat takut untuk menjawab panggilannya, pun menoleh dan bertatap muka dengan Jieun yang kini bersuara serak.

 

 

“Aku juga sudah bosan denganmu. Maka enyahlah!” Belum sempat Junho menuruti perintah wanita itu untuk pergi dan lesap dari pandangannya, genggaman erat Song Jieun sudah terlebih dahulu menjerat pergerakkannya.

 

 

“Hey, Lee Junho,” desis Jieun. “Ketemuilah ajalmu di sana.” katanya seraya membanting stir, membuat mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan dan menembus kabut malam di atas permukaan jurang yang curam.

 

 

 

“Hey, Kekasihku Lee Junho, dan Suamiku Hwang Chansung, Bukankah sekarang aku telah berhasil menginjak dunia luar?”

 

 

| F I N |

 

 

D’s Note :

Wohoohoohoo! Katakan ini seram katakan ini seram! Karena daripada aku sempoyongan lihat berita banjir Jakarta setiap saat, lebih baik memanfaatkan hujan di luar sebagai ide untuk buat fanfiksi pelik ini, hahaha!

 

Amalkan komenmu, nggak juga gapaapa. Toh kamu-kamu ini bakal menemui bayarannya nanti! ((Jieun’s mode : off))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s