Sleepless Night

|| Title :  Sleepless Night || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : Kim Jong In [EXO], Park Min Ha [OC]||

|| Genre : Romance, Friendship, Fluff-fluff-fluff!  || Duration :  1542 words || Rating : Teen  ||

Jong In just want Minha for his own. Not else. 

Minha mengamat-amati gerakan dance Jong In setiap menitnya dengan teliti. Lalu gadis itu akan segera memberhentikan musik di stereo, lantas menyentuh bagian tubuh Jong In yang dirasa kurang membubuhkan power, atau pun salah koreografi.

“Kalau begini kapan akan selesai, Bodoh,” gumamnya asal sembari memukul kepala Jong In.

Yak!”

“Apa?”

Jong In menggeleng. Ia lantas mengusap keringat di sekitar pelipisnya, lalu menangkap lemparan sebotol air mineral dingin dari Minha. Setelah berganti pakaian, ia pun merangkul Minha posesif.

“Huh, baru sedikit saja salah kau sudah mengomeliku. Untung saja kau ini tidak terlahir untuk jadi saudaraku, Park Minha!” Jong In mengacak-acak rambut sahabatnya itu ㅡyang langsung menuai protesㅡ dan membawa diri mereka yang sudah sama-sama lelah melangkahi gerbang sekolah. Beralih menunggu bus di halte dekat sana.

Mentari sudah kembali ke peraduannya kala itu. Baik Minha mau pun Jong In disibukkan dengan kegiatan menghangatkan-diri-masing-masing dan melirik diri satu sama lain. Gadis itu tertawa kecil melihat perilaku sahabatnya sejak kecil itu.

 

“Kau terlihat seperti orang idiot, Jong In-a!”

Jong In mendeliknya tak suka, lantas mengapit kepala gadis itu ㅡdengan mudahnyaㅡ di antara ketiaknya.

Yak! Yak! Hentikan! Yak!

“Tidak mau. Dasar bibi cerewet!”

Bukan lagi jadi kejutan ketika melihat mereka berpolah seperti ini. Mereka toh sudah sering sekali menghabiskan waktu bersama. Itulah mengapa Jong In bersyukur Minah sudah terlahir di dunia, dan berkenalan dengan dirinya, lalu menjadi sahabat sampai sekarang.

Sesaat kemudian bus yang mereka tunggu datang dan Jong In maupun Minha tak ingin membuang waktu lagi sehingga langsung mengambil tempat duduk mereka. Melihat gadis itu tertawa, melihatnya tersenyum, pun melihatnya yang sibuk memerhatikan jalanan di luar jendela bus membuat Jong In tidak mampu berkedip banyak.

“Ada apa melihatiku begitu, huh? Kau naksir aku, ya?” Minha cekikikan. Ia pun memukul bahu Jong In pelan, pemuda itu mengaduh akannya.

“Maaf, maaf. Aku hanya baru menyadari sesuatu,” Minha menoleh padanya, manik penuh tanda tanya.

“Menyadari apa?”

Jong In mengerling jahil padanya, lantas berpura-pura menjadi Paman yang pelit dan tak mau membagi upah kerjanya. Ia toh suka sekali melihat ekspresi memberengut Minha yang lucu. Jong In gemar menggodanya.

 

“Oh, bagus! Kau menipuku lagi, Kim Jong Kai!”

 

Ah, nama itu.

Jong In jadi harus menelan pahitnya. Jika mengingat fakta bahwa ia adalah seorang trainee yang tak lama lagi akan memagut debut, Jong In mulai merasa tak enak. Masalahnya ㅡsama seperti yang trainee lain rasakanㅡ ia akan meninggalkan Ibunya di sini, juga Minha dan ayah Minha ㅡpaman Jaeseokㅡyang selalu baik hati padanya dan Ibunya sedari dulu.

 

Kai, bisa dibilang adalah stage name-nya nanti. Jong In tak mampu membantah agensinha, atau ia tak akan menemui debut sampai kapan pun dan masa train-nya selama ini akan berakhir sia-sia.

 

Pemuda itu mengalungkan lengannya pada bahu Minha. Berkehendak menaruh segala rasa putus asanya pada gadis itu, meski tak merta membuatnya merasa kehilangan beban. Minha itu adalah obat penawar, penyembuh seorang Kim Jong In. Meski ia hanya menawarkan kenyamanan beberapa saat, tak mampu menghapus beban yang Jong In miliki, tapi pemuda itu merasa Minha sangat membantu.

 

“Aku tidak ingin kehilanganmu,” katanya di ceruk leher gadis itu. Merangkulnya pun tidak cukup, maka Jong In mendekapnya.

Minha memang bukan permata, pun berlian yang harus diagung-agungkan dan dijaga. Namun, hanya dengan seorang Park Minha lah dada Jong In senantiasa bergemuruh. Berdentam-dentam, mau pun tersaruk-saruk.

 

Deru mesin bus dan sedikit asap yang mengepul menemani senyap di antara Minha dan Jong In kala itu. Melihat temaram bulan di langit, dan mendapati diri mereka tergugu di halte tanpa orang-orang di sekitar. Jong In menengadahkan kepalanya, bersitatap langsung dengan sinar keperakan Bulan di langit malam.

 

Kim Jong In, kau akan melakukan debut pada bulan-bulan awal di tahun 2012. Latihan debutmu akan dimulai sejak pertengahan tahun 2010.

 

Jong In mengusap wajahnya lelah. Agensinya bukan agensi kecil, Jong In dan Minha tahu itu.  Maka, Minha selalu mencemaskan setiap detiknya…

 

“Kamu harus makan dengan teratur, Jong In. Jangan lupa bawa selalu selimut keberuntunganmu itu. Aku tahu kau sukar tidur tanpanya.”

Jong In yang masih kedinginan di balik balutan jaket tebal sekelas Kolon Sport sedikit menyampingkan tubuhnya. Melirik Minha sembari membuang napas dan buat kepulan uap putih dari mulutnya yang terbuka.

 

Dia menghampiri Minha selangkah dua langkah. Lalu memeluk gadis itu dari samping, turut menenggelamkan wajahnya di antara ceruk leher dan surai hitam pendek sebahu Minha yang beraroma lembut. Jong In sudah bisa menjamin bahwa ia akan merindukan gadis ini nanti.

 

“Minha-yah,” panggil Jong In dengan volume sepelan semut yang sedang berdemokrasi; masih menenggelamkan wajahnya di ceruk bahu gadis itu.

 

Hm,”

“Terimakasih.”

Minha menikmati semilir angin sehabis hujan itu lamat-lamat. Tersenyum manis meski Jong In tidak dapat melihatnya.

 

For what?”

“Anything.”

 

Minha mengangguk ㅡJong In dapat merasakan gerak kepala gadis ituㅡ dan mengusap-usap surai gelap Jong In penuh sayang. Memangnya, kapan seorang Park Minha tidak menjatuhkan kata sayang pada pemuda di depannya ini?

 

Then, i’ll thank you back.”

Jong In mengerutkan dahinya. Omong-omong, kemampuan bahasa asingnya masih belum mahir. Ia pun meraba-raba maksud gadis itu sebelum menambahkan, “Thank me for what?”

“Anything, anytime, any memories, weather it’s conclude hapiness, or maybe made my eyes teary. Thanks, Bro.”

 

Jong In tidak mengerti arti ucapan Minha, tapi ia berani jamin bahwa ia dapat dengan segera mengubah keadaan yang kikuk ㅡbagi dirinya tadiㅡ menjadi lebih awkard. Pemuda itu melepas dekapnya. Mencoba menatap kilatan manik Minha yang selalu teduh bagai rumah.

 

Dia mengusap-usap puncak kepala sampai ujung helai surai gadis itu berulang kali dengan penuh sayang.

Menyisipkan kata seperti jaga-dirimu, makanlah-yang-teratur, jangan-lupa-meminum-vitamin, dan beberapa hal lainnya.

Jong In merasakan gemuruh itu lagi di dadanya, dan mencoba menepisnya tepat saat Minha mengalungkan lengannya pada tubuh Jong In, merengkuh pemuda itu dan membawanya dalam putaran pelan ;selayaknya bocah kecil.

 

“Aku akan merindukan Jong In-ku ini. Mungkin setelah berhasil menggapai mimpinya ia akan sangat jarang menghubungiku. Tapi, apa pun yang nanti akan dilakukannya, aku percaya pada itu semua. Jong In sahabatku yang tercinta pasti akan makan dengan benar, memerhatikan kesehatannya, juga mengingat-ingat rumahnya sewaktu-waktu. Paling tidak, akan ada aku di dalam ingatannya. Kami terlalu sering bermain di rumahnya, sih.” Jong In mendengar gadis itu menahan tangisnya. Dia menepuk-nepuk punggung Minha, sementata gadis itu ㅡseperti Jong In tadiㅡ menyembunyikan wajahnya di ceruk leher seorang Kim Jong In.

 

Malam itu bukan pengandaian, bukan juga kenangan pahit. Baik Jong In mau pun Minha akan selalu mengingat kenangan mereka, karena, hampir semuanya menyenangkan.

 

Jong In melepas dekap Minha. Lalu menautkan jemarinya pada gadis itu. Lantas tangan kanannya yang bebas meraih lembaran surai Minha, menaruh anak rambut gadis itu di belakang telinganya. Dia menelusuri wajah Minha yang selalu nampak memesona itu dengan ibu jari dan telunjuknya dengan lembut, membuat Minha merasa setruman kecil dan rasa meletup-letup yang familiar dari dalam dirinya.

 

Jong In bergerak mendekat. Mengesampingkan fakta bahwa Minha-nya kini berwajah kemerahan dan memberengut menahan malu. Tapi, ia tetap tersenyum geli akan itu.

 

Dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Mengusap pipi kanan gadis itu, membawa ibu jarinya dalam gerak memutar yang memabukkan.

Pukul 23.47

Jong In melirik jam besar di belakang Minha yang terpasang di dinding halte. Pemuda itu melirik gadis itu lagi. Besok lusa ia akan kembali ke Seoul. Besok hari ia akan disibukkan dengan packing. Maka dia membawa gadis itu mendekat lagi. Mendekapnya dalam diam.

“Jong In-ah,

Sst.”

Minha percaya akan pemuda itu, balas membalas dekapnya sebelum Jong In melepas pagutan diri mereka. Pemuda itu membelai pipi Minha lagi, lalu mendekatkan kepalanya. Minha memejamkan matanya ketika merasakan sapuan hangat dan lembut di permukaan dahinya. Jong In pun begitu. Ia memejamkan matanya. Berharap jika ia membuka mata, maka ia akan menemukan Minha untuk dipinangnya di kemudian hari.

 

“Terimakasih sudah jadi orang pertama yang mau menjadi temanku di taman kanak-kanak,” Jong In mengecup salah satu jemari Minha, membuat gadis itu bergidik geli.

 

“Terimakasih karena memutuskan untuk berada di samping kursiku ketika sekolah dasar dan memproklamirkan gelar sahabat sampai kita remaja,” Minha mendelik pemuda itu sangsi.

 

Benarkah ini Kim Jong In? ㅡatauㅡmengapa Jong In menambahkan kata sampai-kita-remaja? Apa ia akan benar-benar memutus persahabatan mereka semenjak taman kanak-kanak?

 

Ini menyebalkan. rutuk Minha tidak jelas. Maksudnya, hey! untuk apa repot-repot bersahabat selama belasan tahun bila akhirnya begini?

 

Lalu Jong In menggenggam jemarinya lagi, repot menelusuri saku mantelnya beberapa saat sampai Minha sempat menguap. ((Minha seharusnya tidak melakukan itu.))

 

“Apa kau mengantuk?”

Gadis usia delapanbelas itu mengangguk. Dia mengusap matanya dengan tangannya yang bebas.

“Bersabarlah sebentar.”

Jong In melirik waktu dan jarum jam menunjuk menit ke 57 pada pukul 23. Pemuda itu mengeluarkan benda melingkar dari sakunya tanpa sepengetahuan Minha dan mencuri satu kecupan di pipi gadis itu yang kini memerah bagai tomat matang.

 

“Sialan kau!”

“Tapi, lihat! Wajahmu memerah, Minha-yah.

 

Lalu tanpa aba-aba pemuda itu menyematkan sebuah cincin pada jemari Minha dan mengecup punggung tangan gadis itu.

 

“Tunggulah aku! Maka aku akan mengganti cincin itu dengan yang lebih baik, Minha.”

 

Gadis itu mengangguk patuh pada perintah Jong In. Lalu melambai riang ketika Jong In hendak berbalik saat mereka sudah sampai di depan kediamannya.

 

“Sampai jumpa!”

“Aku mencintaimu, Park Minha!”

Minha tersipu malu. “Ya, aku juga!”

 

Fin.

 

Selesai pada pukul 00.00.

Berpuluh menit. Hahaha. See ya tommorow morning, guys! Keep healthy!

5 thoughts on “Sleepless Night

    • makasih udah baca dan komen ya nabilaaa :3
      etapi.. untuk sequel, aku gak terbiasa bikin. Mungkin another-story ((itupun sangat tergantung mood)) jadi permintaanmu masih belum bisa kujanjiin. Makasihh😉

  1. Pingback: Starlight Hug | ♣ futureasy's ciel ♣

  2. Dhila aku datang akhirnyaaaa, yehet!^^
    Maafin ya, aku banyak tugas minggu ini dan masalah pun turut ikut disetiap tugas:(

    Aaaah, ini Jongin. Kenapa ini sweet sihhh? Kenapa? Aku jadi senyum2 sambil nahan mata kelet nih xD tp baca ff paling enak ya jam-jam segini. Bisa menghayati isi cerita. Eh kok ngelantur-_-

    Oiya Dhila, aku nemu typo nih:
    menjadi lebih awkard.
    Harusnya awkward;;) kurang w, hehehe😀

    Duh apalagi ya? Udah dulu ya, mau cabut ke sequel nih xD see yaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s