[Oneshot] White Crush

white-crush-recovered

|| Title : White Crush || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : [15&] Park Jimin, [GOT7] Park Jin Young, [GOT7] Im Jaebum || Support Cast : [f(x)] Jung Soo Jung ||

|| Genre : Friendship, Hurt/Comfort, Life, School Life, Love-LifeㅡSlight!  || Duration : Oneshot || Rating : Teen ||

 Friend is……

 

Ketika kamu merasa perasaan sudah membawamu ke tempat yang jauh, tidak ada yang bisa menarikmu kembali; kecuali dirimu sendiri dan orang-orang berharga di sekitarmu.

 

***

 

Matahari sudah terlanjur sangat menyilaukan mata, dan awan kelabu berarak menjauh. Jimin mengusap peluh di sekitar pelipisnya, lantas kembali berlari mengitari lapangan bersama beberapa teman lelaki yang memang sedang berlatih sepakbola. Punya tubuh gempal di usia remaja pertengahan seperti dirinya bukan opsi yang tepat, apalagi jika gadis remaja seperti Jimin sudah menaruh hati pada lawan jenis. Sangat memalukan jika si Pria Idaman tahu bagaimana buruknya penampilannya itu.

“Sudahlah, Jimin! Kamu sudah berlari tujuh keliling!” Lengkingan suara Jin Young ㅡtemannya yang sedang berlatih sepakbola ㅡ tak begitu ia indahkan.

Jimin menjadi pribadi yang tak acuh jika sudah seperti ini. Jika pemain baseball saja rela berlari sepanjang pertandingan, mengapa dia tidak? Toh Jimin sedari kecil tidak memiliki masalah pernapasan maupun organ dalam. Ya, kecuali massa tubuhnya yang sedikit berlebih, sih.

“Aku masih belum terlalu lelah, Jin Young! Beritahu aku jika sudah sepuluh keliling, ya!” pekik Jimin lagi, menuntaskan putaran ke delapannya.

Sementara Jin Young di sudut lapangan hanya mampu mendengus keras. Tahu dengan jelas bagaimana pribadi Jimin sejak taman kanak-kanak jelas bukan takdir yang menguntungkan, sehingga ia hanya bisa berdiam diri dan kembali melanjutkan latihan bersama teman-temannya yang lain. Toh jika sudah lelah, Jin Young tahu dengan konkret bahwa Jimin akan berhenti dengan sendirinya. Lalu gadis itu akan berjalan gontai ke pinggir lapangan dan bersungut-sungut kenapa tidak dari dulu dia menyadari untuk menjaga pola makan. Meskipun, bagi Jin Young, pola makan Jimin tak pernah salah di matanya.

Delapan keliling,

Sembilan putaran,

Putaran ke sepuluh.

Latihan sepakbola Park Jin Young hampir berakhir, dan dia tak kunjung melihat Jimin berhenti berlari. Gadis itu masih sibuk mengatur napas sambil berlari. Tak jarang dia membungkuk sedikit dan menumpu lengan pada lututnya. Jin Young menggeleng-gelengkan kepala setelahnya.

Dasar keras kepala!” pikirnya sebelum membenahi peralatan olahraganya.

Tepat sesudah itu, seorang kakak kelas bernama Im Jaebum melintasi lapangan. Dengan sebuah earphone menempel pada kedua telinganya, dia mengernyit heran melihat Jimin berlari tak henti-hentinya. Ia sempat berhenti di tengah lapangan, lalu membuat Jimin juga turut berhenti karenanya. Saling menatap beberapa detik, Jimin mencoba menetralkan deru napas dan dentam jantungnya yang masih belum stabil.

“Jimin-a!” Jin Young memekik memanggil namanya dari pinggir lapangan, di bawah pohon ek. Dia memandang Jimin dari kejauhan dengan jengah. Kemudian Jin Young berlari beberapa meter, menengahi beberapa senior yang baru saja pulang dari jam tambahan mereka dan menepuk bahu Jimin.

“Kau sudah berlari sepuluh setengah putaran, Jimin. Sebaiknya kita pulang!” ajaknya.

Tanpa memutus pandang, Jimin mengangguk, menyetujui ajakan pulang teman sekaligus tetangganya itu. Ia membungkuk sedikit, menunjukkan sopannya ia pada Jaebum yang kini mengedikkan bahunya, sambil melanjutkan berjalan. Pada saat itu, Jimin tahu usahanya belum sia-sia.

***

Lalu untuk apa memikirkan yang bukan sepatutnya dipikirkan?

 

Oi, Park Jimin!”

Jimin yang tengah uring-uringan di ranjangnya yang nyaman pun kontan menajamkan pendengaran. Dia mendekati pelipir balkon ketika mendapati bunyi lemparan batu kerikil pada jendelanya. Lalu di sana ia menatap Jin Young ㅡdi bawahㅡ malas. Berkacak pinggang, Jimin kembali menutup pintu dari kaca itu dan berbalik pergi.

Jin Young sedang menumpukan punggungnya pada dinding bata merah di sebelah kiri pagar rumah Jimin dan memasukkan kepalan tangannya ke saku celana ketika Jimin melihatnya sengit.

“Ada apa pagi-pagi ke sini, Junior?” tanya Jimin dengan mulut masih mengunyah sepotong waffer isi buah dan yoghurt untuk diet.

Angin bersepoi bolak-balik, bersinggungan dengan surai hitam Jin Young yang cenderung panjang untuk ukuran siswa lelaki itu. Jimin sudah mengajaknya duduk di teras rumah ketika Jin Young mulai menatap dedaunan di taman kecil rumah gadis itu. Belum sempat Jin Young mulai bercakap-cakap, Jimin sudah lebih dulu menepuk bahunya.

“Jin Young-a, kamu tahu kakak kelas itu, bukan?”

“Siapa yang kau maksud?”

Jimin mendecak gemas. “Im Jaebum sunbae.” beritahunya malu-malu.

Jin Young memandangnya lesu, lalu pemuda itu mengangguk. Dia bisa saja berlari ke luar rumah Jimin sebelum gadis itu berteriak kegirangan, namun ia urungkan. Melihat teman semasa taman kanak-kanaknya itu tersenyum cerah sepanjang pagi sudah cukup untuk ia renungkan. Sementara itu, Jimin menandaskan gigitan terakhir waffelnya.

“Jin Young-a, bukankah ia sempurna?”

Yang ditanyai justru menggeleng, membuat Jimin jemu dan kembali mendecak sebal. Ia berkacak pinggang dan menggembungkan pipi ㅡyang masihㅡ tembamnya. Gadis itu menengadah, menatap sendu langit di atas sana. Lalu ia mengulum senyum ketika mendapati wajah Jaebum yang keren di atas awan yang bergumpal. Tanpa ia sadari, Jin Young sudah lebih dulu menaruh telapak tangannya di atas kepala Jimin, lalu menepuk-nepuknya malas.

“Jangan bermimpi seperti itu. Kau bahkan tidak sedang tidur, Jimin Bodoh.”

Yak!” Bayang Jin Young yang terbirit pun lenyap di balik dinding pagar Jimin. Gadis itu mendengus, lalu kembali menelaah gumpalan awan di langit biru sana. Kejutnya naik ke permukaan, ketika melihat langit itu dipenuhi dengan wajah murung Jin Young sepanjang perjalanan pulang. Dia membuang napas keras, tidak merasa puas setelah memotong waktu bicara Jin Young dengan membahas masalah hatinya dengan kakak kelas bernama Jaebum itu.

Jimin bergegas menaiki tangga, menyusun langkah di lantai dua dan tenggelam dalam lamunan akan jendela kamar di seberang rumahnya persis. Itu kamar Jin Young, dan Jimin tidak menemukan lampu kamar itu menyala, melainkan gulita yang ditengahi sinar mentari pagi. Bermenit berlalu dan tiba-tiba tirai jendela kamar Jin Young tersingkap sebelum kepalanya menyembul dan dia memangku dagu dengan lengan yang ditekuk.

Jimin menatapnya sendu, merasa bersalah sekaligus asing pada dirinya sendiri. Hanya dengan saling memandang seperti itu saja Jimin sudah bisa mengekspresikan dirinya lebih lanjut, pun adanya dengan Jin Young. Jimin berani jamin bahwa ia melihat air mata Jin Young menetes satu detik yang lalu, dan rasa bersalah semakin menggigitnya. Jimin menunduk, mencoba perlihatkan bahwa dia merasa bersalah telah mengabaikan dan bersikap tak acuh pada Jin Young belakangan ini.

Jin Young-a,”

Jimin terperenyak saat itu juga. Maniknya melebar dan menuntut penjelasan ketika melihat seseorang di balik punggung Jin Young dan menepuk bahu temannya itu dengan santai. Jantungnya berdentam-dentam tak karuan dan Jimin rasa ia malu setengah mati ketika seseorang di balik punggung Jin Young itu menatapnya penuh tanda tanya.

“Oh, gadis yang kemarin berlari di lapangan!”

Jimin menelan ludah, gugup menggigitnya. Ia pun tersenyum malu-malu sebelum menutup jendelanya itu dan memekik di dalam balutan selimut tebalnya.

“Im Jaebum mengingatku!” pekiknya girang.

Sementara itu di lain tempat….

“Berhenti berpura-pura, hyung. Biarkan Jimin tahu dan jangan membuatnya jadi gadis bodoh yang haus akan rasa kagum.”

Jin Young mendesis pada kakak sepupunya itu. Im Jaebum yang tengah bermanja-manja pada ranjang Jin Young itu pun lantas meliriknya ragu. Pemuda itu memerhatikan Jin Young yang gelisah dan mondar-mandir dengan saksama.

“Kapan kau akan kembali ke rumahmu?”

“Pekan depan? Aku juga belum mendapat kabar dari Ibu.” Jaebum mengedikkan bahunya, lalu berdiri dan bermain-main dengan stick baseball miliknya yang sedari tadi ia bawa.

Sebelum ini, Ibu Jaebum memang menitipkan putranya itu untuk menginap di kediaman Jin Young selama beberapa waktu sampai rumah mereka selesai dibangun kembali. Pemuda itu menepuk bahu Jin Young ㅡyang lebih pendek darinyaㅡ dan mengedikkan dagunya pada jendela di seberang; jendela kamar Jimin.

“Kenapa kau mau repot-repot mengurusi urusannya? Biarkan sajalah dia menyelesaikan masalahnya sendiri.”

Jin Young menghadap kakak sepupunya itu, lalu meliriknya malas. Dia mengerling pada jendela kamar Jimin dan membanting tubuhnya pada ranjang di sebelah kirinya. Dia membenamkan wajahnya di sana dan menggerakkan kakinya cepat-cepat seperti anak kecil. Ia menengadah, kemudian masih menemui tatap heran Jaebum di depannya.

“Berhenti menggangguku! Pergi sana!”

Jaebum mengedikkan bahunya malas, lalu menghilang di balik pintu kamar Jin Young sebelum adik sepupunya itu sempat berteriak frustasi.

***

Menunggu terus sampai rintik hujan membasahi bumi dan mengaburkan pandangan mata

 

Matahari sudah kembali ke peraduannya ketika Jimin menunggu kakak-kakak kelasnya menamatkan waktu belajar setelah ia berlari beberapa putaran. Gadis itu menerawang kaca jendela ruanh kelas Jaebum dan membeku ketika pemuda itu ternyata sedang mengintip di mana tatap mereka bersirobok. Jimin mengguncang bahu Jin Young yang tengah tertidur di sampingnya, lalu tersenyum hangat ketika Jin Young membuka kelopak matanya.

“Ayo, kita pulang, Jin Young. Aku sudah selesai,”

Pemuda itu mengernyitkan dahinya, lantas berdiri dan merenggangkan otot-ototnya sebelum menyodorkan tangannya pada Jimin yang masih duduk di atas rerumputan sekitar pohon ek sekolah mereka. Gadis itu mengerling Jin Young dan menerima uluran tangannya sebelum berhasil berdiri tegak.

Dia merangkul bahu sahabatnya itu sambil tersenyum cerah dan menarik tas bahunya yang sedari tadi masih tergeletak di bawah.

“Kau yang terbaik, Jin Young!” pujinya sambil mengacungkan ibu jari ke hadapan wajah pemuda yang sama pendeknya dengan dirinya itu.

Menapaki halaman sekolah yang sepi, Jimin sesekali melirik jendela kelas Jaebum dan mengulum senyum kecut ketika tidak menemukan tatap pemuda itu di sana. Dia kemudian kembali melirik Jin Young yang masih sibuk dengan earphone di telinganya. Jimin mengambil salah satunya dan memasangnya di telinga kirinya. Menyenandungkan beberapa bagian lagu itu sudah cukup membuatnya gembira. Ditambah Jin Young yang memejamkan mata ditemani semilir angin sore.

“Suaramu indah.”

“Terimakasih.”

Tahu-tahu saja gerimis membasahi sekitar dan baik Jin Young maupun Jimin sama-sama berlari menuju halte bus terdekat. Mereka tertawa kecil melihat orang-orang lain yang menggerutu sepanjang pijakan langkah mereka yang besar-besar.

Jin Young membalas rangkulan Jimin, dan tersenyum kecil pada temannya itu. Jimin sahabatnya masih remaja yang bertubuh sedikit tambun dan menurutnya itu tidak patut dijadikan masalah yang berlebihan. Jin Young rasa putaran demi putaran yang dilewati Jimin setiap harinya tidak begitu berpengaruh sebab di matanya, Jimin masih sesempurna dahulu.

“Jimin-a,

Hm?”

Jin Young melirik penumpang bus lainnya, lalu mendekatkan kepalanya pada Jimin. Dia tersenyum jahil.

“Kau masih gendut.”

Pukulan Jimin di bahunya terasa sakit, tapi Jin Young makin terkekeh geli akannya. Dia tahu, suatu saat nanti sahabatnya ini akan berhenti menyiksa diri sendiri.

.

.

.

 

“Park Jimin!”

Jin Young berlari tersaruk-saruk ketika tidak menemukan Jimin di rumahnya. Pemuda itu pun lekas kembali berlari ke sekolah. Maniknya mencari-cari tubuh gempal Jimin di sudut lapangan, nihil. Jin Young berlari menuju tengah lapangan dan memusatkan semua pandangannya ke beberapa bagian dari sekolahnya yang sekiranya pernah ia dan Jimin kunjungi. Namun ketika dia tidak menemukan apapun, Park Jin Young kembali mendengus keras.

Pemuda itu pucat pasi. Dia berlari ke manapun yang ia kehendaki dan tahu-tahu saja kepalanya kejatuhan sesuatu.

Ouch!” Jin Young mengaduh sembari mengusap bagian kepala yang kejatuhan benda tadi. Pemuda itu hampir saja memaki sebelum memerhatikan benda yang tadi bersinggungan dengan kepalanya itu.

“Sepatu?”

Jin Young tahu tidak ada yang sedang memerankan karakter Cinderella di sekolahnya ini. Jadi, kenapa ada sebuah sepatu tanpa pasangan?

Kepala Jin Young berdenyut-denyut ketika menemukan dirinya terpekur sejenak. Dia tahu milik siapa sepatu itu.

Itu sepatu milik Jimin!

Jin Young menengadahkan kepalanya, lalu dia melindungi tatapan matanya dari sinar mentari yang menderang terik dengan satu telapak tangan di atas jarak pandangnya. Pemuda itu merasa jantungnya berdentam-dentam ketika tahu siapa yang berada di atas sana.

“Park Jimin!” pekiknya sebelum menaiki tiap-tiap tangga sekolahnya menuju atap. Pemuda itu terengah-engah ketika membuka pintu menuju rooftop sekolahnya dan terperenyak mendapati tubuh sahabatnya itu bergetar hebat. Jimin sudah tidak memakai jas sekolahnya, hanya mengenakan seragam ㅡkemeja putih dan rompi berwarna beige beserta rok dan celana olahraga berwarna biru tua yang biasa ia pakai di balik rok sekolahnya yang menggelung sampai lutut.

“Jimin-a!

Jin Young memangku tubuh Jimin yang seketika limbung dan jatuh pingsan. Pemuda itu mengguncang lemah tubuh temannya itu, dan menepuk-nepuk pipinya pelan. Air mukanya keruh, Jin Young panik.

Tanpa berpikir beberapa kali, Jin Young melepas jas sekolahnya, lalu menyampirkannya pada bahu Jimin. Sementara ia kembali beralih memposisikan temannya itu di punggungnya, menggendongnya turun.

Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati. Lamat-lamat meresapi massa tubuh temannya itu yang memang menguras tenaga. Sedikit Jin Young menyesalkan koridor yang sepi dan keseriusan belajar senior-seniornya di kelas masing-masing. Tidak ada yang membantunya dan tidak pula Jin Young punya tempat untuk berhenti yang tepat sehingga pemuda itu terengah di depan pintu ruang kesehatan ㅡmengetuknya sampai pintu terbuka.

Butuh waktu setengah jam sampai otot-otot tubuh Jin Young merasa baikan dan ia kembali melirik Jimin yang belum sadarkan diri di ranjang pada sebelah kirinya itu. Jin Young berdiri sejenak, menepuk-nepuk bantalan sofa tempatnya duduk, dan kembali duduk lagi. Dia mengamati wajah temannya yang tak kalah pucat, juga pipi Jimin yang makin lama semakin dipenuhi semburat kemerahan; tanda peredaran darahnya mulai lancar.

Park Jin Young termangu di sebelahnya. Tangannya terulur untuk membenahi poni yang terberai di dahi Jimin. Lalu mencubit gemas pipi tembam temannya itu, yang ㅡharus diakuiㅡ semakin tirus setiap pekannya. Jin Young baru saja hendak memanggil perawat muda di depan sebelum pergelangan tangannya ditangkap oleh genggaman Jimin yang lemah.

“Jangan pergi,” pinta Jimin parau.

Jin Young tersenyum padanya. Pemuda itu melepas genggaman tangan Jimin halus, lalu mengumbar senyum semakin cerah dan menatap Jimin penuh pengertian. Mengisyaratkan ia akan secepatnya kembali.

***

Pada saatnya keyakinan diri itu akan kembali dipupuk oleh dorongan positif, sebaiknya jangan lagi lari dan bersikap tak acuh.

 

Jimin menyesap cokelat panas di depannya hati-hati. Kakinya yang tak menapak lantai bergoyang-goyang. Sementara Jin Young bersedekap pada sandaran sofa dan melirik sahabatnya itu dalam diam. Dia mengusap wajahnya lelah dan Jimin menatapnya penuh rasa salah.

“Maafkan aku,”

Jin Young memusatkan fokusnya pada temannya itu. Lantas mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Jimin menggembungkan pipinya, menahan kasat air mata di depan lensanya.

“Jaebum sunbae

Bukankah sudah kukatakan untuk berhenti bersikap seperti itu? Aku toh senang kau sudah menyadari kebodohanmu kemarin itu, Jimin.”

Atmosfer kikuk kembali menelan mereka sampai Jimin kembali mengenang saat di mana ia berjalan santai di koridor lantai dua, hendak menyambangi kelas di mana Jaebum berada dengan sepucuk surat dan sekotak cokelat di tangannya. Lagipula ini 15 februari, bukan salahnya jika ia ingin memberikan Jaebum cokelat yang telah lama ia pelajari pembuatannya.

Oh, Park Jimin?”

Jimin mengangguk malu, menahan sipu dan dentam jantung yang emosional. Tahu-tahu saja mata Jimin membulat dan pandangannya mengabur oleh air mata. Im Jaebum tidak sendiri di sudut koridor itu. Ada seseorang di sebelahnya yang tadi sempat terhalangi loker siswa.

 

Belum sempat Jimin menyerahkan bingkisan kecilnya itu, pun berbalik ke belakang dan mengenyahkan diri dari pandangan Jaebum. Tangan pemuda itu dengan cepat meraih surat dan cokelat buatan Jimin lalu memerhatikannya seakan ia sudah tahu apa yang akan terjadi.

 

“Maaf, ya. Tapi, aku tidak suka gadis tambun sepertimu,” Jaebum menahan tawanya saat mengatakan itu. Lantas ia melirik dan merangkul seorang gadis cantik yang semampai dan memesona dengan tubuh ramping dan surai cokelat yang tergerai dengan anggun di sebelahnya.

 

Gadis cantik itu membungkuk sedikit pada Jimin, lalu tersenyum dan menyodorkan tangan.

 

“Aku Jung Soo Jung.” katanya seraya menjabat tangan Jimin paksa. Gadis cantik itu mendekatkan dirinya pada Jimin dan berbisik di telinganya. “Kekasih baru Im Jaebum. Keren, kan?”

 

Jimin menelan ludahnya sendiri. Lalu menahan air mata yang hendak turun. Ia pun memaksa senyum dan membungkuk sedikit.

 

“Aku Jimin, Park Jimin. Pengagum senior ini,” katanya seraya menunjuk Jaebum yang masih menahan tawa. Kemudian Jimin terpekur sejenak sebelum berbalik pergi.

 

“Hey! Park Jimin!”

Jimin berhenti melangkah dengan jaraknya yang belum terlalu jauh untuk mendengar kata-kata Jaebum.

“Aku tidak pernah melarangmu makan makanan berlemak, bukan? Jadi jangan menyiksa dirimu begitu.” Jimin mengangguk singkat. Belum sempat ia memijak lagi, Jaebum kembali berseru.

“Tubuh gempalmu itu, lucu juga kok!”

 

Jimin berlari setelah itu. Menahan tangis dan bahunya yang bergetar. Ia ingin mengubur dirinya sendiri, tak mau tampak lagi di sekitar Jaebum, si Senior yang ia kagumi.

 

Jimin berdiri dan memandang Jin Young yang masih setia di hadapannya. Lalu gadis itu tersenyum kecil ketika Jin Young turut berdiri kemudian bergeser sedikit untuk dapat memeluk sahabatnya itu. Menjadi pelipur lara dalam putusnya asa.

“Park Jin Young sahabatku yang baik hati,” Jimin terkekeh geli setelah mengatakannya. Lalu ia membalas pelukan menenangkan itu dan mengajak Jin Young berputar-putar sedikit.

“Terimakasih selalu menerimaku.”

Jin Young tersenyum mendengarnya. Pemuda itu menepuk-nepuk punggung Jimin. Mereka memutuskan untuk pulang beberapa menit kemudian, lalu bersenandung ceria sepanjang perjalanan pulang.

“Jimin, omong-omong, kau boleh berdiet lagi,” Jin Young menengahi suasana hangat itu dan memasukkan kepalan tangannya di saku celananya. Dia terkekeh melihat Jimin menggeleng cepat.

“Tidak mau. Lagipula berdiet itu berat sekali, Jin Young. Kau saja tidak tahu rasanya,” Jimin mengaku dan menunduk malu. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya yang tembam sendiri.

“Begini lebih baik!”

Jin Young melangkah lebih cepat darinya lalu berhenti tepat di hadapan Jimin dan berbisik di telinga gadis itu seraya menahan geli.

“Oh, ya? Tapi, kurasa tulangku akan remuk jika harus menggendongmu lagi, Jimin Gemuk.”

Jimin mendecih mendengarnya, lantas memukul kepala Jin Young dengan kepalan tangannya keras-keras. Dia berteriak dan mengejar sahabatnya itu sepanjang perjalanan pulang.

Yak! Kembali kau, Park Jin Young! Yak! Junior!” Jimin sampai memanggil nama kecil buatannya itu. Lalu kembali menyusun napas ketika mendapati Jin Young sudah jauh di depan sana. Gadis itu tersenyum kecil, lalu kembali merangkai langkah pelan-pelan.

“Park Jin Young,” bisiknya pada dirinya sendiri. Kemudian Jimin kembali mengulum senyum ketika melihat Jin Young menari dengan gerakan aneh di depan sana. “Pada akhirnya, kekhawatiranmu itu memang sangat berharga, ya?”

Fin.

 

 

Park Jimin

15-amp-s-Park-Ji-Min-gets-ready-for-high-school-in-her-school-uniform

9 thoughts on “[Oneshot] White Crush

  1. Yaaaa suka-suka!!!
    Kasian banget yaaa Jimin-_-” Padahal ga ada yg salah sama badan tambun dan dia itu cantik kok difotonya!😀 Imut malah. Hadeeeuh Jaebum malah milih Soojung!
    Tapi tenang ada Jin Young ini hehe jadi ga terlalu ngenes!

    Next next!
    Bahasanya udah bagus, alurnya ga kecepatan biarpun oneshot, dan kalau bisa ada sequel!😀

    • halooo!🙂 salam kenal ya aku Dhila dari line 98.
      Wah makasih-makasih, kukira gaada yang mau baca fic ini :(( tapi aku seneng kamu langsung komen :)) Thanks yaaa!

      Huuh, kasian Jimin :” bener banget! Yang penting itu pribadinya bukan bentuk tubuhnya. Jimin emang imut banget :3 Suaranya dahsyat pula!

      Jaebum milih Soojung… aku bikin part itu bisa aja Jaebum pacaran sama Soojung, tapi bisa juga Soojung cuma temennya yang bantuin dia. Yang jelas, mau Soojung dipilih atau enggak, Jaebum emang gasuka sama Jimin. Bukan tipe idealnya. ;D

      Jin Young tipikal sahabat di mana saja dan kapan saja di sini. Bikin semua orang pengen punya kawan kayak dia. Wah makasih komentarmu yang cerah ini. Soal sequel, aku gak janji. Biasanya aku suka kasih another story sih, tapi itu tergantung sikon. Okeokee, see yaaa! Thanks for commenting!😉

  2. Hello Dhiloo, nice to meet you^^ FF ini sangat-sangat bagus untuk dikomentari. Bahasanya enak loh seriusan^^ Aku selalu cari fic yg bahasanya enak dan seru jadi ketemu fic ini dan ga nyangkanya ini masih fresh from oven hahahaha
    Betul banget! fisik gajadi masalah yg penting hati. Aku juga mau punya temen kaya Jin Young dooong.
    Jaebum paraaaah dah:3 kenapa ya dia gitu:”
    oke, i’ll wait!😀
    Yes! See you too^^ You’re welcome:D

  3. KAK DHILA. KAK DHILA. makasih udah merealisasikan rasa cinta Asel sama Yerin-Jinyoung YAAMPUN SAYANG KAK DHILA………. INI BAGUS BANGET!!

    AKU SPEECHLESS. Jaebum liat ada apanya banget hua😄 padahal mau aku buat jadi manusia yang terselubung dan diam-diam manis TAPI….. YAH. OKE GA APA APA. Asalkan Yerin akhirnya bahagia sama Jinyoung <33 mihihi persahabatan mereka lucuk banget. Bagian Jinyoung ngegendong Yerin itu udah yang paling feels aaak :") kak dhila jebal jangan buat aku meronta-ronta😦

    Seputar Yerin yang gendut (meskipun aku kebayangnya Jimin disini masa kak😦 dia kan paling handal soal ngeceng-ngecengan kakak kelas😄 #kayakyangtauajasel) diatas, aku jadi inget dia waktu jaman I Dream sama 15& sounds pertama waktu nyanyi be my baby, duuuh lucu overload dia ini! pantes aja Jinyoung mau Yerin gendut atau engga kecantol, luar dalem manis sih uhuhu

    Ngomongin soal diksi sama alur, udah ga ngeraguin dong kak Dhila ini! Aku bacanya ngalir banget, plus ngerasa lagi ada disana dan pengen peluk duaduanya waktu lagi pegangan tangan C'x jantungkuuuh!! Em… ngomongin apalagi ya POKOKNYA ASEL SUKA! BANGET! sering-sering bikin fic Yerin-Jinyoung lagi ya kak😄 mwacc

    regards,

    Asel.

    • Tuhkan tuhkan aku digembor Asel😄
      Iya percayalah ini tadinya Yerin-Jinyoung. Tapi karena beberapa hal aku ubah. Kenapa pertamanya aku pilih Yerin? Satu, suaranya dia dahsyat (apahubungannya), dua, Yerin sama Jaebum cocok tauuk!!!

      MAKASIH BUAT BAGUS BANGETNYA, ASEL!!!! Aku sih berniat naro ini di IFK. Tapi nanti aja deh, nungguin fic motw-ku menghilang dulu… biar ganabrak. Karena aku lebih ngefeel ini dibanding A Friend from The Pastnya Seol-Hyuk yang di IFK :(((

      AKU JUGA SPEECHLESS KOK PAS NULISNYA!!! ASALTAU DEH… Ini tuh aku tulis pas baru bangun bobo… Pas dengerin ost-ostnya Reply 1994 aku tetiba langsung ngeplay gitu, kan. Yaudah.. lahirlah fic labil cast ini. hahahaha😄 IYA SOALNYA KALO JAEBUM JADI ANAK BAIK YANG APA ADANYA NANTI GAADA KONFLIKNYA DONG….. Maafin aku yaa Jaebum-stan (lirik kakak aku).

      Nahkan kamu sejenis sama aku! AKU JUGA BAYANGIN JIMIN SEPANJANG NULIS INI. Makanya castnya ujung-ujungnya aku ganti. meskipun berat hati lantaran yang naksir Jaebum bukan Yerin… tapi kuganti jadi Jimin. TAPI GAPAPALAH! JIMIN MENGGEMASKAN SOALNYAAA KYAAAAAAAAAAA😄 Huuh, biarpun aku lebih doyan vocalnya Yerin, tapi Jimin menggemaskan sekalii.. Iya, bayangkan dua orang pendek itu berjalan bersama Asel… Jimin dan Jinyoung ya tapi.. lupakan soal Yerin dulu haha karena udah kuganti dan anggep Yerin gapernah ada di sini😄

      WOWOWOWOOW, Makasih ih ini adek pengen dipeyuk juga nih………. SIP AKU BAKAL BIKIN FIC ANAK-ANAK 15& sama JJ PROJECT (Mencoba melupakan GOT7) yang banyak dan fluff!! ^^ makasih ya Asel… makasih banyaaaak…

      dan lagi, maafin aku yang seenaknya ganti cast secepat kilat hahaha. See yaaaa deek {{{}}}}

    • MWAAHAHAHAHA! IYA ASEL MAAFIN AKU!
      Pertamanya emang aku ngetiknya tuh castnya si Yerin, karena takut malah jadi duo Park kalo pake Jimin. ETAPIIII…. ((aku yang plin plan ini)) malah nulis dalam bayang-bayang Jimin, jadi pas dipost tuh semacam, “aduh salah cast nih!” akhirnya aku ganti semenit kemudian… hehehehe.

      EMANG JIMIN UNYU BANGET KAN KALO SAMA JINYOUNG KIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

  4. ternyata cast yg kubaca di preview di twitter bener Yerin ya…tapi emang Jr cocoknya sama Jimin :3 Yerin sama JB ajaaa /itu mah OTP l-mu, Wi/

    okay, karena ak tipe orang yg suka baca cast-genre dsb itu dengan kecepatan cahaya, pas baca ficnya jadi lupa kalo ini friendship HAHAHAHA ak bayanginnya Jr naksir Jimin coba .__. apalagi pas Jr rada2 ngambek sama JB..beeeh, itu kadar romance-nya langsung naik 80%

    tapi aku tetap menuntut kamu bikin fic duo Park ini pake genre fluff!! /angkat banner/ /demo/ yg satu imut gegara2 pipinya tembem, yg cowok imut gegara di grupnya gak ada yg bisa aegyo xP /ditendang member GOT7/ Tapi sekarang Jr lagi sakit sih :(((( jadi agak gak sreg kalo menistakan dia…

    anyway, ini bagus dhil!! dan lebih santai daripada A Friend From the Past yg bacanya kudu make mikir dulu! /ditendang/ sering2 ya bikin fic yg cast-nya ak kenal!!! /apa ini/

    dadah dhilaaaaaa~~ ^o^

    • KAKAK TIWIII!

      Sumpah aku gapaham sama wp-ku karena…. dari kemaren aku cek notif kok gaada apa-apa. DAN SEKARANG… Komen kakak baru muncul ㅠㅠ maafin wpku ya kaaaakk!!!

      Terus terus terus… Huuh, awalnya aku pake Yerin, tapi akupun akhirnya sadar kalo ini friendship bukan romance, dan deskripsi tokoh lebih ke si Menggemaskan Jimin. Jadilaaah, aku langsung ngubah castnya. Dan ketika diubah, aku malah ngepost yang Yerin dan kemudian menggantinya dengan yang Jimin. Apalah aku ini😄 Ya benar! Benar! Yerin itu cocoknya sama JB, terus duo park ini bersatu sajaaa. Hahaaa! Tos dulu lah, kak. JB-Yerin juga OTP-ku bangaat!

      ewaduh, kadang aku juga suka begitu, sih kak. Baca secepat kepincut bias /eh/. Tapi kebanyakan fokus sih baca prolognya. Kadang kan bagian atas itu emang suka nyampah. /gagitu/

      Yaaduh, iya, kak. Gapapa salah fokus ke romance. Yang penting jangan Jr jadi suka sama JB Haahahaha😄 bisa kacaau. Etapi boleh juga sih kalo dibikin romance.Tapi, three-angle love lagi males ah.. Mending friendship-berbobot /aseeek/

      Huuh! AKU BAKAL BIKIN DUO PARK INI DENGAN GENRE FLUFF LAGI KE DEPANNYA!!! Lalu bakal bikin romance yang bagus buat JB-Yerin yang nampak lebih dewasa dari duo Park Menggemaskan iniiii :3 hihiw Aku belum liat GOT7 beraksi yang bareng Miss A sih :(( tapi bakal nonton PASTI ITU PASTI DAN WAJIB /maksa temen download/

      Iyaa, aku juga ngerasa ini lebih enjoy daripada AFFTP. Makasih buat that ‘bagus’ thing, kakak!! /hugs/

      dadaaah, kak Tiwi! makasih udah mampirr ;;))) {{}}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s