[96 Line] TF – Reckless

|| Title : Reckless || Focus Artist : Choi Junhong || Main Cast : BAP’s Choi Jun Hong, Lee Hayi || Support Cast : Seventeen’s Wen Junhui ||

Friendship – Hurt/Comfort – Life – Surrealism, Slight!

Teen | Flash Fic

How reckless i am that can’t stood beside you yesterday morning. That did not know everything about ‘goodbye’.

Junhong berkali-kali menggerutu seraya menendang asal kerikil yang dapat ia jangkau.

“Hayi, kapan kamu akan datang, huh?” ia menggumam.

Kepalanya menengadah, melihat bagaimana langit menurunkan butiran-butiran salju ke muka bumi, lantas mengeratkan sweater rajutannya.

Sepuluh menit, pesanan lattenya yang kedua datang. Junhong menatap malas jalanan di luar melalui kaca berdiameter sedang kafe itu.

Tidak benar-benar peduli, sih. Sebab ini hanya pertemuan biasa, ia pun bisa saja menemui Hayi di asramaㅡtetapi tidak dalam keadaan begini pelik.

Junhong yakin, semuanya patut diluruskan. Ya, benar ㅡoh, sejak kapan dia menjadi begitu dewasa?ㅡtapi toh Hayi tak kunjung menampakkan diri pada ujung pintu kafe.

Junhong kembali mengedikkan bahunya, lantas menyeruput latte yang hampir dingin. Lamat ia berpikir, apakah Hayi sudah memakai baju hangat? atau seberapa tebal mantel bulu milik Hayi?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu nampaknya terjawab saat menit ke duapuluh tujuh sosok Hayi menggerutu di sudut pintu masuk kafe, maniknya meniti seisi ruangan sampai menemukan Junhong duduk di sisi lain interior klasik itu.

“Maaf, aku terlambatㅡ” Junhong mengibaskan tangannya. “Ya, ya, siapa yang tidak tahu kamu terlambat? Ini sudah, oh! tigapuluh menit lebih, Hayi.”

Gadis di depannya mengusap tengkuk, lantas duduk tanpa permisi. Junhong menghela napas lelah, tidak juga tega untuk membiarkan Hayi merengut seperti ini.

“Hey,” dia menyentuh pipi Hayi dengan jemarinya, sedikit terkejut karena dingin yang menyengat. “jangan cemberut begitu, Hayi. Ceritakan saja padaku, hm?”

Hayi menatap pemuda itu. Tak merta air matanya meluncur, menuruni lekuk pipi sampai dagunya, meski tidak sempat menetes ke atas meja.

“Aku kira kau tidak akan tertarik dengan ceritaku,” Hayi membasahi kerongkongannya yang dirasa kering. “kita ini sedang bertengkar, bukan?”

Butuh waktu lima detik untuk Junhong sadari. Pipi gadis di depannya menirus, dan untuk kali pertama Junhong melihat polesan lip-stick berwarna merah di bibir Hayi. Dia tertawa kecil.

“Maafkan aku, Hayi,”

“Ya, maafkan aku juga, kalau begitu, Junhong.”

 

Wow, it’s simply awesome.

 

Junhong tak lantas bangkit dan mengenyahkan diri dari pandang Hayi. Pemuda itu justru memanggil pelayan.

“Permisi!”

Pelayan itu membungkuk, “Secangkir latte lagi, Tuan?”

Junhong menggeleng, lalu pandangnya bersirobok dengan Hayi, menebak-nebak apa yang gadis itu ingini saat ini.

Um, kurasa Hayi akan menyukai secangkir espresso?” Junhong tersenyum, kembali memandang pelayan itu. “Secangkir espresso tanpa gula cair, tolong,”

 

Junhong tersenyum, meski tak merta pelayan itu meninggalkan mejanya. Alisnya berjengit sebelah, Junhong menandai itu untuk menambahkan tip di akhir kunjungannya.

Eum, kalau begitu, mohon tunggu pesanan anda, Tuan Junhong,” ia membungkuk sopan.

“Seharusnya tidak perlu repot-repot, temanku, Choi Junhong,” Hayi mencicit, bergerak tak nyaman di kursinya.

Junhong menatap cangkir lattenya yang kosong melompong, lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

“Jadi kau masih tak ingin memberiku penjelasan?”

Hayi bergeming, memilih pandangi hamparan salju di jalan luar -menghindari adu tatap dengan Junhong.

Pemuda di depannya menahan napas. Ayolah, mereka sudah menjadi sahabat dekat untuk jangka waktu yang cukup lama, hampir seluruh bagian hidup mereka. Bukanlah hal seperti ini yang Junhong inginkan.

Pemuda itu mengusap wajahnya, lelah. “Dengar, Hayi, aku-”

“Tidak ada yang harus dibicarakan, Junhong. Bukankah kau senang aku sudah berada di sini, sekarang?”

Ah, ya.

Hayi benar.

Mereka tidak bermusuhan sebelumnya, tidak dengan berdebat atau saling mencakar, pun mendendam sampai tidak bisa tidur.

Junhong menerawang ke luar jendela, secara tak langsung mengikuti tingkah Hayi. Dia ingat masa-masa itu. Serta-merta air mata menggenangi pelupuknya, Junhong menengadahkan kepalanya, tidak ingin membiarkan dunia melihatnya menangis.

“Tidak, Hayi. Sungguh, aku-” Junhong menelan ludah, menahan napas dalam-dalam.

“-maafkan aku, kumohon.”

Hayi menggelengkan kepalanya, terus-menerus berkata tidak ada yang perlu dimaafkan, pun dengan kalimat lupakan saja, Junhong.

Lupakan?

Oh, Junhong kira tidak bertemu dengannya beberapa hari membuat Hayi menjadi sedikit, er, gila?

Tapi, tidak. Tentu tidak.

Mungkin Hayi benar. Tidak ada yang harus disalahkan di sini. Toh dia sudah senang Hayi sempat bercakap padanya.

“Permisi, Tuan, pesanan anda sudah datang,” Pelayan itu menginterupsinya, lantas membuat Junhong mengadu pandangnya.

“Taruh saja, terimakasih.”

Kembali, Junhong ditinggalkan lagi.

Pemuda itu mengamat-amati dunia luar sementara pikirannya berkelana ke sana dan ke sini.

“Hayi, Lee Hayi,”

Junhong tercekat, ia memejamkan matanya, kontan membiarkan air mata berlomba turun dari pelupuknya.

Oh, Junhong tidak sedang ingin menampilkan drama di sini.

“Hayi, Lee Hayi!”

Hayi menoleh, namun sebisa mungkin menghindari adu tatap dengan Junhong. Jujur, dia masih tidak percaya.

“Yak! Lee Hayi!”

Kali ini Hayi tidak berhenti, pun menoleh kepada Junhong. Kaki-kakinya berlari cepat ke rooftop gedung asrama mereka.

“Lee Hayi,” suara Junhong melemah, lantas membuat pemuda itu turut menyertakan diri menapaki lantai tanpa keramik rooftop asrama mereka.

Suasana jauh lebih tenang.

Hayi membiarkan Junhong mempersempit jarak di antara mereka, beralih mendekapnya dalam hening.

“Aku tidak meninggalkanmu, sungguh,”

Oh, ya? Bukankah Junhong tidak pernah berbohong? Lalu kenapa kali ini ia repot-repot begini?

“setidaknya sampai lusa.”

Hayi menghela napas.

Ya, sampai lusa, Junhong. Semua orang -atau mungkin hanya Hayi- pun tahu dia akan pergi lusa. Junhong akan meninggalkan, ah, maksudnya, Junhong harus meninggalkan panti asuhan ini.

Bercengkrama dengan masa depan?

Nampaknya tidak begitu.

Membenci dan meninggalkan Hayi?

Itu bisa saja.

“Aku menyayangimu, Junhong.”

Hayi berkata lemah, tidak berpikir dua kali untuk membalas dekap Junhong yang selalu hangat bagai rumah.

Oh, Junhong memang rumahnya.

Berbelas tahun berada dalam atap yang sama tidak cukup untuk membodohinya, bahwa rasa yang selama ini menetap di dirinya adalah rasa sayang yang berlebihan.

Junhong menahan tangisnya. “Aku juga, Hayi. Aku juga,”

Bukannya tak mungkin Junhong juga menyayanginya. Mereka telah menghabiskan semua waktu bersama, mati-matian bertingkah nakal di depan para pasangan ‘calon pengadopsi’ agar tidak dipilih, dan yang lebih penting, dipisahkan satu sama lain.

“tapi, sungguh, maafkan aku, Hayi. Aku berjanji akan selalu datang ke sini.”

Hayi melepaskan Junhong secara paksa. Dia menahan tangis, Junhong tahu itu. Semua penghuni panti pun tahu Hayi bukan tipe gadis yang rela membiarkan orang lain melihatnya menangis.

Hayi mendecak, tangannya memilih masuk ke dalam kantung hoodie merah pemberian Junhong natal tahun lalu. “Sialan kau!” dia mengumpat.

“Kau pun sudah melanggar janjimu, Junhong. Kaubilang kau tak akan meninggalkanku.”

“Tidak, Hayi. Kamu tidak mengerti!”

“Ya, aku mengerti, Choi Junhong!”

Baru kali ini, Junhong melihat Hayi menangis. Kedua bahunya bergetar, tapi ia menangis tanpa isakan. Tangannya memukul dada Junhong lemah, tidak kuasa membendung rasa yang menyesakkan.

“Junhong berbohong pada Hayi!”

“Tidak, Hayi!”

Junhong mencoba jatuhkan dekap pada gadis ini, namun Hayi berkilah. Gadis itu memilih berlari menjauh, membanting pintu rooftop dan tak pernah kembali ke hadapan Junhong.

“Maafkan aku.”

Junhong merasakan dirinya sendiri bergetar, dia tak kuasa menahan tangis. Secangkir espresso yang sudah dingin itu jadi saksi bisu penyesalannya.

“Aku tidak pernah tahu kalau kamu membenci perpisahan. Mohon maafkan aku.”

Junhong tahu napasnya menjadi sesak sekarang. Keadaannya toh tidak lebih baik daripada sebelum meninggalkan Hayi.

Pemuda itu tetaplah remaja delapan belas tahun yang emosinya mudah meluap-luap. Junhong tetap Junhong, satu yang berbagi rasa hangat seorang sahabat dan keluarga pada Hayi, satu yang mengucap janji tak akan berpisah karena -demi Tuhan- Hayi sangat membenci perpisahan.

Hidup di rumah mewah pun tak membuatnya merasa lebih nyaman, tinggal jauh dari Hayi dan panti asuhan justru membuatnya semakin tak nyaman.

“Aku tidak percaya kamulah yang telah membohongiku,” Junhong menghapus air matanya. “bukankah sudah jadi perjanjian kita bahwa perpisahan dan kematian itu satu-satunya yang paling menyeramkan?”

Junhong meluncurkan isak, menatap kosong cangkir espresso yang sendirian.

“Kenapa, Hayi? Kenapa kamu memilih untuk meninggalkanku juga-” dia menahan napas. “-untuk selamanya?”

Seorang pelayan bername tag ‘Junhui’ menyambangi meja Junhong. Parasnya yang berdarah cina lantas berubah semakin sedih dari yang tadi pernah Junhong lihat.

Dia mengapit nampan kosong di antara lengannya, tidak pedulikan Junhong yang menangis seorang diri.

“Junhong-a, jangan menangis begitu, kawan!” pelayan bernama Junhui itu menepuk-nepuk bahu Junhong.

Junhui mengambil tempat duduk terdekat, lantas membiarkan Junhong menangis di bahunya.

Mereka sama-sama pria, oke? Junhui pun bukanlah orang lain bagi Junhong, juga Hayi. Mereka bertiga selalu bersama, meski beberapa tahun belakangan Junhui harus pergi dari panti lantaran ayah kandungnya telah menemukan pemuda itu.

“Junhui-hyung!”

Junhui memeluk pria itu, tapi tetap tidak meninggalkan kesan kekerabatan yang kental.

I’m sorry to hear that, Junhong. Hayi must’ve happier than before now.”

Junhong tahu.

Ya, mungkin Hayi telah bahagia sekarang. Sejenak ia menghapus bekas air mata di pipi, beralih menatap bayang Hayi yang berangsur-angsur menghilang.

“Junhui,”

“Ya?”

“Aku pun menyesalkan kisahmu dengan Hayi,” Junhong menelisik pemuda di hadapannya. Lantas melanjutkan, “kudengar kalian tidak bisa saling bersama, bukan?”

 

Oh, ya. Harusnya Hayi masihlah hidup. Semestinya gadis itu masih berada di antara dua pemuda ini, lalu lerai mereka agar tidak ada kesalah-pahaman atau dendam yang membisu.

Hayi melupakan fakta itu.

Bahwa dunia masihlah lebih sakit ketimbang dia yang merasa sudah menjadi orang paling mengenaskan. Dia seharusnya masih bisa di sini.

 

“Sudahlah, Junhong. Hayi sudah pergi. Kita pun harus melanjutkan hidup.”

Pelayan itu menatap Junhong tepat di mata. Maniknya menyiratkan seberapa tegarnya ia di antara segala kerapuhan. Junhong berhutang pada orang ini.

“Yang jelas, kasih sayang antara kita dengan Hayi tak akan terputus.”

Well, ya.

Junhui benar, mungkin memang begitu.

Mungkin selama ini Junhong hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa sang Sahabat sudah pergi terlebih dahulu -ini semua juga kehendak Tuhan.

Lalu, di sanalah Junhong berada, masih duduk di kursi kafe, menemani secangkir espresso yang sendirian. Menunggu Sahabat datang dan sampaikan kasihnya.

Fin.

 

Reckless reckless reckless, itu udah bersarang di pikiran semenjak nonton Hakgyo 2013, sih. Well done, this is another new series, including kpop’s 96 line ;Choi Junhong, Lee Hayi, Wen Junhui.

Any Questions about Wen Junhui?

Well, he is Chinese. He is Pledis seventeen’s member and his face, Oh! you might fell in love with him. He lookslike Super Junior’s Kim Heechul too! Must know! ^^

 

Happy comment and like! ENJOY!

5 thoughts on “[96 Line] TF – Reckless

  1. Pingback: [96 LINE] TF – Desperate | ♣ futureasy's ciel ♣

  2. Pingback: [96 Line] Trilogy Fiction | ♣ futureasy's ciel ♣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s