[Oneshot] Self Sight

|| Title : Self Sight || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : Kim Miso [GLAM], Park Jimin [BTS] ||

|| Genre : Life, Family, Friendship || Duration : Oneshot [3242 Words] || Rating : T ||

Ketika sifat berubah seiring waktu berjalan, dan sikap mengambil-alih melalui jalur yang sama sekali berbeda…..

 

***

 

“Ayah!”

Miso baru saja ingin berbicara lagi sebelum bayang kendaraan pribadi ayahnya melintas cepat membelah jalanan malam. Masih berbalut seragam sekolahnya, Miso menapaki jalan beraspal terjal dengan gumaman tak jelas. Sesekali gadis usia enam belas tahun itu menghentakkan kakinya asal, mengundang macam raut reaksi pejalan kaki lain.

Gadis itu masih sama.

Sikapnya selalu terlihat lemah, kalimatnya begitu menusuk dan dia cenderung dianggap apatis. Selain karena Seoul bukan tempatnya, Miso juga tahu bahwa pria paruh baya yang tadi dilihatnya makin mengundang emosinya. Miso menarik napas sejenak sebelum mendapati rumahnya masih dalam jarak yang jauh, kemudian membuang sisa karbon dioksida itu dengan paksa.

Matanya yang memang bertipe oriental, makin terlihat kecil lantaran ditambahi kantung kehitaman di bawah pelupuk matanya. Tak pernah dalam sehari pun ia dapat tidur dengan nyenyak, kendati ranjangnya selalu empuk sepanjang ia rasakan. Tidak juga dia mendapat malam yang tenang, selalu saja suara berisik dari luar pintu kamar mengusik lelapnya.

Menanggapi hujan rintik dan kencangnya angin, Miso merapatkan mantel tebalnya, lantas memeluk tubuhnya sendiri. Bibirnya bergetar, dan dia makin merasa asing ketika tapaknya berhenti di depan pagar besi tinggi yang menutupi bagian depan rumah bertingkat seluas ratusan meter itu.

“Aku pulang.” katanya setelah mengganti sepatu sekolahnya dengan sandal rumah. Lantas ia bergegas ke lantai atas, tak mau repot-repot menyapa siapa pun yang ia temui di lantai satu. Karena, untuk apa begitu? Miso toh selalu dihitung sendirian, terlepas dari ibunya yang hampir setiap hari bertandang ke kamar pribadinya.

Malam itu masih sama, perbedaannya hanya sepi yang dapat dengan mudah disesapinya. Sesekali Miso melirik pintu kamarnya, seharusnya tak sampai lima menit lagi, pintu itu akan berderit.

Lima menit.

Empat,

Tiga,

Dua,

Satu. Hening melingkupi ruangan empat kali lima meter itu dan Miso tak kehilangan akal. Matanya ia pejamkan setelah merasa tak akan ada yang membuka pintu kamarnya, pun mengusik tidurnya. Gadis itu lantas mulai menapaki lelapnya sebelum suara pintu kamar terdengar samar.

Miso cenderung apatis, bukan? Dia tidak jarang berpura-pura tidur ketika langkah kaki yang tersusun makin mendekatinya, juga ketika panggilan namanya berdengung.

“Kau sudah tidur, ya?”

Miso menggeliat sedikit ketika ibunya mengguncang lemah bahunya, dia pun mengerjap beberapa kali sebagai “bukti” atas lelapnya.

Uh, ada apa, Bu?”

“Ah, tidak,” jawab wanita paruh baya itu, tapi tak kunjung pergi, malah mendudukkan dirinya di samping Miso yang berbaring. “ibu hanya ingin bercerita padamu.”

Oh, ya.

Tentu.

Bercerita.

Miso sudah tidak dirundung kejut atas itu. Dia melirik jam dinding di atas kepalanya, pukul setengah sembilan.

Oh, bagus.

Jadi setelah dipulangkan cepat dari sekolah, dia malah terjebak akan perjalanan menuju rumah yang memakan waktu dan emosi, lalu sekarang seperti biasa harus menjadi pendengar setia sang Ibu.

Ah, Miso harusnya terlahir jadi boneka, bukannya sebagai putri ke dua yang sekarang lebih mirip putri tunggal dari keluarganya yang cenderung kaya.

“Ibu dan ayah bertengkar lagi?”

Ibunya menggeleng, maniknya mengerjap dan kini digenangi oleh garis tipis air mata. Miso sudah terbiasa, bahkan mendengar Ibunya histeris pun dia sudah terbiasa.

Itu bagai sudah tanggungannya ketika Tuhan menggariskannya sebagai anak dari kedua orang tuanya. Mendengarkan itu butuh proses yang cukup lama, dan Miso sudah beberapa kali menguap meski Ibunya nampak tak mengindahkan isyarat kantuknya itu.

“Bu,” selanya sambil memegang lengan Ibunya. Lantas mengguncangnya kecil sembari mengusap wajahnya sendiri lelah. “tidakkah Ibu merasa ini melelahkan?”

Ibunya diam. Miso juga.

Hening lagi-lagi mucul dan menenggelamkan dua manusia itu. Meraup sisa-sisa kenangan yang berserak, dan menggantinya menjadi fakta penting.

“Tapi, ayahmu selalu bersikap seperti itu, Miso!”

“Lalu apakah Ibu tidak jauh berbeda daripadanya? Bagaimana dengan sekolah? Oh, ayolah, Bu! Besok pun aku masih harus menikmati rute selama dua jam untuk sampai di sana.” kekeh Miso sembari memeluk pinggang ibunya. Bersender di lekuk bahunya dan bernapas lelah.

Dia menyembunyikan air mata yang berkasat di korneanya, lantas bersuara serak sekali setelahnya.

“Ibu harus tidur untuk melupakan hal-hal seperti itu.”

Miso kira sudah selesai, jadi dia kembali berbaring dan menutupi tiga perempat bagian tubuhnya dengan selimut, hampir menutupi wajahnya, malah. Gadis itu mengadu pandang ibunya, mencoba salurkan rasa yang tak akan pernah bertemu.

***

Lalu asa itu terus bergerak dan ditemui takdir. Mereka bercampur menjadi satu dan melahirkan satu sikap baru, satu fakta yang berbeda dari hal-hal sebelumnya.

***

Waktu sudah mengarah pada pukul sepuluh malam ketika Miso memutuskan untuk kembali melihat jam dinding. Time yang bagus untuk pelajar tingkat pertama sepertinya, satu yang menempuh perjalanan super lelah untuk sampai di sekolah.

Seakan letih saja belum cukup, Ibunya menatap manik Miso, justru berkaca-kaca dan menumpahkan cairan bening itu. Air mukanya mendadak keruh ketika ibunya menepuk bahu Miso penuh rasa kecewa yang memberatkan.

“Ibu kecewa padamu, Miso. Ibu bercerita karena Ibu ingin kautahuㅡ”

“Lalu apakah Ibu pernah merasa puas telah bercerita padaku? Bukankah Ibu semakin dilanda frustasi?” cecar Miso tersulut emosi. Dia menahan napas dan menggigit bibir bawanya demi sembunyikan tangis. “Lantas ketika ibu merasa lega, apakah Ibu pernah memikirkan aku yang menanggung beban pikiran berlebih?”

Sekiranya nada suara Miso meninggi, Ibunya pun berangsur menjauh. Beliau tinggalkan kamar putrinya itu dengan bedebam di pintu. Miso memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya, menahan nyeri di dada.

Berlalu kira-kira beberapa menit ketika Miso mulai memejamkan kedua kelopaknya. Bersamaan dengan itu, alam yang ia jejaki tak lagi pernah sama dengan sebelumnya.

***

“Aku berangkat!”

Miso mengganti sandal rumah  dengan sepatu sekolahnya. Gadis itu bergegas menuju dapur, membuka mesin pendingin dan mengambil sebungkus keripik kentang yang dibelinya kemarin malam.

“Kau sudah mau berangkat?”

Miso melirik ke asal suara, maniknya lantas membentur lantai ㅡtak mau mengadu tatap orang di di hadapannya.

“Sudah,”

“Tidak adakah yang ingin kaukatakan?”

Miso diam, menggigit bibir bawahnya, dan menekankan kubu jarinya pada bungkusan keripik. “Tidak ada, Ayah.”

***

“Miso! Kim Miso!”

Miso berjalan cepat seraya menundukkan kepalanya, sama sekali malas menatap obyek-obyek di depan mata. Rambutnya yang bergelombang dibiarkan menutupi sisi wajahnya, bibirnya nampak pucat dan dia tak mau mengambil lebih banyak waktu di halaman sekolah yang dingin ini.

Sekali lagi, Miso mempercepat derap langkahnya.

“Sampai kapan kamu akan lari begitu, hm?”

Gadis itu mendecih dalam runduknya. Tak lantas menatap pemuda di hadapan.

“Siapa yang lari?”

“Kamu.”

“Saya?”

“Miso! Hentikan! Ke mana banmal-mu?”

Gadis itu melirik Jimin malas. Pria pendek di hadapannya nampak berkeringat, sepertinya jadi bukti seberapa lama ia berlari mengejar Miso yang berjalan terlalu cepat. Gadis itu termangu.

“Aku tidak punya urusan denganmu, Park Jimin.”

Gadis itu beringsut menjauh, melangkahi Jimin yang masih diam mengatur napas. Miso bukan lagi gadis kecil yang butuh ditemani ke mana pun, juga bukan bocah ingusan yang masih haus akan sahabat.

“Aku kira kita teman, Miso!”

Gadis itu mengusap wajahnya, mumat. Dia menoleh, memutar bahu dan melirik Jimin.

“Kukira memang begitu.”

.

.

.

Miso terbangun dari lelapnya, memandang jam di nakas sebelah tempat tidurnya. Dia mengusap wajahnya, mengerjap beberapa kali sembari berjalan malas menuju pintu depan.

Sepi.

Miso menepuk-nepuk pipinya sendiri, guna menyadarkan diri lebih fokus. Lalu ia menghela napas berat.

Kenapa sepi sekali?” batinnya berbicara.

Bukan, bukannya ia tidak senang dengan keadaan rumah yang begini senyap, pun mengharap keributan atau paling tidak cekcok mulut terdengar. Miso amat bersyukur untuk itu, tapi lagi-lagi, fakta yang satu itu juga tidaklah begitu normal.

Miso berjalan ke kamar orangtuanya setelah meminum segelas air. Lantas membuka pintu kayu yang berderit itu. Namun, nihil. Tiada satu orang pun di dalamnya.

“Ke mana, sih?”

Miso menyuarakan gundahnya. Ia pun melirik ke arah dapur, juga ruang keluarga ㅡmeski ia tahu pasti juga nihilㅡ dan ruang kerja ayahnya. Namun, tetaplah tiada seseorang pun mengisi pandangnya.

Diam. Dia pun melirik kalender di telepon genggamnya.

Tanggal 2. Bulan Februari.

Miso kira dia tidak sedang bermimpi akan sesuatu apa pun. Lantas ia kembali ke kamarnya, bersembunyi di balik selimut tebalnya. Belum sampai bermenit, Miso melirik nakasnya. Lantas dia mengambil sebuah buku, menuliskan sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai mantra.

Jika saja aku dapat mengubah waktu

atau paling tidak menyesapi sifat orang-orang di sekitarku. Sekiranya aku yang selalu dimengerti mereka, akankah hidup yang kulakoni ini tak lagi jadi semenakutkan sekarang?

 

Miso mengamati tulisan tangannya yang rapi. Lantas semu di wajahnya yang biasanya cerah raib, digantikan dengan tatap pongah yang tak berperasaan. Miso menutup bukunya itu, lalu kembali tenggelam dalam balutan selimut dan alam mimpi.

Namun, jauh di dalam sana, di balik segala sikap egoisnya, Miso tak lagi dapat menahan air mata yang sempat bergumul di kelopak. Dalam tidurnya, ia menangis.

***

Lalu kuketukkan mantra dan semua keinginan terkritismu diperbolehkan untuk terjadi.

***

Miso mengerjap beberapa kali sebelum sinar mentari pagi menelusup melalui celah-celah tirai bergaris horizontal di kamarnya. Jendela yang sedikit terbuka membawa suara cicitan burung-burung kecil terdengar sampai ke gendang telinganya. Hari itu langit dipenuhi awan bergumpal putih dan kehangatan aroma musim panas. Miso melirik jam di nakas sementara mengusap-usap wajahnya sendiri.

 

Ini pukul 8.30. Matanya melotot dan dadanya seketika sesak. Miso bergegas membangunkan diri dan menjejaki lantai kayu demi sampai di kamar mandi untuk sekadar membersihkan dirinya.

 

Tuk tuk tuk

“Miso?”

Miso yang kala itu tengah menyikat giginya pun lantas tersedak. Gadis usia enambelas tahun itu melirik pintu kamar mandi yang diketuk lalu menunggu ibunya bersuara lagi setelah berkumur.

 

“Jangan terburu-buru, Sayang. Hari ini hari libur, bukan?”

 

Miso yang kala itu sedang membasuh wajahnya pun terkesiap lagi. Ia melirik kalender kecil berwarna abu-abu yang sengaja ia tempel di bagian pojok kiri kaca besar dekat wastafel. Matanya menyipit sebentar sebelum kembali sendu. Pagi-pagi seperti ini, Kim Miso sudah kehilangan dirinya.

 

Gadis itu meneruskan mandi dan pergi mengendap-endap menuju ruang makan. Sudah jadi kebiasaan untuknya mengambil setangkap sandwich isi irisan telur rebus atau daging panggang serta keju. Namun, hari ini dia mengurungkan niatnya itu.

 

Miso berhenti tepat di sisi kiri meja makan besar itu. Dia menunduk, sesekali mencuri pandang orang-orang yang menduduki kursi dengan senyum hangat.

 

“Oh, kau sudah bangun. Mari ke sini, Sayang. Ayah membuatkanmu sandwich isi tuna.”

 

Miso menelan ludah gugup. Dia menaruh sejumput surai cokelat tuanya di belakang telinga dan duduk dengan was-was. Di depannya, ayah dan ibunya tengah bersenda-gurau. Juga tak jarang mengajaknya bicara tentang cuaca dan kehidupan sekolah.

Ada apa ini?

Sekonyong-konyong Miso hampir tersedak ketika sang Ayah dengan suaranya yang hangat sekaligus bijak mengantarnya menuju mobil dengan lengan kokohnya merangkul pundak Miso. Gadis itu duduk dengan segan di jok belakang. Memilih memakai earphone-nya ke telinga dan memutar lagu-lagu yang digemarinya. Gadis itu melirik ke luar kaca mobil ayahnya. Miso tahu, ada yang aneh dengan keluarganya sekarang.

 

Um, Ayah,” panggil Miso takut-takut. Gadis itu menunduk, dan sesekali melirik ayahnya melalui spion dalam.

Ayahnya berdeham, lalu menatapnya beberapa detik sebelum menyahutinya dengan lembut. Miso kira ini bukan dunianya. Bukan, jelas bukan. Seharusnya ayahnya itu akan memperbesar volume dari stereo dan tidak mengacuhkan kata-katanya.

 

“Aku….” tuturnya pelan. “Sayang ayah.” sambungnya ketika mobil itu berhenti di depan sebuah gedung tempatnya mengambil kelas khusus seni.

 

Dia segera keluar dari mobilnya dan bergegas menapaki tangga depan gedung. Sesekali Miso tersenyum simpul menanggapi teman satu jurusannya dan kembali menyusun langkah. Gadis itu tahu-tahu saja berhenti tepat setelah sosok Jimin melintasinya dengan wajah angkuh nan congkak.

 

“Jimin-ah, apa kamu sudah menuntaskan tugas aransemen?” Miso berjalan tepat di belakang langkah besar Jimin. Gadis itu berusaha menyamakan pijak meski Jimin selalu mempercepat langkahnya.

 

“Jimin! Park Jimin!”

 

Pemuda yang dipanggil bertolak tubuh. Lantas ia bersedekap lengan sembari meniti wajah Miso yang kesal hati-hati. Park Jimin merapikan letak tas gitarnya sebelum beringsut mendekati Miso yang masih menata pernapasannya.

 

“Miso, Kim Miso. Aku rasa sudah lama tidak mendapat panggilan darimu.” Jimin berkacak pinggang sekarang. Pemuda itu melirik beberapa teman yang melintas sementara memandang Miso yang masih berdiri di hadapannya.

 

“Park Jimin, kau tidak mengerti” Miso baru saja ingin menampik lagi sebelum ingatannya menuburuk dirinya sendiri keras-keras.

 

Ia dulu mencampakkan pemuda sahabat dekatnya ini.

 

“Maafkan aku,” Miso mencicit pelan seraya menunduk lemah. Gadis itu masih dapat mendengar decakkan malas Jimin sebelum alas kakinya yang mengetuk lantai marmer keras-keras berbunyi.

 

Miso mengusap wajahnya lelah. Sebegitukah rasanya dicampakkan? Oh, atau mungkin dia yang terlalu berlebihan di hari yang lalu? Miso berharap waktu berlalu dengan cepat, namun detik demi detiknya terasa menjemukan dan tetap berjalan selama semestinya.

 

Guru mereka keluar dari kelas dengan langkah terburu-buru, begitu pun teman-teman lainnya. Setelah merapikan peralatan musiknya, Miso mencari-cari sosok pendek Jimin di antara kerumunan. Harusnya pemuda itu belum pergi. Semestinya Jimin masih tertidur di pojok belakang kelas.

 

“Untuk apa mencariku?”

 

Miso terperanjat kaget ketika menemukan Jimin sudah berdiri di ambang pintu. Tidak ada kantuk di matanya, pun kuapan yang biasanya ia sertakan; juga senyum bodoh untuk menyapa Miso yang selalu cemberut.

 

Pemuda itu kemudian membiarkan punggungnya mencium pintu kayu beroda kelasnya dan bersedekap lengan sambil menunggu Miso berbicara. Meskipun gadis itu terang-terangan menunduk dan tidak berani melirik Jimin barang semenit.

 

“Park Jimin,” suara Miso terdengar bagai sepoi angin yang menubruk dedaunan kering. Sementara Jimin masih memerhatikannya dari jauh.

 

“Aku tidak peduli pada siapapun, benar begitu?”

 

 

Miso melirik langit cerah di atas sana, juga gumpalan awan putih yang berarak menuju barat. Setelah ditinggalkan Jimin begitu saja, Miso pikir semuanya sudah selesai. Lagipula untuk apa Miso berpikir keras, sementara tubuhnya saja sudah pegal-pegal lantaran membawa-bawa bass selama perjalanan pulang.

 

Miso tahu tidak ada yang bisa diandalkan selain Jimin. Teman sejawatnya itu adalah satu-satunya yang bisa mengembalikan senyuman, juga membuang jauh-jauh duka dan penat di relung hati. Kendati kini Miso merasakan perbedaan karakter Jimin, ia tahu bahwa tidak ada yang dapat disalahkan lebih jauh. Gadis itu menghela napas berat seraya mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan bergegas menaiki tangga sebelum ibunya bahkan sempat menangkap sosoknya.

 

“Aku pulang.” bisiknya pelan sementara sampai di dalam kamar. Miso menaruh kembali bass miliknya di tempat semula, lalu berandai-andai dapat beristirahat di tempat tidurnya yang nyaman sebelum sosok yang tertidur itu mengurungkan niatnya begitu saja.

 

“Ibu?” gumamnya pelan. Ia melirik wanita paruh baya itu, menemukan tidurnya damai dengan senyuman menghiasi.

 

Pelan-pelan, Miso terduduk di bawah. Ia menengadah sekilas, lalu setetes air mata meluncur kala kepalanya kembali merunduk. Gadis itu mengepalkan jemarinya erat, tidak kuasa meleburkan isak dan membangunkan ibunya. Tapi toh Miso tidak bisa menolaknya ketika ibunya sudah memanggil namanya.

 

“Miso,”

 

Miso menghapus air matanya lekas-lekas. Gadis itu mengerling pada ibunya, lalu menemukan wanita itu malah menatapnya sedikit malas.

 

“Tadinya aku ingin bercerita pada ibu,” katanya ragu-ragu. Kemudian ia menunjuk ibunya yang masih berbaring. “Tetapi melihat ibu tertidur, aku mengurungkan niatku.”

 

Ibunya menghela napas. Sementara memangku kepala dengan lengan yang terlipat dan melirik Miso dengan tubuh menghadap putrinya itu.

 

“Memangnya ibu bisa apa selain mendengarkanmu, Miso?”

 

Miso terpekur menelan ludah, hanya mampu menunduk sebelum ibunya bisa bersuara lagi. Dia menahan napas sembari memangkas kilat air mata di korneanya. Miso tahu, tidak seharusnya dia dahulu seperti ini.

 

“Ngomong-ngomong, kau seharusnya jangan memakai bass yang berwarna biru itu, Sayang. Bagaimana kalau memakai yang berwarna cokelat?”

 

Miso menggeleng. Diperhatikan semendetail itu justru membuatnya merasa tidak nyaman. Dalam hati ia ingin sekali ibunya keluar dari kamarnya, dan membiarkan tubuh lelahnya beristirahat di tempat tidurnya. Miso juga harus melakukan senam jari pada jemarinya yang tadi sempat cedera.

 

Tanpa kata-kata, ibunya melangkah keluar kamar Miso. Menutup pintu tanpa suara berisik dan meninggalkan kesunyian kamar merengkuh putri bungsunya itu erat-erat. Tangis Miso menjerit dalam hati. Tangannya mengepal erat, tidak mengindahkan cederanya dan memilih menggoreskan tinta pada buku catatannya.

 

Menjadi dimengerti tidak memudahkan peran yang kulakoni di kehidupan kali ini. Aku memikirkan semuanya, bahwa aku tidak bisa menerima segala perhatian dan sikap yang tidak seharusnya dari orang-orang di sekitarku. Menjadi yang biasa, itu yang membuatku bisa terus hidup dengan nyaman.

 

Miso menyembunyikan bukunya itu di balik bantal. Lalu dia turut menyembunyikan dirinya di dalam balutan selimut tebal. Di malam itu, adalah tangis Miso yang dapat memenuhi seluruh kamarnya yang sepi.

 

Menjadi normal, adalah lebih baik.

 

Hari ini hari minggu. Miso dibangunkan dengan suara berisik dari luar pintu kamarnya. Gadis itu mengusap wajahnya, lalu bergegas mengintip keadaan di ruang depan dengan sedikit celah dari pintu. Dia menemukan orangtuanya di sana, kembali berdebat pelik dan hampir saling menyakiti.

Miso memejamkan matanya, mengepalkan telapak tangannya dan menggigit bibir bawahnya. Ia gemas. Katakanlah seperti itu, maka Miso memilih untuk sekali saja tidak bersikap egois. Sekali saja ia dapat mengendapkan perdebatan orangtuanya, bukan hanya menyisihkan segala keributan itu dan hidup untuk dirinya sendiri.

“Hentikan,” katanya bergetar. “Tolong, hentikan.”

Air matanya menetes begitu saja. Miso kira hanya dengan pekikannya itu pertengkaran akan berakhir. Tapi toh suara pecahan keramik sudah lebih dulu menyadarkannya kalau berada di antara ayah dan ibunya itu cukup sulit.

Miso memeluk tubuh ringkih ibunya ketika ayahnya hendak melayangkan pukulan. Lantas ia mengaduh dan menemukan memar merah pada bahunya. Bibir gadis itu bergetar, dia menahan massa tubuh ibunya yang hampir pingsan, serta berusaha berhadapan langsung dengan ayahnya.

“Aku kira; dengan memukulku, ayah sudah bisa puas. Maafkan aku, tetapi, bersikaplah dewasa, dan jauhi pertengkaran lebih lanjut.” katanya kemudian. Miso membaringkan tubuh ibunya yang limbung, lalu beringsut menjauh, menahan sakit pada bekas pukulan ayahnya.

Sekali lagi gadis itu berbalik, mengerling pada ayahnya yang masih terpekur.

“Aku rasa polisi tidak membutuhkan bukti fisum, bukan? Jangan memukul, Yah. Rasanya sakit untukmu, juga untukku.”

Miso tersenyum menahan pedih di hatinya. Kakinya mengayun menuju kamarnya di lantai atas. Mungkin sudah seharusnya ia seperti ini, bahkan semenjak dahulu. Karena, sampai kapanpun dia menjauhi kenyataan keluarganya, sejauh itu pula ia akan semakin kehilangan dirinya.

____

Baru saja Miso hendak kembali tidur sebelum dering telepon mengejutkannya. Memarnya mulai membiru, dan dia sudah mengobatinya dengan salep. Gadis itu menoleh pada sumber bunyi, lantas mengamit telepon genggamnya dan menempelkannya di telinga – tidak lupa mengangkat sambungan terlebih dahulu.

Miso-yah,”

Miso dapat mendengar suara Jimin dari seberang sana. Gadis itu harap-harap cemas dibuatnya.

Kemarin kau pergi ke mana, huh? Aku mencarimu, tahu.”

 

Mendengarnya saja sudah cukup untuk membuatnya mengulas senyum. Miso merasa perasaannya bergetar, ia jadi ingin menangis.

Miso-yah, kamu baik-baik saja, bukan?”

 

Miso tersenyum menahan tangis. Ia mengangguk beberapa kali meski Jimin tidak dapat melihatnya. Gadis itu berdeham sekilas sebelum kembali mengarahkan mikrofon ponselnya ke dekat bibirnya.

“Tentu. Tentu, aku baik-baik saja. Kau pun begitu, ‘kan?”

Mereka bergurau. Bertukar canda-tawa, juga alasan-alasan di balik rasa perhatian Jimin yang sering kali dicap berlebihan, dan juga sikap apatis Miso yang selalu jadi penyulut pertengkaran mereka.

“Jimin-ah,”

“Hm?”

“Ibu berkata aku tidak bangun seharian kemarin. Bahkan sekalipun tubuhku diguncangnya, juga dipercikkan air ke wajahku.”

Jimin terkikik dari ujung sana. Meski begitu, pemuda itu masih setia mendengarkan sahabat karibnya bercerita.

“Tetapi, di dalam mimpiku…”

Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk dalam mimpimu?”

Miso mengangguk mendengarnya. Gadis itu mengusap wajahnya, dan juga menghela napas.

“Semua yang ada dalam hidupku berubah jadi kebalikan. Lalu, ada… akuㅡakuㅡmelihatmu di sana.”

Apa aku tampan di sana?”

“Ya, tentu. Kau tampan di sana. Namun, kau tidak mengacuhkanku, Jimin-ah. Kau bahkan tidak tidur selama kelas musik dan tidak juga mengindahkanku untuk pulang bersama.”

“Bagaimana dengan ‘rumah’?”

“Semuanya pun berkebalikan. Aku tidak mendapatkan perhatian yang semestinya ㅡitu darimuㅡ dan tidak juga didiamkan di rumah. Aku tidak mengerti.”

Tidak ada sesuatu yang sia-sia, Kim Miso. Aku tahu kamu sudah belajar banyak dari mimpimu itu.”

“Tentu.”

Dan aku meyakini segala yang kautulis sebelumnya di buku catatanmu itu kaupernah menunjukkannya padaku dulu.”

 

Miso terpekur mengingatnya. Buku itu. Miso segera beringsut dan mencari benda di balik bantal setelah mematikan sambungan telepon. Ia membolak-balik halaman buku itu. Namun, segala sesuatu yang sempat ia tulis di sana sudah lenyap.

Miso memandang bukunya sedih. Ia melirik halaman terakhir, dan terkesiap menemukan ada sebuah kalimat panjang di sana.

Ketika sifat berubah seiring waktu berjalan, dan sikap mengambil-alih melalui jalur yang sama sekali berbeda; sebuah pilihan hidup sudah kautentukan dengan sendirinya.

 

Fin.

A/N:

Tarararara… balik lagi saya, balik lagi. Well, ini fic sebenernya udah dibuat lama. Dibantu kekaguman sama idol-idol di garis 95, dan juga nantang cast baru, aku jadi, deh, selesaiin ini. Ini fic sebenernya simple sih. Tapi, kesan dan pesan sangat ditunggu di kolom komen, So, yah, please enjoy.

(have been scheduled since January, 31st of 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s