[96 LINE] TF – Desperate

|| Title : Desperate || Main Cast : Lee Hayi || Support Cast : Wen Junhui | Choi Jun Hong || Genre : Romance, Life || Rating : Teen || Duration : Drabble || Songfic : Lee Hi : Rose ||

 1st sight | 2nd sight | 3rd sight

My love is like red rose. It may seems beautiful, but it’s thorn will hurt you even more.

.

Hayi berjalan menembus gerimis sore itu. Awan bergumpal kelabu berarak menuju barat, tanda sore hari mulai menyambangi tempatnya berpijak. Ujung dress hijau toska selututnya mengembang tiap Hayi melebarkan langkah.

Kotanya termasuk yang berpenduduk padat, termasuk kota terbesar seantero Republik. Hayi juga tak jarang menemukan pedagang sepanjang jalan, tapi masih panjang langkah-langkahnya tersusun, tidak begitu memedulikan orang di sekitarnya. Hayi masih harus memastikan beberapa hal setelah ini.

“Hayi!”

Gadis itu menyematkan senyum penuh paksa ketika menoleh, menemukan seorang remaja pria seumurannya. Bukan hal hebat, pikirnya, jadi dia putuskan untuk kembali menyusun pijak.

“Kamu lari lagi, Hayi!”

Merasa dilibatkan lebih jauh, Hayi melirik pria itu. Rautnya tidak bersemangat, berbeda dengan Junhui -si Pemuda yang mengejarnya- yang tampak berapi-api.

“Kamu marah? Kamu marah karena aku meninggalkanmu?” Junhui berkata seraya menahan lengan Hayi, buat gadis itu tak dapat kabur lagi.

Sedikitnya gerimis masih mengguyur bumi. Hayi tahu bahkan bagian lengan panjangnya sudah basah sejak tadi, dan dia tidak mau mengambil risiko baju ini rusak lantaran berlama-lama di sini.

 

“Sudahlah,” dia menurunkan genggam Junhui pada lengannya. Berbalik pergi. “lupakan saja, Junhui.”

 

Bukannya Hayi gadis manja, toh dia sudah tinggal sendiri di panti asuhan yang sama sejak kecil, dia mandiri. Bukan juga Hayi membenci Junhui. Tetapi, jika rasa itu bisa didefinisikan lebih, Hayi tahu dia sudah membenci pemuda itu sekarang.

 

Atas kata-katanya.

Atas pernyataan dan paksaannya.

Atas semuanya.

 

Aku menyukaimu, Hayi.”

 

Hayi mendecih mendengarnya. Ia lebih memilih Junhong yang terus terang menyayanginya ketimbang kata suka. Menurutnya itu klise, dan dia tidak mau mengambil risiko menjadi orang munafik hanya karena membalas rasa Junhui.

 

Mereka hanya berteman, oke?

Teman seharusnya tidak melibatkan rasa yang lebih dari kasih sayang, Hayi paham akan hal itu.

Seharusnya Junhui tahu Hayi juga menyukainya. Jauh di dalam sana, Hayi juga begitu. Tapi toh perasaan suka tak selamanya dapat dibalaskan, cukup disimpan baik-baik dan Hayi sudah merasa cukup.

Bukan hal baik mengingat dirinya dari keturunan apa. Hayi rasa dia cukup kotor untuk disandingkan dengan keturunan baik-baik seperti Junhui. Dirinya dan Junhong sering membincangkan ini, untuk Hayi terlebih.

Aku tidak dilahirkan untuk balas menyukai, juga mencintai seorang pun, Junhong.”

Seiring usia mereka bertambah, Hayi tahu dia sudah tumbuh bagai setangkai mawar yang berduri tajam.  Junhui bisa terluka akannya, pun dengan dunia di hadapan. Hayi tidak mau ambil kemungkinan diacuhkan lagi ;keluarga Junhui pasti tidak akan menerimanya.

Dia putuskan untuk kalah.

Kalah akan dirinya sendiri. Hayi ingin muntah melihat binar mata Junhui tiap menatapnya.

“Pergi saja lah! Jangan mengikutiku terus!” Hayi menghentikan langkah, merajut wajah tak lunak ketika Junhui coba menariknya dalam dekap.

“Aku jatuh cinta padamu, Bodoh!”

Dia mulai lagi. Cinta? Bagi Hayi itu hanya obsesi. Junhui bukan mencintainya, melainkan Junhui telah terobsesi padanya. Hayi pun tahu, obsesi dapat dihilangkan sekejap mata.

Dia tidak membalas dekapnya, tidak juga memberi kehangatan musim dingin pada Junhui. Hayi tetaplah dirinya, satu yang menolak berbagi rasa untuk kepentingan masa datang.

Egois?

Dia tidak bermaksud begitu. Dia toh hanya keturunan dari seorang wanita bar, dan penjudi di pub pinggiran. Keturunan kotor, anak tak diinginkan.

“Aku bukan anak kotor. Aku hanya dilahirkan dan tumbuh selayaknya bunga mawar. Hayi hidup untuk merekah, namun tak dapat disentuh karena durinya yang tajam.”

Hayi ingat dia yang memproklamirkan itu di hadapan orang-orang panti asuhan dan beberapa pasangan calon pengadopsi. Dirinya bukan untuk disentuh, begitu rapuh hingga bisa saja retak dan tak lagi bermakna. Memangnya, kapan ia pernah mengandung makna?

Lucu sekali.

Sore itu, di hadapan hujan, takdir, malaikat, dan bayangannya, Hayi merajut langkah menjauh. Memendam rasa ingin memiliki, menggantinya dengan keegoisan semata.

“Kamu bisa saja terluka jika mencintai seorang gadis bermawar duri seperti aku, Junhui. Jadi pergilah.”

Itu jelas bukan pernyataan puitis. Bukan pula syair romansa. Itu hanya penolakan. Junhui pahami itu, maka ia mundur berlangkah. Dia bukan melepas Hayi, dia menerima tolakan gadis itu.

Biarlah dia tak tertusuk durinya, meski dia terpanah pekatnya cinta.

 

 

 

Fin.

 

for your information :

Wen Junhui

426694_177431492419659_363077988_n

tumblr_mydbbxEmxc1rrtbbno1_1280

One thought on “[96 LINE] TF – Desperate

  1. Pingback: [96 Line] Trilogy Fiction | ♣ futureasy's ciel ♣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s