Overwhelmed

tumblr_n12qd6XTnv1tqbjieo1_500

|| Title :  Overwhelmed || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : [GOT7] Im Jaebum, [Girls’ Generation] Im Yoon Ah ||

|| Genre : Family, Angst ||

|| Duration : Ficlet (721 words) || Rating : PG ||

Summary :

Can’t let you go.

Even if I can, I just can’t.

 

 

Im Jaebum berjalan pelan-pelan menyusuri aspal jalanan yang lembab. Pria itu memandangi debu-debu yang menempel di sepatunya tanpa suara. Berpura-pura bodoh pun rasanya begitu salah baginya. Dia seolah terbelenggu di suatu ruang sempit yang begitu membatasi. Rintik hujan tidak ia hiraukan, malah semakin lambat menyapukan langkah pada bentangan jalan, seperti enggan memangkas jarak menuju rumah.

 

 

Sebelum ini toh dia sudah pernah berlari kencang, juga berjalan tersaruk-saruk. Rumah berpagar hitam di pertengahan barisan blok pun nampaknya makin menyudutkan pola pikirnya. Sebentar, Jaebum memadu geming menahan henyak di dada. Siapa pun tahu kembali ke dalam ketakutan adalah sebuah langkah sangsi. Tetapi, ia tidak bisa sekenanya menuruti logika. Jaebum harus dapat mengimbangi keputusan dengan kata hatinya, kata kunci dari setiap masalah yang ia peroleh cuma-cuma.

 

 

“Aku pulang.” gumamnya begitu menginjakkan kaki di muka pintu. Pria itu menghela napas berat-berat begitu mendengar suara televisi dari kamar di sebelah kiri. Diam-diam, dia mendekatkan telinganya pada daun pintu kamar berwarna putih dengan hiasan bunga kertas itu.

 

 

Ada suara merdu dari dalam. Namun, bukanlah suara penyanyi ternama di program musik yang dimaksudnya. Jaebum hanya mengajukan pujiannya pada suara yang turut mengiringi lagu yang diputar. Sopran yang begitu indah didengarnya, berdengung syahdu bersama detik-detik yang terlewati.

 

 

Nuna!” pekiknya kaget begitu pintu kamar terbuka. Menampakkan seorang wanita bertubuh mungil dengan surai hitamnya yang hanya sebatas bahu. Maniknya mengerling si Adik ramah-ramah.

 

 

“Kamu sudah pulang?”

 

Ada keheningan sejenak di sana. Tiba-tiba saja canggung merengkuh waktu kuat-kuat. Membuat sepasang saudara itu tergugu-gugu mendampingi senyap.

 

“Jaebum-ah,”

 

Nuna-yah!”

 

 

Bukan ujar yang tidak sengaja diucap. Jaebum hanya sengaja mengutak-atik pikiran si Kakak. Masih belum bisa membiarkan wanita di hadapannya mengerti apa-apa saja yang selama ini ia pikirkan matang-matang.

 

 

“Aku akan ke luar dari rumah,” Jaebum memberitahukan putusannya pada si Kakak, Yoon Ah. Sementara wanita berparas cantik yang duduk bersebrangan dengannya hanya melempar senyum kecut.

 

“Aku serius.” katanya kali ini, mencoba meyakinkan nuna-nya itu baik-baik.

 

Sementara bunyi pergerakan jarum jam lagi-lagi mengisi gendang telinga, sayup-sayup Jaebum dapat mendengar isak kakaknya yang tertahan. Wanita di hadapannya menengadah ke atas, tidak mau air mata yang menggenangi pelupuknya sampai turun. Tidak akan. Tidak di hadapan Jaebum.

 

 

“Jaebum-a,

 

“Aku benar-benar akan ke luar, Nuna. Biarkan para tetangga memikirkan aku sebagai momok masalah di rumah ini.”

 

“Kamu tidak mengerti,” sela Yoon Ah selagi Jaebum sempat menarik napas. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, mengerjap beberapa kali sampai setitik bening air kembali berkasat di maniknya.

 

“Bukan kamu yang seharusnya menanggung semuanya, Jaebum.”

 

Segumpal liur ditelan payah-payah, sementara waktu rasanya semakin lambat saja. Mengekang keduanya dalam suatu kondisi yang berlebihan.

 

“Aku melakukannya karena aku menyayangi Nuna. Jadi mohon biarkanㅡ”

 

“Lalu apa kamu berpikir Nuna tidak menyayangimu, Jaebum? Nuna melakukan semua ini agar kamu selalu aman, bisa menjalani hidup dengan baik, walau itu tanpa Nuna.”

 

 

Lagi-lagi disapu senyap. Baik Yoon Ah mau pun Jaebum masih sama-sama melawan kata hati dan logika yang bertarung semu di sudut pikiran. Kedua kakak beradik itu merasakan hampanya.

 

“Bahkan ayah dan ibu akan bersedih jika sudah seperti ini,” Yoon Ah bersuara, sesekali memegangi dadanya yang berdentam-dentam dan perutnya yang memang sedang membuatnya merasa kurang sehat.

 

 

Sesekali wanita itu menepis air mata dengan punggung tangannya keras-keras. Dia mengerling pada sang Adik di seberang sana.

 

 

Nuna akan menikah. Tidak akan tinggal bersamamu di sini lagi.” terang Yoon Ah setelah sekian lama membiarkan logika dan hatinya berperang. “Nuna ingin kamu mewarisi rumah ini. Ayah dan ibu pasti mengerti, kalau suatu saat rumah ini tak akan jadi milik kita berdua.”

 

 

Yoon Ah pun bangkit dari posisi duduknya pelan-pelan. Wanita jelita itu berjalan mendekati sang Adik yang masih tergugu-gugu, lalu memeluk adiknya; meski tetap dengan kedua alas kaki menapak lantai kayu di bawah. Ada air mata yang menetes dari pelupuknya, menuruni lekuk pipi sesuka hati.

 

 

“Aku menyayangi kamu, Jaebum. Jaga dirimu baik-baik,”

 

 

“Aku pun begitu.”

 

 

“Kehamilanku dinyatakan positif, tiga minggu.”

 

 

“Lalu Nuna akan ke luar dari rumah ini dan tinggal bersama keluarga pria itu, huh?”

 

 

“Jaebum-ah,

 

 

“Aku tidak ingin Nuna-ku diinjak-injak. Meski kita tidak lagi mempunyai ibu dan ayah, tapi, Nuna masih memiliki aku, adik Nuna.

 

 

“Jaebum-ah,”

 

“Jadikan dia anakmu seorang, masukkan ke dalam kartu keluarga Im.”

 

 

“Tidak bisa, Jae. Kamu tahu kalau aku pun susah payah mencapai kata menikah, bukan?”

 

“Perlukah aku yang pergi? Agar Nuna setidaknya memiliki harta pribadi. Tidak perlu bergantung pada mereka. “

 

 

“Jaebum-ah!”

“Ini semua aku lakukan, semata-mata hanya untuk Nuna.”

“Semata-mata karena aku begitu menyayangi Nuna-ku ini.”

Fin.

 A/N

Agak galau apakah mau menyeret Yoon Ah atau malah Jin Ah (Nana After School). Tapi, sisi lemah di sini lebih berasa pas sama karakter tokoh dalam cerita. Dan Jaebum, di sini tipikal-tipikal adik baik yang sangat sayang sama Nuna-nyaa.

Free comment!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s