[Drama-Week] Amorphous

amorphous

 

 

|| Title : Amorphous || Scriptwriter : dhiloo98 || Main Cast : Song Joong Ki [as Kang Maru] Lee Yubi [as Kang Choco] ||

|| Genre :  Family, Life || Duration : Oneshot || Rating : General ||

|| Inspired by : -Movie- Miracle from Giving the Fool [2008] and -Drama- Nice Guy [2013]

 

 

Sore itu, si Bodoh berhenti menunggu. Lantaran Dia yang ditunggunya telah menampakkan diri.

 

Cuaca di Seoul masih silih berganti ketika Kang Maru lagi-lagi duduk santai di atas undakan-undakan tanah dan rerumputan pinggir sungai. Pria itu menerawang jalan dengan dada berdentam-dentam dan pipi bersemu. Hujan baru berhenti membasahi setiap jengkal daratan beberapa menit lalu, namun mentari yang bersembunyi di balik awan senja masih setia membuat suhu di sekitar menjadi hangat. Maru yang sudah terlanjur memakai baju hangatnya; yang lebih tebal dari baju hangat pada umumnya pun bergerak tak nyaman. Sesekali ia mengusap-usap wajahnya, juga mengacak rambut tak tertata rapinya itu.

 

Sore ini Choco sudah pulang. Ya, Choco sudah pulang.”

 

Maru membatin sambil tersenyum-senyum. Ia pun ㅡdengan sikap penuh semangatㅡ berlarian menuruni pinggiran tanah yang curam, lantas berguling dan sampai di ujung pagar pembatas ㅡrerumputan dengan jalanㅡ dalam keadaan berantakan. Ada sedikit luka gores di pipinya, dan Maru yang Bodoh hanya tertawa-tawa tidak mengerti.

 

Gadis yang diembannya tak kunjung menoleh, pun menaruh muka padanya. Namun, si Bodoh yang lugu tetap menunggu dan menunggu.

 

Maru tersenyum ramah pada setiap siswa yang membeli roti bakarnya. Sedari dulu, hanya membuat roti yang bisa ia lakukan dengan benar. Kang Maru merasa seperti dilahirkan untuk meracik roti bakar lezat yang dijual dengan harga murah di pinggir gedung sekolah Choco yang besarnya melebihi awan ㅡmenurut Maru.

 

Pria itu mencuri-curi pandang tiap waktunya. Mencari apabila Choco tengah melintas, atau telah melewati kios kecilnya. Waktu di jarum jam sudah berputar ke angka dua siang ketika Maru menelisik arloji yang ia gantung di dinding kios. Alisnya meliuk dan rautnya kecewa. Namun, jauh di dalam benaknya, seorang pria bodoh seperti Kang Maru hanya mampu mengkhawatirkan adik perempuannya itu.

Sinar mentari yang terik memancing keringat-keringat diproduksi dengan cepat. Choco mengusap pelipisnya dengan handuk kecil selagi melintasi jalanan menuju rumah. Dengan gontai, gadis itu menapak-napaki aspal jalan dan mendengus keras di setiap belokan. Diperhatikan orang-orang pun dia tidak terlalu mengambil pusing. Bagi Choco, ia hidup di dunia ini sendiri. Hanya sendiri. Langkahnya berhenti di depan sebuah pagar besi yang menggawangi deretan rumah-rumah tua di komplek itu. Choco menggigit bibir bawahnya begitu bunyi derit yang dihasilkan oleh karat dan dorongan dari tangannya mengusik pendengaran. Tanpa tahu apa-apa saja alasannya, Choco sudah merasa menginjak halaman depan tempat tinggalnya saja merupakan suatu bencana.

 

“Choco-a, apakah kamu sudah pulang?”

 

Choco mendesis keras begitu pintu kayu kamarnya digeser. Bayangan kepala pria di depan sana yang sedang bersembunyi membuatnya mendecih malas.

 

“Choco, apakah kamu mau makan roti bakar?”

 

Choco menahan pintu yang semakin digeser. Gadis itu menutup pintu kembali dengan suara debaman. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan sentimen di dalam benak.

 

“Kubilang jangan pernah menengok kamarku, dasar Bodoh!”

 

Maru memeluk lututnya yang tertekuk. Pria itu menggumam banyak sebelum kembali mengulas senyum cerah. Lamat-lamat bayangannya hilang dari balik pintu kayu Choco, gadis itu memandangnya hingga seberkas titik gelapnya pun menghilang ditelan sekat rumah. Kang Choco menarik napas dalam-dalam, melirik langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Sesekali ia melirik dinding yang diplester dengan karton putih ㅡoleh kakaknyaㅡ dan menghela napas keras-keras.

 

“Mengurus dirinya saja tidak bisa, lalu kenapa harus repot-repot mencampuri urusanku, pria Bodoh?”

 

Gadis itu meringis setelah benaknya bersuara. Ia merasa tolol telah dilahirkan di dunia ini, dan harus menjalani sisa hidupnya dengan berada di atap yang sama dengan kakaknya itu. Maru, si Bodoh yang selalu membuatnya kesal. Choco menarik selimut hingga menutupi bagian kepalanya, mencoba terlelap lagi dan lagi. Meskipun hanya dialasi oleh sleeping-bag biasa dan sebuah bantal kepala yang hangat dan nyaman, Choco sudah merasa itu cukup. Lagipula, untuk apa memiliki yang lebih dari ini, jika si Bodoh itu saja susah-payah mencari uang.

 

Tunggu.

 

Susah payah, ya. Choco lupa kapan terakhir kali ia merasa lebih berguna dari ini. Ia juga tidak begitu mengerti bagaimana Maru dapat memenuhi segala keperluan hidupnya dengan lengkap, tanpa kekurangan. Meski begitu, gadis itu tetap menutup mata. Menembus alam mimpi dengan sakit yang melanda tubuhnya.

 

_____

 

Awan hitam bergelung terus menyusuri cakrawala sementara angin malam berembus memecah hening malam. Gemeletap sepatu sekolah Choco terdengar di sepanjang aspal yang ia tapaki. Surai hitamnya berayun ditiup angin, sementara dia memeluk lengannya sendiri demi mengikis dingin yang menggigit. Malam itu langit ditemarami bulan yang bersembunyi, tapi tak merta menutupi raut pasi wajahnya yang tengah menahan sakit. Tas punggungnya yang terisi penuh pun seolah menambah beban bawaannya malam itu. Dengan langkah tersendat-sendat, Kang Choco memegangi bagian perutnya yang dirundung perih berkelanjutan. Nampaknya setelah memutuskan untuk mengambil waktu rehat di unit kesehatan sekolahnya dan terlanjur tidur sampai sekolah hampir ditutup, sakit yang melandanya tak kunjung reda barang sedikit.

 

“Apakah ibu juga merasakan sakit yang sama denganku?”

 

Pertanyaan batinnya seolah terkubur dalam-dalam. Maniknya yang ditutupi kilatan bening air mata pun mengerjap-ngerjap beberapa kali, ditemani dengan hamparan bintang di langit malam yang berkelip-kelip melawan awan hitam yang masih menggulung-gulung.

 

Maru menggigit bibirnya dan bergerak-gerak gelisah di dalam kios kecilnya. Pasalnya, semenjak membuka lapak dagangan sampai dengan seorang pembeli terakhir berlalu, sama sekali tak ia dengar nama Choco disebut-sebut. Sosok adiknya itu semakin lesap saja dari pandangannya setelah bel pulang sekolah dibunyikan keras-keras. Maru ingat dia sampai buru-buru melayani pesanan roti demi menengok jalan di depannya. Takut-takut maniknya itu akan kehilangan bayangan Choco yang tengah melintas, atau pun ujung tasnya yang sudah melewati kiosnya. Namun, sampai dia melongok lagi, yang dia temui sekarang hanyalah jalanan kosong yang diterpa sinar bulan yang temaram.

 

Pria itu membereskan beberapa barang, kemudian memastikan selai-selai dan bungkus roti masih dalam keadaan tertutup rapat sebelum berjalan dengan telapak tangan merambati dinding kiosnya. Pelan-pelan Maru mematikan aliran listrik kiosnya, menyebabkan ia menelan segumpal liur karena kegelapan yang tiba-tiba semakin lekat. Dia buru-buru ke luar dari kios kecilnya itu, lalu bersandar memeluk lipatan lututnya sambil mengerling pada bintang-bintang nan terang di langit sana.

 

Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are.” Maru merapalkan potongan lagu itu pelan-pelan. Tangannya diluruskan ke atas, menggapai-gapai udara kosong seolah berusaha menyentuh bintang di langit malam.

 

Dia tersenyum beberapa saat, sekali lagi menoleh ke arah gedung sekolah Choco yang sudah sepi dan gelap. Hanya beberapa lampu taman dan satu lampu di dekat gerbang besar yang masih menyala. Maru kembali mendekap lutut, mengubur wajahnya dalam-dalam di antara celah tubuhnya sendiri.

 

“Up above the world so high, like a diamond in the sky.”

 

Maru memutar-mutar telapak tangannya di depan wajah. Sesekali tertawa riang ditemani kerlipan bintang-bintang di langit malam. Usianya yang menginjak delapanbelas tahun tidak menjadi penghalangnya menyanyikan bait lagu itu. Pemuda itu melirik adiknya di dalam ruangan. Choco berusia delapan tahun dan gadis kecil itu nampak manis di dalam balutan gaun merah, duduk di depan piano dan menekan-nekan tutsnya sebagai bagian dari latihan terakhir untuk pertunjukkannya besok hari.

 

“Maru, Choco sedang berlatih malam ini. Kau tidak keberatan bukan, untuk menjaganya? Ibu menitipkan adikmu padamu, Sayang. Bawa ia pulang dan jangan sampai tubuh kalian berdua kedinginan,”

 

Maru tersenyum-senyum sendiri sambil menendang-nendang udara kosong. Pemuda itu melirik kembali ke dalam ruangan. Lampu berwarna putih terang pun tiba-tiba saja dimatikan. Maru buru-buru mendekati pintu, merapikan bajunya dan menunggu sampai sosok wanita paruh baya dan adiknya ke luar dari balik pintu.

 

“Ibu Park adalah guru yang melatih Choco. Bila bertemu dengannya, jangan lupa untuk membungkuk hormat dan ucapkan terima kasih, Maru.”

 

Mengingat kata-kata Ibunya itu, Maru buru-buru tersenyum manis. Membungkuk sopan sembari meraih tas sekolah Choco.

 

“Terima kasih, Ibu Park. Ibukuibuku menitipkan terima kasih padamu.” katanya sembari membungkuk lagi. Pelan-pelan ia melambai pada ibu Park yang bergegas pergi dengan senyum ramah.

 

Sementara Choco memandangnya dalam diam. Jauh di dalam benaknya, seorang Kang Choco lelah mempunyai kakak laki-laki yang berbeda dari teman-temannya. Alih-alih gagah dan pemberani, kakaknya justru alot dan bertingkah selayaknya anak kecil seusianya. Choco memberikan tas sekolahnya pada Maru, diam-diam menelan pahit bahwa kakaknya memanglah pria Bodoh yang tidak bisa melakukan banyak hal. Dia berjalan lebih dahulu dari Maru, takut-takut jika ada teman sekolahnya yang melihat kebersamaan mereka.

 

“Choco-yah, tunggu aku.”

 

Gadis itu berbalik begitu mendengar panggilan kakaknya. Ia bersedekap lengan, memandang Maru dalam bayang pongah.

 

“Ikuti saja aku. Begitu saja kau tidak bisa,”

 

Maru mengerjap beberapa kali. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri. Hampir lima belas menit ia habiskan untuk mengubur wajah di antara celah lutut, kini ia berdiri dan memandang jalanan di depannya menerawang. Pria itu menapaki aspal jalanan pelan-pelan. Mencoba mencari sosok Choco di antara kegelapan malam yang semakin mengikat.

 

Meski tidak tahu ke mana dia harus mencari adiknya itu, ia kembali menengok bintang di langit malam.

 

“Bintang-bintang di langit, bersinar dengan terang. Betapa aku memujamu.”

 

Maru bergumam sepanjang jalan pulang, mengikuti tapak besar-besar Choco menembus jarak tempuh. Pemuda itu memeluk tas punggung adiknya yang hanya berisikan seragam sekolah dan sepatu pantofel. Sementara si Cilik Choco mengeratkan rangkulan jaket Maru yang kebesaran di luar gaun merahnya. Malam musim dingin semakin menggigit, seolah mengingatkan Choco akan acara penting esok hari. Pertunjukkan Malam Pergantian Tahun.

 

“Bisakah kau berhenti bernyanyi seperti itu?”

 

Maru berhenti memijak begitu Choco berbalik menghadapnya. Gadis kecil itu menatapnya di balik kilatan air mata.

 

“Teman-temanku berkata kau memalukan. Bila mereka tahu kau adalah kakakku, apa yang harus aku lakukan, huh?”

 

Maru menunduk lesu. Pemuda itu memeluk tas punggung adiknya erat-erat. Kendati tidak mengerti maksud Choco, Maru masih bisa menebak-nebak apa yang bisa ia lakukan. Pemuda itu menggantungkan tas Choco dengan sebelah tangan, sementara tangan kanannya mengusap puncak kepala si Adik Kecil.

 

“Maru bersalah. Maru, Maru akan berusaha.”

 

Maru ingat adiknya itu mengembuskan napas lega ketika malam menuju acara tahun baru dirinya tidak hadir dari atas panggung. Dia yang menggigil saat itu hanya melihat pertunjukkan dari luar jendela, di antara semak-semak taman sekolah. Raut wajahnya yang senang seketika saja berubah pucat ketika melihat adiknya tidak kunjung menekan tuts-tuts piano yang berwarna putih dan hitam. Tidak pula adiknya melirik piano itu, Choco hanya diam dan menggigit bibirnya.

 

“Twinkle, twinkle, little star! How I wonder what you are!” Maru memekik dari luar jendela, tangannya mengepal dan memukul-mukul kaca bening itu. Sementara Choco di dalam sana memejamkan matanya, berusaha mengingat-ngingat melodi yang harus ia mainkan. Mendengar suara dari luar, membuat tangannya berayun menekan tuts demi tuts piano. Kang Choco memperdengarkan alunan musik yang menenangkan malam itu, diiringi tepuk tangan para penikmat lantunannya.

 

Pertunjukkan ditutup dengan sempurna dan siulan-siulan serta pujian-pujian dari para orangtua murid mengalir deras. Setelah menyalami teman-teman dan mengambil foto bersama, Choco melangkah ke luar ruangan. Dia tersenyum manis begitu Ibunya berdiri di ujung lorong.

 

“Ibu! Aku kira ibu tak bisa datang karena mengurus kakak.”

 

Maru masih menendang-nendang udara kosong ketika melihat ibunya dan Choco menyeberangi taman sekolah menuju pintu keluar. Pemuda itu buru-buru menyusul, dan menangkap bayangan ibu dan adik perempuannya itu dari belakang.

 

Malam masih menyapa dengan taburan bintang-bintang yang berkelip. Choco berjalan lebih dahulu dari ibunya, terlalu bersemangat untuk segera sampai di rumah dan membuka bingkisan akhir tahun dari sang Ibu. Sementara Maru masih memerhatikan keduanya diam-diam dari belakang. Takut jika Choco akan melihatnya dan menjadi marah. Khawatir dirinya akan menghancurkan suasana hati adiknya itu. Namun, selagi ia berpikir-pikir, sang Ibu menoleh kepadanya. Wanita setengah baya itu tersenyum manis padanya. Maru balas tersenyum. Pemuda itu melambai-lambai pada ibunya sambil menghabiskan gang terakhir menuju rumah.

 

Dilihatnya Choco mengayunkan lengannya pada pagar, hendak membuka penutup rumahnya itu sebelum Maru melihat ibunya meringis tiba-tiba. Wanita itu memegang bagian perutnya, raut wajahnya berubah kontan, dan baik Maru mau pun Choco sama-sama berlari menuju ibunya ketika tubuh wanita itu limbung dan terjatuh tak sadarkan diri di tengah salju yang turun.

Prang!

Sebuah tempat sampah yang berisi kaleng pun turut jatuh ketika tubuh ibunya itu mendarat tepat mengenai pelipirnya.

 

Maru merambati gang-gang dan berhenti berjalan begitu suara bedebam dan benda jatuh menubruk sunyi malam. Pria itu merasakan dadanya berdentam-dentam tak karuan. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya begitu mengingat-ingat suara yang sama dengan suara yang ditimbulkan ibunya ketika jatuh pingsan malam pergantian tahun sepuluh tahun silam.

 

“Choco!”

 

Pria itu memekik, berlari tersaruk-saruk menengahi embusan angin malam dan salju turun yang berada di sekitarnya. Maru memeriksa setiap gang yang ia lintasi. Memanggil-manggil adiknya dalam keadaan panik. Pria itu ingat pesan-pesan ibunya. Pria itu tidak ingin mengulang hal yang sama dengan yang terjadi dahulu. Karena, bagaimanapun, Maru masihlah mempunyai daya ingat yang tajam.

 

“Ibu menitipkan Choco padamu, Maru. Karena, ibu tidak memiliki siapa pun di dunia ini kecuali kamu. Hanya kamu yang bisa ibu percaya dan titipkan Choco. Karena Choco adalah segalanya bagi Ibu, dan Maru adalah segala-galanya yang dapat menjaga kedua permata ibu.”

 

Bayangan wajah ibunya melintas di ingatannya. Membuat Maru yang kelelahan berlari pun menubrukkan punggungnya pada dinding-dinding bata rumah tua di sekitar. Dadanya bertalu-talu, ia masih belum dapat menemukan si Adik.

 

“Maru,”

 

Begitu mendengar namanya dipanggil, Maru menoleh ke sana dan ke mari. Ia menepuk kepalanya sendiri sambil menengok ke langit malam. Sinar bintang-bintang melebihi temaram bulan, awan-awan hitam bergelung menjauhi langit. Sambil kembali menyusun langkah, Maru menemukan tubuh adiknya yang masih berbalut seragam SMA tergolek mencium aspal.

 

“Choco!”

 

_______

Si Bodoh tidak bisa memikirkan tempat lain selain gedung besar di sudut jalan protokol. Dengan alas kakinya yang lepas, ia menapaki jalan besar sambil membawa harapan terbesarnya. Satu-satunya titipan dari ibunya di dunia ini.

 

Maru terengah-engah, mengatur napas yang memburu. Unit darurat membawanya melintasi lorong rumah sakit. Mengetuk-ngetuk pintu di depannya, Maru bergerak gelisah, cenderung tak sabaran.

 

“Choco tidak boleh mati. Choco tidak bisa mati seperti ibu!” serunya ketika seorang dokter muda yang membuka pintu melotot kaget.

 

Derit roda dari ranjang rumah sakit bergema di sepanjang lorong. Maru menyusul benda persegi panjang itu sembari memegang tangan adiknya erat-erat. Tidak, Choco sama sekali tidak boleh mati kesakitan seperti ibunya. Tidak, karena Maru tidak bisa membiarkan itu terjadi. Paling tidak, ia merasa tidak rela jika adiknya harus mati dengan raut pucat seperti ibunya sepuluh tahun lalu.

 

Cetakan-cetakan darah menempel di lantai lorong, diikuti dengan langkah kecil Maru yang kembali melintas. Pria itu meringis tiap kali goresan di kakinya yang lebar menggesek lantai marmer itu. Darah tetap ke luar dan Maru yang lelah memutuskan untuk menyapa kursi tunggu dengan bokongnya. Dalam diam, dia menunduk lesu, air mata mengering di kedua sisi wajahnya.

 

“Maafkan Maru, maafkan Maru.” gumamnya tak henti-henti. Di kursi itu, ia kembali menonton waktu. Memerhatikan tenaga medis yang berlalu lalang, pramu-bakti rumah sakit yang membersihkan cetakan darah di lantai sambil memandanginya, dan juga langkah besar-besar dokter muda yang kini menujunya.

 

“Apakah Tuan adalah saudara dari Kang Choco?”

 

Maru menoleh begitu nama adiknya disebut-sebut. Pria itu berdiri dari posisi duduknya dan menatap sang Dokter dengan tatapan khawatir sampai tangan orang medis itu menepuk-nepuk bahunya.

 

“Anda bisa menemuinya setelah ini,”

 

.

.

.

 

Tidak ada kata yang bisa Maru ucapkan, tidak jua ia memaki atau meminta maaf. Yang dilakukannya hanya berdiri di depan pintu ruangan rawat yang terbuka sedikit. Celahnya yang menampakkan bayangan tubuh Maru pun membuat Choco di dalam menyadari keberadaannya.

 

“Masuklah,” katanya kemudian. Maru di depan masih was-was. Pria itu masih memainkan sela-sela jarinya ketika seorang perawat wanita membuka pintu lebih lebar, mempersilakannya masuk.

 

“Kenapa menunggu di sini?”

 

Maru menunduk lebih dalam, pria itu gemetar dan jantungnya berdentam-dentam. Antara senang dan takut. Ingin sekali ia memeluk adiknya itu, namun rasa takut akan kemarahan si Adik lebih mendominasi pikirannya yang sempit. Kang Choco mengerjap beberapa kali sambil menunduk sedikit berterima kasih pada perawat yang beranjak memberi privasi. Setelah itu ia membuka mulutnya, hendak berkata-kata sebelum air mata justru lebih dulu menuruni lekuk pipinya.

 

“Aku kira oppa akan meninggalkanku,” katanya lagi. Air mata masih membasahi wajahnya dan membentuk anak sungai ketika ia kembali melanjutkan. “Aku kira aku pantas ditinggalkan mati di sini.”

 

Menyebut-nyebut kata ‘mati’, Maru pun langsung bergerak gelisah. Pria itu menunduk, sedikit-sedikit melirik Choco yang masih memandanginya.

 

“Maruㅡ”

 

“Terima kasih.” sela Kang Choco begitu saja.

 

Kang Maru mengerjap beberapa kali sebelum mengerling Choco yang masih berbaring. Bibirnya pucat, sama seperti kondisi sang Ibu delapan tahun yang lalu. Ketika ibunya berkata-kata sebelum akhirnya meninggalkan dunia ini pada Maru.

 

“Sedari dulu aku selalu begitu, bertingkah lebih bodoh dari pada kau, bukan?” Choco bergumam, tersedak liurnya sendiri. Pelan-pelan dia menggerakkan jemarinya, memanggil Maru mendekat.

 

Oppa maafkan aku. Aku bersalah padamu.”

 

_____

Karena tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengemban tugas. Karena tidak ada sesuatu apa pun yang bisa membatasi rasa sayangnya.

 

Si Bodoh Maru keluar dari ruang rawat dengan pipi bersemu. Dia menapaki lorong dengan lukanya yang telah mengering, mencari-cari bintang di langit sana sebelum matahari terlanjur menyapanya.

 

“Aku bersalah padamu.”

 

Maru ingat kata-kata adiknya beberapa menit yang lalu, sesaat setelah ia hendak menutup pintu ruangan. Dia bergerak-gerak gelisah di tempatnya berdiri. Choco meminta maaf padanya, pertanda bahwa adiknya itu merasa bersalah atasnya.

 

“Choco tidak bersalah,” katanya kemudian. Masih mencari-cari bintang di langit pagi, pria itu menghela napas kecewa.

 

Maniknya bergerak-gerak gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya.

 

“Ibu,” panggilnya hampir terisak. “Choco tidak boleh merasa bersalah padaku, Ibu. Ibu, apa yang harus aku lakukan?”

 

.

.

.

Katakanlah bahwa Maru memang bodoh. Pria itu kecewa tidak melihat bintang di langit kini. Ia berjalan keluar rumah sakit setelah memastikan biaya pegobatan Choco telah ia lunasi.

 

“Bintang adalah ayah dan ibu. Kerlipannya adalah mereka berdua.”

 

Maru ingat dia mengatakan itu berulang kali setelah pemakaman. Meski sebenarnya dia lupa, siapa yang mencetuskan itu untuk pertama kalinya. Tetapi, yang masih ia rekam dengan jelas di kepalanya yaitu bagaimana cara ia menenangkan Choco yang menangis meraung-raung semalaman itu ;adalah dengan berkata demikian. Berharap adiknya itu tidak lagi menangis. Karena, setetes air mata Choco adalah sebuah sayatan besar di tubuhnya. Kang Maru membelah embun pagi menuju area pemakaman.

 

“Tuhan, aku ingin bertemu Ibu.” katanya sepanjang perjalanan. Dia meremas-remas ujung bajunya, takut menghantui tiap pijaknya. Dengan bodohnya, ia melirik langit pagi. Maru membayangkan rasi bintang di sana. Membentuk panah agarnya mengikuti arah selayaknya rasi bintang utara.

_____

 

“Polaris!”

 

Maru yang tengah menyusun sepatu-sepatu di gudang pun melirik ibunya, ia menyembulkan kepalanya ke luar pintu kayu itu.

 

“Polaris! Kang Maru si Polaris!”

 

Pemuda itu beringsut mendekati ibunya di pinggir ruangan. Dengan alis meliuk, Maru duduk di sebelah ibunya, memandangi wanita itu dalam diam.

 

“Ah, ini dia Polaris ibu.”

 

Sambil mendekap Maru, si Ibu mengusap-usap kepala putra sulungnya itu penuh sayang. Dia menahan tangis atas apa yang ingin ia ucapkan.

 

“Kang Maru adalah Polaris ibu. Tahu tidak mengapa bisa begitu?”

 

Maru menggeleng.

 

“Karena, dahulu, sebelum Kang Maru menghirup gas beracun saat tengah tidur dengan ayahnya, dia adalah si Polaris itu.”

 

“Dahulu sebelum sel-sel otak Kang Maru dinyatakan rusak permanen, Kang Maru adalah putra ibu yang selalu menjadi penunjuk arah pulang. Setiap malam ketika pulang berdagang di kota, Maru akan menggenggam jemari ibu, membawa ibu yang penglihatannya rabun pulang melewati arah yang benar. Karena, Kang Maru dahulu pernah menjalani tujuh tahun hidupnya dengan menjadi anak lelaki yang kesemuanya normal.”

 

Ibunya berhenti sejenak. Memungut oksigen dan mengembuskan sisa-sisa pernapasannya keras sebagai bentuk kamuflase akan air mata yang hendak menetes.

 

“Bahkan ke manapun ibu membawamu pergi, kamu akan selalu ingat dan tahu arah jalan pulang. Tapi tidak setelah malam itu.”

 

Maru menembus lampu pejalan kaki, menapak-napaki aspal bergaris putih di depannya dan menghela napasnya berat-berat.

 

Meski sekarang kamu kembali menjadi sosok yang berpikiran selayaknya bayi, ibu tak pernah merasa kecewa padamu, Maru. Ibu mencintaimu, Ibu mengasihimu lebih dari siapa pun di dunia ini.”

 

“Bagaimana dengan ayah?”

 

“Ayah?”

 

Maru memandang ujung jalan sambil tersenyum, maniknya yang tidak terbiasa dengan sinar mentari pun mengerjap-ngerjap.

 

Bahkan walaupun ayahmu meninggal di malam yang sama dengan kecelakaan gas itu, dirinya juga sama mencintaimu.”

 

“Maru oppa!”

Polaris!”

“Putra ayah!”

 

Maru menoleh ke belakang sebelum memijak aspal terakhir. Pandangannya seketika rabun, sementara pekikkan tadi terus berulang di antara teriakan orang-orang di sekitarnya. Kang Maru si Bodoh, kembali menjadi orang bodoh di hari yang cerah tanpa bintang.

 

_____

Kini si Bodoh tidak lagi menunggu, ia hanya memerhatikan gadis yang diembannya itu setiap saat. Setiap kali si Gadis memejamkan mata, sampai Kang Choco berakhir menjadi nama yang melengkapi urutan batu-batu keluarga kecil mereka di taman berbunga nan berilalang.

 

“Kang Choco. Nama yang lucu.” Seorang petugas pembersih memotong rumput dan merapikan undakan-undakan tanah itu dengan sabar. Sesekali ia mengganti bunga dan membersihkan batu marmer dari debu.

 

Dia menengok papan batu yang lebih besar di tengah-tengah undakan-undakan.

 

“Keluarga Kang.”

 

Dengan senyum, si Pembersih pun bergegas pergi setelah tugasnya selesai. Ia melangkah menikmati angin sore yang sejuk di antara lingkungan sepi di sekitarnya. Lalu seperti biasa, ia pun dengan sukarela mengunci pagar besar bercat hitam yang melingkupi hampir semua sudut tanah luas itu.

 

“Sampai jumpa besok, Rumah Peristirahatan.

 

| E N D |

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s