[Ficlet] Surrounding The Sheen

|| Title :  Surrounding the Sheen || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : [15&] Baek Yerin, [GOT7] Kim Yugyeom || Support Cast : Find it by your self ||

|| Genre : Friendship, School Life ||

|| Duration : Ficlet || Rating : Teen || Back Song : Hyorin – Hello ||

Summary :

And in those moment, I’ll be there for you

 

______

 

 

Hari itu merupakan tipikal hari dengan jadwal kegiatan kosong ketika manik cokelat kokoa Yerin menembus jendela kelasnya. Ruangan di lantai tiga itu disesaki siswa-siswa yang kehausan hiburan, tak jarang beberapa di antara mereka membelah sunyi dengan tawa renyah, pun obrolan-obrolan singkat mengenai segala sesuatu yang terasa asing baginya.

Gadis itu memberengut lelah, memilih bersedekap lengan dan duduk tenang menyandar dinding di tempat duduknya yang berada pada sudut terdepan kelas. Dengan mata sayu dan surai yang berwarna cokelat keemasan, juga stempel debut yang memang melekat di dirinya, Yerin mencoba memejamkan mata barang sejenak. Barangkali dengan cara itu ia dapat menumpas penat, atau sekadar melepas lelah sehabis menyelesaikan showcase ke dua grup duonya semalam.

“Permisi,”

Sekejap saja kelopak matanya membuka, kontan menemui seorang pemuda berwajah sedikit tembam dengan mata tajam, juga postur tinggi yang sempat menghalangi sinar lampu kelasnya. Baek Yerin menyipitkan mata, dengan saksama mengenali si Pemuda yang merupakan salah satu kawan sejawatnya, Kim Yugyeom namanya. Sementara Yerin sibuk memasukkan beberapa buku catatan ke dalam tas, Yugyeom tanpa canggung menarik kursi di sebelahnya persis. Pemuda itu menarik keluar sebuah tap disc dari dalam saku jas sekolah, menyelaraskan bentuk kabel earphone yang tergulung tidak rapi. Gadis di sampingnya masih melamun, kadang-kadang melirik kesibukkan Yugyeom dari ujung mata ;mungkin risih, mungkin juga terlilit penasaran.

“Lagu ini baru keluar beberapa hari yang lalu. Aku sampai mengantre untuk mendapatkan poster dan albumnya.” terang Yugyeom sembari menyeret sebuah kaset dua putaran berbentuk persegi panjang kecil ke hadapan Yerin. Seolah mencoba memberi bukti bahwa ucapannya itu benar adanya.

Sambil memangku dagu, Yerin menghadap temannya yang satu itu. Dia memindahkan sejumput rambut ke belakang telinga, mengambil sebelah pangkal earphone dan memasangnya dengan benar di telinganya sendiri. Sebelum ini pun Yerin memang tidak dapat menolak apa-apa saja yang dibicarakan Yugyeom, hampir kesemuanya itu cukup menarik perhatiannya. Meski, tak jarang, Yerin masih memilih menelusuri buku astronomi ketimbang menghabiskan waktu banyak-banyak bersama seorang Kim Yugyeom yang notabene tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya, justru jauh berbeda dengan seorang Baek Yerin.

Beberapa siswa di kelas berangsur menipis jumlahnya, terseret dering bel sekolah yang diperdengarkan pada hampir seluruh sudut gedung. Yerin menyampirkan tas punggungnya tergesa, melepas earphone yang sedari berpuluh menit tadi menggantung di telinganya. Sambil melambaikan tangan, gadis itu pun menuntaskan koridor hingga bayangannya lenyap di pandang mata. Kim Yugyeom berdiri dari posisi duduknya, melamun bersama tapak keras pantofel Yerin yang bersinggungan dengan lantai marmer.

“Baek Yerin,” gumamnya. “Kamu harus lebih sering tersenyum.”

Dalam hening ruangan, Kim Yugyeom berangsur mendekati kursinya, namun sebelum itu sempat dicapai, dering ponsel yang bukan miliknya sudah terlanjur berbunyi. Memanggil ia untuk mencari keberadaan benda itu dan buru-buru mengangkatnya ketika panggilan masih tersambung.

_____

Pagi yang mendung melengkapi lipatan-lipatan langit. Kim Yugyeom berjalan menyusuri aspal lembap dengan langkah sempit-sempit. Pemuda itu memegang pangkal tas sekolah yang talinya ia sampirkan pada sebelah bahu, diam-diam menunggu benda di dalamnya berbunyi lagi. Gerbang sekolah rasanya masih jauh dipandang mata, tapi Yugyeom justru sengaja melambatkan langkahnya. Barangkali memiliki urusan yang lain sebelum sempat mengisi daftar hadir pembelajaran.

Oi! Baek Yerin!” serunya dari kejauhan. Sementara gadis bersurai cokelat dengan seragam yang sama dengan yang dipakainya pun menoleh sedikit. Wajahnya sedikit pucat pagi itu. Yugyeom rasa ia tidak salah lihat ketika bayangan hitam bersarang di bawah pelupuk mata Yerin, menyiratkan lelahnya gadis itu.

Sambil merogoh kantung di tas sekolahnya, Yugyeom memandang Yerin lekat-lekat. Lalu ia menyodorkan ponsel bermerk ternama itu cepat-cepat.

“Ini ponselmu. Aku kira kamu pasti tidakㅡ”

“Ya, terima kasih.”

Begitu Yugyeom membiarkan bagian mulutnya terbuka, Yerin buru-buru memadu pijak. Gadis itu pergi lebih dahulu ke sekolah. Berjalan dengan langkah besar-besar dan beberapa buku di dekapannya.

Tidak berputus asa, Yugyeom berjalan mengiringinya beberapa pijak di balik punggung Yerin. Gadis itu melirik sedikit bayangan tubuh Yugyeom yang berada di sebelah kirinya sebelum mendesis.

“Kamu tahu jika arah datang cahaya itu berhubungan dengan jarak bayangan, bukan, Kim Yugyeom?”

“Tahu.”

Yerin berhenti menambah langkah, dia membalikkan tubuhnya dalam serong. Lalu menilik Yugyeom yang berdiri santai beberapa jarak di belakangnya.

“Lalu, kenapa?”

“Aku hanya sengaja.” Jawaban yang dilontarkan pemuda itu nampaknya begitu membosankan bagi seorang jenius seperti Yerin. Gadis itu melirik Yugyeom lagi, lalu menghela napas keras-keras.

Berbalik dan kembali memangkas jarak menuju sekolah agaknya menjadi opsi paling tepat bagi Yerin, sehingga tanpa mengucapkan salam gadis itu sudah lebih dulu berjalan jauh. Lagi-lagi meninggalkan seorang Kim Yugyeom sendirian. Dahulu Yerin tidak pernah mengenal siapa itu Yugyeom, atau dari mana asalnya pemuda tinggi seperti dia. Yerin yang lampau hanya terlalu apatis pada apa-apa saja yang bergerak di sekitarnya, sehingga menjadi sulit untuk mengenal Kim Yugyeom utuh-utuh.

Kelas dimulai dengan pengumpulan tugas begitu Yugyeom membuka pintu sorong itu. Ia melirik seorang guru di depan podium, lalu membungkuk hormat kepadanya. Pemuda itu buru-buru menaruh tasnya dan mengeluarkan peralatan tulis. Tidak sampai beberapa menit.

Peredaran rasi bintang dan tempat-tempat ternama yang sering dijadikan obyek penelitian astronomi tertera di sana. Jelas sekali membuat Kim Yugyeom yang malas sampai memuat jawaban terbenarnya, tidak mau mengulang-ulang pekerjaan.

“Yang tidak mengerjakan tugas, harap berdiri.”

Yugyeom menilik Yerin yang seketika bergerak gelisah di tempatnya sendiri. Gadis itu merogoh-rogoh isi tasnya, lalu menggumam sendiri sampai tangan kosongnya kembali berada di atas meja. Pemuda itu berdiri dari duduknya, menuai decakkan si Guru. Dengan langkah pelan, Yugyeom menapak ke luar ruangan. Ia melewati meja Yerin, lalu menaruh buku tulisnya di sana.

“Kim Yugyeom,” bisikkan Yerin terdengar sama dengan ucapan terimakasih. Membuat Yugyeom kembali melanjutkan pijak dan membungkuk hormat di depan gurunya sebelum menghilang di balik pintu.

Sekenanya lorong sepi mengisi retina Yugyeom yang dirundung bosan. Pemuda itu melirik ke sekeliling dan kecewa begitu mendapati jarak kantin sangat jauh.

“Kim Yugyeom.”

Pemuda itu menjulurkan lengannya lurus-lurus di atas kepala, salah mengira suara yang bersangkutan. Sementara ia menunduk dalam-dalam begitu sepatu sekolah yang dikenalinya justru menginjak marmer di sebelah kirinya. Baek Yerin duduk di sana, meluruskan lengan dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Kamu begitu bodoh.”

“Hey, Baek Yerin, aku ini kan sudah menolongmu. Seharusnya aku mendengar ucapan terimakasih atau semacamnyaㅡ”

“Dan membuatmu menyia-nyiakan tugas yang kamu kerjakan itu? Kamu bercanda.”

Yerin berdecak jemu. Gadis itu baru saja merasakan sesak di dadanya, lagi. Pelan-pelan ia beringsut menjauhi Yugyeom, lalu kembali menjalani hukuman di sisi lain lorong sepi. Sedikit-sedikit dia melirik kanan dan kiri, lalu menunduk ketika tidak menemui siapa pun di sana. Pelan-pelan, air matanya mengalir.

“Sudah menjadi kewajibanmu untuk menjalani hidup sebagai manusia yang cerdas, Yerin.”

 

Dia ingat semalam sudah menaruh buku itu di dalam tas sekolahnya. Yerin juga hapal kebiasaannya untuk memeriksa kembali kelengkapan sekolahnya setiap pagi sebelum berangkat.

“Aku benci.”

 

Dia juga ingat ketika dia menahan isak pagi ini. Baek Yerin tidak menelan satu jenis sarapan pun sejak pagi, membuat ion-ion tubuhnya dengan cepat terkuras habis. Barangkali ketika dia menahan isak sebelum meninggalkan halaman rumah pagi tadi, dia lupa memeriksa kelengkapannya. Mungkin saja dia lupa.

“Aku juga ingin menjadi seperti Yugyeom. Tidak begitu memusingkan perihal target prestasinya. Yang jelas, ia sudah mengetahui kemampuannya itu. Lalu dengan tenang menjalani ujian dan segala sesuatunya.”

 

“Jangan menangis begitu,” Begitu suara Kim Yugyeom tertangkap olehnya, Yerin buru-buru mengenyahkan air matanya dengan punggung tangan keras-keras.

“Siapa yang bilang aku menangis?”

“Kamu. Memanggilku lewat pikiran bahwa kamu membutuhkan teman saat ini.” Yugyeom bersedekap menyandar dinding. Begitu memastikan bahwa guru pembimbingnya tidak sadar akan bolosnya ia dari hukuman, pemuda itu cepat-cepat memegang lengan Yerin.

“Ayo, berdiri!”

“Ke mana?”

“Berdiri saja.” ajaknya lagi, kali ini benar-benar menarik lengan Yerin. Membuat gadis itu berdiri sambil memaki Yugyeom dalam hati.

 

Gadis itu menelan segumpal ludah sambil melewati lorong-lorong sekolah. Takut-takut ada guru yang memergokinya, khawatir akan reputasinya di sekolah ini. Sementara Yugyeom di sampingnya berjalan tak acuh, mengangkat dagu seraya menyembunyikan kepalan tangan di dalam saku celana panjang.

Dadanya berdentam-dentam tidak beraturan. Tapak-tapak yang dilaluinya berbeda dengan yang biasa. Yerin menunduk sepanjang perjalanan mereka sampai gemeletap pantofel Yugyeom menubruk anak-anak tangga. Gadis itu memandang postur tinggi si Pemuda yang berangsur naik.

“Ayo,” ajak Yugyeom lagi. Suaranya masih tidak acuh, sampai kepalanya menoleh ke arah Yerin yang masih tercenung di bawah sana. “Ke atap bukanlah masalah besar, Baek Yerin. Ayo!”

Ini mungkin pertama kalinya ia membolos pelajaran. Yerin merogoh-rogoh kantung jas sekolahnya. Ia pun menarik keluar sebuah telepon genggam berlayar sentuh, menekan satu tombolnya sampai cahaya led menyapa maniknya. Dia memandang Yugyeom lagi.

“Aku tidak yakinㅡ”

“Kalau begitu, yakinilah. Ayo, Yerin. Kamu hanya membuang-buang waktu.” Yugyeom kembali menuruni anak tangga, berdiam diri di hadapan Yerin sekali lagi lalu menyodorkan telapak tangannya.

“Ayo, naik bersamaku.”

.

.

.

Baek Yerin tidak pernah tahu bahwa tekanan udara yang tinggi mampu membuatnya sukar menahan air mata di pelupuk. Dia mengeratkan kepalan tangannya sambil memandang hamparan hijau di bawah sana. Matahari yang malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan pagi dan menyinari sebagian wajahnya dengan anggun.

Mungkin Jimin harus mencoba berada di sini. Namun, untuk mengajaknya saja Yerin terlalu gengsi. Benar kata orang-orang itu. Ia jenius, dan butuh waktu yang cukup lama baginya menimba ilmu dengan menjadi trainee. Berbeda dengan Park Jimin rekan duetnya itu, yang dapat debut hanya dengan kemenangan kompetisi dan menandatangani kontrak manajemen mereka.

“Kamu tahu, aku pun akan didebutkan.” Yugyeom berpatah-patah kata di belakangnya. Pemuda itu menatap manik Yerin begitu si gadis menoleh padanya.

“Aku tidak peduli.”

“Kamu harus,” Yugyeom menyelanya lagi. Pemuda itu memandangnya dalam hening. Lalu dia memijak beberapa langkah sampai tubuhnya berada tepat di hadapan Yerin yang masih tergugu.

“Aku akan menemanimu melawan sendu di sini. Aku pun akan merasakan hal yang sama denganmu ;nanti setelah melakukan debut, bukan?”

Yerin memandang pelipir kerah kemeja pemuda di depannya, tidak mau repot-repot menengadah hanya untuk menyapa wajah tegas Yugyeom. Gadis itu menunduk, membiarkan air matanya menetes dan menemui semen kering di pijakkannya.

Semua perasaan yang selama ini dibendungnya pun menguar. Yerin menggeram sedikit, lalu meremas ujung jas sekolahnya. Sementara Yugyeom di hadapannya hanya mampu mengikuti senyap sambil memandangnya.

“Jangan menjadi orang yang seperti aku,” Yerin membuka suara. Gadis itu mundur selangkah dua langkah. Ia menatap Yugyeom setelah itu.

“Kamu harus bersikap baik pada rekan satu grupmu, tidak boleh canggung dan bersikap individualis sepertiku, Yugyeom.”

Yerin mengusap wajahnya yang lembap dengan telapak tangan, lalu kembali menjatuhkan tatapan pada pepohonan serta rerumputan hijau di bawah sana.

Sesudah itu tidak ada lagi pembicaraan yang ditukar. Baik Yerin maupun Yugyeom masih disibukkan dengan gelut-pikiran masing-masing. Sepoi angin yang berembus-embus pada akhirnya menyadarkan pemuda yang sedang bergeming itu. Kim Yugyeom menelisik arloji di pergelangan tangannya sebelum menepuk bahu Yerin pelan.

“Kelas sudah berakhir. Ayo, kita turun, Yerin.” ajaknya cepat-cepat. Tanpa niatan lain, ia menarik pergelangan tangan Yerin hingga gadis itu terperenyak sembari dipaksa berlari.

Bunyi gemeletap sepatu yang membentur lantai marmer bergema sepanjang lorong sampai langkah mereka berhenti di depan pintu sorong kelas. Serta merta Yugyeom melepaskan pagutan tangannya, memandang Yerin canggung-canggung sambil mengusap bagian belakang kepalanya sangsi.

“Tidak apa-apa,” Yerin berkata pelan-pelan sebelum menoleh pada pemuda itu dan mengembangkan sedikit senyum tipis. “Jangan merasa canggung, Kim Yugyeom. Kita teman, bukan?”

Bunyi deritan pintu yang dibuka membuyarkan lamunan singkat Yugyeom. Pemuda itu memegangi dadanya yang seketika bergemuruh sambil memandang Yerin yang dengan anggun kembali menyinggahi kursinya di barisan terdepan.

“Kita teman, bukan?”

 

Yugyeom merapatkan kelopak matanya. Begitu aroma pewangi tubuh sang Guru Pembimbing selanjutnya menyambangi penginderaannya, pemuda itu lekas-lekas masuk dan mendudukkan diri di kursinya pada bagian terbelakang kelas.

“Mana aku tahu, Nona Baek.” gumamnya sembari mengacak surai gelapnya itu. Jauh di balik itu semua, Yugyeom mencoba mengubur jauh-jauh dentaman-dentaman yang selama ini memang tersembunyi.

Eksistensiku kamu akui saja, aku sudah merasa lega, Baek Yerin.”

 

 

Fin.

 

 

A/N:

 

Hakhakhakhak. Ceritanya sih nulis ini sambil gonta-ganti lagu di playlist. Beribu thanks kuterbangkan buat Ivana yang udah memulai eksistensi crack-couple ini di ficnya yang begitu memukau. Dan sebenernya ini mungkin seri lain dari White Crush yang sama-sama bergenre School Life dan Friendship. Meskipun masih friend-zoned, aku butuh komen pembaca.

 

So, be kind, please.

4 thoughts on “[Ficlet] Surrounding The Sheen

  1. DHILA, AKU NGAKAK DULU BOLEH NGGAK???😄

    sumpah, ini Yugyeom-Yerin lama2 kayak SeolHyuk nasibnya.kena friendzoned teruuuuus~ u,u eh, tapi gak apa2 sih, toh mereka masih kecil ini.belum pantes pacaran *,*

    apa lagi ya….??

    oh iya, kenapa ya, image-nya Yugyeom di setiap ff yg kubaca itu pasti tipe2 anak tengil tapi lumayan pinter dan bijaknya kurang ajar kayak mukanya Mark (?) padahal Yugyeom dikerjain dikit langsung nangis tersedu-sedu .___. jelaskan padaku dhil, jelaskan! /kicked

    terus itu pas di atap, si Yugyeom keliatan banget udah pengalaman bolos kelas xD tapi ya lumayan lah, buat ngehibur Yerin
    u,u

    oke, sekian dulu ya dhil.ak masih menumpuk beberapa ff yg belum kubaca :” dan komen 95line pasti akan segera kubales!!! ;))

    dadah dhilaaa~!!! ^0^

    • KAKTIWI!❤ Sorrytothemax aku baru bales ini :'' huhuhu aku sedang uts, kak. Time untuk nyalain kompu agak kurang dan aku memilih menghabiskan waktu tersebut untuk buka-buka buku atau malah bobo.

      NAH kan… emanglah… Kasian uri Yugyeom… maknae itu.. kasihan… Iya mereka masih kecil, setuju! Tapi, garagara mikirin mereka dan line 97, aku jadi berakhir ngeliatin live performnya si Thia dan Melanie dan Syokola. Fokus di mereka berdua sih. Dan aku menyadari satu hal, ANAK 97 BONGSOR SEMUA. Fix banget. Kenapa sih kenapa.. kenapa mereka gedegede amaat. Wajahnya juga gak baby baby banget gitu, kan. /Lirik Thia/ yah ketawan lah thia sama melanie rada bule. Tapi ugyeom… aa ugyeom kan korea asli… yerin juga… kenapa.. kenapa mereka tinggi tinggi dan subur subur… aku.. ngerasa.. tertinggal…

      Emang begitu kak /tjeilah/ Secara naluriah, emang pengennya dia demikian dan aku gabisa menolak untuk nyelipin kepinterannya dia. Soalnya, aku gaminat sama pemudapemuda yang gak pinter. Wahahahaha. /Nyelipdikit/

      Itu klise kak klise! /jahatjuga/ tapi emang iya sih, gitugitu Yugyeom sasaran empuk buat dikerjain, dan memang pipinya dia kelihatan empuk sehingga dia pas banget buat ngebayi dan nangis. Ugh, Aku. Bete. Sama. Dia. Fix.

      Iyaa adegan atap somehow itu manies gak sih? Aku.. mupeng. Hahaha. Biarpun agak serem mainnya ke atap, cuma karena ini fiksi dan lagipula tubuh ugyeom itu tinggi yasudahlah, kuikhlaskan…

      Sipsip! Makasih loh kakak main ke sini❤ mihiiw senangnya hatiku!
      Dan maaf ini telat balesnyaaa… dadaah kak Tiwi~😉 :* ^^*

      Dhila.

    • Haihai, aku salam kenalin lagi ya aku Dhila dari line 98😀 salam hangat.

      Hahahaha, yah, di sini Yugyeom dapet peran agak nelangsa sih yaudah lah mas relakan saja mbak Yerin yang kalem itu. Makasih udah difavin!😀 hehe seeyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s