[Ficlet] Inadaptibility Us

|| Title :  Inadaptibility Us || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : [VIXX] Han Sanghyuk, [AOA] Kim Seolhyun || Support Cast : Find it by your self ||

|| Genre : Romance, Friendship, Family

 Hurt/Comfort, Angst, Little bit Fluff ||

|| Duration : Ficlet (1691 words) || Rating : Teen ||

Summary :

Sedalam apa aku menggali, sejauh apa aku menyimpan, tetap saja keluarga merupakan dinding pemisah yang sesungguhnya kokoh.

Kamu tahu bila aku juga jatuh hati padamu, bukan?

 

______

 

Sanghyuk tengah sibuk mengatur beberapa bukunya ketika Seolhyun dengan tiba-tiba membuka pintu kamarnya, menyebabkan beberapa piagam yang digantung pada tembok sekitar pintu turut bergoyang. Pemuda itu membenahi kacamatanya sendiri.

 

“Untuk apa kamu ke sini?”

 

Si Gadis bersedekap lengan, menempelkan punggungnya sendiri pada pintu kamar Sanghyuk yang baru saja ia tutup kembali. Surai kecokelatan panjangnya itu masih terlihat berantakkan. Tanpa komando, Sanghyuk melangkah mendekatinya.

 

“Seharusnya kamu bisa mencuci muka terlebih dahulu, bukan?” ajunya sembari membenahi rambut gadis di hadapannya. Tubuh Sanghyuk yang lebih tinggi darinya membuat pemuda itu dapat dengan mudah menjangkau puncak kepala Seolhyun, dia juga mengusap-usap surainya dari pucuk sampai ke ujung rambut. Hendaknya membuat tatanannya lebih rapi.

 

 

Sanghyuk berdiri di depannya dengan satu kepalan tangan memasuki saku sekarang. Pemuda itu memandang Seolhyun dari atas sampai ke bawah. Menemui kekacauan yang melekat pada diri gadis itu.

 

“Kamu menangis?”

 

“Tidak.”

 

“Ya, kamu menangis.” imbuh Sanghyuk sembari berbalik badan, ingin kembali merapikan buku-bukunya di meja belajar sebelum Seolhyun menahan lengannya. Pemuda itu tidak jua berbalik menghadap Seolhyun. Ia pelan-pelan menyentuh punggung tangan gadis itu, lalu melepaskan genggaman dari lengannya.

 

“Kamu seharusnya membersihkan dahulu wajahmu, Seolhyun. Air mata yang mengering itu tidak cukup baik untuk dipandang mata, omong-omong.”

 

Bunyi gerasak-gerusuk dari barang-barang Sanghyuk lebih mendominasi ruangan untuk beberapa waktu. Sementara Seolhyun masih memandangnya dalam geming, sama sekali tidak tahu harus berkata apa lagi agar pemuda di depannya itu mengerti.

 

 

“Aku kira kamu juga tidak akan senang. Tapi, kamu ternyata berbeda denganku.”

Tidak lagi ada percakapan yang dilempar. Seolhyun hanya menikmati semilir-semilir angin yang menembus jendela kamar Sanghyuk. Sementara pemuda di hadapannya masih sibuk mengatur beberapa barang dari dalam kardus-kardus berukuran sedang di sepanjang sisi ruangan berdinding warna biru tua itu.

 

 

Sanghyuk tergugu sesaat, tapi dapat dengan mudah menguasai diri. Pemuda itu memasukkan beberapa buku ke dalam tas dan menyusun sisanya ke dalam rak tanpa pintu setinggi tubuhnya itu. Dia diam-diam mengulum senyum pahit, lalu menyampirkan tasnya di bahu sebelum menepuk-nepuk puncak kepala Seolhyun.

 

 

“Kamu harus bisa. Kalau aku mampu, kuharap kamu pun begitu.”

 

 

 

.

.

.

Matahari bersinar cukup terik ketika Sanghyuk melangkah ke luar dalam balutan seragam sekolah. Pemuda itu berjalan pelan-pelan, langkahnya pun tidak begitu lebar. Sementara bunyi pagar yang ditutup menemani senyum kecilnya.

 

“Han Sanghyuk, tunggu aku!”

 

Sanghyuk berhenti begitu saja. Dia berbalik menyerong, melihat Seolhyun berlari-lari kecil mengikutinya. “Hey, Kim Seolhyun! Kamu harus berhenti memanggilku begitu!”

 

Dalam balutan seragam sekolah yang sama, mereka berjalan berdampingan. Sanghyuk masih disibukkan dengan bingkai kacamatanya yang melorot di tulang hidung sementara Seolhyun hanya mengerlingnya sekali-sekali.

 

“Kapan kamu akan berhenti memerhatikan aku seperti itu?” tanya Sanghyuk begitu mereka menuntaskan gang pertama menuju sekolah. Si Gadis hanya memandangnya malas, diam-diam menggerutu di dalam hati.

 

“Tidak tahu. Oh, ya, aku hampir saja lupa mengatakannya padamu. Hari ini Sungjae akan berkunjung,”

 

“Lantas?”

 

Seolhyun memberengut lagi. Gadis itu menendang kerikil di depannya, kemudian menggeleng. “Aku hanya memberitahu kamu untuk pulang terlebih dahulu, karena akuㅡ”

 

“Tidak mau.”

 

Baru saja Seolhyun ingin membantah penolakkan Sanghyuk, pemuda itu sudah lebih dahulu menghabiskan rumput-rumput halaman sekolah menuju koridor utama. Diam, Seolhyun hanya mampu meringis.

 

“Han Sanghyuk, memangnya kenapa jika aku memanggilmu begitu? Aku hanya ingin kamu menjadi Han Sanghyuk. Hanya itu.”

 

 

 

_______

 

 

“Hanya itu.”

 

Seolhyun melamun sepanjang perjalanan pulang. Gadis itu bahkan tidak melempar tawa ketika Sungjae di sampingnya melontarkan guyonan-guyonan lucu. Kim Seolhyun masih belum bisa membiasakan diri.

 

“Seolhyun-a, apa yang sebenarnya terjadi?”

 

Gadis itu terperenyak ketika Sungjae menepuk bahunya. Dia mengerjap beberapa kali sebelum menggeleng. Mengukir senyum pahit yang tidak dimengerti teman-temannya. Sementara rumah keluarganya sudah nampak dari kejauhan, manik Seolhyun pun menangkap sesosok pemuda tinggi yang berjalan terburu-buru beberapa rumah di depan mereka.

 

“Han Sanghyuk,” gumamnya sembari menajamkan penginderaan. Seolhyun tidak mengerti kenapa pemuda itu harus berjalan terburu-buru, pun memahami alasan di balik langkah lebar-lebar Sanghyuk yang sebenarnya sedari tadi mengikuti mereka, lalu berlari mendahului keduanya dengan mantel hangat berwarna hitam yang baru dibelinya, dan sebuah masker menutupi sebagian wajahnya.

 

 

Seolhyun pelan-pelan menengok jendela di lantai dua begitu langkah keduanya terhenti di depan pagar berwarna hitam besar milik rumahnya. Ia menemukan lampu kamar di sebelah kiri sudah menyala. Dia pun membuka pagar, mempersilakan Sungjae masuk dan mengerjakan tugas bersama di kamarnya.

 

 

“Di mana ayahmu?”

 

“Sedang ada urusan.” Seolhyun menjawabnya cepat-cepat. Ia menuangkan jus jeruk ke dalam gelas-gelas, hendaknya mengalihkan pertanyaan demi pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh Sungjae.

 

 

Kurang lebih dua setengah jam berakhir begitu cepat. Tugas-tugas mereka menumpuk dalam urutan pekerjaan yang telah diselesaikan dan Sungjae bernapas lega. Pemuda itu tiba-tiba saja ingin ke kamar kecil, maka dia meminta ijin Seolhyun terlebih dahulu.

 

“Kamu tahu di mana letak toiletnya, bukan?” Sungjae mengangguk pasti sebelum merapatkan pintu kamar Seolhyun. Suaranya lenyap untuk beberapa saat, membuat senyap menemani Seolhyun yang tengah menghitung waktu.

 

“Oh! Sanghyuk-ah! Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Seolhyun di dalam kamarnya menelan segumpal liur susah payah. Memang benar kalau Sungjae sudah mengetahui perihal dirinya dan Sanghyuk yang sudah menjadi sahabat semenjak dilahirkan di dunia. Namun, dalam kondisi seperti ini, Seolhyun masih belum dapat beradaptasi lebih lanjut. Bukan hal wajar juga untuk Sanghyuk yang rumahnya hanya berbeda blok dengan Seolhyun repot-repot menginap di kediaman keluarga Kim.

 

Gadis itu takut terjadi kesalah pahaman lebih lanjut di ruang tengah itu, maka ia bergegas ke luar. Menemukan Sanghyuk yang tengah meminum sebotol air mineral di dekat lemari pendingin, dan Sungjae yang berdiri kaget di depan pintu kamar mandi. Seolhyun menutup matanya, menggigit bibir bawahnya kebingungan.

 

 

.

.

.

 

Gemerlap malam menengahi permadani langit. Seolhyun mengintip fenomena alam itu dari jendela besar di kamarnya. Beberapa bintang bekerlip-kerlip di langit sana, setidaknya dapat menghibur hatinya yang tengah dirundung lara.

 

“Seolhyun?”

 

Suara Sanghyuk yang mengetuk pintu kamar terdengar bagai sembilu. Gadis itu meringis, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan memejamkan mata.

 

“Seolhyun, kamu di dalam?”

 

Seolhyun menggeleng, dia merapatkan tubuh ke belakang pintu. Tidak tahu hendak menyambut kedatangan Sanghyuk di kamarnya, atau justru ingin menghalangi daun pintu terbuka. Nyatanya, Seolhyun hanya menunduk dan memeluk lututnya yang dilipat ketika Sanghyuk menginjak ambang pintu.

 

“Seolhyunㅡ”

 

“Kita menghabiskan setiap fase-fase dalam hidup dengan berdekatan, Sanghyuk. Aku sahabatmu dan kamu sahabatku,” terang Seolhyun menyela panggilan si Pemuda.

 

Gadis itu mengubur wajahnya dalam lekukan kaki, tidak mau melihat Sanghyuk berada di sana. Sekaligus menyamarkan suaranya yang serak.

 

“Dulu aku pernah berharap agar kita bisa terus bersama ke mana pun, dan di mana pun. Tapi, bukan begini yang kumaksud.”

 

Dia bersuara lagi, sekaligus menumpahkan segala sesak di rongga dada. Dengan itu, Sanghyuk meringis. Pemuda itu mengeluarkan kepalan tangan dari dalam sakunya, lantas mengusap-usap kepala gadis di hadapannya.

 

“Aku juga menyayangi bibi Han. Aku menyayangi kalian berdua. Tetapi, aku juga menyayangi mendiang ibuku lebih dari apa pun, Sanghyuk-a. Aku menyayangi kalian semua.”

 

Ada senyum getir yang Seolhyun tampakkan ketika pandangannya dengan Sanghyuk bertemu.

 

Gadis itu menghapus air mata yang memaksa turun di pipinya dengan punggung tangan keras-keras. Dia menunduk lagi setelah itu.

 

“Tapi, aku juga tidak tahu kalau ayahku turut menyayangi kamu dan ibumu, sebagaimana beliau menyayangi mendiang ibuku semasanya hidup.”

 

Sanghyuk mengalungkan lengannya di bahu sahabatnya itu. Duduk di samping Kim Seolhyun dan mendaratkan bagian dagunya di atas kepala si Gadis. Sanghyuk mengusap-usap bahu gadis di sampingnya, membuat gerak memutar dengan ibu jarinya sebagai penenang.

 

 

“Seolhyun-aㅡ”

 

“Ketika aku bilang aku menyayangimu, aku bersungguh-sungguh. Aku benar-benar menyayangimu, Han Sanghyuk. Aku menyayangi Han Sanghyuk, sahabatku sedari bayi. Satu yang selalu bersamaku meski sampai saat ini,” Seolhyun bersuara pelan-pelan.

 

 

“Aku bahkan telah jatuh cinta.”

 

 

Malam itu bulan bersinar redup-redup. Hanya ribuan bintang yang berkerlip-kerlip menerangi bumi. Sanghyuk dan Seolhyun memandang lekuk pola langit malam tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Sepasang sahabat yang kini diharuskan menjadi saudara tiri itu pun hanya mampu menilik bulan yang bersembunyi di langit sana.

 

 

“Aku benci kamu menjadi Kim Sanghyuk,”

 

“Tapi, aku tidak akan mengganti nama depanku. Kamu juga tahu ‘kan kalau pernikahan seperti ini tidak memaksaku untuk mengganti marga?”

 

Seolhyun mengangguk, tapi sejurus kemudian dia mendorong dahi Sanghyuk dengan jemari telunjuknya.

 

“Kamu bahkan tidak mengerti apa yang kumaksudkan dengan ‘membenci-Kim-Sanghyuk’, bukan?”

 

Sanghyuk merangkulnya makin erat. Pemuda itu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Seolhyun. Mencuri-curi kesempatan terakhir untuk mengakui perasaan masing-masing.

 

 

“Aku tahu. Tetapi, toh bila aku menyerukan bahwa aku mengerti, keadaan tidak akan bisa berubah. Ayahmu dan ibuku akan pulang dari perjalanan bulan madu mereka pekan depan, dan itu berarti kamu dan aku memang harus menjalani hidup sebagai kakak dan adik.”

 

Lagi-lagi hanya senyum pahit yang dapat ditukar dengan kenyataan. Baik Sanghyuk mau pun Seolhyun hanya mampu menikmati semilir angin yang memasuki jendela kamar yang terbuka, diam-diam menghitung waktu yang ada. Waktu di mana mereka masih dapat menganggap pernikahan kedua orangtuanya tidak pernah terjadi.

 

 

Waktu yang membuat mereka terkungkung, terjerat dalam hubungan persaudaraan yang masih sulit untuk diajak beradaptasi. Waktu juga yang membuat dua orang di tiap keluarga menjadi empat segi di satu kediaman.

 

 

 

“Kamu tahu kalau aku juga jatuh cinta padamu, bukan, Kim Seolhyun?

 

 

 

 

Fin.

 

A/N :

 

Okee, stop, okestop okee. I do know that SeolHyuk’s fever won’t fade away as soon as it shone bright here nowadays. Dan ini sebenernya juga salah satu konflik yang aku sukaak banget. Di mana alur friendship kegepruk sama romance tapi dihalangin sama suatu kondisi mendadak yang ngelibatin kesatuan family! Yaannaw lah kalo Seolhyuk ini diapain aja bisa jadi maniis dan bisa jadi syedih. Yang jelas, sekali lagi, aku bikin mereka terjebak di friendzone wahahahahaha. Eh sebenernya bingung juga, sih, apakah brothership bisa masuk ke sini apa enggak. Tapi kan Seolhyun perempuan :”’ Dengan ini, yah aku sih cuma minta pendapat dan kesan pembaca di kolom komentar, especially for SFC yang selalu berkumpul tiap ada fic bermain cast mereka berdua.

 

 

Dan buat Vana, itung-itung hadiah ulangtahunmu yaaa, Capt! Maafin VN aku nowadays yang sangat heboh sendiri dan bawel itu hahahaha😄

Thank you for reading and comment!

 

17/2/2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s