[Vignette] 1004

 120627_오하영

|| Title : 1004  ||  Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : [BTS] Jung Heoseok, [Apink] Oh Hayoung  || Support Cast : [BTS] Kim Seok Jin, [BTS] Min Yoon Gi, [BTS] Kim Nam Joon || Genre : Slight! Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Angst, Family, Slight! Crime ||

|| Duration : Vignette (2635 words) || Rating : PG ||

||  Soundtrack : B.A.P – 1004 (Angel) ||

Summary :

 

Pada waktu itu aku hanya melihatmu yang melintas, tidak tahu harus berlaku apa selain menghentikan diri ini untuk berbuat lebih jauh. Nyatanya, kamu memanglah malaikat yang sulit aku capai.

 

 

.

.

.

 

Aku menolak dengan keras bila ada yang mengatakan bahwa ini adalah buku diaryㅡatau hal-hal feminim lainnya. Ini hanyalah jurnal harian, yang kutulis di antara petak-petak waktu yang aku tempati. Hari ini, aku berada di kuadran pertama, tepatnya dari posisi 0° menuju 90°. Itu memang benar. Aku, Jung Ho Seok, menulis meski aku masih berbaring ㅡatau paling tidakㅡ memang seperti inilah aku setiap saat, mencoba menjadi derajat ke 90 meski aku tetap bersikukuh menempel pada sudut 0°. Singkatnya, aku tidak lagi bisa berdiri dengan tegak semenjak akhir tahun lalu menyapa. Para dokter itu mengatakan inilah hasil yang sesungguhnya memang harus kuterima. Mereka berkata jika semua kenyataan ini merupakan hasil akhir dari segala bibit yang kusemai dahulu; karena kehidupanku yang bebas dan sering mengonsumsi minuman keras serta macam-macam cerutu.

 

 

Pagi itu aku kembali berkumpul bersama teman-temanku. Kami bersenda gurau sambil meresapi aroma bahan kimia bercampur rasa lembap di antara gang-gang sempit. Jarum jam menunjuk pukul lima sarat-sarat, dan aku ㅡyang memang tidak mengantukㅡ bisa melihat ujung gang dengan jelas. Embun pagi jelas beredar di mana-mana, dan bayangan tubuh seorang gadis melintas begitu saja.

 

“Hoseok-a, kau tentu tidak ingin melewatkan minuman ini ‘kan, Bung?”

 

Aku menyahut seadanya begitu suara Yoon Gi masuk ke pendengaranku. Sambil berkilah, aku menyusuri aspal berlubang di hadapan sampai punggung gadis itu dapat aku jumpai dengan pandangan mataku sendiri.

 

 

“Oh, Hoseok-a,” panggil suara lembut itu sopan sekali. Dia menunduk memberi salam, masih anggun seperti terakhir kali aku melihatnya.

 

Aku ingat saat itu usia kami masih di bawah sepuluh tahun, dan kegiatanku sehari-hari adalah mendorong ayunan di balik punggung gadis ini.

 

“Kamu masih mengingatku, bukan? Aku Hayoung, Oh Hayoung.”

 

 

Tentu saja. Tentu saja aku mengingatmu, Hayoung. Aku tersenyum kikuk sekali sambil mengusap-usap tengkukku. Rasanya tidak pantas sekali jika sepagi ini Hayoung sudah melihat pakaian lusuhku dan tampang busuk ini. Omong-omong, mau pergi ke mana dia ini?

 

“Matahari bahkan belum nampak, tapi kamu sudah ke luar dari rumah. Ke mana tujuanmu?” tanyaku setelah menimbang-nimbang perkataan sekian lama. Hayoung tersenyum ketika dengan bersamaan, angin pagi berembus menerbangkan anak-anak rambutnya.

 

 

Rok berwarna khaki selutut itu turut diembus sepoian angin, sekaligus Hayoung mengeratkan baju rajutannya pelan-pelan.

 

“Akuㅡhendak menjenguk paman Jung.”

 

 

Aku buru-buru mengeluarkan tawa pahit. Aku ingat hari itu. Sepoi angin pagi, cemoohan embun, juga surai hitamnya yang diterbangkan udara yang berembus. Pagi itu, Oh Hayoung membawa ingatanku tentang rumah datang menubruk secara berkala.

 

Masih di ranjang, aku memerhatikan jendela yang berada di samping kiri, tepatnya di dekat meja kayu berpelitur. Kotaku ini diguyur hujanㅡlagi. Aku tidak begitu kaget sebab ibu penagih bayaran kamar memang sudah sibuk mengeluhkan musim penghujan ini semenjak pekan lalu. Lalu kulirik lagi cermin yang berada di bagian lain ruangan. Di situ tampak refleksi diriku, begitu asing. Aku seolah menjadi onggokkan barang lama yang tidak lagi disentuh pemiliknya. Sama seperti hari itu, ketika aku pulang ke rumah dan kutemui tangisnya memecah kesunyian malam.

 

 

“Paman sudah pergi, Hoseok.”

 

Aku melotot kaget begitu Hayoung berada di beranda rumahku. Dia mengepalkan telapak tangannya dan menangis sampai jemarinya yang bebas bergetar hebat. Rasanya baru hari yang lalu; persis kemarin aku merasakan tawanya lagi setelah sekian lama tidak bertemuㅡatau lebih tepatnya, aku yang menyembunyikan diri jauh-jauh.

 

Tidak pulang selama berminggu-minggu itu memang kebiasaanku. Lagipula Yoon Gi punya acara menarik yang dapat kami lakukan, dan aku tak segan-segan meninggalkan rumah ini. Bangunannya memang rumah, tapi aku masih sering keheranan tentang persepsi yang aku tanam sejak dulu. Jika ini rumah, kenapa aku tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk kembali?

 

 

Aku dan Hayoung menjadi satu-satunya keluarga yang menemani tumpukkan bebatuan yang baru disusun itu keesokkan paginya. Hayoung dengan hormat bersujud di hadapan makam ayahku ini, dan dia menghapus air matanya dengan punggung tangan keras-keras.

 

“Bersujudlah, Hoseok! Kamu putra satu-satunya yang dimiliki paman Jung.” perintahnya sampai aku terjerembap jatuh ke bawah.

 

 

Telapak tanganku yang berkeringat harus rela berhiaskan tanah basah. Aku meliriknya lagi, menemukan Hayoung mengharapkan aku untuk melakukan ini. Lalu aku menatap foto ayah yang ditaruh sekenanya di atas tumpukkan batu dan mengulas senyum miris.

 

 

“Terima kasih sudah menjadi ayahku.” kataku pada sujud yang pertama. Lalu aku berdiri lagi dan kembali menyentuh tanah.

 

“Terima kasih sudah mewariskan nama keluarga Jung padaku.”

 

Aku berdiri kemudian, lalu menemukan Hayoung sudah menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan sambil menangis sesenggukkan. Aku benci melihatnya begitu, namun jelas tidak dapat melakukan apa-apa. Kali ini aku menyisakan jeda panjang untuk sujud terakhir. Aku menatap mata ㅡfotoㅡ ayah yang tersenyum itu. Aku ingat kapan foto ini di ambil. Waktu itu aku baru pulang sekolah, dan ibu baru saja kembali dari makam nenek. Aku masih menyimpan di memoriku ketika ibu memaksa-maksa aku dan ayah untuk berfoto keluarga karena memang kami tidak punya satu di antaranya. Setelah memilihkanku pakaian yang rapi, ibu menggenggam jemari ini sepanjang perjalanan kami ke studio paman Ohㅡayah dari Hayoung, sekaligus sahabat dekat ibu dan ayah.

 

Hari itu ibu mengecup pipiku sebanyak sepuluh kali, sesuai dengan usiaku. Beliau menggenggam telapak tanganku yang saat itu masih kecil dan bersandar pada bahu ayah sambil tersenyum manis. Aku tidak akan pernah melupakan senyuman itu. Senyuman indah yang berasal dari orang tercantik yang pernah kutemui. Satu jenis senyuman yang sesungguhnya adalah senyum terakhir yang ibu berikan karena keesokan paginya ayah sudah menatapku kosong sembari membawa tubuh ibu yang sudah dingin dan pucat. Hari itu, ibu meninggal dunia.

 

 

“Terima kasihㅡ” Aku menelan ludah susah payah. Aku membenci orang ini, jelas. Apalagi dengan ditemukannya memar-memar di tubuh ibu dan pendarahan beku di bagian tempurung kepalanya. Aku mendengar semuanya dahulu, bahwa orang gila yang kini mati dan dimakamkan di hadapanku adalah salah satu pelaku utama yang dicurigai.

 

 

“Sial! Kenapa kau membunuh ibuku, Tolol? Sial! Kembali kau ke sini! Kau tidak boleh bertemu ibu, Jung! Kau harus membayar semuanya dulu!” Hayoung menahan dadaku karena sudah berteriak dan menyalang telak di hadapan gundukan tanah dan batu ini.

 

Gadis itu menatapku sebentar, lalu tanpa ragu menenggelamkan aku dalam dekapan yang selama ini selalu aku impi-impi.

 

Aku memeluk diri sendiri begitu kusadari hawa dingin menyergap masuk melalui celah-celah ventilasi. Tinggal di sini memang tidak nyaman. Kerap kali aku mendapati anak tikus maupun binatang pengerat lain datang dan pergi seenaknya. Mungkin Hayoung benar, bahwa aku seharusnya tinggal dan menjaga rumah yang dulunya aku huni. Paling tidak, aku akan merawat segala tentang ibu di sana. Meskipun bayang-bayang Pria-Berengsek-Jung itu kembali memasuki pikiranku ketika aku menapaki beranda rumah.

 

 

Ibuku terlalu cantik untuk bersamanya, beliau terlalu lemah lembut. Mungkin karena itu juga aku menjadi terlalu mengidamkan Hayoung. Oh Hayoung, teman masa kecilku yang membawaku pada perasaan meletup-letup tiap kali melihatnya.

 

 

“Ini, hisap!” Aku menerima tawaran dari Yoon Gi. Kali ini memang kami tengah berkumpul lagi, dan untuk mengikis dingin, rasanya mengisap sebatang cerutu bersama-sama bukan hal yang buruk.

 

 

Ini bukan yang pertama kali aku lakukan, jadi rasanya tidak perlu terbatuk-batuk untuk penyesuaian pernapasan. Aku mengambil sebotol minuman yang sudah dicampur dengan liquor murahan ala kami, dan ingin menenggaknya ketika kutemui pandang Hayoung menatapku begitu lelah.

 

 

“Hayoung-a!”

 

Aku berlari mengejarnya yang melangkah cepat dengan jengkal lebar-lebar. Baru saja ingin menarik lengannya sebelum Hayoung memberhentikan pijaknya.

 

“Hentikan, Hoseok.”

 

Aku tidak mengerti. Apa yang harus dihentikan, dan apa yang harus aku lakukan demi membuat Hayoung kembali tersenyum padaku. Aku baru saja ingin mengejarnya lagi sebelum Hayoung kembali melanjutkan pijak dan meninggalkan aku yang masih bermenung. Ketika aku tersadar lagi, Hayoung sudah menikung jauh menghabiskan jalan utama.

 

 

“Hey, ada apa denganmu?”

 

Aku menoleh begitu Nam Joon menepuk pundakku keras. Aku melirik lagi pada bayang Hayoung yang sudah tidak terlihat. Rasanya percuma. Percuma jika aku teruskan, pun ceritakan pada Nam Joon. Mungkin dia tidak dapat membantu banyak, dan aku juga tidak mau mengambil banyak konsekuensi buruk jika sampai teman-temanku mengetahui identitas Hayoung. Gadis itu, harus selalu amanㅡ aku yang menjaminnya.

 

 

“Kau jatuh cinta, Bung!”

 

 

Aku mencoba memegang bagian dada, dan di sana ada sesuatu yang berdentam keras. Aku terus menerus memikirkan Hayoung dan tiada kegiatan tanpa bayangnya yang melintas seenaknya. Jung Hoseok yang bodoh ini hanya mampu berjalan mondar-mandir di depan pagar kediaman keluarga Hayoung, dan menyerah begitu mengingat bahkan studio milik paman Oh sudah ditutup beberapa pekan setelah ibuku meninggal dunia.

 

“Hayoung! Oh Hayoung!” Aku mengejarnya yang baru saja ke luar dari sebuah taman kanak-kanak. Aku tidak tahu bahwa Hayoung sepertinya mengajar di tempat ini. Aku melirik papan nama bangunan kecil itu, dan tertegun begitu menyadari ibu sering menyebut nama di papan tersebut ketika dulu hendak mengantarkan aku ke taman belajar itu.

 

Si gadis berbaju terusan dengan warna biru laut itu menoleh dan menemukan aku yang berjalan tergesa-gesa. Hayoung yang sendirian pun pada akhirnya hanya tersenyum manis begitu aku sampai di hadapannya.

 

 

“Haㅡhayoung-a, pekanㅡ pekan ini, aku ingin mengajakmu berjalan-jalan.” ujarku susah payah.

 

Meski sudah berlatih beberapa kali, rasanya tetap sulit untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya. Terang saja, semenjak ibu tiada, aku pun berhenti mengutarakan keinginanku yang sesungguhnya pada siapapun. Aku percaya, tidak ada satu pun dari mereka yang mengerti makna dari kata-kataku yang kerap kali terputus. Hayoung merupakan salah satu yang aku inginkan mengerti. Aku mengetuk-ngetuk jemari dengan gelisah sambil menunggu Hayoung menjawab.

 

Gadis itu tersenyum lagi, namun dia hanya menggerakkan tungkai kakinya sedikit-sedikit.

 

“Akuㅡ” Hayoung berhenti di sana, mengambangkan jawaban yang aku nanti-nanti. “Tidak tahu, tapi tentu aku akan pergi bersamamu, Hoseok.”

 

Ah, harusnya Hayoung tidak melihat ini. Aku malu, sangat malu hingga rasanya ingin mengganti penampilan yang lusuh ini. Aku hanya meliriknya sambil tersipu-sipu.

 

Um, kalau begitu, di taman Hakgu pada pukul empat sore.”

 

Hayoung meliukkan alisnya, bingung. Namun ia tetap memberikan aku senyuman jelitanya.

 

“Hoseok, apakah ini kencan?”

 

 

.

.

.

 

Aku ingat pernah menunggunya hari itu. Di taman Hakgu, pada pukul empat sore hari. Aku menendang udara kosong saat itu, dan berhenti begitu melihat Hayoung berjalan menghampiriku. Namun, bersama pemuda lain.

Confession

 

 

“Perkenalkan, aku Seok Jin.”

 

Aku menelan segumpal liur begitu Hayoung menarik tangan pemuda ini dan mengulurkannya padaku untuk bersalaman. Aku menjabat telapak tangan itu, dan menyadari betapa status sosial kami sangat berbeda. Dia tampan, walau aku juga. Dia tidak jauh lebih tinggi dariku, namun tingkah-polah Hayoung yang malu-malu seakan menjawab semuanya. Sore itu, taman Hakgu, pukul empat sore hari, tidak ada pernyataan cinta yang aku harapkan akan kunyatakan.

 

Hayoung memang cantik, dan melihatnya bersanding dengan pemuda yang usianya lebih tua beberapa tahun dari kami itu membuatku sadar bahwa orang istimewa sepertinya memang tidak sepatutnya bersanding denganku. Dengan kata lain, aku tidak menginginkan karakter seperti ibuku ㅡHayoungㅡ bersama dengan seorang berengsek seperti karakter ayahku ㅡaku, Hoseok. Cinta memang nyata, namun itu bukan untuk aku dapatkan sebagai balasan.

 

 

Cipratan air hujan memasuki celah dinding yang lembap. Aku hanya mampu membeku di tempat tidur dan bergerak-gerak tidak nyaman. Ingatanku berhenti untuk mencoba kembali pada peristiwa di taman Hakgu. Tepatnya aku yang menginginkannya tidak berlanjut. Hari itu merupakan hari yang buruk bagiku, jadi maaf saja untuk tidak menjelaskannya gamblang-gamblang.

 

“Paman Hoseok!”

 

Aku menoleh begitu suara ceria itu menyapu penginderaanku. Lalu aku menyematkan senyum manis begitu seorang anak perempuan berusia delapan tahunan beringsut mendekati ranjangku. Wajah itu, bibir itu, mata itu, senyum itu.

 

“Kim Hayoung!” Aku balas berujar sambil tertawa-tawa. Aku mencoba memeluk balik si kecil ini meski sulit. Kemudian kutemukan wajah Seok Jin yang memasuki pintu kamarku.

 

 

“Hey, Bung.” katanya sambil menaruh kantung berisi alat pembersih di atas meja kayu berpelitur. Aku menyapanya secara pria dan kami tertawa bersama.

 

 

Seok Jin lulus dan bekerja sebagai dokter ahli saraf. Aku bersyukur dia mampu menjadi orang yang dengan sukarela memeriksaku secara berkala. Meski di awal pertemuan kami aku tidak terlalu menyukai pria ini, namun aku tetap tak mampu. Biar bagaimanapun, Hayoung mencintainya dan itu cukup bagiku. Si kecil Kim Hayoung bersenandung senang di ujung ranjangku. Sementara Seok Jin menuang air panas yang dibawanya dan menyiapkan wash-lap lembut yang biasa digunakan untuk membasuh tubuhku.

 

“Bagaimana dengan Hayoung?”

 

Si kecil menoleh padaku, namun begitu melihat sang Ayah menatapnya, Kim Hayoung segera menyadari ini bukan tentangnya.

 

“Baik-baik saja. Dia selalu aman bersamaku. Begitu yang aku janjikan padamu bukan?”

 

 

Aku tersenyum, kemudian mengangguk. “Tentu.”

 

 

“Aku tidak akan segan membunuhmu jika kau membuat Hayoung berada dalam keadaan yang tidak aman, Kim Seok Jin!”

 

Ini jelas suara Jung Hoseok duapuluh dua tahun. Aku berpakaian rapi sekaligus mencuri setelan formal milik ayah dari dalam lemari. Seok Jin tampan hari ini, tidak salah jika aku mengorbankan perasaan ini di hari yang lalu. Pria itu mendelikku. “Aku calon suaminya, aku pastikan Hayoung selalu bahagia, Jung Hoseok. Aku berjanji padamu.”

 

Aku memukul pelan bahunya, cara lelaki. Lalu tersenyum bangga melihat pantulan diri Seok Jin di cermin. Hayoung akan jadi pengantin yang bahagia, tentu.

 

“Kau akan membahagiakannya hingga ia tersenyum seperti saat aku mendorong ayunannya seharian penuh?” Seok Jin menatapku seklias, lalu ia tiba-tiba saja memelukku. Aku dapat dengan jelas merasakan tepukkan pada punggungku ketika kudengar pula suara lendir hidungnya yang ditarik paksa. Pria ini memang suka sekali menjadi sensitif.

 

 

“Aku berjanji, Hoseok. Maafkan aku, dan terima kasih.”

 

 

.

.

.

Aku menginginkan Hayoung, tapi ini jelas bukan seperti apa yang orang-orang pikir. Aku menginginkannya, namun bukan dalam artian aku ingin memilikinya. Hanya saja, saat ini, aku ㅡJung Hoseokㅡ merindukannya setengah mati.

 

Napasku berat sekali ketika Seok Jin selesai menggantikanku pakaian. Dia kemudian memindahkan aku ke kursi roda sebelum mendorongnya sampai kami memasuki kendaraan roda empat miliknya. Aku bermain-main dengan si kecil Kim, merasakan kehangatan yang nyaris mirip secara sempurna terpancar dari anak ini. Aku merindukan Hayoung, aku menginginkannya.

 

“Kita sampai,” Seok Jin membuka pintu mobil dan membawaku turun. Saat itu, hujan rintik-rintik membasahi bumi. Aku memakaikan jas hujan pada si kecil Kim dan dia tampak bahagia.

 

 

Perjalanan kami lumayan memakan waktu, namun aku sama sekali tidak keberatan. Karena begitu Seok Jin berhenti mendorong kursi roda ini, aku dapat dengan jelas melihat Hayoung. Gadisku itu tersenyum manis seperti biasa, dia berdiri dengan pipi tersipu-sipu mendekati Seok Jin dan mengamit lengannya. Lalu dia mengecup puncak kepala si kecil Kim, dan beralih padaku.

 

“Hayoung-a,” Aku memanggilnya sambil menahan tangis. Ini jelas membuat si kecil Kim langsung menghampiriku. Lalu aku menatap ke depan lagi, menemukan gadisku tengah berdiri di sana sambil tersenyum hangat. Aku melebarkan lenganku, sedetik kemudian, air mataku tumpah ruah.

 

 

“Hayoung-a,” kataku lagi. Aku melihat Hayoung-ku di sana, tersenyum manis dan berdiri anggun. Lalu dia memelukku, dan menepuk-nepuk bahuku. Aku menangis sejadi-jadinya. Betapa aku merindukan orang ini.

 

 

Sayangnya, ketika aku kembali mengerjapkan mata, semua itu hanyalah ilusiku semata. Tidak ada Hayoung di sana, tidak ada gadis itu. Yang ada hanyalah nama gadis itu, Oh Hayoung, terpahat rapi di batu nisan di hadapanku.

 

 

Oh Hayoung-ku, yang meninggal karena sirosis hati bawaan. Dahulu ada aku di sana, menatapnya ketika fungsi hati itu semakin menurun presentasenya. Lagi, di hari hujan, aku menangis.

 

 

“Jung Hoseok,”

 

Hm?

 

Aku beringsut mendekatinya, dan kami berbagi ruang di ranjang kamar rawat Hayoung yang tidak kecil. Hujan deras mengguyur bumi sampai airnya membentuk terjunan di kaca jendela ruangan yang besar. Dengan seizin Seok Jin, memeluk wanita di hadapanku dalam geming. Ia kemudian membalas dekapku sambil menahan tangisnya. Ketika aku menoleh pada alat penunjuk presentase fungsi hatinya, aku menemukan itu semakin mendekati 0,9 dan tidak percaya begitu Hayoung menangis di hadapanku.

 

 

 

“Menangislah, Hayoung. Tapi, ingatlah untuk terus tersenyum.” Aku menarik sudut-sudut bibirku, memaksakan senyum yang kutahu sebenarnya tulus. Memang benar, sedari dulu, aku tidak dapat melarangnya, bahkan berkata ‘jangan’ pun terasa sulit.

 

 

“Jung Hoseok, akuㅡ”

 

“…”

 

“Akuㅡaku menyayangimu lebih dari apapun.”

 

 

 

.

Ini merupakan kisah tentang hari hujan sepanjang hidupku dan ia yang kucinta. Tentang gadis bersurai kelam dengan senyum yang tiada henti ditunjukkan, Oh Hayoung namanya.

Fin.

 

 

7 thoughts on “[Vignette] 1004

  1. hai, dhill! i’m back.

    honestly, aku ga ngikutin baik apink ataupu bap, tapi di sini aku bisa ngebayangin mereka dengan baik. tulisan kamu cantik bangeeeeeet! rapih! aku suka diksinya, aku suka semuanya. terus dari awal aku udah mikir, ini pasti kalo nggak hoseoknya mati, hayoungnya yang mati. eh ternyata bener…

    aku suka adegan-adegan flashback yang dilakukan sama si hoseok. kamu nulisnya dengan detail dan itu menurutku jadi poin plus banget. aku jatuh cinta lah intinya sama diksimu dilllllll. cantik bangettttt suka suka suka <333 tapi sekali lagi tadi aku sempet nemu dua typo di tengah cerita tapi ga begitu mengganggu, kok.

    terus semangat dan keep writing ya, dhilaaa! xDD

    • Hello, Evin! Happy Mid Sunday! Uyeay! Akhirnya aku bisa bales-balesin komen dan ngisi beberapa part yang kosong di wpku hahaha. Dan berhubung tadi lagi bales-balesin komen di IFK, kukira kamu juga komen di sana etaunya ini di dhiloomatoki wahaha😄 maafin aku sebelumnyaa.

      Gapapa, Vin. Yang penting kamu bisa dapetin feel dan sesuaiin alurnya aku udah seneng deh!😉 dan semua cast laki-laki di sini itu dari BTS, bukan B.A.P hehehe, aku yakin kamu salah ketik. WAAAA❤ Makasih banyaak. Tulisan kamu juga cantik, dan aku seneng kita sama-sama suka tulisan masing-masing! Horaaay. Wohoho, aku emang lagi males buat yang ribet-ribet dan buat ini itu sekaligus merefresh pikiranku. Waktu nulis ini itu kebeneran tracklistku lagi muter lagunya B.A.P yang 1004 (Angel) ((Kamu udah dengerin belom? Enak deh itu lagunya))

      Part flashback itu aku juga masukinnya sesuai insting aja sih, hehe dan soal typo, ah mana manaaa, beritahu akuu, biar bisa segera kuralat😉

      Siap! Kamu juga semangaaat! Thanks a lot for all those compliments. I really luuurrff it! Dadaaah Evin~

      Tuhkan, sekali lagi makasih udah dateng, baca, dan komen.

      • aku baru sempet bales loh, dhill. sorry yaaa

        aku nggak main ke IFK dhill di sana terlalu banyak writer keren dan aku suka minder sendiri gitu deh hahaha jadi lebih sering blogwalking ke blog pribadi orang dibanding forum tulisan semacam itu (kecuali FFn) hehehe

        oh iya, itu aku salahhhhhhh BTS, iya, bukan B.A.P aduh, maafkan akuuu. ga perlu minta maaf masalah typo, kok. kan aku bilang ga begitu mengganggu hehehe

  2. Kau berbakat banget jadi penulis. Sumpah gw suka banget baca cerita loh, padahal bukan ttg BAP. Di AFF blm nulis? ku nulis di sana tp ya gitu deh! Kalo mo gantian baca! Tp agak horor! Lu masih di bawa umur! Hihihi! Teman2 gw aja pada jijik ma gw! Haha! Dintunggunya say hello nya di sana aku udah nge add friend!

    • Halo, kakak!
      Ehehehe makasih sebelumnyaa :3
      Aku juga seneng lah kalo ini sesuai sama minat baca kakaaak. Haha AFF? Udah, tapi masih fokus di cerita yang gabisa kupost di wp pribadi. Semacam boyxboy gitu, atau lebih fokus ke tulisan porsi aff.

      Hah? Oh boleh, nanti ya kaak, semoga dapet time yang pas. Okee, thanks anyway:D

  3. Ka, tangan kamu terbuat dari apa sampai tulisannya seindah ini. Serius feelnya dapet ba-ng-et!!
    Bacanya sambil ngebayangin lirik lagu Angel dan makin nyesek.. Rasanya udah lama ga baca ff yang buat aku sampe nangis begini.. Kamu keren kadhil!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s