[Drabble*] I Don’t Know

image

|| Title :  I Don’t Know ||  Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast : [BTS’s Jin] Kim Seok Jin, [OC] Kwon Ji Na ||

|| Genre : Fluff, Romance ||

|| Duration : Drabble || Rating : Teen ||

||  Soundtrack : A-Pink ㅡ I Don’t Know ||

Summary :

Still, i don’t know what actually happen between us.

.

.

.

Kwon Ji Na itu merupakan gadis yang ceroboh. Aku kerap kali mendapatinya mengulang pekerjaan, menabrak dinding, dan acap juga dia mendorong-dorong tungkai kacamatanya agar tidak kendur. Surai legamnya selalu diurai bebas dan dia biasanya menggunakan paduan warna-warna pastel dalam mode pakaiannya; tidak cantik, tapi cukup untuk kukatakan gadis dalam kriteria yang manis.

Hari ini matahari bersinar redup-redup, aku ㅡSeok Jinㅡ menyapu pandang koridor universitas dengan tatap malas. Sambil mengencangkan tas punggung, aku menuntaskan lorong sampai pekikkan Kwon Ji Na menubruk tubuh dan pendengaranku.

“Maㅡmaafkan aku,”

Aku mengangguk setelahnya, lalu mengulas senyum dan berdiri canggung di hadapannya. Itu dia gadisnya; Ji Na. Ia berada satu semester di bawahku. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah awal tahun lalu, tepatnya pada saat ia mendaftarkan diri dalam organisasi yang aku ketuai. Dia mempunyai aura yang berbeda dari gadis lainnya. Ji Na memiliki sifat yang pendiam namun ceria, pemalu namun tegas dan pemberani. Itu yang kutahu.

Kami hanyut dalam geming yang tidak tahu diri dan terpaku begitu manik kami saling berpandangan. Ji Na bukan hanya manis, ini jauh dari ekspektasiku. Iris cokelat pekat itu menyapaku dan ia terkekeh sedikit. Sambil memegangi bagian belakang surai legamnya, Ji Na mengencangkan dekapan pada buku-buku yang sedari tadi ia bawa. Dia membungkuk sedikitㅡmeminta maaf, mungkin masih mengira aku keberatan pada kejadian yang baru saja terjadi.

Senior Seok Jin, apa kau mempunyai sesuatu untuk dibicarakan denganku?” Manik itu kembali menerobos isi kepalaku. Sementara aku yang terus memandanginya langsung mengerjap cepat, baru sadar jika akulah yang sedari tadi menghalangi aktivitas kami yang sesungguhnya.

Aku buru-buru menggeleng sambil terkekeh geli. Uh, apa juga yang kupikirkan hingga berdiri di hadapannya dengan kondisi seperti ini. Embusan angin membantu aku untuk berkilah dari pesona Ji Na yang berlebihan, sekaligus menerbangkan beberapa helai anak rambutnya. Kemudian ia mengembalikan mereka ke belakang daun telinganya. Anggun sekali.

“Kalau begitu, aku duluan, Senior.” Ji Na menutup pertemuan kami sore itu dengan apik. Sambil melambaikan telapak tangannya, dia pun beranjak meninggalkan aku yang masih diterpa geming.

Kwon Ji Na ituㅡsangat cantik.

.

.

.

Bukan masalah besar untuk menghabiskan hari dengan membantu dosenku membenahi beberapa berkas tugas. Malam sudah naik ke cakrawala begitu aku melirik sekitar. Halte bus yang kupijak kini hanya menampung aku seorang diri, mungkin karena ini sudah bukan jam pulang kerja. Sambil meneliti arloji hitamku, bus yang akan kutumpangi pun terlihat dari kejauhan.

OhSenior Seok Jin!”

Aku menoleh begitu namaku disebut-sebut. Ketika itu, aku melihat Kwon Ji Na ㅡlagi. Dengan setelan berwarna khaki, gadis itu tersenyum padaku. Surai legamnya berada dalam satu ikatan tinggi, dan bagiku itu cukup membuatnya berbeda. Dia mengenakan sepasang earphone tepat begitu aku menaruh bokong pada kursi di sampingnya. Malam itu, kami kembali direngkuh geming. Sedikit-sedikit aku menoleh kepadanya, meski Ji Na hanya sibuk memerhatikan lalu lintas di luar kaca bus.

“Ji Na-yah,” panggilku tanpa sadar. Sementara gadis itu lekas-lekas melepas kedua pangkal earphone miliknya dan menyimpan benda itu di dalam tas.

“Ya, Senior?”

Aku makin gugup saja ketika ia memandangku serius. Dalam jarak ini, aku yakin bahkan orang yang berdiri di pintu pun dapat mengendus aroma segar dari tubuhnya. Sambil menghitung mundur, aku memutar pikiran. Apa yang harus aku bicarakan padanya, bagaimana aku harus mengalihkan perhatiannya, dan mengapa aku harus memanggilnya tadi merupakan pertanyaan-pertanyaan yang bergemeletap di dalam tempurung kepalaku dan aku kesulitan untuk mengelak semua jawaban itu. Aku telah kalahㅡtelak.

“Eh, tidak. Aku hanya memanggilmuㅡ”

Tidak, tidak. Tidak mungkin aku berkilah di sini. Dibarengi dengan tekanan jemari Ji Na pada tombol berhenti di samping kanannya, aku pun menahan lengan itu.

“Aku akan mengantarmu pulang.”

Kedengarannya lucu. Namun, percayalah aku enggan menertawai diriku sendiri atau pun mendikte ekspresi terkejut yang melekat erat di wajah Ji Na meski ketika kami sudah berjalan bersisian di aspal lembap menuju kediamannya. Tadi itu sikap reflek yang sangat buruk, tapi juga mendatangkan suatu buah yang manis buatku.

“Seharusnya Senior tidak perlu repot-repot menemaniku. Aku biasa berjalan sendiri.” katanya; membuka pembicaraan singkat kami.

Aku yang masih tertegun hanya mampu mengulas senyum, menendang udara kosong dengan tungkai kakiku yang turut ditimpa kecanggungan pemiliknya.

“Aku kira Senior tidak menaiki bus,” katanya lagi. Kali ini kedua maniknya memandangku sambil berpikir. Sementara aku cepat-cepat menggeleng. “Aku terbiasa naik bus, kok.”

Ji Na menoleh padaku lagi, masih dengan kening yang berkerut. “Benarkah? Tapi, sebelum ini aku tidak pernah bertemu dengan Seniorㅡ”

Tentu saja itu karena aku telah berbohong padamu beberapa detik yang lalu, Ji Na. pikirku berteriak lantang.

Oh, ya. Tapi sejak hari ini aku akan sering naik bus.” sergahku kemudian. Ji Na hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kembali memadu fokus pada jalanan kosong di depan kami. Sesekali bersenandung untuk sekadar mengisi canggung di antara aku dan dirinya.

“Mau pulang bersamaku?”

“Apa?”

Aku meneguk liur saat itu. Lalu berhenti menambah langkah dan menghadap Ji Na yang juga berhenti memijak aspal.

“Mulai besok, apa kau mau pulang bersamaku? Kita bisa menaiki bus yang sama danㅡ”

Oh, tentu.”

Ji Na kemudian melempar senyum manis. Gadis itu melanjutkan langkah, dan meninggalkan aku yang masih sibuk merayakan keberhasilan singkat di pikiran. Ketika aku kembali tersadar, Ji Na sudah ada di sudut gang; melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum.

“Terima kasih, Senior Seok Jin! Sampai bertemu besok!”

Aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan membalas senyumnya itu dengan cengiran khas pemuda yang tengah kasmaran.

Ah, harusnya aku yang berterima kasih padamu Kwon Ji Na. Terima kasih sudah bersedia menjadi orang yang kukagumi.

Fin.

What’s this? Oke, aslinya aku juga bingung ini sebenernya apa. Haha, ditulis sebelum tidur siang, dan sekaligus pelarian dari draft-interlude yang menumpuk. Ini bakal kubuat kembarannya, dengan konflik dan main-cast yang bernasib sama seperti Jin! Wohoo. Guess who is it!

Comments allowed!

2 thoughts on “[Drabble*] I Don’t Know

  1. aku yang nggak enak karena saban hari bolak-balik nunjukin nama di sini. dasar tidak tahu diri kamu, vin. maaf, ya, dhill😦 but i can’t help it. aku langsung ke sini setelah liat update-an twitter kamu tadi.

    yeah. suka sama kakak kelas itu >>>>>> suka sama temen seangkatan. there, i said it. aduh, walaupun aku belom kuliah, tapi kan kalo diajak pulang bareng sekolah sama kakak kelas ganteng nan baik hati dan ngatain kita cantik mau banget laaah. apalagi kakak kelasnya macam jin. mau mau mau semau-maunya /lalu merasa murahan/ oke, skip.

    ini manis banget kampayyyyyy xD sorry ’bout the curse ya dhil. tapi sumpah ini lucuk banget nget nget aku nggak tau harus ngapain lagi. aku suka banget yang si ji na bilang kalau nggak pernah liat jin naik bus, eh terus jin-nya bohong itu wakssss udah hampir kejengkang aku di sana :3 plis, plis, ji na-nya juga suka sama jin, kan? iya, kan? iyaaaaa?😦

    dan… cengiran khas pemuda kasmaran. adaw ini apa lagi. bikin dugeun-dugeun gitu aku bacanya. gilak lahhh. sini kamu aku peluk deh udah bisa bikin aku senyum-senyum sendiri /peluk dhila erat-erat/

    anyway ini kan ada 900an kata. setauku itu namanya udah ficlet, ya? karena drabble itu maksimal cuma 200 kata. flashfic/ficlet itu maksimal 1000 kata. vignette 1800 kata. sisanya oneshoot. hehehehe. atau aku aja yang sok tau? (dhila: iya, vin! kamu yang sok tau! /merajam evin/)

    hahaha ini komentarku panjang aja, semoga kamu nggak pusing bacanya. kamu sudah mulai tahu kan siapa aku sebenarnya? yes, i’m the best spammer in the world. blog kamu sudah tersampahi komentar-komentarku, semoga kamu nggak marah😥 keep writing dan semangat terus ya, dhilaa! aku tunggu tulisanmu yang berikutnya! /digendong kai dan berteleportasi to galaxy(-hyung) and beyond/

    • EVIN!😥 tuhkan tuhkan kamu dateng lagi aku bisa apa dong selain WELCOME AGAIN AND AGAIN EVIN (dekap erat) hahaha.😦 twitterku lagi agak error jadi aku gak main terlalu sering ke sana hiyaaaa😥 how i’m supposed to do with this one? HAWAS AJA KAMU VIN, AKU AKAN MENGGEMPUR KOLOM KOMENMU (bila Tuhan mengijinkan aku) hahahaXD

      Suka sama kakak kelas itu, kayak naik nimbus 2014 terus adu cepet sama Harry😦 SERU SEKALI (pengalaman pribadi) Iya dong, makanya itu kan aku jadi delusional😦 KENAPA SIH WAJAHNYA JIN MINTA DIGEPLAKS? WAE OPPA WAE?

      Ohiya! Sekadar info, fic ini malah dibuat duluan. Ini fic lahir beberapa menit lebih awal dari yang kupost kemaren! Hahahaha. Tapi pas mau post aku lupa lirik After Noteku, jadi kebalik deh waktu postnya😦 TAPI AKU SENANG KALAU KAMU JUGA SUKA BACANYAAA❤

      Gakapa-apa, itu cursed dalam arti yang baik, kooks! Mas Jin juga kampay banggaatts. IYA! NGAHA! Itu scene untuk menunjukkan sisi konyolnya Jin sebenernya, menonjol enggak?

      PLEASE AKU NGAREPNYA JI NA JUGA NAKSIR JIN PLIS PLIS PLIS (dhilplease). AAaaaaa! Aku seneng banget deh kalo ini bikin kamu heundeul-heundereun! Yeheaay! Sinisini berpelukkan sama Jin {}

      Kaㅡkamu…. ngitungin :') HIYAA! Jadi, aku nulis fic tuh di hp, udah lama gamegang pc apalagi laptop😦 Dan aplikasiku ini gak nyantumin word-count😦 jadi aku hanya menebak-nebak kira-kira ficku ini masuk ke golongan apa. Biasanya kalo 3 halaman udah hitungan maksimal buat Drabble. Tapi ini 5 pages😦 Daaan, to be honeest haha aku tuh mau nulis ini (Ficlet), tapiㅡtujuan awalku buat fic ini kembar gitu sama yang Good Morning, Baby😦 semacam Double-Drabble gitu… Hihi, makasih loh Evin! Kamu udah ngitungin word-countnya! Tanpamu aku tak'kan kuasa (halah) hahahahaXD sinisini aku kirimin Jin yaa.

      Enggak, kooks! Aku udah terbiasa dengan komen-komen panjaaang😉 Jadi tenang sajaaa~ Iyaa, sekarang aku udah tau siapa kamu:

      KAMU EVIN YANG LAHIRNYA DUA HARI SETELAH AKU YANG LOVELY ITU SUKA MUNCUL DI NOTIFKU YANG SEPI :') SINI DEH KAMU SINI IH! AKU GEMAAS!

      Siap! Anyway masih sekitar sembilan fic yang belum kupost, rata-ratanya Drabble sama Ficlet. Hihi, kupost gamau setiap hari sih. Biasanya tiap seminggu, biar meet my post's goal! Yeheaay!

      Dadaah! Atiati yaaa beyond laxy imaginationnyaa😄 Thanks to the moon and back! Loveyaaaaa!🙂😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s