Nothing Except

|| Title :  Nothing Except  || Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast :  [YG’s Trainee : Lalice] Lalisa Manoban, [GOT7’s : BamBam] Kunpimook Bhuwakul || Genre : Friendship, Hurt/Comfort ||

|| Duration : Drabble || Rating : Teen ||

Waktu itu aku berada di belakangmu, memagut bayang-bayang dalam perbincangan yang sesungguhnya ingin sekali aku simpan baik-baik.

.

.

.

Lipatan-lipatan langit masih setia menyapu pandangnya begitu Kun bergerak tidak nyaman di atas semen kering nan lembap itu. Maniknya yang cokelat menembus jauh menuju cakrawala, hendaknya mencari-cari obyek yang sesuai dengan apa yang dia inginkan. Matahari baru saja menampakkan beberapa bagian dirinya di ujung timur, membuat motif-motif keemasan di sekitar langit dan awan pagi. Namun, dengan fenomena seindah itu, temaram di dalam benak Kun tidak juga dapat seenaknya pergi.

“Mari ke sini, Lisa,” katanya begitu menyadari siluet tubuh gadis ㅡyang memang sedari kemarin mencokol dalam pikirannyaㅡ di belakang dinding penyekat.

Kun melipat tungkai kakinya, membentuk segitiga sembarang dengan lengan yang menumpu pada bagian lutut. Dia mengerjap-kerjap sembari ditemani embusan angin fajar. Si gadis pelan-pelan menujunya, tanpa banyak bicara segera menyapa permukaan semen dengan bokongnya yang berbalut rok selutut berwarna khaki.

“Aku lelah sekali,” Kun berpatah kata sambil tertawa kecil. Sementara Lalisa di belakangnya, tetap memilih direngkuh geming lama-lama.

Sebetulnya mereka bisa saja kembali ke kamar masing-masing dan terlelap sampai jam wecker di meja berbunyi keras-keras. Namun, seandainya memejamkan mata dapat dengan mudah dilakukan; beserta semua pikiran-pikiran yang bergumul di kepala, mereka pun akan dengan senang hati melakukannya. Kun memutar posisi badannya, lantas memandangi Lalisa dengan sipu-sipu khas remaja.

“Jangan cemberut begitu, Lisa,”

“Bagaimana denganmu, Kun? Setidaknya aku tidak dengan mudahnya membohongi diriku sendiri.” Lalisa berargumen panjang-panjang, sementara maniknya bersatu memandangi atmosfer di atas sana.

“Aku tidak tahu,” Kun menghela napas keras-keras. “Lagipula, kamu juga sama sepertiku, Lisa. Kita bisa pergi bersama-sama kalau begitu.”

Gadis di sisinya kini mendesis, wajahnya masam sekali jika dibandingkan dengan ekspresi Kun yang tenang-tenang saja. Lalisa mengingat-ingat kejadian di hari-hari sebelumnya sebelum Kun kembali berceletuk. “Toh apa salahnya jika kita bisa menari?”

Si Gadis buru-buru meliriknya. Pada saat itu, dia sama sekali tidak lagi melihat sikap Kun yang santai; melainkan iris kokoa yang didekap gamang.

“Perempuan tidak boleh menari dan mencari uang begitu, Kun.” katanya pelan-pelan. Ia mengepalkan telapak tangan. Tiba-tiba saja bayangan hari lalu dan percakapan kedua orang tuanya berkelebat di pikiran.

“Tapiㅡ”

“Kamu bisa pergi sendirian, Kun. Toh itu mimpimu.” tukas Lalisa lagi. Gadis itu beringsut, menumpukan kedua telapak kaki demi membuat tubuhnya berdiri tegak.

Dia perlahan-lahan kembali ke tempatnya tadi, menghilang di hadapan Kun. Namun, sebelum refleksinya lesap, si Pemuda cepat-cepat berujar.

“Lalisa!”

Dapat ia lihat refleksinya tidak lagi bergerak. Kun menelan segumpal liur berat-berat. “Ini mimpi kita. Ini semua tentang harapanmu dan harapanku. Jadi, pergilah bersamaku ke audisi.”

Lalisa diam-diam mengulum senyum di belakang sana. Dia menarik keras-keras keinginannya untuk berbalik menghadap pemuda bersuara manis itu sebelum pergelangan tangannya ditahan kencang.

“Kun!”

“Paman Manoban mungkin akan menginjinkanmu. Aku akan memohon-mohon padanya.”

“Kenapa?”

Hening menyapu adu argumen itu sampai embus demi embus angin pagi menerbangkan beberapa helai surai gelap si gadis. Lalisa menunggu Kun menjawab pertanyaannya. Dia mengguncang lemah bahu si pemuda yang sudah menjadi sahabatnya semenjak dilahirkan di dunia itu.

“Kenapa, Kun? Beri aku alasan, mengapa aku harusㅡ”

Kun menatap si gadis mantap. “Karena, tidak mungkin aku hadir tanpa dirimu.”

“Aㅡapa?”

“Karena, tanpa kamu, aku bukan lagi Kunpimook Bhuwakul yang bersemangat.”

Si pemuda memegang kedua bahu kawan sejawatnya itu penuh motivasi. Kilatan kegembiraan di maniknya yang bening menyapukan setidaknya satu buah rasa yang membuncah di batin sang Gadis. Dia menarik sudut-sudut bibirnya sampai Lalisa bisa melihat betapa Kun bahagia dapat memiliki kemampuan menari yang hebat bersamanya.

“Karenaㅡkita, bukan sekadar aku dan kamu saja.”

Fin.

Ctar!
Ceritanya pengen banget buat fiksi tentang mereka berdua waktu masih ada di Thai. Dan akhirnya pagi ini kesampaian, alhamdulillah. Berhubung mereka seumuran, danㅡoh! aku udah liat video mereka bersama Wee Zaa Cool waktu tahun 2009 dan itu amat sangat memukau sekaligus aww! Kun! kamu manis sekali di sanaaaa











Do review, please









!

4 thoughts on “Nothing Except

  1. plis ya dhil tulisanmu semakin lama semakin berkembang aja, sementara aku masih gini-gini aja shame on me. aduh ini diksinyaaaaaaaaaa asdfghjkl banget bikin buku aja kamu gih, dhill!

    dan ofc aku suka plotnya. aku suka karakter kun pake bangettttttt dia manis banget. aku suka suasananya. pagi-pagi dengan angin yang berhembus kencang plus suasana santai itu indah sekali, terutama langit yang masih kayak gitu. diksiii! diksi! diksi! diksi! aku suka banget diksimu ah rawr /gigit diksinya dhila/

    dan ini asdfghjkl udahlah aku speechless. gemes banget sini kamu aku peluuuuk!

    • Evin! Ini kita lagi proyek kembaran atau apa yaa😦 dari kemaren aku komen gapake caps jugaaaXD hakhakhak. So i feel youuuuu😀

      Ah, jangan sungkan😀 dan makasih sebelumnya tulisanku berkembang hahahaha. Thanks to God and the idea. Dan ini aku buat dalam waktu yang sempit loh sama fic-fic yang lagi aku post bak air mengalir di sini hahaha. Abis numpuk list awaited-postnyaa. Jadi kujadwal semua deeh😉
      Nonono! Diksi kamu itu cihuy! Ih apaan sih hahaha kita kan twin! Kamu keren pada jalurmu dan aku ㅡjuga(?)ㅡ pada jalurku😉

      Its Saturday! Yeaay! Aku tau kamu sekolah :”’) semangat yaaa di sanaaaa😉😉

      Hohohow, sebenernya aku masih galau, antara mau singkatnamanya jadi Kun atau Pimook. Soalnya kalo Bambam ith gaseru, dan terkesan Canon gitu. Hembus = Embus😉

      Ihihihihik. X)) Aku juga suka diksi kamuuuu hahahaha. Aaaaa cidaakss! Bambam tolong aku! Marilah kita peluk Bambam ajaaa~ hahaha

      Seeyaaa and :’) big thankies buat kamu yang selalu datang.. Aku terharuuu dan senanggg bukan main, Vin!😀

  2. Dhilaaaa aku datang lagiii!!!😀
    Dhil.. aku cinta LicaBam.. SUMPAH! apakah kamu juga? duhh gak penting banget sih nih komen–”
    “Karenaㅡkita, bukan sekadar aku dan kamu saja.” SUMPAH DEMI TUHANNYA ARYA WIGUNA!!! INI MANIS BANGET DHILAAA!! sama kayak bayangan yang aku liat kalo aku lagi ngacaaa /halah–”/
    seandainya paman manoban adalah ayahku dan aku adalah lalisa manoban, astagaaaahhhh fiksimu bikin ngiler Dhil, ASLI!
    Diksinya itu lho…😥 aku mau nangis saking bagusnyaaaa😀
    hehaha teruslah lestarikan LiceBam, GyeomRin juga ya*OOT*
    kecup basah buat Dhila, mwaaahh :*
    -kembarannya lalice-

    • Haloo, Rikaaa! Haihaihai buat kamuu
      Ihih! Sama! Aku juga cintaaa sama bamlice sama gyeomrin! Mereka luarbiasa ih aku sampe delusional~

      HAHAHAK MAKASIH RIKAA! Hah bayangan apa hayo hahaha kamu bisa aja. HIK! OKEY! Aku malah pengen banget ini jadi kenyataannya mereka berduaa. Ah jangan nangis diksi gituuuh, ini juga masih harus dikembangin kooks

      YAP! Mari lestarikan!
      Mwah baliik, dadaah Rikaaa~
      Hahahak dadaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s