Awaken

tumblr_mp38g3PNrc1qg5wdlo1_500

|| Title : Awaken ||  Scriptwriter : dhiloo98 ||

|| Main Cast :  [B.A.P] Choi Jun Hong, [OC’s] Im Soo Hee || Support Cast : [B.A.P] Moon Jong Up || Genre : Romance, Slight!Fluff||

|| Duration : Ficlet [666 words]|| Rating : Teen ||

||  Soundtrack : Cold Play’s Scientist and Fix You ||

Summary :

Slept.

.

.

.

 

 

Udara malam menggigit telak atmosfer di ruangan tidurku. Dengan hati-hati ㅡtanpa berkeinginanㅡmembangunkan Moon yang masih tertidur, aku pun mengendap-endap meraih jaket terdekat. Dini hari ini aku kembali terbangun, dengan perasaan terkejut lantaran lonjakkan kesadaran yang tiba-tiba. Terhitung dua hari setelah aku tidak mendapatkan lagi kabar dari Soohee. Dorm tempatku menghuni ini rupa-rupanya masih dilanda kegelapan, pastilah semua penyewa kamar tengah terlelap; sama halnya dengan Moonㅡkawanku dalam berbagi kamar.

 

 

Sepoi angin yang dingin menyapa pori-pori kulitku ketika aku membuka pintu utama, sekadar mencicipi jalanan pagi yang masih melompong. Temaram dari bulan masih bernaung di langit sana, dan dengan dibantu oleh penerangan komplek, aku dapat menikmati pemandangan kecil di balik sekat-sekat bata dan dinding tinggi. Aku menghela napas, mungkin terlalu memikirkan Soohee membuatku hilang akal. Namun, aku harus bagaimana lagi? Ketika perasaanku yang sudah kukunci baik-baik sampai nanti aku akan mencarinya setelah lulus universitas, porak poranda lantaran kedatangannya yang tiba-tiba itu.

 

 

Apa kabar, Choi Jun Hong?”

 

Aku ingat pertanyaan itu, sapaan pertama setelah lima tahun tidak bersua. Dan masih erat dalam tempurung kepalaku, bahwa Soohee telah memberikan pita putih yang selama ini aku pinta darinya; bahwa benda itu adalah jawabannya atas pernyataan cinta dariku sesaat sebelum kami berpisah kota.

 

 

Aku pun menimbang-nimbang. Berpikir keras apakah keputusan yang hendak kuambil adalah yang terbaik. Namun, segala kerisauanku itu tidak pernah benar adanya. Karena, begitu aku menemukan satu-satunya lampu kamar yang menyala di lantai delapan, aku tahu bahwa Soohee pun agaknya sama denganku. Tidak terburu, aku berjalan menuju lift dan menekan intercomm milik Soohee.

 

 

“Junhong!”

 

Soohee tidak lagi melempar kata begitu aku akhirnya diijinkan masuk ke dalam kamar apartemennya. Terang melingkupi interior, sementara si gadis yang belakangan ini muncul seenaknya di kepalaku masih enggan membuka pembicaraan. Ia hanya melirik tumpukkan novel fiksi dan layar laptop miliknya yang masih menyala.

 

“Kau tidak bisa tidur?” tanyanya kemudian. Aku yang tengah bermenung lantas memindainya, lalu mengangguk.

 

“Berapa lamaㅡberapa lama kau tidak dapat pergi tidur seperti ini?” tanyanya lagi. Aku menghela napas berat, lalu menghadapkan diriku padanya. “Setiap malam, semenjak kau memberikan pita itu.”

 

 

Sekenanya aku berkata demikian, terlintas sudah semburat merah muda di kedua sisi wajahnya. Soohee menatapku malas, namun jauh di dalam maniknya jelas tersimpan hal yang cenderung berkebalikkan. Sejemang dia terbatuk, lalu mengambil air mineral dari dalam lemari pendingin dan menahan postur di sana. Aku memerhatikan figurnya yang candu. Im Soohee pasti tengah dilanda beban pikiran berlebih.

 

“Kau harus tidur.”

 

“Aㅡapa?” Soohee menahan napas begitu aku mengimpit jarak tubuhnya, membawa punggungnya bersinggungan langsung dengan pintu lemari pendingin yang telah tertutup. “Kau butuh tidur, Im Soohee.”

 

 

Tidak ada yang membuka mulut dalam menit terakhir, dan yang aku lakukan hanya kembali menambah jarak darinya. Aku menapak pelan-pelan sampai lenganku dapat menjangkau laptop yang masih menyala dan mematikannya meski Soohee masih berujar tidak terima. Aku tidak peduli. Gadis ini sakit, dan aku harus lebih keras kepala darinya agar ia dapat pergi tidur.

 

“Junhong-a, kau tidak seharusnya melakukan iniㅡ”

Aku menghentikan aktifitasku, lantas menubruk pandangnya secara kontan. “Tidak, Soohee. Kau yang seharusnya berhenti. Sekarang, lekas pergi tidur.”

 

.

.

.

 

Sekiranya tidak ada perlawanan dari si gadis, aku pun beranjak menuju sofa di ruang tengah. Mengisi pembaringan, pada akhirnya aku pun berhasil menyelaraskan beban pikiran dengan waktu istirahat. Namun, sebelum impiku dapat ditembus jiwa, sebuah dekapan dan tumpuan pada punggungku yang menghadap arah lain mengendurkan semuanya.

 

“Im Sooheeㅡ”

 

“Biarkan. Sampai aku dapat tertidur.”

 

 

Aku tahu Im Soohee adalah gadis yang keras kepala, dan seberapa besar usahaku dalam menangkal semuanya mungkin akan sia-sia. Namun, malam ini, aku tak lagi melawan kekerasan jiwanya, melainkan membiarkan raga ini menjadi kawan lelapnya, dan jiwa ini sebagai pelindung figurnya.

 

 

Well, pada akhirnya baik aku maupun Soohee dapat sama-sama mengisi waktu tidur kami.

 

 Fin.

2 thoughts on “Awaken

  1. hai dhil i’m back!

    ih, kamu produktif sekali yaaaa….. seneng deh tiap buka wp ada kamu di dashboard x3 tapi sorry ya aku baru sempet mampir sekarang. semalem pengen mampir, cuma kepalaku sakit dan capek banget rasanya :< btw, sakitmu udah sembuh, kan?

    fic ini buatku si atmosfernya menenangkan ya. aftertastenya tuh kayak ngebikin orang yang baca pingin ikutan tidur bareng si soohee sama junhong. dan aku jadi inget sama fanficmu yang some itu gegara kamu ngebahas pita putih di sini. ini semacam sequelnya kah? atau gimana?

    aku suka paragraf kedua sebelum terakhir. itu diksi dan maknanya buatku nendang banget dhil. aku dapet banget feelnya di situ, dan aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget fanfic ini x') huhu kapan aku bisa bikin sebagus kamu gini.

    semangat dhila! aku mau muter-muter ke yang lain dulu😉

    • MYTWIN MYLOVE!
      Hahahahak, aku pujisyukur udah fit badannya, dan ya tadi pagi sih sisa pusing doaaang!😀 tapi ketika metabolisme tubuh sudah berjalan normal, kakiku yang cantengan tasembuh itu malah menuai kontra lagi. Hah

      Hihihik, silakaan. Aku update banyak fic kooks. Yang ada [Ficlet] dan castnya anak-anak bities itu bener-bener ditulis hari itu dan dipost hari itu juga. Jadi Smile Seasonnya BTS benarbenar fresh from the oven! Wohooo

      Nahloh, coba kamu istirahat, Vin. Gejalagejala sakit begitu jadi banyak gini memang ya, biasalah hawahawa deket ujian kan suka gittuu😥 kamu cepet baik cepet sembuh yaaaaaa! Hayohayo aku mendoakanmu! Hihihik

      Lahiya, sebenernya Awaken ini kutulis jam sebelas mau dibelasan gitu,Vin. Cuma lengkapin interlude sih, soalnya memang udah kudraft dari beberapa hari sebelumnya. Dan part ending itu rasarasanya ketularan feel sebab yang nulis juga udah keriyep ingin sekali mendekap ranjang hahahahaXD

      Ini Another Story, Vin. Ya semacam sequel sih, cuma kalo sequel terlalu menjanjikan ah. Jadi kusebut saja another story, dan bisa stand alone asyiiik😀

      Aku seneng bangeeeet viin lagi meringis begini ketemu komentarmu di notifku :”) semacam oase di antara padangpasir yatuhaaan hahahaha. Weh, kamu jangan dipertanyakan, karyakaryamu itu jempolan punya! Yakin! Dan semangat untuk 100 promptsmu! Hahahai, target sampai 2015, kan? Gogogo, Evin!

      Thankies deaaar❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s