[Slight] Late Night Coffee

Late Night Coffee

Presented Bang Yongguk [B.A.P] & Moon Byul [Mamamoo]

A Simple Ficlet

.

Tengah malam, Yongguk menapaki aspal lembap di luar dorm. Maniknya menubruk dinding kayu bertuliskan kafe di muka bangunan, lantas memasuki berandanya sebelum berakhir di meja tunggu.

Well, kami sudah hendak tutup.” Seorang pegawai pria ㅡdengan kepala botak dan apron hitam yang mengkilapㅡ meneliti Yongguk dari atas ke bawah, memastikan setidaknya pria itu waras dan tidak hendak mencari gara-gara.

Pemuda yang dimaksud berdeham singkat, menduduki kursi kayu dan mengetukkan ujung jari pada meja di hadapan. “Aku memesan macchiato, satu.”

“Hanya satu?”

Yongguk melirik si pelayan jengkel. Ia menahan napas, lantas mengembusnya sebelum berkata, “Ya, satu macchiato sebelum kafe ini tutup.”

Sekenanya si pelayan berkepala licin meninggalkannya, Yongguk kembali tenggelam bersama segala pikiran. Kecamuk konflik mencengkeram sudut-sudut dalam tempurung kepalanya, mengganggu jiwanya yang masih tenang.

“Pesanan anda datang,”

Yongguk mengerjap begitu suara pelayan wanita menubruk gendang telinganya, buru-buru membuka mata dan mendapatinya tengah membagi senyum. Surainya panjang dan sewarna legam, iris matanya kelam namun hangat di saat yang bersamaan.

“Selamat malam,” kata si pelayan dan Yongguk hanya memamerkan senyum tipis. Tatapan itu bukannya asing, hanya saja terkesan familier. Rasanya mungkin seperti kembali ke rumah, atau sekadar bertemu kawan lama. Yongguk pikir ia dapat memilih opsi ke dua.

Pada saat itu, ia masih saja dirundung pertanyaan setelah membuat keputusan.

Siapa gadis itu?

Mengapa senyumannya terkesan dekatㅡterlalu familier?

Kau mengetahuinya, Yongguk. Kau hanya melupakannya barang sejenak.

“Selamat malam. Terima kasih untuk macchiato-nya.”

Tanpa diduga-duga, ia memilih keluarㅡmeninggalkan beberapa lembar uang kertas sebagai satuan pembayaran. Yongguk membawa serta sebuah take-away cup berisi macchiato dengan asap tipis mengepul di atasnya. Ia berhenti memijak sudut lantai kayu ketika ia kembali menoleh ke belakangㅡ kepada pintu kafe yang belum sepenuhnya tertutup.

“Moonㅡmoon byul?”

Wanita itu Moon, bulan yang sudah lama mati semenjak engkau berhenti mengiriminya secercah saja cahaya.

Fin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s