[Prompter-Fic] Unsure Best Day

image

[BTOB] Yook Sungjae and [Apink] Kim Namjoo

Comedy!Slight, Daily Life | Teen

“Sial! Mengapa wajahnya bisa begitu mirip dengan mantanku?”by Tsukiyamarisa

.

.

.

Hari rupa-rupanya berganti ketika aku masih jauh di dalam lelap. Pias sinar mentari menembus kaca jendelaku, dan aku sama sekali keberatan dengan itu. Dengan pandangan menyipit, hendaknya aku memohon-mohon pada seseorang di dekatku untuk menutup tirai ituㅡsetidaknya jangan bangunkan aku yang masih ingin direngkuh impi. Namun, sayang disayang, aku tak punya siapapun di sini kecuali Phoenixㅡanjing kecilkuㅡdan beberapa perabot lain. Hella, inilah akibatnya jika hidup mandiri di luar kampung halaman.

Aku terbangun beberapa menitㅡatau jamㅡ setelahnya. Maksudku, benar-benar bangun, dicengkeram kesadaran utuh dan sudah mampu berkegiatan. Aku menoleh pada cermin di samping, memperhatikan bagaimana deretan tulisan itu melengkapi tiap note kecil yang entah ditempel siapa.

Namamu Yook Sungjae

Oh, namaku Yook Sungjae? Aku menggaruk tengkuk sejemang, lantas melanjutkan barisan kata lainnya.

Namaku Kim Namjoo, dan kamu bilang kamu mencintaiku sebagaimana adanya aku.

Cinta?

Well, ini hanyalah bentuk pencegahan kalau-kalau kamu melupakan sekelilingmu lagi, Sungjae-a.

Aku berdiam diri di hadapan note yang satu itu. Mencoba memindai ingatan, apakah masih ada Kim Namjoo di sana dan bagaimana aku bisa melupakan semuanya. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing, ah! Bukankah semalam aku habis berpesta di pinggir pantai? Lalu meminum beberapa teguk bir, danㅡ

Ting Tong

Aku mengernyit saat itu, sekaligus dikejutkan oleh siapa gerangan yang datang sepagiㅡpukul sebelas, ternyataㅡini. Minhyun berdiri di hadapanku, menelisik diriku dari ujung kaki sampai ujung kepala sebelum memasuki apartemenku ini.

Pemuda itu menduduki sofa empuk di ruang tengah, menjelajahi ruangan itu dengan iris matanya yang kelewat fokus.

“Oh, ayolah! Ini masih pagi dan kau ke sini hanya untuk meninjau apartemenku?”

Minhyun terkekeh sepersekian detik kemudian, pemuda itu melejitkan bahu. Ah, sepertinya ia tengah menghemat pembicaraan, atau apalah itu sehingga aku hanya melakukan hal serupaㅡmelejitkan bahuㅡdan berjalan menuju kamar pribadi. Aku memerhatikan kembali note demi note di sana. Ada satu lagi yang belum kubaca, satu yang ditulis di kertas berwarna hijau muda dengan tinta berwarna hitam.

Yook Sungjae, kuharap kamu akan mengingat ini, bahwa kita sudah

“Ya! Yook Sungjae! Cepat kemasi barangmu, Bodoh. Kita akan pergi ke pesta cocktail Sanghyuk dan Seolhyun, kalau kau lupa.”

Aku terlonjak begitu saja kala menemui tatap menyebalkan Minhyun di ambang pintu. Segera, aku melepas rekatan notes terakhir dari dinding berwallpaper-ku. Menaruhnya asal di meja. Masa bodohlah, toh nanti aku juga akan bertemu Namjoo.

.

.

.

Kami berangkat dari apartemenku dua jam kemudian. Well, aku harus mandi dan mengurus cucian selama seminggu terakhir, juga memasukan beberapa lembar uang ke dalam dompetku. Tentu saja aku tidak mau berhutang biaya taksi dan beberapa lembar kertas tisu sebab semalam aku pulang dalam keadaan mabuk; muntah-muntah dan wajah semerah tomatㅡMinhyun berkata begitu.

Kami menyebrangi jalan yang sepi, melintasi beberapa blok sebelum sampai di sebuah danau yang sudah direservasi oleh Sanghyuk dan Seolhyun. Huh, pasangan yang satu itu memang gemar sekali mengumbar kemesraan. Kami menghabiskan beberapa jam terakhir dengan bersantai, dan aku pribadi menghabiskan beberapa gelas jus dan buah-buahan. Sebelum ke sini aku hanya memakan satu slice pizza sisa kemarin siang, sih.

Begitu malam merangkak naik, kami berkumpul satu sama lain. Meramaikan petak di dekat danau itu dengan tawa-tawa ceria dan pandangan malu-malu antar teman-teman yang baru bergabung. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku akui pula, pesta kali ini cukup sehat. Kami tidak lagi dicengkeram mabuk dan wajah memalukan. Saran Seolhyun untuk menyajikan cocktail itu salah satu yang terbaik untuk kami. Yeah, selain gemar mengumbar kemesraan yang sesungguhnya malu-malu, Seolhyun dan Sanghyuk memang tidak pernah terkesan macam-macam. Mereka lebih memilih ke kedai penyedia susu hangat dan cookie, daripada bergabung bersama kami menuju pub. Indeed, both of them are the ideal type for many parents.

Musik dengan tempo sedang diputar, aku melihat beberapa gadis menggerakkan tubuh mereka seirama lagu. Dan aku melihatnya di antara kerumunan itu, saat itu, arlojiku menunjukkan pukul sepuluh malam. Entah ini hanya sekadar pikiranku, atau memang perutku sudah berteriak hentikan pada gelas demi gelas cocktail itu karena kini, aku mulai merasa mual dan pusing. Hell, padahal ini hanya sebuahㅡberbongkahㅡbuah dan aku, well, yeah, aku menyesal selalu makan melebihi porsi yang seharusnya. Itulah gunanya Kim Namjoo, bukan? Gadis itu akan setia berada di sampingku, dan membenahi pola hidupku yang kacau.

Aku berjalan terhuyung menuju kumpulan gadis-gadis. Seolhyun melambaikan tangannya padaku, dan aku pun berbuat demikian. Sisanya hanya tersenyum, ada juga yang berbisik-bisik mengenai wajahku yang terlihat mabuk seperti kemarin malam.
Aku mencarinya, mencari Namjoo yang tadi sempat aku lihat. Dan ketika aku menemui figur itu dari samping, segera aku merangkulnya.

“Namjoo-ya,” Aku bernapas berat sekali kala itu, sudah masa bodoh pada bisik-bisik di sekitar. Aku ini kan hanya sedang mencuri simpati Namjoo. “Aku sudah mabuk, bisakah kamu membawaku pulang?”

Belum sempat gadis itu membalas panggilanku, aku sudah lebih dahulu merasa pening. Perihal notes tadi, dan bagaimana aku membacanya sebelum ke sini. Astaga, bagaimana bisa aku melupakannya!

Yook Sungjae, kuharap kamu akan mengingat ini, bahwa kita sudahum, tak lagi bersama.

“Ya! Yook Sungjae! Bagus sekali memanggilku sebagai Namjoo!”

Aku menoleh ketika si gadis berkata demikian. Pada saat itu, aku semakin urung memikirkan perkataan orang-orang di sekitar. Beberapa dari mereka tertawa, beberapa lainnya hanya mampu meneriakkan hal menjengkelkan seperti, “Dasar pemuda single gila! Kau lupa, ya, kalau kalian itu sudah putus hubungan?”

Aku sesegera mungkin memindai wajah orang yang kurangkul. Gadis itu terlihat jengkel, sekaligus menahan tawa di kerongkongan. Saat itu juga, aku sadari bahwa yang kini tengah aku rangkul bukanlah Namjoo. Rasanya benar-benar seperti dipermalukan, alih-alih nyatanya akulah yang mempermalukan diriku sendiri.

“Sial! Mengapa wajahnya bisa begitu mirip dengan mantanku?”

Fin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s